NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Satu minggu telah berlalu, Nadira menjaga Keano dan mengurusnya dengan baik. Keadaan Keano jauh lebih sehat. Dia sudah tak menangis lagi.

Nadira menjadi jauh lebih tenang, Mahesa tak pernah ia lihat selama satu minggu ini. Padahal setiap malam ia takut akan di hukum, tapi ternyata Mahesa tidak menghukumnya.

Pagi itu Nadira sedang mengganti popok Keano, Nadira menatap manik Keano yang sangat mirip dengan Mahesa.

Tiba tiba bi Siti datang membawa susu hangat untuk keano. Bi Siti bermain main dengan Keano, sementara Nadira pergi mencuci tangannya ke kamar mandi.

Nadira keluar dari kamar mandi dan ia duduk di samping bi Siti.

" Nadira, kamu sangat beruntung bisa menjadi pengasuh Keano. Kamu orang satu satunya yang bisa menenangkan tuan muda." ujar bi Siti memuji Nadira.

Nadira tersenyum tipis, " Aku juga tidak mengerti bi, Keano hanya tenang saat di sampingku. Padahal aku bukan siapa siapa di keluarga ini!."

" Nadira, asal kamu tahu bayi itu sangat suci. mereka bisa membedakan mana orang baik dan jahat. Keano sangat menyukaimu dan nyaman di sampingmu berarti itu tandanya Nadira orang baik. Mungkin Keano ingin melindungi Nadira makannya Keano mau Nadira selalu di samping Keano. Kamu juga sudah menjadi bagian dari keluarga ini, kamu istrinya tuan Mahesa. Jangan berpikir kalau kamu bukan siapa siapa di keluarga ini. Walaupun pernikahan mu dengan tuan Mahesa dirahasiakan, tapi kamu tetap lah istrinya." bi Siti mencoba menjelaskan sebisanya.

Mendengar kenyataan bahwa ia adalah istri Mahesa membuat Nadira kembali teringat kejadian tragis pembunuhan itu. Ia hanyalah wanita yang di tuduh telah membunuh istri Mahesa, dan ia di nikahi bukan untuk dijadikan istri yang sesungguhnya, melainkan di nikahi karena akan di siksa untuk membalas sesuatu yang tak pernah ia lakukan.

" Bi, aku sangat takut di siksa lagi. Sudah satu minggu aku merasa tenang, hukuman berat apa yang akan aku alami setelah ini?." tanya Nadira dengan tatapan sedih pada bi Siti.

" Jangan bicara seperti itu Nadira, tuan Mahesa tidak mungkin menghukum wanita yang menjaga putranya. Kalau tuan Mahesa menghukum mu, itu sama saja dia tidak menyayangi putranya. Bagaimana bisa Nadira menjaga Keano kalau di hukum?."

Deg

" Berarti Nadira bebas dari hukuman karena sedang merawat Keano bi?." tanya Nadira.

Bi Siti mengangguk, " iya Nadira, apa kamu beranggapan kalau tuan Mahesa akan menghukum mu setelah kamu merawat putranya dengan baik?."

" Tapi satu Minggu yang lalu..." Nadira tak melanjutkan bicaranya. Mahesa memang mengancam akan menghukumnya kapan saja , tapi kenyataannya sampai sekarang Mahesa tak pernah lagi datang untuk menghukumnya.

" Bi, dimana tuan Mahesa sekarang?." tanya Nadira penasaran.

" Tuan sedang berada di perusahaan, akhir akhir ini dia terlihat sangat sibuk." jawab bi Siti.

Nadira mengerti, Mahesa ternyata sangat sibuk makannya dia tak pernah datang lagi. Nadira merasakan ada hal aneh dalam hatinya, ia seolah sedang menunggu kedatangan Mahesa. Padahal jelas jelas Mahesa datang hanya untuk menghukumnya. Tapi sentuhan lembut yang Mahesa lakukan pada lehernya membuatnya selalu kepikiran.

Nadira teringat pada ibunya saat melihat bi Siti. Nadira tahu sudah hampir sebulan ia tak pernah mengirimkan uang. Walaupun ibunya tidak meminta, tapi ia tahu ibunya sudah tak punya uang. Nadira berusaha memberanikan diri untuk bicara dengan bi Siti. Ia berencana meminjam uang pada bi Siti.

" Bi Siti..." panggil Nadira.

" Iya, apa Nadira?."

Nadira menarik nafas, " Bi, Nadira boleh pinjam uang bi Siti gak? Nadira mau kirim uang sama ibu di kampung tapi Nadira belum punya uang. Nadira tahu kalau obat ibu sudah habis, Nadira takut ibu akan kenapa napa." Nadira menyentuh tangan bi Siti dengan penuh harap.

Bi Siti tersenyum, " Tentu saja Nadira, bibi akan meminjamkan uang padamu. Berapa yang kamu inginkan?."

Manik Nadira berbinar, ia tersenyum senang. " Benarkah bi? Bibi sangat baik. Terimakasih bi!." Nadira memeluk bi Siti sambil menitikkan air mata.

" Iya Nadira, bibi senang bisa membantu Nadira. Nadira bilang saja pada bibi berapa yang Nadira butuhkan." Bi Siti menepuk nepuk lembut punggung Nadira yang memeluknya. Ia tahu bagaimana kehidupan Nadira karena gadis itu sering bercerita padanya.

" Baik bibi." ucap Nadira sumringah.

Sementara itu tanpa Nadira tahu, seseorang sedang memperhatikannya dari balik layar ponsel.

Mahesa sedang mengawasi Nadira dari CCTV. Tatapannya tajam, ia bisa mendengar semuanya. " Pinjam uang?." gumamnya pelan.

Mahesa memang tidak bertemu Nadira selama satu minggu ini, bukan berarti dia membiarkan Nadira begitu saja. Mahesa setiap hari selalu mengawasi Nadira. Mahesa cukup kagum karena Nadira benar benar merawat Keano dengan tulus. Nadira sama sekali tidak memperlakukan Keano dengan buruk.

" Sepertinya dia sangat butuh uang sampai harus meminjam pada pelayan. Apa aku terlihat seperti pria yang tidak punya uang?." Mahesa merasa tersinggung karena Nadira lebih memilih meminjam uang pada pelayan ketimbang pada dirinya.

" Nadira, kamu meremehkan ku!."

Mahesa menatap datar pada layar ponselnya sambil melihat kebahagiaan yang terukir di wajah Nadira.

***

Malam harinya di kediaman Adiprana, Nadira sedang melipat baju baju Keano. Walaupun bi Siti melarangnya, Nadira tetap melakukannya apalagi ia suntuk karena Keano sudah tidur.

Nadira sangat bahagia karena bisa mengirimkan uang pada ibunya, ia tak berhenti tersenyum. Rasanya sangat lega.

Namun tiba tiba senyum itu perlahan memudar saat melihat kedatangan sosok yang sudah satu minggu ini tak pernah terlihat.

" Tuan..."

Nadira spontan berdiri dan seperti biasa, menunduk tak berani menatap manik pria itu.

Mahesa terdiam, ia berjalan pelan ke arah Keano yang sedang tertidur.

" Apa ada yang kamu butuhkan sekarang?." tanya Mahesa dengan suara dingin.

Nadira tak mengerti kenapa tiba tiba Mahesa menanyakan hal seperti itu.

" Tidak ada tuan..." jawab Nadira takut takut.

" Apa kamu yakin?." ucap Mahesa lagi.

" I...iya tuan."

Mahesa menyeringai, "Padahal sangat butuh uang, tapi tidak mau mengatakan padaku." gumamnya dalam hati.

Mahesa berjalan ke arah Nadira, sementara gadis itu terlihat beringsut mundur.

" Baru saja tadi pagi aku membicarakannya, tapi dia langsung muncul. Aku sangat menyesal telah menanyakan nya, pasti sekarang aku akan di hukum!." gumam Nadira dalam hati.

" Ini gajimu selama sebulan! aku tidak mau berhutang budi pada siapapun. Kamu sudah merawat putraku dengan baik, jadi aku harus memberikan upah padamu!."

Deg

Nadira mendapat segepok uang dalam amplop coklat dari Mahesa, pria itu melemparnya begitu saja pada dadanya. Nadira sangat terkejut. Untung ia sigap menangkap.

" Ingat satu hal! Kamu akan tetap aku hukum jadi bersiap siap saja!."

Mahesa meninggalkan ruangan itu dengan aura dinginnya. Tak lupa dengan ancaman nya yang membuat Nadira merinding.

Nadira terduduk di sofa, lagi lagi ancaman Mahesa mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Bayangan tentang ikat pinggang milik pria itu membuatnya menelan ludah dengan susah payah.

Tapi sesaat kemudian pandangannya beralih pada amplop coklat yang cukup tebal di tangannya.

Nadira membuka bungkusan itu, matanya membulat sempurna melihat banyaknya uang kertas berwarna merah di dalam sana.

Nadira meletakkan uang itu di atas sofa, uang itu sangat banyak. Ia ingat ucapan Mahesa, uang itu adalah gajinya dalam sebulan.

" Ini sangat banyak, hampir dua puluh juta. Aku tidak bisa menerimanya. Aku harus mengembalikan ini. Aku takut ini hanya jebakan!." ucap Nadira was was.

Kebetulan bi Siti masuk ke dalam kamar itu.

" Bi, tolong jaga Keano sebentar, aku ada urusan." ucap Nadira.

" Ada urusan apa Nadira?."

Nadira telah pergi tanpa menjawab pertanyaan bi Siti.

Saat ini Nadira sudah berada di depan pintu kamar Mahesa. Nadira mencoba memberanikan diri untuk mengetuk.

Namun setelah lama menunggu pintu kamar tidak terbuka sama sekali.

Nadira menatap amplop coklat di tangannya yang terasa semakin berat. " Aku harus mengembalikannya."

Nadira tak punya pilihan, ia masuk saja ke dalam kamar Mahesa karena kebetulan kamar itu juga tidak di kunci. Ia pikir Mahesa tak ada di kamar, jadi ia akan meletakkan uang itu di sana saja.

Nadira masuk ke dalam kamar, ia tak melihat siapapun di sana.

Nadira merasa lega, ia kemudian meletakkan amplop berisi uang itu di atas nakas. " Sudah beres." ujarnya.

Nadira berniat untuk segera keluar dari kamar itu, saat ia berbalik.

Dup

Nadira menabrak dada Mahesa yang polos tanpa baju, ia memperhatikan dada bidang milik Mahesa yang berada tepat di hadapannya. Dada Mahesa sangat berotot. Mahesa baru saja selesai mandi dan wangi sabun masih melekat di badannya.

" Apa yang kamu lakukan di kamarku?."

Nadira menelan ludah dengan susah payah. " Mati aku!."

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!