"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Rumah yang Kosong
"Eh, tidak usah, Mas. Jangan merepotkan dirimu terlalu jauh untuk kami," tolak Cindy dengan nada suara yang melorot lirih, menatap Elang dengan binar mata penuh duka buatan. "Aku cuci baju kotor yang semalam saja sekarang, pakai mesin pengering milikmu agar cepat kering. Lagipula ... aku benar-benar merasa tidak enak kalau kamu membelikan baju baru lagi buat Ega. Istrimu ... Alin pasti akan sangat marah kalau tahu kamu mengeluarkan uang untuk anakku."
Mendengar nama Alin disebut dalam kalimat penolakan Cindy, sepasang sudut tidur Elang perlahan terangkat, membentuk sebuah lengkungan senyum samar yang terkesan sangat dingin, angkuh, dan meremehkan. "Alin tidak memiliki hak sedikit pun untuk marah, protes, atau mengatur ke mana uangku mengalir, Cindy. Ega adalah anak kandungku, darah dagingku sendiri. Sudah menjadi kewajiban mutlak bagiku sebagai ayahnya untuk memenuhi seluruh kebutuhannya tanpa perlu meminta izin atau persetujuan dari siapa pun di rumah ini. Kamu tidak usah khawatir tentang hal itu."
Elang menegakkan posisi duduknya, menatap blus kusam tanpa riasan yang dikenakan Cindy sejak kemarin malam. "Oh, iya ... baju ganti kamu sendiri bagaimana? Cukup tidak untuk beberapa hari ke depan selama tinggal di sini? Kalau memang kurang, sekalian siang ini aku belikan beberapa stel pakaian baru untukmu."
Mendengar tawaran emas itu, jantung Cindy berdegup kencang karena kegembiraan yang teramat besar mendadak bergejolak di dadanya. Di dalam hatinya yang culas, ia sangat ingin berteriak menyetujuinya dan meminta dibelikan beberapa baju bermerek mahal di butik ternama seperti yang biasa Elang berikan dulu saat mereka masih memadu kasih. Namun, Cindy tahu ia harus tetap menjaga ritme permainannya agar terlihat elegan, tahu diri, dan suci di mata Elang.
"Ah ... tidak usah, Mas Elang. Benar-benar tidak perlu untukku," tolak Cindy lagi, pura-pura menundukkan wajahnya dengan rona merah yang dipaksakan di pipinya yang tirus. Jemarinya meremas ujung baju kremnya. "Baju bawaanku masih ada dua stel di dalam tas, itu sudah lebih dari cukup untukku di sini. Aku tidak mau semakin menjadi beban atau memicu pertengkaran di rumah tanggamu yang baru berjalan sehari ini, Mas."
"Aku tidak pernah menganggap kalian sebagai beban di sini, Cindy. Sudah, jangan dibahas lagi," potong Elang dengan nada tegas, tipikal keputusannya yang mutlak sebagai seorang pemimpin perusahaan yang tidak suka didebat oleh siapa pun.
Elang bangkit berdiri dari tepi ranjang Ega, merapikan gulungan lengan kemejanya. "Aku ke atas dulu untuk mengganti baju kemeja kerja ini dengan pakaian santai, sekalian mau bicara sebentar dengan Alin tentang peraturan rumah ini selama kalian tinggal di sini, agar tidak ada kesalahpahaman lagi."
"Baik, Mas ... terima kasih banyak atas semua kebaikan dan perhatianmu," ucap Cindy lembut, menyugar rambut kecokelatannya ke belakang telinga. Ia menatap punggung tegap Elang yang melangkah keluar kamar dengan tatapan penuh kehangatan, seolah-olah ia'lah sang nyonya rumah yang sesungguhnya.
Elang melangkah tegap keluar dari kamar tamu bawah, menaiki satu demi satu undakan tangga menuju lantai dua dengan tempo cepat. Pikirannya masih dipenuhi oleh rencana pembagian anggaran untuk keperluan Ega dan Cindy ke depan. Namun, begitu ia membuka pintu ganda kamar utama dan melangkah masuk, keheningan yang janggal langsung menyergap indra penciumannya.
Kamar itu tampak begitu rapi, terlampau rapi untuk ukuran ruangan yang baru saja dihuni. Elang melangkah mendekati meja rias marmer putih. Di sana, sisir, ikat rambut, dan beberapa kosmetik harian milik Alin yang kemarin sore tertata di sana kini telah lenyap tanpa sisa. Dengan jantung yang mulai berdetak tidak beraturan akibat rasa tidak percaya, Elang memutar tubuhnya, membuka pintu lemari pakaian besar bermaterial jati di sudut kamar dengan sentakan kasar.
Sret!
Mata elang pria itu melebar sempurna, pupilnya bergetar hebat. Setengah bagian dari lemari besar itu kosong melompong. Tidak ada lagi deretan gamis, tunik, ataupun koper kain hitam milik Alin yang biasanya bertumpuk di bagian bawah lemari. Semuanya telah bersih, menandakan pemiliknya telah mengosongkannya dengan penuh kesadaran tanpa menyisakan selembar benang pun.
Detik itu juga, darah di dalam tubuh Elang terasa mendidih hingga ke ubun-ubun. Kedua tangannya mengepal dengan sangat erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol keluar, menahan gejolak amarah yang mendadak meledak hebat di dalam dadanya. Rahangnya mengeras tegang, menatap nanar ke arah gantungan baju yang kosong bergoyang ditiup angin AC. Pria arogan itu merasa otoritasnya sebagai suami telah diinjak-injak.
"Alin ... kamu benar-benar berani menantangku dan melangkah keluar dari rumah ini?!" desis Elang dengan suara rendah yang sarat akan kilat murka yang sangat berbahaya.
Pria egois itu sama sekali tidak menyangka bahwa gadis muda berusia dua puluh dua tahun yang ia nikahi karena keterpaksaan perjodohan—gadis berambut panjang terurai yang ia kira bisa ia kendalikan—akan benar-benar memiliki nyali sebesar ini. Alin melangkah keluar, membawa kopernya, dan meninggalkan rumah baru mereka di hari pertama pernikahan mereka tanpa rasa takut sedikit pun pada ancaman yang ia lontarkan tadi pagi di kamar ini.
***
Cengkeraman tangan Elang pada handle pintu lemari jati yang kosong melompong kian mengencang, hingga terdengar bunyi derit kayu yang tertekan beban emosi. Napasnya memburu, mengembuskan hawa panas yang seolah membakar keheningan kamar utama di lantai dua itu. Sepasang mata elangnya yang tajam menatap nanar deretan gantungan baju yang bergoyang sunyi, seakan sedang mengejek otoritasnya sebagai kepala rumah tangga yang baru saja diabaikan mentah-mentah.
"Sialan," desis Elang di sela rahangnya yang merapat kaku.
Dengan sentakan kasar, ia merogoh saku celana bahan kainnya, mengeluarkan ponsel pintar bernuansa hitam legam miliknya. Ibu jarinya bergerak dengan kecepatan tinggi di atas layar, membuka daftar kontak, dan langsung mencari nama Alin. Ego lelakinya yang tinggi bergejolak hebat; ia tidak akan membiarkan seorang gadis itu memenangkan konfrontasi ini. Ia akan menghubungi Alin detik ini juga, mencacinya karena telah berani melangkah keluar tanpa izin, dan menyeretnya pulang untuk menundukkan kepala di depan keputusannya.
Namun, belum sempat ibu jari Elang menyentuh ikon panggilan berwarna hijau pada kontak Alin, layar ponselnya mendadak berubah. Getaran kuat disertai nada dering khusus memutus gerakannya. Layar gawai itu menampilkan sebuah nama yang seketika membuat kerutan di dahi Elang kian mendalam.
Mbok Darmi.
Elang menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh amarah di dadanya sebelum menempelkan ponsel itu ke telinga kanan. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang berbeda. Mbok Darmi adalah kepala pelayan senior di rumah besar keluarga mereka, dan wanita sepuh itu hanya akan menghubungi ponsel pribadi Elang secara langsung jika terjadi sesuatu yang teramat darurat pada satu-satunya sosok yang paling dihormatinya di dunia ini.
Nenek Aisyah.
"Halo, Mbok," ucap Elang, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap terdengar datar dan bariton, khas pembawaan tenangnya sebagai seorang CEO.
Bersambung ...