Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Mengkhianati Hati
Entah karena reflek atau apa Gerry justru mendorong cepat tubuh Mona hingga menjauh. Wanita itu terperangah bukan main. Dengan matanya yang sembab Mona menatap Gerry, tak percaya jika dirinya diperlakukan seperti ini. Apakah Gerry benar-benar sudah berubah?
"Maafkan saya, Pak," ucap asisten Gerry yang mendapat lirikan tajam dari sang bos karena telah membiarkan Mona masuk ke dalam ruangan.
Gerry tak bisa mendebatkan hal itu sekarang, karena dia perlu bicara serius dengan Mona yang sudah terlanjur datang. Gerry pikir sikapnya kemarin sudah cukup membuat wanita itu mundur, tapi nyatanya Mona belum menyerah juga.
Jujur saja masih ada rasa sakit yang mengendap di dadanya saat melihat Mona menangis. Tapi harga dirinya sebagai seorang pria, seorang suami dan juga seorang ayah dipertaruhkan. Dia tidak boleh memikirkan dirinya sendiri.
"Kamu beneran udah nggak cinta sama aku?" tanya Mona tersedu-sedu. Senjatanya tiap kali meluluhkan hati Gerry. Namun, kali ini pria itu hanya membisu, hingga Mona memukul-mukul dadanya.
Bugh! Bugh!
"Jawab aku, Kak. Aku udah ngalah, aku rela ngelepasin mimpi aku kuliah di luar negeri demi bisa sama kamu.Kegagalan yang aku ceritain, semuanya itu bohong, itu bohong Kak, aku lakuin semuanya biar kamu nggak minder. Dan sekarang balesan kamu malah kayak gini ke aku?"
Pret! Itu hanya akal-akalan Mona saja supaya Gerry merasa bersalah. Dia pikir semudah itu memutuskan tali pernikahan yang sudah sah. Dia kira Gerry masih Gerry yang dulu, yang mau melakukan apa saja demi dirinya.
"Aku nggak pernah minta itu semua, Mon, kamu yang mutusin sendiri, bahkan tentang mimpi kamu, kamu nggak melibatkan aku sama sekali. Jadi harusnya aku yang tanya, aku bener-bener ada nggak sih di wishlist masa depan kamu?"
Deg!
Isak Mona berhenti sesaat, dia menelan ludah dan membuang pandangan. Kenapa kalimat itu rasanya menohok sekali.
Mona mencoba meraih tangan Gerry, lalu digenggam erat. "Kak, percaya sama aku. Cuma kamu satu-satunya orang yang aku butuhin, aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Please, Kak, cerain istri kamu dan balik sama aku ya ...." Pintanya dengan sorot mengiba. Permintaan yang picik sekali.
Gerry menatap beberapa detik, dia berusaha mengkhianati hatinya dengan menarik genggaman itu. Dia tidak mau Mona berpikir macam-macam lagi. Biarlah cinta yang menggebu itu dia kubur dalam-dalam.
"Kak!" pekik Mona karena tak digubris. Mencoba meraih lagi, tapi Gerry menghindar seakan Mona adalah benda najiss.
"Jangan ganggu hidup aku lagi, statusku udah berubah, Mon. Aku suami orang!" tegas Gerry sambil menunjukkan cincin yang melingkar sempurna di jari manisnya.
Tangis Mona makin pecah, dengan rasa sakit yang membara di dada. Dia tidak tahu apa kelebihan gadis yang telah dinikahi Gerry, hingga dengan cepat merubah keadaan menjadi tak berpihak padanya.
*
*
*
Emeery telah sampai di sekolah kedua anaknya. Seperti biasa Ethan akan melipir lebih dulu, setelah mencium tangan dia langsung lari ke kelas, tapi teriakan Emeery yang sangat keras menghentikan laju kakinya.
"Eh Ethan!"
"Ck, apa sih?" balasnya setengah sewot. Dia tak mundur, justru Emeery yang menghampirinya sambil menggandeng Sansan.
Emeery merogoh kantong celananya, sebelum pergi dia sempat menyelipkan beberapa lembar uang di sana.
"Nih buat tambah-tambah jajan," kata Emeery sambil menyodorkan masing-masing satu lembar berwarna merah. Biasanya anak-anak kan suka dengan uang, jadi dia menggunakan salah satu trik ini untuk mengambil hati Ethan dan Sansan.
"Norak! Mana ada di sini jajan pakai uang, semua siswa diberi kartu buat dipake ke kantin," jawab Ethan sambil mengangkat kartu warna hijau di sakunya. Emeery langsung menelan ludahnya malu. Pada zamannya mana ada aturan begitu.
"Ya udah ditabung aja, lumayan kan buat beli sesuatu yang kalian pengen tanpa harus minta ke Daddy." Emeery masih memaksa, dan kali ini Sansan yang menimpali.
"Tabungan juga udah ada kok, kata Daddy bica dipake campe kita kuliah."
Eh!
Kali ini Emeery menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kecut. Akal bulusnya malah diulti berkali-kali.
Ethan geleng-geleng kepala, lalu melanjutkan langkahnya tanpa menunggu Emeery bicara.
"Yah, Kakak cuka banget cih tinggalin aku," rengek Sansan dengan wajah masam.
"Eh tenang, kan ada Mommy. Mommy bakal anter kamu sampe ke kelas," sambar Emeery kembali bersemangat. Karena Sansan selalu mudah didekati, apalagi jika tidak ada Ethan yang suka provokasi.
Akhirnya dua wanita berbeda generasi itu berjalan sambil gandengan. Seperti pagi-pagi sebelumnya Miss Andien sudah menyambut di depan pintu. Wanita itu langsung tersenyum sumringah saat melihat Sansan datang.
"Selamat pagi, Sansan," sapa Miss Andien.
"Pagi, Miss," balas Sansan.
Miss Andien menatap Emeery sekilas, dari penampilannya dia pikir Emeery adalah pengasuh baru Sansan. Jadi, dia tidak menganggap keberadaan gadis yang tengah menelisik ke dalam kelas itu.
"Tumben Baby sitter yang antar, Daddy Sansan ke mana?" tanya Miss Andien kecentilan. Dia memang tidak tahu menahu tentang pernikahan Gerry, jadi dipikir pria itu masih duda.
Mendengar itu, leher Emeery langsung berputar, matanya awas menajam pada wanita yang baru saja menanyai keberadaan suaminya. Dan satu lagi, menganggapnya 'Baby Sitter'.
'Kurang ajar!'
"Daddy—"
"Ekhem!" Emeery memotong dengan deheman keras hingga membuat perhatian Miss Andien teralihkan. Alis wanita itu terangkat, seakan berkata ada apa?
"Barusan Miss ngomong apa?" tanya Emeery sedikit menyolot, gaya khasnya yang tengil langsung keluar.
"Saya cuma tanya ke mana Daddy Sansan, biasanya Daddy-nya yang antar," jawab Miss Andien dengan tampang bingung.
"Sekarang nggak lagi!" tegas Emeery sambil bertolak pinggang, kemudian tangannya yang satu terulur ke arah Miss Andien. "Karena saya—saya selaku Mommy baru Sansan, yang akan mengantarnya ke sekolah!" Nadanya terdengar congkak.
Glek!
Miss Andien langsung menelan salivanya dengan berat. Tak menyangka jika gadis muda di depannya adalah istri baru sang duda.
Grep!
Emeery langsung meraih tangan Miss Andien, karena wanita itu malah mematung dengan tampang pucat. Sedangkan Sansan hanya bisa menonton kedua orang dewasa itu.
"Kalau Miss cari-cari suami saya lagi, berarti Miss cari mati!" tandasnya untuk yang terakhir kali sambil mengarahkan dua jarinya ke arah mata Miss Andien, bentuk peringatan keras.
'Ih bisa-bisanya Pak Gerry nikahin bocah gila.' batin Miss Andien cepat-cepat meraih tangan Sansan untuk masuk ke dalam kelas.
"Semangat belajarnya ya, Sansan, nanti pulang Mommy jemput," teriak Emeery sambil dadah-dadah, wajahnya langsung berubah sumringah. Sansan membalasnya diiringi senyum, entah kenapa dia suka sikap Emeery terhadap guru pendampingnya yang suka kecentilan terhadap sang ayah.