Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sidang Disipliner Basah Kuyup
"Lepasin... gue..." erang Boni putus asa di bawah injakan kaki Riana. Darah dan air bercampur menjadi satu menutupi hampir seluruh wajah kasarnya. Komandan pasukan elit Aegis Corp itu kini tidak lebih dari sekadar onggokan daging tidak berdaya yang memohon belas kasihan.
Riana tidak mengurangi tekanan kakinya sedikit pun. Dia justru sedikit mencondongkan tubuhnya ke bawah.
"Siapa yang suruh lo datang ke sini bawa pisau beracun?" tanya Riana dengan suara rendah yang sangat mengancam. "Jawab sekarang, atau gue injak tulang rusuk lo sampai patah dan menusuk paru-paru lo."
"I-inisiatif... gue sendiri..." jawab Boni tersengal-sengal menahan sakit yang luar biasa. "Gue... nggak terima lo batalin... operasi gue..."
Riana mendecih pelan. Kesetiaan buta semacam ini sangat umum di dunia bawah tanah. Dia tahu Boni tidak berbohong. Bos besar tidak akan menggunakan taktik murahan dan kasar seperti ini jika benar-benar ingin menyingkirkannya. Ini murni ego seorang komandan lapangan yang terluka.
Suara sirine alarm kebakaran mendadak berhenti. Lampu darurat berwarna merah di langit-langit juga ikut padam, digantikan oleh cahaya lampu neon putih utama yang perlahan menyala kembali, menerangi kekacauan luar biasa di dalam ruangan HRD.
Pancaran air deras dari sistem pemadam otomatis akhirnya berhenti menyemprot. Genangan air setinggi mata kaki merendam seluruh karpet tebal di lantai lima belas. Bau dari karpet basah dan bau darah amis menguar pekat di udara.
Dari arah luar lorong, terdengar suara derap langkah kaki tergesa-gesa. Sekelompok petugas keamanan gedung berseragam lengkap menerobos masuk ke dalam ruangan HRD yang kacau balau. Mereka terbelalak ngeri melihat pemandangan di depan mata.
Manajer HRD baru mereka yang terkenal culun sedang berdiri dengan kemeja basah kuyup, sementara empat pria berbadan besar berpakaian serba hitam terkapar tak berdaya di lantai dalam kondisi mengenaskan. Salah satunya bahkan hidungnya patah dan tangannya bengkok ke arah yang tidak masuk akal.
"Bu Riana! Ibu tidak apa-apa?!" seru kepala regu keamanan panik, buru-buru melangkah masuk menghindari pecahan kaca. "Kami dengar alarm darurat berbunyi dari sistem pusat, lalu melihat asap... Astaga, ini Boni dari Divisi Tempur?!" serunya panik.
"Panggil teknisi gedung sekarang juga. Minta mereka perbaiki engsel pintu kaca gue dan keringkan karpet dan ruangan ini," perintah Riana sama sekali tidak memedulikan pertanyaan panik kepala keamanan itu. Dia menarik kakinya dari dada Boni, lalu menoleh menatap para petugas yang masih terbengong-bengong. "Dan kalian bertiga, seret empat sampah ini. Jangan bawa mereka ke klinik medis. Bawa mereka ke ruang rapat utama HRD detik ini juga."
"T-tapi Bu, kondisi Boni sangat parah. Tulang tangannya mencuat keluar," protes salah satu petugas keamanan dengan ragu. "Dia butuh ambulans."
"Bawa. Mereka. Ke ruang rapat," potong Riana menekan setiap suku katanya dengan tatapan mata membunuh. "Gue tidak akan mengulang perintah gue dua kali."
Petugas keamanan itu langsung menelan ludah dan tidak berani membantah lagi. Mereka segera memapah paksa Boni dan tiga anak buahnya yang setengah sadar menuju ruang rapat yang letaknya hanya bersebelahan dengan ruang utama HRD. Boni mengerang kesakitan di setiap langkahnya.
Riana tidak membuang waktu untuk mengganti bajunya yang basah atau mengeringkan rambutnya. Dia berjalan ke mejanya yang berantakan, menarik sebuah laci bawah yang tidak terkena air, lalu mengambil tumpukan kertas formulir resmi dan sebuah stempel perusahaan. Dia menenteng dokumen itu dan melangkah tegap menuju ruang rapat dengan kaki telanjang.
Di dalam ruang rapat yang dingin, Boni dijatuhkan dengan kasar ke atas salah satu kursi kulit. Tiga anak buahnya ditumpuk begitu saja di sudut ruangan. Darah dari hidung Boni menetes mengotori meja bundar besar yang terbuat dari kayu jati mahal.
Riana masuk ke ruangan itu, menutup pintu rapat-rapat, lalu duduk di kursi seberang Boni. Dia melempar tumpukan kertas dokumen itu tepat ke hadapan komandan pasukan tempur yang sedang merintih kesakitan.
"Tanda tangani," perintah Riana datar, menyodorkan sebuah pulpen hitam ke dekat tangan Boni yang masih utuh.
Boni membuka sebelah matanya dengan susah payah, berusaha membaca deretan huruf di kertas itu. "S-surat apa ini...?"
"Surat pemecatan tidak terhormat," jawab Riana cepat tanpa basa-basi. "Dan di halaman kedua adalah surat pernyataan ganti rugi pemotongan gaji secara penuh untuk menutupi biaya perbaikan pintu kaca, meja kerja, alat detektor asap, dan biaya jasa pembersihan karpet yang kalian rusak malam ini."
"Lo... lo gila," desis Boni menahan napas. Rasa perih di pergelangan tangannya membuat seluruh saraf tubuhnya terasa seperti terbakar api neraka. "Gue butuh dokter, bukan surat pemecatan bodoh ini..."
"Di ruangan ini, gue adalah dokter, hakim, sekaligus algojo lo," balas Riana mutlak, menatap Boni tanpa belas kasihan sedikitpun. "Tanda tangani kertas itu, lalu lo boleh pergi ke rumah sakit mana pun yang lo mau pakai biaya pribadi lo sendiri. Menolak tanda tangan berarti lo setuju gue laporin tindakan pembunuhan berencana ini ke bos besar beserta bukti pisau beracun yang lo bawa tadi."
Boni menelan ludah paksa. Ancaman dilaporkan ke CEO jauh lebih menakutkan daripada mati kehabisan darah. Jika bos besar tahu dia mengacaukan ruangan HRD di masa persiapan audit pajak, bukan cuma dia yang akan dibunuh, tapi seluruh anggota keluarganya akan dicincang habis.
Dengan tangan kiri yang gemetar hebat, Boni meraih pulpen hitam itu. Namun, rasa sakit yang teramat sangat dari tangan kanannya yang patah membuat fokus saraf motoriknya hancur berantakan. Jari-jarinya tidak mampu menggenggam pulpen itu dengan benar. Pulpen itu jatuh menggelinding ke lantai.
Boni yang terkenal sebagai monster penjagal tanpa ampun itu perlahan menitikkan air mata. Rasa frustasi, rasa sakit fisik yang ekstrim, dan rasa malu karena dikalahkan telak oleh seorang perempuan culun berseragam HRD benar-benar menghancurkan mentalnya malam itu.
"Gue... gue nggak bisa pegang pulpennya..." isak Boni memelas, air matanya bercampur dengan darah dan air hujan buatan yang membasahi wajahnya. "Tangan gue terlalu sakit..."
Riana mendecak sebal melihat pemandangan menyedihkan itu. Tidak ada ruang untuk orang lemah di perusahaan ini.
Prok. Prok. Prok.
Suara tepuk tangan pelan, berirama, dan sangat konstan tiba-tiba terdengar memecah keheningan yang tegang di ruang rapat itu.
Riana langsung memutar kepalanya ke arah pintu masuk yang sedikit terbuka. Kewaspadaannya langsung naik ke tingkat maksimal. Otot-otot tubuhnya kembali menegang, bersiap untuk pertarungan ronde kedua jika musuh baru muncul.
Sosok tinggi tegap Jace berdiri santai bersandar di ambang pintu. Pria berseragam petugas kebersihan berwarna biru muda itu melipat kedua tangannya di depan dada. Sebuah handuk putih bersih yang cukup tebal tersampir rapi di bahu kanannya. Senyum miring yang sangat menyebalkan dan penuh selidik tercetak jelas di wajah tampannya.
"Sidang indisipliner yang sangat luar biasa, Bu HRD," ucap Jace dengan suara berat aslinya, membuang jauh-jauh nada jenaka khas petugas kebersihan bodoh. Matanya menatap lekat kemeja putih Riana yang basah kuyup menempel di badan, lalu beralih menatap Boni yang menangis di kursi seberang. "Aku belum pernah melihat seorang komandan tempur elit dipaksa menandatangani surat ganti rugi karpet sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan mainan."
semoga aj mereka Selamat ,,
Semoga sehat dan tetap semangat 💪
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪