NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Suara itu pelan. Tapi cukup untuk membuat ibunya terdiam. Aji melihat celah itu. Dan ia tidak menyia-nyiakannya. “Aku nggak pernah nuduh tanpa alasan,” lanjutnya.

“Karena kerjaan, Ji,” potong Sekar, kali ini sedikit lebih keras. “Karena saya bantu kamu! Saya yang turun tangan waktu kamu nggak bisa pegang semuanya!”

“Ya, tapi kamu menikmatinya juga, kan?” balas Aji cepat. “Kamu jadi punya dunia sendiri. Kamu jadi nggak butuh aku lagi.”

Kalimat itu akhirnya keluar. Bukan tuduhan. Tapi ketakutan. Dan untuk pertama kalinya, Sekar benar-benar mengerti. Ini bukan tentang Rendi. Ini tentang Aji yang tidak bisa menerima bahwa Sekar bisa berdiri tanpa dirinya. “Jadi kamu selingkuh… karena saya terlalu mandiri?” tanya Sekar pelan.

Aji tidak menjawab. Dan itu sudah cukup.

Sekar tertawa kecil. Bukan karena lucu. Tapi karena absurd. “Hebat,” gumamnya. “Saya bantu kamu, salah. Saya kerja, salah. Saya setia juga bisa kamu putar jadi salah.”

Ia menggeleng pelan, matanya kini tajam.

“Tapi satu hal yang kamu lupa, Ji.” Sekar melangkah maju sedikit. “Saya tidak pernah menyentuh laki-laki lain.” Setiap kata diucapkan jelas. Tanpa ragu. “Dan kamu tahu itu.” Tidak ada yang berani menyela. “Jangan samakan saya dengan kamu,” lanjut Sekar, suaranya kini lebih dingin dari sebelumnya. “Kalau kamu butuh alasan untuk menutupi kesalahan kamu jangan pakai nama saya.”

Aji menatapnya tajam. Untuk pertama kalinya, topeng tenangnya retak. “Kalau kamu tetap mau cerai,” ucap Aji akhirnya, nada suaranya berubah, lebih keras, lebih mengancam, “jangan harap semuanya akan mudah.”

Sekar tidak mundur.

“Hak asuh anak… harta… semua bisa saya perjuangkan.” Kalimat itu bukan sekadar peringatan..Itu ancaman.

Tapi Sekar hanya diam. Beberapa detik. Lalu mengangguk kecil.“Silakan." Jawaban itu sederhana.

Tapi justru itu yang membuat Aji kehilangan kendali. Karena untuk pertama kalinya, ancamannya tidak lagi menakutkan. Dan di titik itu, Sekar benar-benar tahu ia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti.

***

Tidak ada yang benar-benar mempersiapkan seseorang untuk kehilangan dirinya sendiri.

Sekar pikir, setelah semua yang terjadi, pengkhianatan, tuduhan, ancaman yang akan ia rasakan adalah sakit yang luar biasa. Tangisan yang tak berhenti, dada yang sesak, atau amarah yang membakar. Namun yang datang justru sebaliknya. Tidak ada apa-apa.

Hari-hari setelah pertemuan keluarga itu berjalan seperti biasa, setidaknya dari luar. Sekar tetap bangun pagi, tetap menyiapkan kebutuhan rumah, tetap menjalani rutinitas yang selama ini ia lakukan tanpa berpikir. Ia masih berbicara, masih menjawab ketika ditanya, masih tersenyum jika diperlukan.

Semuanya terlihat normal.

Terlalu normal. “Sekar, kamu nggak apa-apa?”

Pertanyaan itu mulai sering ia dengar. Dari ibunya. Dari orang-orang di sekitar. Sekar selalu menjawab dengan hal yang sama.

“Aku baik-baik saja.” Dan anehnya ia tidak sedang berbohong. Karena untuk merasa tidak baik-baik saja, seseorang harus merasakan sesuatu. Sementara Sekar tidak merasakan apa pun. Ia tidak menangis. Padahal seharusnya ia menangis.

Setiap kali ia mengingat Aji, ia hanya merasa seperti sedang mengingat sesuatu yang jauh, sesuatu yang tidak lagi memiliki kaitan dengan dirinya. Bahkan bayangan tentang Mila pun tidak lagi memancing emosi. Semuanya terasa datar, seperti potongan cerita yang bukan miliknya.

Awalnya, Sekar mengira ini adalah bentuk kekuatan. Bahwa ia akhirnya mampu melewati semuanya tanpa hancur. Namun perlahan, ia mulai sadar ini bukan kekuatan. Ini kehilangan.

Suatu malam, Sekar duduk sendirian di kamar, lampu redup menyinari ruang yang terasa asing meskipun itu adalah rumahnya sendiri. Ia menatap cermin di depannya, memperhatikan wajah yang ia kenal sejak lama, tapi entah kenapa kini terasa jauh.

Ia mencoba mencari sesuatu di sana.

Kesedihan. Kemarahaan. Atau setidaknya… luka. Tapi tidak ada. Tangannya terangkat perlahan, menyentuh pipinya sendiri, seolah memastikan bahwa ia masih benar-benar ada. Kulit itu terasa nyata, dingin, hidup.

Tapi yang di dalamnya… kosong. “Kenapa…” bisiknya lirih. Pertanyaan itu tidak ditujukan pada siapa pun. Bahkan mungkin tidak mengharapkan jawaban. Ia mencoba mengingat. Hari saat ia melihat Aji dan Mila. Hari saat ia dituduh. Hari saat ia memutuskan untuk pergi.

Semua itu adalah kejadian besar. Kejadian yang seharusnya meninggalkan bekas yang dalam. Tapi di dalam dirinya semuanya seperti telah dihapus. Sekar menarik napas panjang, lalu perlahan menutup matanya.

Ia mencoba memaksa. Memaksa dirinya untuk merasakan sesuatu. Apa saja. Tapi semakin ia mencoba… semakin hampa yang ia rasakan.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin aneh.

Sekar mulai kehilangan minat pada banyak hal. Pekerjaan yang dulu ia jalani dengan penuh tanggung jawab kini terasa seperti beban yang tidak berarti. Ia datang, melakukan apa yang perlu dilakukan, lalu pulang tanpa benar-benar hadir di dalamnya.

Setiap interaksi terasa seperti peran yang ia mainkan. Seperti ia sedang menjadi seseorang… yang bukan dirinya. “Sekar, kamu kelihatan capek,” ujar salah satu rekan kerjanya suatu siang.

Sekar hanya tersenyum kecil. “Aku cuma kurang tidur.” Jawaban itu mudah.

Lebih mudah daripada menjelaskan bahwa ia merasa… tidak hidup.

Puncaknya datang pada hari ketika ia duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menyala di depannya. Ada banyak hal yang harus ia kerjakan, banyak keputusan yang harus ia ambil.

Namun tangannya tidak bergerak. Pikirannya kosong. Dan tiba-tiba ia merasa panik. Bukan panik karena sesuatu terjadi. Tapi karena tidak ada yang terjadi.

Napasnya mulai tidak teratur. Dadanya terasa sempit, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Ia mencoba menarik napas lebih dalam, tetapi semakin ia mencoba, semakin sulit rasanya.

Tangannya gemetar. Pandangan mulai kabur. “Sekar?”

Suara itu terdengar jauh. Seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

“Sekar, kamu dengar aku?”

Seseorang menyentuh bahunya. Dan di situlah untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi. Sekar merasa takut. Bukan karena Aji. Bukan karena perceraian. Bukan karena kehilangan. Tapi karena dirinya sendiri.

Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tidak mengerti kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Tidak mengerti kenapa ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dan di tengah kepanikan itu, hanya satu hal yang ia sadari dengan jelas ia sedang hilang.

Perlahan. Tanpa suara.

Beberapa hari kemudian, Sekar duduk di sebuah ruangan yang tenang, dengan aroma lembut yang menenangkan. Di depannya, seorang perempuan menatapnya dengan penuh perhatian.

“Coba kamu ceritakan… apa yang kamu rasakan.”

Sekar terdiam lama. Sangat lama. Lalu ia menjawab, pelan. “Saya nggak merasakan apa-apa.” Kalimat itu keluar begitu saja.Tanpa beban.

Tanpa dramatisasi.

Dan justru di situlah letak masalahnya.

Perempuan di depannya mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu yang belum bisa Sekar pahami.

“Kamu bukan tidak merasakan,” ucapnya lembut. “Kamu… terlalu banyak merasakan sampai akhirnya tubuh kamu memilih untuk mati rasa.”

Sekar menatapnya. Kosong.

“Ini cara diri kamu melindungi kamu,” lanjutnya. “Tapi kalau dibiarkan… kamu bisa benar-benar kehilangan diri kamu.”

Sekar tidak tahu harus merespons apa. Karena untuk peduli pada dirinya sendiri pun ia sudah tidak punya rasa. Dan untuk pertama kalinya, Sekar menyadari pertempuran terberatnya bukan lagi melawan Aji. Tapi melawan kehampaan di dalam dirinya sendiri.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!