Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelinap
"Mr.D bilang ini tetap tak berguna."
Ella menatap tablet yang kini kembali ke hadapannya tepat di atas meja kerjanya.
"Bukankah setelah bertemu Mr.D kau bilang kau akan membuat yang sesuai dan lebih baik? Kenapa ini tetap di tolak Mr.D?" ejek Bobby.
Ella menatap cemberut. Mana dia tahu, dia bahkan tak mengerti kenapa Mr.D terus saja menolak naskahnya.
Sialan, memang!
Bobby menyeringai lalu mencondongkan tubuhnya pada Ella. "Sebaiknya persiapkan dirimu untuk ..." Bobby menggerakkan tangannya menggolok lehernya sendiri mengisyaratkan jika Ella akan mati dalam waktu dekat.
Ella menatap kesal dengan mata tajam, tangannya mengepal erat karena benar-benar marah.
Entah Bobby atau tuannya, mereka sama. Apa mereka merasa nyawa seseorang itu sebuah lelucon.
"Aku mau bertemu dengannya," ucap Ella akhirnya.
"Terakhir kali kamu bilang setelah bertemu akan mendapatkan bab yang memuaskan, tapi ternyata tidak. Lalu untuk apa kau bertemu lagi?"
"Tentu saja aku harus tahu di bagian mana yang tidak memuaskan." Jika novel tanpa filternya masih tidak berguna untuk Mr.D bukankah harusnya pria itu tidak menyalahkannya? Dia sendiri yang tak mampu.
Bobby mendengus. "Kamu hanya mengganggu waktu tuan saja. Sebaiknya pikirkan bagaimana kamu bisa mendapat bab yang akan tuan terima."
Ella memejamkan matanya kesal saat Bobby terus memojokkannya. Pria itu pergi setelah mencibirnya.
Menyebalkan.
.....
Ella menyalakan teko listrik lalu menunggu air di depannya mendidih sebelum menyiramnya ke dalam mie cup yang baru saja dia ambil dari ruang mini market pribadi milik tuan rumah yang katanya bebas Zena gunakan.
Menunggu beberapa saat hingga mie benar-benar matang Ella duduk di meja makan untuk menikmati mienya.
Wajahnya masih terlihat kesal karena ucapan Bobby tadi pagi, saking kesalnya Ella bahkan tak menulis sama sekali hari ini karena merasa otaknya terlalu buntu.
Setelah sekian lama dia menjadi penulis dia tak pernah merasa seputus asa ini hingga kehabisan ide.
Semua usahanya terasa sia- sia.
Ella mengambil bubuk cabe lalu memasukannya ke dalam cup mienya. Dia suka pedas, dan kali ini dia ingin pedas itu membakar lidahnya.
"Brengsek! Apa sih maunya. Menyebalkan." Ella membuka kaleng soda lalu meminumnya sedikit sebelum memakan mienya.
"Kalau dia terus menganggap itu tidak berguna kenapa masih menahanku disini," gerutunya sambil mengaduk mienya, kuahnya yang merah menandakan mie tersebut benar-benar pedas.
Rasa pedasnya bahkan sudah seperti terasa di mulutnya membuatnya menelan ludahnya kasar, hingga saat Ella akan menyuapkan mie tersebut dia mendengar suara di belakangnya.
"Sedang apa, kau?" Ella menoleh dan menemukan Dominic di belakangnya. Pria yang dia kira sebagai pengawal itu tak mengenakan jas hanya kemeja putih yang sudah terbuka dua kancing atasnya.
"Oh, makan. Kau mau," tawarnya.
Dominic mengerutkan keningnya melihat kuah merah tersebut. "Ayo makan, kau lagi istirahat, kan?" Ella menepuk kursi makan di sebelahnya.
"Kau makan itu?" Menerima tawaran Ella untuk duduk Dominic menunjuk cup mie di depan Ella.
"Hm, kamu mau? Aku buatkan untukmu, tunggu!" Ella melangkah ke arah gudang makanan dan membawa satu cup mie juga kaleng soda.
Menyeduhnya dengan air panas lalu meletakannya di depan Dominic. "Tunggu dua menit mienya akan matang." Ella kembali duduk di kursinya.
Ella menunggu beberapa saat dengan memperhatikan wajah tampan Dominic, hingga dua menit berlalu dia hampir lupa dengan mienya saking terpananya dengan ketampanan pria di depannya. "Pasti sudah matang." Ella membuka tutupnya membuat aroma mie menguar di udara. "Nah, ayo makan."
Dominic kembali mengerutkan keningnya. "Kenapa kuah milikku tidak merah?"
Ella menatap miliknya yang di tunjuk Dominic, "Karena aku menambahkan cabe." Ella mulai menyuapkan mienya membuat lidahnya terasa terbakar.
Dominic memperhatikan cara Ella makan, gadis itu terlihat begitu menikmati makanannya bahkan tersenyum seolah tak memiliki beban, hingga mie di tangannya habis tak bersisa berikut kuahnya yang dia minum hingga tandas.
"Ah, enak," desahnya lega saat mienya habis.
"Kenapa tidak dimakan?" Ella menatap Dominic yang hanya menatapnya tanpa menyentuh mienya.
"Aku tidak suka mie." kata Dominic masih dengan memperhatikan Ella.
Ella mengangguk. "Kalau begitu biar untukku saja."
Dominic mendorong cup mienya ke arah Ella, membuat Ella tersenyum lalu tanpa rasa malu melahapnya.
"Porsi makanmu sangat banyak?" Dominic menaikan alisnya saat Ella hampir menghabiskan kembali mienya.
"Sebenarnya tidak juga. Aku bisa mengirit makanan dengan hanya makan sekali sehari kalau aku tak punya uang." Ella meneguk sodanya, lalu menatap Dominic. "Aku hanya makan banyak saat aku kesal. Dan kebetulan disini banyak sekali makanan, jadi aku tak boleh menyiakannya." Mata Ella berkedut tajam.
"Kau kesal?" Ella kembali mengangguk wajahnya kembali merengut menyedihkan. "Apa yang membuatmu kesal?"
"Tuan kalian itu—" Seolah tersadar kalau Ella tak boleh bicara sembarangan, Ella menghentikan ucapannya.
Tidak! Mr.D bilang tak ada yang boleh tahu rahasianya, kalau tidak dia bisa mati.
Ella kembali menelan ucapannya. "Tidak ada."
Dominic menyeringai saat melihat wajah Ella begitu menyedihkan. Dia tahu gadis ini hendak bicara tentangnya, namun sepertinya dia masih memiliki rasa takut hingga memilih kembali diam.
"Tidak jadi bicara?"
"Sudahlah, aku juga tidak seharusnya bicara denganmu, kan." Ella menghela nafasnya. "Aku hanya berharap ini hanya mimpi dan aku akan kembali bangun di kamar kosku." Ella membawa bekas makannya, lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Ngomong- ngomong, siapa namamu?" Beberpa kali bertemu tapi Ella tidak tahu siapa nama pria di depannya.
"Dom—"
"Oh, Dom, aku Ella." Ella mengulurkan tangannya, namun saat melihat Dominic hanya diam dia segera meraih tangan Dominic dan menjabatnya.
Ella tersenyum. "Salam kenal Dom."
"Kalau begitu aku pergi dulu." Ella menaikan tangannya lalu pergi meningalkan Dominic yang lagi- lagi hanya bisa diam memperhatikan punggung Ella beberapa saat sebelum menunduk menatap tangannya yang baru saja di genggam Ella.
...
Saat akan menaiki tangga Ella melihat Bobby memasuki rumah dengan beberapa berkas di tangannya. Melihat hal itu Ella mengurungkan niatnya untuk pergi ke lantai dua dan memilih menghampiri Bobby.
"Tuan Bobby, bagaimana? Apa kau sudah mengatakan pada Mr.D kalau aku ingin bertemu?"
Bobby menghentikan langkahnya saat Ella menghadangnya.
"Apa aku mengatakan akan bilang?" Pria itu mengambil langkah lain saat Ella terus menghalanginya, namun seperti itu pula Ella kembali menghadangnya.
"Ayolah, Tuan. Aku tidak bisa berakhir konyol disini, atau setidaknya lepaskan aku, ya?" Ella menatap dengan mata anjing yang menggemaskan, berharap Bobby merasa kasihan, namun seperti Bobby biasanya pria itu bergeming dan hanya menatapnya datar.
"Sudah selesai? Minggirlah!" Bobby menyingkirkan tubuh Ella dari hadapannya, dan melanjutkan niatnya untuk pergi ke kamar Dominic.
Ella menatap kepergian Bobby dengan wajah kesal. "Kalau hari ini aku tak bisa bertemu dengan Mr.D, jangan panggil aku Kristella Duan!" Ella mengikuti langkah Bobby.
Saat melihat pria itu pergi ke arah kamar Dominic, Ella segera mengendap dan bersembunyi di balik tembok.
Melihat Bobby berhenti sejenak dan berhadapan dengan seorang pria Ella berguman dengan memperhatikan, "Mr.D?" gumamnya, namun beberapa kali Ella berusaha melihat siapa pria di depan Bobby, Ella tak bisa melihat sebab tubuh Bobby yang menghalanginya.
Bobby menunjuk ruangan lain membuat keduanya pergi ke arah ruangan tersebut.
Memanfaatkan kepergian mereka Ella segera masuk dan menyelinap ke dalam kamar Dominic lalu bersembunyi di belakang sofa.
"Bagaimana pun caranya aku harus bertemu dengannya."
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..