Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepupu Bayu
Semburat jingga di cakrawala mulai meredup, berganti dengan selubung ungu tua yang membawa hawa mistis di perbatasan Desa Sukomaju. Sore itu, Ratri berjalan menyusuri jalan setapak di pinggiran desa. Ia mengenakan dress selutut berwarna krem dengan potongan leher rendah yang dibalut cardigan rajut tipis berwarna cokelat susu. Langkahnya anggun, seolah-olah setiap pijakannya di atas tanah merah itu adalah tarian yang terukur.
Tujuannya adalah sebuah kebun kosong yang cukup luas, terletak di atas perbukitan kecil yang di bawahnya mengalir sungai beraliran deras. Tanah itu adalah salah satu aset yang diincarnya untuk dijadikan pasar sembako modern, sebuah proyek yang ia gunakan sebagai kedok untuk menanamkan pengaruhnya di wilayah ini.
Namun, sore yang hampir "surup"—waktu di mana bangsa jin mulai berkeliaran—itu mempertemukannya dengan sosok yang sudah lama tak ia lihat. Seorang pria dengan tas ransel kusam dan pakaian khas perantau tampak sedang duduk melepas lelah di bawah pohon jati besar.
Pria itu adalah Eko. Sepupu jauh Bayu, sekaligus salah satu dari sepuluh pria yang malam itu tertawa paling keras saat merobek kesucian Ratri. Eko selama ini menghilang dari desa, merantau ke Jakarta sebagai kuli bangunan.
Eko mendongak, dan seketika dunianya seolah berhenti. Di depannya berdiri seorang wanita yang kecantikannya melampaui segala standar yang pernah ia temui di kota besar. Kulit yang putih bersih, sorot mata yang tajam namun sayu, dan aroma melati yang tiba-tiba menyerang penciumannya.
"Ratri? Ini... kamu, Ratri?" Eko berdiri dengan tergesa-gesa, matanya menatap tanpa kedip dari ujung rambut hingga ujung kaki Ratri.
Ratri tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan belati. "Mas Eko? Baru pulang merantau?"
"I-iya, baru sampai tadi sore di stasiun. Ini mau jalan kaki ke rumah,tapi istirahat dulu" jawab Eko, kegagapannya muncul karena syahwat yang tiba-tiba meledak di dadanya. "Kamu... kamu sedang apa sore-sore begini di kebun kosong sendirian? Sebentar lagi maghrib, Ratri. Bahaya."
Ratri melangkah mendekat, aroma tubuhnya membuat lutut Eko lemas. "Aku sedang melihat tanah ini, Mas. Mau kubeli. Tapi kakiku sedikit pegal. Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar di gubuk itu?" Ratri menunjuk sebuah gubuk bambu kecil di pinggir bukit yang menghadap ke kali.
Eko, yang selama ini hanya bisa menyewa pelacur paruh baya di pinggiran rel dengan bayaran murah, tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Tawaran Ratri bagaikan oase di padang pasir bagi syahwatnya yang sudah lama haus.
Di dalam gubuk, suasana remang-remang hanya diterangi oleh sebuah lampu teplok yang apinya bergoyang ditiup angin lembap dari lembah kali. Eko mengeluarkan bekal roti dan air mineral dari tasnya, mencoba bersikap ramah untuk menutupi niat bulusnya.
"Istriku sedang hamil tua, Ratri. Delapan bulan," ucap Eko sambil menghela napas, mencoba memancing simpati. "Aku merantau cari uang buat biaya melahirkan, tapi kerjaku di sana sepi. Uang belum terkumpul, sementara waktu sudah mepet. Pusing kepalaku."
Ratri mendengarkan dengan tatapan yang seolah-olah peduli. Namun, di dalam batinnya, Suanggi sedang membisikkan ide yang sangat keji. Suanggi tidak ingin nyawa Eko saat ini. Makhluk itu menginginkan sesuatu yang lebih murni, sesuatu yang sedang tumbuh di rahim istri Eko.
Berikan benih kegelapan pada pria ini... biarkan dia membawanya pulang pada istrinya... bisik Suanggi di balik susuk emas Ratri.
"Aku bisa bantu, Mas Eko," ujar Ratri lembut. Ia melepas cardigan-nya, memperlihatkan bahu dan bagian atas dadanya yang putih mulus serta wangi. "Aku punya banyak uang. Aku bisa pinjamkan untuk biaya melahirkan istrimu. Tapi... malam ini kamu harus menemaniku di sini. Aku kesepian."
Eko menelan ludah. Logikanya mati seketika. "Apa pun, Ratri. Apa pun akan kulakukan."
Eko langsung beringas. Ia mendekati Ratri, menciumi leher dan bahunya dengan kasar. "Wangi tubuhmu... memabukkan, Ratri. Kamu bukan manusia, kamu bidadari," puji Eko sambil mulai menanggalkan pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat di bawah cahaya lampu teplok yang kuning kemerahan.
Tangannya yang kasar mulai meraba-raba gundukan daging Ratri. Lenguhan-lenguhan kecil keluar dari mulut Ratri, membuat darah Eko berdesir hebat. Ia segera menindih tubuh Ratri di atas lantai bambu yang dialasi kain jarik lusuh.
Namun, Ratri adalah pemain yang ulung. Ia menahan pergerakan Eko. "Sabar, Mas... jangan terburu-buru."
Tiba-tiba, Eko merasa sebuah dorongan ghaib yang sangat kuat. Ia turun ke bawah, berjongkok di depan "lubang kelahiran" Ratri. Dengan nafsu yang sudah merasuki jiwanya, Eko menjilati dan menyedot setiap tetes cairan yang keluar dari sana. Ia merasa seperti sedang meminum ramuan keabadian, tanpa tahu bahwa yang ia sesap adalah racun ghaib yang akan menghancurkan keturunannya.
Saat Ratri mulai merasakan sisa-sisa hasrat manusianya memuncak, ia tersadar. Ia tidak boleh membiarkan dirinya terhanyut. Ini adalah saatnya perjamuan sesungguhnya.
Kepulan asap hitam pekat keluar dari bawah perut Ratri. Seketika, sosok Suanggi muncul, namun bagi mata Eko yang sudah terhipnotis, sosok itu tetaplah Ratri yang cantik. Mereka bertukar posisi dalam sekejap mata.
Ratri yang asli kini duduk di pojok gubuk, bersandar pada tiang bambu. Ia mengatur napasnya yang memburu, menormalkan detak jantungnya sambil menonton dengan tatapan dingin.
Kini, yang berada di bawah Eko adalah Suanggi. Pergulatan panas terjadi. Eko merasa jepitan yang dirasakannya sangat luar biasa kencang, seolah-olah ada ribuan jarum kecil yang menusuk namun memberikan kenikmatan tiada tara. Kenyataannya, itu adalah taring-taring kecil Suanggi yang menggigit pelan "barang" milik Eko.
Suanggi tidak merusak organ itu. Justru sebaliknya, Suanggi memberikan energi buatan agar "barang" Eko tetap berfungsi dengan sangat kuat, jauh lebih perkasa dari biasanya. Tujuannya adalah agar malam nanti, saat Eko pulang ke rumah, ia akan langsung menyetubuhi istrinya yang sedang hamil tua dengan sisa-sisa energi ghaib ini.
Melalui persetubuhan itulah, "benih" yang telah ditaruh Suanggi di dalam tubuh Eko akan berpindah ke rahim sang istri, menyedot saripati kehidupan janin yang ada di dalamnya. Calon anak Eko akan menjadi tumbal, menjadi santapan bagi kekuatan hitam Suanggi.
"Terus, Mas Eko... ambil semua nikmat ini," bisik Ratri dari kegelapan gubuk, suaranya terdengar seperti desisan ular.
Eko berteriak dalam kepuasan yang luar biasa, punggungnya melengkung hebat. Ia merasa telah mencapai puncak tertinggi dalam hidupnya. Ia tidak sadar bahwa di balik kenikmatan itu, ia baru saja menandatangani kontrak kematian bagi darah dagingnya sendiri.
Gubuk itu berderit kencang di tengah keheningan malam yang mulai merayap. Di bawah bukit, suara aliran kali terdengar seperti tawa yang mengejek, membawa kabar bahwa satu lagi pelaku telah masuk ke dalam lingkaran setan yang tak berujung.
Ratri memakai kembali cardigan-nya, menatap tubuh Eko yang terkulai lemas dengan senyuman puas. Kepedihan yang dulu ia rasakan kini mulai terbayar, dan ia tidak keberatan jika harus berbagi penderitaan itu dengan anak-anak dari para pendosa ini.
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno