NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Menguji kesabaran

Sangat sulit membangun bisnis kecil tanpa memiliki nama besar di belakangnya. Nayra Lovarisa sudah merasakan itu bertahun-tahun yang lalu, sampai akhirnya sekitar empat tahun lalu ia memutuskan untuk membuat akun sosial media.

Harapan awalnya bukan untuk viral, tapi sekedar melepas rasa frustasi di kala bisnis yang di jalaninya tidak bisa membuahkan hasil yang banyak, kebetulan ia juga sangat suka tampil di depan orang apa lagi hanya di depan kamera ponsel saja.

Hanya berjarak sepuluh bulan, salah satu videonya naik dengan memiliki banyak view di susul dengan video-video random yang lainnya. Tak sampai di situ saja, jumlah pengikutnya juga bertambah banyak sampai pada akhirnya membuat kehidupannya juga ikut berubah.

Dalam satu bulan saja di tahun yang sama, Nayra yang semula tinggal di toko di mana semua aktivitas mereka dengan jualan di batasi oleh sekat yang terbuat dari triplek, akhirnya bisa pindah ke kontrakan layak di tinggali bersama putranya.

Hanya berjarak tiga bulan, Nayra memutuskan untuk menambah bisnisnya. Berawal dari jualan jus serta donat di tempat yang sama sekarang memiliki toko masing-masing, ia juga mencoba membuka bisnis lain mulai dari restoran jepang, korea, kafe, dan masih banyak lagi.

Beberapa bisnis ada jalan, ada yang tutup karna kurang peminatnya, ada yang sepi pengunjung dan masih banyak lagi yang tidak membuatnya berlarut-larut serta kapok.

Hal itu karna dari kecil ia sudah berada di lingkungan bisnis yang tak melulu untung tapi selalu ada naik turunnya, yang pasti Nayra sudah melakukan yang terbaik dari memilih bahan terbaik dan harga yang sesuai dengan pasaran dalam setiap bisnisnya.

Nayra juga selalu memantau semua bisnis itu agar tetap berjalan sesuai dengan yang di inginkannya bersamaan dengan konten yang sudah berganti dengan acak, kadang menjual produk atau usaha orang lain, masak, makeup, sampai kehidupan sehari-harinya seolah tidak punya privasi lagi.

Namun, nyatanya ia masih punya hal-hal yang tidak di jadikannya santapan warga internet tak peduli sekeras atau sebanyak apapun uang di tawarkan padanya. Salah satu adalah wajah Putranya, mungkin banyak orang sudah bertemu, tapi ia berupaya dengan berbagai cara agar mereka tak mengunggahnya di Internet karna anaknya tak suka.

Dari awal Rayyan tak suka sorot kamera, untuk alasan apapun bahkan sekedar foto untuk di pajang di rumah, Nayra harus membujuknya dengan berbagai cara agar bersedia.

Seperti saat ini sepulang sekolah, Rayyan dengan sengaja ia tipu dengan mengunakan Gatra. Sebenarnya Nayra tak suka dengan cara ini, tapi tadi pagi sebelum putranya berangkat sekolah, ia sudah kehabisan cara sementara jadwal foto mereka tidak bisa di ganti.

"Mana Om Raranya, Ma? Katanya nunggu di sini juga?" Tanya Rayyan untuk kesekian kalinya sambil mendekati Nayra yang sedang di makup.

"Mama bilang dia udah nyusul ke sini bukan–"

"Kok beda lagi? Mama bohong?" Tanya Rayyan dengan tidak terima lalu tanpa sengaja menepis tangan asisten sang Mama yang ingin mengenakan kancing kemejanya. "Jangan pegang-pegang!"

"Rayyan, yang sopan!" Tegur Nayra melihat dari pantulan kaca. "Berhenti bentar, Mbak. Saya mau ngomong sama anak saya."

Penata rias mengangguk lalu pura-pura sibuk dengan alat-alat riasnya sementara Nayra sudah menatap Rayyan sepenuhnya. "Mama minta maaf karna udah bohong sama kamu, tapi foto kita ini bukan buat di posting di sosial media, tapi cuma buat kenang-kenangan di rumah baru kita."

"Tapi Mama bohong! Kayak Mama yang ngga suka aku bohongi, aku juga ngga suka di bohongi, Ma!"

"Rayyan, banyak orang." Nayra mengingatkan putranya agar tidak lagi menaikkan nada suaranya. "Kayaknya Mama udah sering bilang soal ini, tapi kamu ngga ngerti-ngerti juga."

Rayyan tak memberi pembelaan lagi, tapi dari ekspresi dan gerak tubuhnya, Nayra tahu kalau putranya itu sedang kecewa. Nayra kembali meminta perias untuk melanjutkan pekerjaannya dengan mata menatap pantulan kaca, di mana terlihat Rayyan hanya pasrah kala asistennya mengancingkan kameja putih, mengenakan jas serta dasi kupu-kupu di lehernya.

Mendadak ia merasa bersalah serta sangat yakin kalau hasil foto mereka nanti pasti tidak akan bagus. "Oke, Mama ngalah, sekarang Rayyan mau apa?" Tanya Nayra setelah di ruangan ini tersisa Rayyan dan asistennya saja.

"Ngga mau apa-apa." Kata Rayyan yang sudah duduk di kursi yang tak jauh darinya sambil memainkan ponsel.

"Pergi les renang di temani Om Rara kamu itu? Oke, oke, Mama izinkan. Asal kamu mau foto yang bagus buat di pajang di di rumah baru kita." Nayra akhirnya menyerah untuk keras kepala juga.

Dari sebelum sampai di tempat ini, anak itu sebenarnya sudah meminta izin, tapi tak di izinkan Nayra. Hal itu bukan karna ia ingin membatasi pergaulan anaknya dengan siapapun, termasuk orang lebih dewasa, selagi mereka baik, tapi masalahnya ia tak ingin merepotkan Gatra lebih jauh lagi.

"Nanti di bohongi lagi." Rayyan masih belum menatap Nayra.

"Enggak, kali ini beneran."

"Yaudah, aku mau."

Wanita itu bertukar pandangan dengan asistennya yang memang tidak banyak bicara, mereka menahan senyumnya lalu sang ibu berdiri dan mendekati putranya. "Tapi fotonya harus dari hati ya? Biar hasilnya bagus."

Rayyan mengangguk saja lalu memasukkan ponsel ke dalam tas sang Mama yang ada di tangan Mbak Alda, asisten, lalu buru-buru mendekati Nayra. "Ma, Rayyan maunya Om Rara datang ke sini buat jemput bukan di antar Mama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!