NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cari Tahu Pelaku?

Aula sekolah semakin ramai seiring waktu berjalan. Suara langkah kaki, obrolan siswa, dan tawa kecil bercampur menjadi satu. Beberapa kelompok mulai menata ulang hiasan di meja mereka, memastikan semuanya terlihat sempurna sebelum penilaian dimulai.

Di tengah keramaian itu, satu meja terlihat lebih sunyi dari yang lain. Hana berdiri sendirian di depan stand kelompoknya.

Eliza sudah pergi beberapa menit lalu dengan alasan ingin ke wc. Arga dan Gio juga belum kembali dari toko bahan di depan sekolah. Sekarang hanya Hana yang tersisa menjaga meja mereka.

Di atas meja, kardus berisi lilin yang rusak masih terbuka. Serpihan kaca kecil berkilau di atas kain alas putih. Hana menarik napas pelan.

Tangannya meraih tisu dari dalam tas. Ia mulai memungut serpihan kaca satu per satu, berusaha hati-hati agar tidak melukai tangannya.

“Harusnya aku bawa sarung tangan…” gumamnya pelan.

Ia memiringkan kardus sedikit agar serpihan kaca jatuh ke satu sisi. Lilin yang hancur masih mengeluarkan aroma vanila dan kayu manis. Wangi yang semalam terasa menenangkan.

Sekarang justru terasa pahit. Tangannya meraih satu serpihan kaca kecil yang hampir tidak terlihat. Dan—

“Aw—”

Sebuah rasa perih tajam menusuk ujung jarinya. Hana langsung menarik tangannya. Setetes darah muncul di ujung jari telunjuknya. Ia menatapnya sebentar, sedikit panik. Bukan luka besar, tapi cukup membuatnya kaget.

“Kenapa?”

Suara laki-laki tiba-tiba terdengar dari samping. Hana menoleh cepat. Seorang siswa berdiri di dekat meja, mengenakan seragam yang sama tapi dengan jas OSIS yang digantung santai di bahunya.

Kenzo.

Ia terlihat seperti baru saja berkeliling aula bersama beberapa siswa lain, tapi langkahnya berhenti ketika melihat Hana.

Kenzo mengerutkan alis saat melihat darah di jari Hana. “Kamu terluka?"

Hana buru-buru menggeleng kecil. “Cuma kena kaca sedikit.”

Kenzo mendekat beberapa langkah dan melihat ke arah meja. Matanya langsung menangkap serpihan kaca yang berserakan.

Ia menghela napas pelan. "Kamu bersihin ini sendirian?”

Hana mengangguk pelan. “Teman kelompokku lagi keluar beli bahan,” jawabnya pelan.

Kenzo menatap kardus di atas meja. Lilin yang hancur jelas terlihat di dalamnya. “Ini produk kelompokmu?”

“Iya.” Ujar Hana lirih.

Kenzo mengambil tisu dari kotak di meja tanpa banyak bicara. Ia lalu mengambil serpihan kaca yang lebih besar dengan hati-hati.

“Udah, biar aku aja yang bersihin,” katanya santai.

Hana langsung menggeleng. “Nggak apa-apa kak, aku bisa—”

Kenzo memotong kalimatnya. “Kamu ceroboh, tadi baru aja luka.” Ujarnya sembari menunjuk ujung jari Hana yang terkena pecahan kaca. "Kalau kamu terus ambil kaca pakai tangan kosong, nanti lukanya nambah.” Sambungnya lagi

Hana terdiam mendengar omelan Kenzo yang entah mengapa terasa seperti omelan ibunya.

Kenzo sudah mulai memungut serpihan kaca satu per satu, gerakannya hati-hati tapi cepat. “Kamu ambil tisu lebih tebal,” katanya lagi tanpa melihat Hana. “Biar darahnya berhenti dulu.”

Hana sedikit canggung, tapi akhirnya menuruti. Ia membungkus ujung jarinya dengan tisu. Beberapa detik mereka bekerja dalam diam.

Kenzo akhirnya membuka suara lagi. “Ini pecahnya kenapa?” tanyanya penasaran.

Hana menunduk sedikit. “Aku… nggak tahu.”

Kenzo menoleh.

Hana menatap kardus itu lagi. “Kemarin aku simpan di lemari kelas. Udah aku susun rapi. Pagi ini pas dibuka… tau-tau udah begini.”

Kenzo berhenti memungut kaca. Ia melihat isi kardus beberapa detik. Dua gelas benar-benar pecah. Satu lagi retak.

“Ini bukan jatuh sendiri,” katanya pelan.

Kalimat itu membuat dada Hana terasa makin berat.

“Aku juga mikir begitu,” jawabnya lirih.

Kenzo memutar salah satu gelas yang retak di tangannya.

“Kayak ditekan dari atas.”

Hana menatapnya.

Ia sudah mendengar Arga bilang hal yang sama tadi. Dan sekarang orang lain juga mengatakan hal yang sama. Artinya kemungkinan besar memang ada seseorang yang menyentuh kotak itu. Kenzo meletakkan gelas retak itu kembali ke meja.

“Berapa yang rusak?”

“Tiga.”

“Bisa bikin lagi?”

Hana menggeleng pelan. “Bahan habis. Arga sama Gio lagi beli.”

Kenzo mengangguk kecil. Ia melihat ke sekeliling aula yang semakin ramai. Guru-guru mulai masuk. Waktu pameran hampir dimulai.

“Kalau gitu waktunya pasti mepet,” katanya.

Hana tidak menjawab. Ia hanya menatap meja mereka yang sekarang terlihat berantakan dibandingkan stand lain.

Kenzo berpikir sebentar. Lalu berkata, “Kalau memang ada yang sengaja ngerusak, kita bisa cari tahu."

Hana menoleh. “Cari tahu gimana kak?"

Kenzo menunjuk ke arah koridor kelas. “Di lorong depan kelas ada CCTV, di dalam kelas juga ada."

Hana terdiam beberapa detik.

CCTV. Pikiran itu sebenarnya sempat terlintas di kepalanya tadi, tapi ia terlalu panik untuk benar-benar memikirkannya.

“Kalau kotaknya disimpan di lemari kelas,” lanjut Kenzo,

“kemungkinan orang yang buka terekam.”

Hana menatapnya, ragu. “Tapi sekarang lagi acara…”

Kenzo mengangkat bahu sedikit. “Makanya kita bilang ke guru dulu.”

“Hah?”

Kenzo mengambil tisu baru lalu membuang serpihan kaca terakhir ke dalam kantong plastik kecil. “Kita jelasin kalau produk kelompokmu rusak.”

Ia menatap Hana. “Siapa tahu guru bisa kasih waktu tambahan.”

Hana terlihat ragu sejenak. “Memangnya boleh?”

Kenzo tersenyum kecil. “Dicoba dulu aja.”

Ia kemudian berdiri tegak. “Kalau memang ada yang sengaja merusak, kalian nggak seharusnya dirugikan.”

Kalimat itu membuat Hana terdiam. Sejak pagi tadi, ia hanya merasa panik, takut, dan bingung. Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan sesuatu seperti itu.

Kenzo melanjutkan dengan santai, “Setelah itu kita cek CCTV.”

“Kita?” ulang Hana pelan.

Kenzo mengangguk. “Iya. Biar jelas siapa yang buka lemari itu.”

Hana menatap kardus lilin mereka sekali lagi.

Aromanya masih tercium samar. Lilin yang semalam ia buat dengan hati-hati sekarang hancur begitu saja. Kalau memang ada yang sengaja merusaknya… Ia ingin tahu kenapa.

Hana menarik napas pelan. Lalu mengangguk.

“Baik.”

Kenzo tersenyum tipis. “Yaudah. Kita cari guru dulu.”

Di luar aula, suara siswa masih ramai. Tapi bagi Hana, pagi itu tiba-tiba terasa berubah. Bukan hanya tentang lilin yang pecah. Tapi tentang kemungkinan bahwa seseorang memang sengaja mencoba menjatuhkannya.

Dan sekarang, untuk pertama kalinya sejak pagi tadi— Ia punya kesempatan untuk mencari tahu siapa.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!