“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”
Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.
Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SDUA 27
Dalam perjalanan menuju tempat Alyra Hussein mengembangkan bakat selama sepuluh tahun lamanya, Erlan terus memasang raut wajah tidak ramah, begitu masam, rahang terus mengetat.
Sementara sang asisten masih fokus pada kemudi, melajukan kendaraan dengan kecepatan lebih dari biasanya.
“Apa kita akan menemui Nyonya muda, Tuan?” tanya Andi, ia baru saja menerima informasi dari seorang kepercayaan perihal kasus yang sedang menyeret nama istri sang tuan.
Ponselnya menyala singkat, menampilkan ringkasan pesan dari aplikasi hijau di layar notifikasi.
“Nyonya muda sudah meninggalkan gedung Star Gold,” beritahunya cepat. “Simon baru saja mengirim pesan.”
Salah satu orang suruhan untuk mengawal Alyra diam-diam, telah mengirim informasi akurat.
Erlan meneguk ludah pelan, sorot matanya terlihat rumit — antara khawatir, kesal, dan gelisah yang bercampur menjadi satu.
Tangannya terus siaga menggenggam ponsel, layarnya menyala menampilkan nama kontak yang terus-menerus dihubungi, namun tak jua mendapat jawaban.
“Katakan untuk share lokasi terkini, jangan sampai kehilangan jejaknya,” titahnya dengan intonasi tegas.
“Baik, Tuan.” Andi segera memasang earphone bluetooth di satu telinga, menekan kontak dengan nama Simon — pengawal yang masih membuntuti Alyra dalam diam.
‘Ke mana tujuanmu, Alyra ….’ Erlan menatap lekat layar benda pipih di tangannya, menampilkan titik lokasi terkini yang dikirim oleh orang suruhannya.
“Jalan ini …,” gumamnya lirih sembari memperbesar tampilan peta di layar. Keningnya perlahan berkerut. “Kenapa masuk tol? Mau ke mana dia?”
Titik lokasi itu bergerak menuju kawasan yang terasa begitu familiar di benaknya.
Erlan memicingkan mata, berusaha memastikan dugaannya sendiri. Rasa penasaran perlahan berubah menjadi kegelisahan yang mengusik pikirannya.
“Andi, menepilah sebentar,” pintanya pada sang asisten.
“Baik, Tuan.” Tak banyak bertanya, Andi selalu sigap mematuhi perintah sang atasan.
Saat mobil telah menepi di pinggir jalan, dekat dengan halte bus sebelum memasuki kawasan gerbang tol kota. Erlan membuka pintu, lalu keluar dari kendaraan.
Sementara Andi pun ikut keluar. “Ada masalah, Tuan?” Menatap penuh tanya.
“Kau bisa pulang lebih dulu memakai taksi.” Ia menyodorkan sebuah kartu kredit berwarna keemasan.
Andi masih menatap bingung, kini berdiri berhadapan dengan sang tuan. “Bagaimana bisa saya pulang lebih dulu, padahal tugas saya belum selesai.”
“Ini akan memakan waktu cukup lama. Tujuan Alyra … sepertinya ke luar kota,” ujar Erlan, raut wajahnya sama sekali tak tenang. “Kau pulanglah saja, anakmu pasti menunggu. Bukankah dia sedang berulang tahun?”
Andi menelan ludah, hampir saja dia melupakan hari istimewa putri semata wayangnya, namun justru sang tuan-lah yang mengingatkan.
Erlan menarik kembali kartu berwarna emas, menggantinya dengan sebuah black card. Ia kembali menyodorkan ke asistennya.
“Gunakan ini, ajak putrimu makan enak, belikan kado mahal. Hitung-hitung … untuk bonus kinerjamu bulan ini.”
Dengan berat hati pria duda beranak satu itu meraih kartu, menatap nanar sang atasan.
“Pulanglah, jangan cemaskan bosmu. Lagipula … ada Simon di sana, aku akan berkendara dengan hati-hati.” Erlan kembali menegaskan, supaya sang asisten tak terbebani oleh rasa tak enak hati.
Ia kemudian membuka pintu kemudi, meraih beberapa barang pribadi milik Andi, kemudian menyerahkannya.
“Aku pergi. Pastikan kau bersenang-senang dengan putrimu.” ia menepuk pelan bahu Andi, seorang lelaki yang telah hidup berdampingan dengannya sejak berusia remaja.
Hubungan keduanya lebih seperti saudara, sebenarnya.
Sebelum Erlan menginjak gas, Andi mengetuk kaca mobil, sedikit mencondongkan tubuh.
“Berhati-hatilah. Jangan bersikap gegabah, Nyonya muda sudah aman. Simon mengikutinya dari dekat,” pesannya pada Erlan, bicaranya tak lagi dengan nada formal.
Erlan membalas dengan senyuman, lalu mengangguk mantap.
Mobil mercy itu akhirnya melaju dengan cepat, memasuki gerbang tol menuju luar kota.
.
.
.
Sementara di tempat lain, masih dalam perjalanan, Alyra mengendarai sebuah taksi, entah ke mana arah tujuannya.
Wanita hamil itu duduk menyandarkan bahu di kursi tengah, menatap kosong ke arah jendela kaca berembun, cuaca mendadak buruk, turun hujan begitu lebat.
Helaan napasnya terdengar berat, tangan menggenggam ponsel yang sejak tadi terus bergetar dalam mode senyap.
Tak satupun panggilan atau pesan yang ia buka, memilih mengabaikan sejenak urusan dunia, Alyra terlihat tak baik-baik saja.
“Ke mana tujuan kita, Nona?” Sang sopir melirik ke arah spion tengah.
Wanita itu pun segera menoleh, mengusap pipi pucat yang sedikit basah, sedari tadi menangis tanpa suara.
“Kita sudah berjalan cukup jauh, namun belum ditentukan titik tujuannya,” ujar sang sopir yang sudah cukup tua, rambutnya memutih hampir seluruhnya.
“Oh, maaf, Pak.” Alyra menatap sekeliling, kemudian kembali menatap sang sopir. “Ke Rumah Rehabilitasi Jiwa Atmaja Group.”
Pria paruh baya itu pun mengetik titik lokasi tujuan pada layar persegi, lalu dahinya mengerut. “Ini cukup jauh, Nona. Maaf sebelumnya, tak apa-kah bila biaya pengantaran cukup mahal?” Ia melirik memastikan.
“Tidak masalah, Pak. Saya bersedia membayar dua kali lipat, tolong, ya,” sahutnya memohon.
“Kalau begitu … baik, Nona.” Kendaraan terus melaju di tengah guyuran hujan dan angin yang cukup kuat.
.
.
.
“Ha ha ha!” Tawa lepas itu menggema di dalam kamar bernuansa mewah.
Stefani duduk berselonjor seraya memangku laptop di atas kasur, sorot matanya menatap puas, bibirnya terus tertawa menyerukan kemenangan.
“Bagaimana rasanya dicaci dan dihakimi oleh semua orang, dasar Jalang!” Ia mendengus, wajahnya berubah kesal setiap kali menyebut nama rivalnya.
“Ini baru permulaan, kuharap kau tak mudah tumbang!” desisnya sengit. “Tak seru kalau begitu, aku ingin bermain lebih lama denganmu ... Alyra.”
Sorot mata penuh dengki itu kembali menyala, seolah menyimpan dendam dan murka yang terbelenggu di dalam dada.
“Tunggu saja, ya. Kejutan yang lebih seru baru akan dimulai setelah ini ….” Bibirnya berkedut samar, sementara sorot matanya berubah tajam, isi kepala kembali menyusun rencana buruk.
*
*
Bersambung.