Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1- CKOD 1
Rintik hujan turun perlahan di sore yang sendu itu, bukan awal dari sebuah hujan deras. Tapi sisa-sisa hujan deras yang sudah berlangsung selama satu setengah jam tadi.
Dan di sebuah tempat, di teras samping yang menjadi pembatas antara teras rumah dengan kolam renang rumah besar keluarga Alexander.
Seorang wanita dengan pakaian dan tubuh basah kuyup, tengah berlutut di sana. Matanya merah, dan basah. Dari sembabnya mata itu, sudah dipastikan dia habis menangis. Dan sekarang bahkan masih menangis.
Dan dari tangannya yang pucat dan gemetaran. Bisa di pastikan juga kalau wanita itu sangat kedinginan.
Bibirnya bergetar, matanya yang basah itu menatap ke depan, kosong dan putus asa.
Sesekali tubuhnya goyah, seperti akan terhuyung. Tapi dia berusaha untuk tidak jatuh, karena jika dia jatuh, yang ada hukuman yang lebih berat akan dia terima.
Sementara di dalam rumah. Dari pintu kaca yang menjadi salah satu akses keluar masuk ke dalam rumah itu. Seorang wanita paruh baya, dengan rambut yang sudah ada dua warna, dan dengan handuk di tangannya. Menatap ke arah wanita itu dengan khawatir. Sesekali matanya melihat ke arah jam di dinding ruangan santai itu.
"Masih kurang lima belas menit. Kasihan sekali nona Bella!" ujarnya.
Ya, dia memanggilnya nona. Karena dia adalah satu-satunya pelayan, dari sekian banyak pelayan yang masih punya kepedulian dan hati nurani yang berpikir, kalau Bella adalah manusia dan tidak seharusnya setiap hari menjalani hukuman dua jam berlutut di luar seperti itu.
Di rumah itu ada 4 orang pelayan. Tapi hanya bibi Okta yang perduli pada Bella.
"Bi, ngapain masih disitu. Nanti nyonya marah baru tahu rasa!" ujar salah satu pelayan lainnya.
"Pekerjaanku sudah selesai kok Din" sahut bibi Okta dengan suara pelan.
"Terserah!"
Bibi Okta terus melihat ke arah jam, begitu jam itu menunjukkan pukul 5. Bibi Okta segera berlari keluar dan merentangkan handuk yang dia bawa untuk menutupi kepala dan tubuh Bella.
"Non, sudah non. Sudah dua jam!" kata bibi Okta yang sudah mulai terbiasa melihat pemandangan seperti itu.
Di awal-awal dulu, dia selalu menangis saat berlari keluar dan menyampaikan pada Bella kalau waktu hukumannya sudah selesai.
Bella mencoba untuk berdiri dibantu bibi Okta. Wajah pucat itu tersenyum, senyum yang dipaksakan.
"Terima kasih, bi! aku bisa sendiri!" kata Bella yang juga sebenarnya berbohong mengatakan itu.
Dia melepaskan tangan bibi Okta. Karena kalau ibu mertuanya melihat bibi Okta membantunya. Nanti ibu mertuanya akan mengomeli bibi Okta.
"Non..."
"Aku bisa, Bi. Terima kasih ya!"
Bella berjalan sangat pelan. Berusaha memaksakan kakinya yang sebenarnya sudah terasa begitu kebas. Karena berlutut selama dua jam di tengah hujan deras selama satu setengah jam. Sesekali saat dia merasa akan terjatuh, dia menghentikan langkahnya. Mencoba untuk kembali menguatkan kedua kakinya itu. Saat tangannya bisa meraih pintu kaca, dia menjadikan pintu kaca itu sandaran.
Bibi Okta yang melihatnya dari jauh, sesekali bahkan refleks mengikuti gerakan tubuh Bella yang akan terjatuh sesekali.
Dia merambat ke arah dinding, dan terus berjalan perlahan sampai ke dalam kamarnya. Butuh sekitar lima menit untuk Bella sampai di dalam kamarnya.
Ketika dia menutup pintu, Bella kembali terisak. Dia terduduk lemas di lantai, bersandar pada pintu dan terisak lagi dalam diam.
Satu tahun yang lalu, dia datang pertama kalinya di rumah ini dengan sangat bahagia. Bella Clarissa, 24 tahun adalah sekertaris pribadi Leo Alexander, 28 tahun kala itu. Setelah menikah mereka tinggal di rumah ini, semuanya berjalan begitu baik, keduanya sangat bahagia. Satu bulan kemudian mereka memutuskan untuk pergi bulan madu selama dua minggu, semuanya juga masih baik-baik saja.
Hingga ketika mereka kembali dari bulan madu yang indah itu. Kabar duka datang, tepat saat mereka kembali, kala itu juga mereka melihat rumah ini penuh dengan orang-orang berpakaian hitam, dan adiknya Leo. Lusi terbaring tak bernyawa di dalam peti mati di tengah ruangan.
Seluruh anggota keluarga Leo menatap Bella dengan kebencian. Mendorongnya, memakinya, dan mengatakan dia adalah adik dari pembunuhh Lusi.
Sejak saat itu, kehidupan Bella yang begitu bahagia berubah menjadi penuh penderitaan.
Bella masih terisak, jangan tanya bagaimana rasa lututnya. Di awal-awal, dia bahkan tidak bisa berdiri dengan benar. Dan apa yang terjadi jika dia menunjukkan dirinya kesakitan di depan suaminya? bukan rasa iba? bukan pertanyaan 'bagian mana yang sakit?' bukan semua itu.
Yang terjadi jika Bella terlihat lemah adalah cambukann yang akan lebih melukai dan menyakiti dirinya.
Dia sudah tidak punya siapa-siapa. Dia sungguh tak punya siapa-siapa lagi selain kakaknya. Karena kasus satu tahun lalu itu, semuanya juga sudah hilang. Bahkan rumah pun Bella sudah tak punya. Dia benar-benar hanya bisa menangis, sungguh hanya bisa menangis.
Malam itu, Bella yang sudah berganti pakaian keluar dari dalam kamar. Dia harus menyiapkan makan malam bersama para pelayan. Meski statusnya menantu di rumah ini, dia dan pelayan sama sekali tidak ada perbedaan dalam melakukan pekerjaan.
Bibi Okta mendekatinya, satu-satunya orang yang perduli padanya.
"Non, sambil duduk saja..."
"Nyonya, bibi Okta nyuruh non Bella duduk!" Pelayan yang bernama Dini itu berseru dengan lantang. Seolah sengaja ingin mengadu para ibu mertuanya Bella.
"Tidak apa-apa, Bi. Aku bisa sambil berdiri!" kata Bella yang tidak ingin ibu mertuanya marah pada bibi Okta.
Setelah makanan siap, makanan itu disajikan di atas meja makan. Ada tiga orang duduk dengan wajah tidak senang di sana. Bima Alexander, ayah Leo. Vivian Alexander, ibunya Leo. Dan Desy Alexander, kakak Leo.
Bella berusaha untuk sangat berhati-hati. Dia membawa mangkuk sup itu sangat perlahan. Dia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya.
Dan begitu dia sampai di dekat meja makan. Desy melemparkan sebuah sendok ke arahnya.
Brakk
Prang
Bella terkejut, sendok yang terbuat dari stainless itu terkena bahu depannya. Karena sakit dan kaget Bella menjatuhkan mangkuk sup itu.
"Bodohh!" pekik Desy yang langsung berdiri dari duduknya.
Bibi Okta yang melihat dari dapur hanya bisa meremass tangannya cemas. Dia juga melihatnya, Desy yang melempar sendok ke arah Bella.
"Ma.. maaf..."
Desy yang kesal, meraih mangkuk sup miliknya dan segera bergegas menghampiri Bella.
Byurr
Bella meringis menahan panasnya sup itu. Tangannya bergetar, bibi Okta segera berlari ke arah Bella.
"Non, jangan non. Sup-nya masih panas..."
"Diam kamu bibi Okta! ini pelajaran buat dia! biar lain kali dia lebih hati-hati, memangnya dia bisa beli mangkuk sup yang mahal itu. Dia ini cuma adik seorang pembunuh!"
Deg
***
Bersambung...
Author, boleh ngamuk gak, sama suami & keluarga nya..?
Karena menurut ku keluarga suaminya ada gila²nya.. 🤭
Pengen aja jadi psikopat jika di posisi si Bella..
Biar di babat habis mereka semua.. 🤭
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈