Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Takdir.
Bab 29 : Bayangan di Balik Takdir.
Yan Yuxing merasa geli melihat wajah Su Ye Lan yang menggemaskan saat menahan kesal.
Ia merangkulnya dan berbisik di telinganya,
“Buronan juga ada macam-macam. Misalnya kau yang bisa kubujuk ke tempat tidur untuk
kucintai, jelas berbeda dengan yang dijebloskan ke penjara.”
Untungnya mereka duduk di tandu tertutup.
Jika ada yang melihat, Su Ye Lan pasti sudah meledak marah.
Sebenarnya, ia memang sudah marah.
Hanya saja pria di sampingnya sama sekali tidak menganggapnya serius.
Ia mendengus kesal.
“Sudah ada perkembangan tentang dalang di balik keracunan kebun itu?”
Meski wabah telah mereda, Su Ye Lan merasa seolah berada di dalam jaring tak kasatmata.
Sebuah bahaya yang bisa menjeratnya kapan saja.
“Tenang saja,” jawab Yan Yuxing, matanya berkilat tajam.
“Jaring surga mungkin longgar, tapi tak satu pun bisa lolos. Kita hanya perlu waktu.”
Nada suaranya dingin.
Meski belum ada bukti, dalam hatinya ia sudah memiliki dugaan.
Menjelang siang, mereka tiba di Kuil Putuo.
Yang mengejutkan, Perdana Menteri Liang Guozheng juga berada di sana.
Ternyata, Kepala Biara Kuil Putuo, Guru Huijing memiliki hubungan lama dengannya.
Bahkan, mereka dan guru Su Ye Lan, Mo Qingyuan, adalah sahabat sejak muda.
“Sudah hampir dua puluh tahun aku tidak bertemu Mo Qingyuan,” kata Huijing sambil tersenyum tipis.
“Tak kusangka di usia tuanya, ia menerima murid sehebat ini.”
Tatapannya jatuh pada Su Ye Lan.
Dalam sekejap, jantung Su Ye Lan berdegup kencang.
Ada sesuatu dalam sorot mata itu seolah menembus rahasianya.
Lalu Huijing berkata pelan,
“Di mana ada sebab, di situ ada akibat. Sebab muncul dengan sendirinya, dan akibat pun akan mengikuti.”
Semua orang bingung.
Namun Su Ye Lan merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia seperti sedang dibongkar.
Apakah pria tua ini benar-benar mampu melihat rahasia jiwanya?
Apakah ia bisa mengetahui bahwa di dalam tubuh ini tersembunyi jiwa Shen Lanrou?
Pikiran itu membuatnya gemetar.
Tanpa sadar, ia melirik Yan Yuxing.
Apakah pria ini membawanya ke sini… untuk mencari kebenaran?
“Huijing, apa maksud semua ini?” tanya Liang Guozheng.
Huijing tersenyum.
“Takdir mempertemukan manusia, dan takdir pula yang memisahkan mereka. Dalam hidup, yang penting adalah apakah kita mampu menggenggamnya.”
Su Ye Lan menarik napas pelan.
“Jadi… kita harus belajar menghargai orang di sisi kita?”
Huijing mengangguk puas.
“Benar. Mo Qingyuan beruntung memiliki murid sepertimu.”
Ia menambahkan dengan nada dalam,
“Kadang, jalan buntu justru menyimpan harapan. Seperti bunga yang muncul di balik hutan lebat ketika seseorang hampir putus asa.”
Kata-katanya terdengar samar.
Namun bagi Yan Yuxing dan Su Ye Lan, itu adalah petunjuk.
Setelah pertemuan panjang, Yan Yuxing akhirnya berbicara empat mata dengan Huijing.
“Aku hanya ingin satu jawaban,” katanya.
“Apakah Su Ye Lan dan Shen Lanrou adalah orang yang sama?”
Huijing tersenyum.
“Jika kau sudah tahu jawabannya, mengapa bertanya padaku?”
Yan Yuxing terdiam.
“Semua bergantung pada hatimu,” lanjut Huijing.
“Takdir datang dan pergi. Apakah kau bisa menggenggamnya, itu tergantung dirimu.”
Yan Yuxing menunduk dalam.
“Terima kasih. Tanpa bimbinganmu, aku tak mungkin bertahan selama lebih dari dua ribu hari dan malam.”
Sebelum ia pergi, Huijing berkata pelan,
“Jika dalam hatimu ada Buddha, maka semua yang kau lihat adalah Buddha.”
Kata-kata itu… tertanam dalam di benaknya.
......................
Malam telah turun ketika mereka meninggalkan kuil.
Udara dingin bulan Desember menusuk hingga ke tulang.
Di dalam kereta, Yan Yuxing menyelimuti Su Ye Lan dengan jubah bulu.
“Anginnya dingin. Jangan sampai sakit,” bisiknya lembut.
Kata-kata sederhana itu, justru membuat mata Su Ye Lan berkaca-kaca.
Tanpa sadar, ia bersandar ke dalam pelukan Yan Yuxing.
Hangat.
Aman.
Yan Yuxing tertegun.
Namun hatinya bergetar.
Ia tahu, ini berarti Su Ye Lan… telah menerima dirinya.
Atau mungkin ia telah memaafkannya.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Di tengah perjalanan pulang, bayangan kematian muncul.
Para pembunuh bayaran mengepung mereka.
Yan Yuxing hanya membawa sedikit pengawal: empat penjaga rahasia dan A Shun.
Menghadapi ratusan pembunuh, mereka jelas kalah jumlah.
Su Ye Lan menjadi kelemahan terbesar mereka.
Untuk melindunginya, Yan Yuxing dan A Shun harus bertarung sambil menjaga jarak.
Situasi langsung berubah buruk.
“Tuan Keenam!” teriak A Shun sambil menangkis panah.
“Ini terlalu berbahaya. Bawa Su Guniang pergi dulu! Kami akan menahan mereka!”
Yan Yuxing mengatupkan rahangnya.
Ia tahu, ini berarti pengorbanan.
Namun tidak ada pilihan lain.
Dengan cepat ia menarik seekor kuda hitam, mengangkat Su Ye Lan, lalu menaikkannya ke atas pelana.
Tanpa menoleh, ia memacu kuda ke arah berlawanan.
Su Ye Lan terkejut.
Dalam dua kehidupannya, ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan betapa dekatnya dirinya dengan kematian.