Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Jebakan di Lembah Hitam
Fajar menyingsing dengan warna merah darah, seolah menjadi pertanda buruk bagi siapa pun yang memiliki mata untuk melihat. Namun, Yan Lie tidak peduli dengan takhayul. Ia hanya peduli pada hasil.
Di halaman penginapan "Awan Terbang", kekacauan masih berlanjut. Kuda-kuda Clan Yan masih lemah, beberapa bahkan tidak bisa berdiri. Wajah Yan Lie semakin gelap saat ia memeriksa peta yang "ditemukan" oleh pengawalnya pagi itu. Peta kulit usang itu menunjukkan lokasi di utara kota, sebuah tempat bernama Lembah Hitam.
"Lembah Hitam..." gumam Yan Lie, matanya menyipit. "Tanah di sana tidak stabil. Tapi jika 'Biji Api Abadi' benar-benar ada di sana, getaran energinya akan terkonsentrasi di titik terdalam lembah karena tekanan tanah."
Salah satu Elder Clan Yan, seorang pria tua berwajah garang bernama Elder Huo, mendekat. "Tuan Muda, apakah kita yakin dengan peta ini? Ini terlihat seperti jebakan. Mengapa seseorang dari Clan Lin akan meninggalkan benda berharga ini begitu saja?"
Yan Lie tersenyum dingin. "Karena mereka bodoh. Atau karena mereka takut. Pengawal yang menemukannya bilang dia melihat pelayan muda—Lin Fan—berkeliling dekat perpustakaan semalam. Mungkin si pelayan itu mencoba mencuri informasi untuk dijual, tapi ketakutan dan menjatuhkannya. Atau mungkin ini adalah petunjuk dari pihak ketiga yang ingin kita pergi dari kota ini. Apapun alasannya, aku tidak punya waktu untuk bermain-main. Kuda-kuda kita sakit. Kita butuh Biji Api itu sekarang untuk menyembuhkan mereka atau mengganti rugi kerugian ini. Jika peta ini palsu, aku akan membakar seluruh Kota Qingyun sebagai ganti rugi."
Elder Huo mengangguk perlahan. "Baik, Tuan Muda. Kami akan menyiapkan tim ekspedisi. Tapi ingat, Lembah Hitam adalah tempat terlarang. Banyak beast berbahaya di sana."
"Aku tidak takut beast," kata Yan Lie sambil menyarungkan pedangnya. "Aku adalah api yang akan membakar segala halangan."
Sementara itu, di atas atap sebuah gudang tua di tepi kota, Lin Fan dan Lin Yue berjongkok, mengamati rombongan Clan Yan yang bersiap-siap berangkat. Ada sekitar dua puluh orang, termasuk Yan Lie, Elder Huo, dan beberapa ahli kultivasi tingkat menengah. Mereka membawa alat-alat penggali dan bahan peledak alkimia.
"Mereka benar-benar pergi," bisik Lin Yue, suaranya gemetar campuran antara takut dan kagum. "Apakah rencanamu akan berhasil, Lin Fan?"
Lin Fan tidak menjawab segera. Matanya tajam memantau gerakan Yan Lie. "Yan Lie arogan, tapi dia tidak bodoh. Dia curiga. Tapi keserakahannya lebih besar daripada kecurigaannya. Dan kondisi kuda-kudanya memaksanya untuk bertindak cepat sebelum penyakit itu menyebar ke prajurit lain."
"Bagaimana dengan Lebah Batu Raksasa?" tanya Lin Yue. "Apakah mereka sudah bangun?"
Lin Fan menunjuk ke arah utara, di mana awan hitam tipis mulai berkumpul di atas puncak bukit. "Aku melemparkan batu berisi feromon lebah ke sarang utama mereka tadi pagi sebelum fajar. Feromon itu akan membuat lebah-lebah agresif dan menarik perhatian mereka pada sumber panas terbesar di sekitarnya. Saat Yan Lie menggunakan api untuk menggali atau meledakkan tanah, lebah-lebah itu akan menyerbu."
Lin Yue menelan ludah. "Itu... itu jenius dan kejam sekaligus."
"Kita harus pergi sekarang," kata Lin Fan, bangkit berdiri. "Saat ledakan terjadi, semua mata akan tertuju ke utara. Itu adalah waktu terbaik bagi kita untuk masuk ke kamar Yan Lie dan mengambil sisa harta bendanya yang tidak bisa dia bawa dalam ekspedisi singkat ini."
Lin Yue terbelalak. "Kau mau mencuri lagi? Dari kamar pribadinya? Itu gila! Penjaga pasti masih ada!"
"Penjaga utama ikut dalam ekspedisi. Hanya ada dua penjaga cadangan di pintu belakang. Dan mereka akan lengah karena menunggu kepulangan Tuan Muda mereka dengan sukses," jelas Lin Fan. "Ayo. Jangan buang waktu."
Rombongan Clan Yan tiba di mulut Lembah Hitam setelah perjalanan satu jam. Lembah itu memang sesuai namanya: gelap, suram, dan dipenuhi kabut tebal yang berbau belerang. Dinding-dinding tebingnya tinggi dan curam, terbuat dari batu hitam vulkanik.
"Di sini," kata Yan Lie, menunjuk ke tengah lembah sesuai peta. "Gali!"
Para prajurit Clan Yan mulai bekerja. Mereka menggunakan sekop bertenaga Qi dan alat-alat alkimia untuk menggali tanah hitam yang lunak. Yan Lie berdiri di atas batu besar, mengawasi dengan tangan di gagang pedang. Elder Huo berdiri di sampingnya, waspada terhadap sekeliling.
Satu jam berlalu. Lubang sedalam tiga meter telah digali. Namun, tidak ada tanda-tanda artefak kuno. Hanya tanah hitam dan akar-akar pohon yang busuk.
"Tuan Muda," lapor seorang prajurit, napasnya tersengal. "Tidak ada apa-apa di sini. Hanya tanah kosong."
Wajah Yan Lie berubah merah karena marah. "Terus gali! Lebih dalam! Peta ini tidak mungkin salah!"
Tiba-tiba, Elder Huo mengangkat tangannya. "Tunggu. Aku merasakan sesuatu."
Suara dengungan rendah terdengar dari kejauhan. Awalnya halus, seperti angin yang melewati celah batu. Tapi semakin lama, suara itu semakin keras, semakin bernada ancaman.
Dengung...
"Dari mana suara itu?" tanya Yan Lie, tangannya sudah siap mencabut pedang.
Elder Huo menatap ke atas, ke arah celah-celah tebing di sekitar mereka. Wajahnya pucat pasi. "Tuan Muda... lihat ke atas."
Yan Lie mendongak.
Dari celah-celah tebing hitam, ribuan titik kuning kecil mulai keluar. Mereka bukan debu. Mereka adalah lebah. Lebah berukuran sebesar kepalan tangan manusia, dengan cangkang keras seperti batu dan sengat yang berkilau hijau beracun.
Lebah Batu Raksasa.
"Sial!" umpat Yan Lie. "Mundur! Bentuk formasi pertahanan!"
Namun, sudah terlambat. Ribuan lebah itu menukik turun seperti hujan panah, mengarah tepat pada sumber panas terbesar di lembah: api-obor para prajurit dan aura api Yan Lie sendiri.
"Serang!" teriak Elder Huo, melepaskan gelombang api dari telapak tangannya untuk membakar lebah-lebah di udara.
Prajurit-prajurit Clan Yan panik. Mereka mengayunkan pedang dan melepaskan teknik elemen mereka. Api, angin, dan tanah bertabrakan di udara, menciptakan kekacauan visual yang luar biasa. Ledakan-ledakan kecil terjadi setiap kali teknik mereka bertemu dengan gerombolan lebah.
Dan kemudian, Yan Lie melakukan kesalahan fatal.
Marah karena diserang dan frustrasi karena tidak menemukan Biji Api, Yan Lie mengumpulkan Qi-nya dalam jumlah besar. Tubuhnya bersinar merah menyala. Ia ingin membersihkan seluruh lembah dengan satu serangan api raksasa.
"BERNAHULAH SEMUA!" raungnya.
Ia menghentakkan kakinya, dan gelombang api berbentuk naga meledak dari tubuhnya, menyapu seluruh area tengah lembah.
Panaskan itu memicu reaksi yang tidak diharapkan Lin Fan, namun justru lebih dahsyat. Gas metana yang terperangkap di dalam tanah hitam, yang sudah menipis akibat penggalian, tersulut oleh api raksasa Yan Lie.
BOOM!
Ledakan itu bukan berasal dari lebah, tapi dari tanah itu sendiri. Tanah di tengah lembah meledak ke atas, mengirimkan geyser api dan lumpur panas setinggi puluhan meter ke langit. Gelombang kejutnya melemparkan prajurit-prajurit Clan Yan seperti boneka kain.
Yan Lie terpental ke belakang, menabrak dinding tebing. Dadanya sesak, napasnya tercekat. Dia selamat berkat baju zirah Qi-nya, tapi wajahnya hangus sebagian, dan egonya hancur berkeping-keping.
Lebah-lebah, yang kini semakin marah karena gangguan dan panas, terus menyerang tanpa ampun. Sengatan-sengatan mereka menembus pertahanan Qi para prajurit yang sudah kacau balau.
"Mundur! Mundur!" teriak Elder Huo, suaranya parau karena asap. "Ini jebakan! Ada orang yang memanipulasi situasi ini!"
Yan Lie, dengan wajah penuh luka bakar dan mata yang menyala karena kemarahan murni, menatap langit yang dipenuhi asap dan lebah. Ia tahu dia telah ditipu. Dan dia tahu siapa yang mungkin bertanggung jawab.
"Pelayan sialan..." geramnya, suaranya rendah dan penuh dendam. "Jika kau masih hidup saat aku kembali, aku akan mengulitimu hidup-hidup."
Sementara itu, di Kota Qingyun, Lin Fan dan Lin Yue baru saja keluar dari kamar suite Yan Lie. Mereka membawa tas kecil berisi Batu Spirit Tingkat Menengah dan beberapa manuskrip teknik dasar elemen Api yang dicuri dari meja belajar Yan Lie.
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar halus. Suara ledakan jauh terdengar dari utara, diikuti oleh kolom asap hitam yang mengepul tinggi ke langit.
Lin Fan tersenyum puas. "Tepat waktu."
Lin Yue menatap kolom asap itu dengan ngeri. "Itu... itu sangat besar. Apakah mereka semua mati?"
"Tidak," kata Lin Fan dingin. "Yan Lie terlalu kuat untuk mati karena ledakan gas level rendah. Tapi dia akan kalah. Malu, terluka, dan kehilangan banyak sumber daya. Clan Yan akan menarik diri dari kota ini untuk mengobati luka mereka dan merencanakan balas dendam. Itu memberi kita waktu."
"Waktu untuk apa?" tanya Lin Yue.
Lin Fan menatap ke arah kediaman Clan Lin, di mana Lin Hu sedang bersiap-siap untuk menyambut kembalinya Yan Lie dengan harapan mendapat pujian.
"Waktu untuk tumbuh," kata Lin Fan. "Dan waktu untuk menghancurkan Lin Hu dari dalam."
Ia memasukkan tas curian ke dalam bajunya. Langkahnya ringan, hatinya tenang. Hari ini, ia bukan lagi korban. Dia adalah dalang di balik layar. Dan panggung berikutnya sudah siap.