Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 5 -KERAGUAN (1)
Kekaisaran Aurellian yang telah berdiri kokoh selama lebih dari seribu lima ratus tahun, kini benar-benar berada di ambang kehancurannya.
Bangunan-bangunan megah yang telah menjadi saksi bisu sejarah selama berabad-abad, kini hancur menjadi puing akibat gempa dahsyat yang dipicu oleh jatuhnya pesawat luar angkasa milik Nebula.
Kehancuran itu tidak pandang bulu. Bahkan rumah-rumah penduduk miskin di ujung ibu kota pun roboh rata dengan tanah akibat guncangan tersebut. Di tengah reruntuhan itu, orang-orang yang selamat mulai bertanya-tanya dengan penuh amarah dan keraguan: Apakah Nebula sebenarnya adalah sekutu yang bisa dipercaya, atau justru pembawa petaka?
Sejak kejadian mengerikan itu, sosok Nebula seolah menghilang ditelan bumi. Tidak ada yang melihat keberadaannya lagi, kecuali Elian—yang sejak awal memang menaruh keraguan besar pada kerja sama ini.
Di belakang istana, pesawat raksasa itu terlihat seperti monster logam yang tertidur. Skalanya yang luar biasa besar membuat siapa pun tidak berani mendekat karena takut akan bahaya misterius yang mungkin saja akan langsung membunuh mereka.
Dua hari kemudian, setelah keluarga kerajaan dievakuasi ke tempat yang dirahasiakan demi keamanan, sang Kaisar yang memilih tinggal seorang diri mengadakan pertemuan darurat.
Kini, orang-orang yang hadir di aula rapat jauh lebih sedikit. Sebagian pejabat telah melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa, sementara sebagian lainnya hilang tanpa kabar di tengah kekacauan.
"Aku tidak tahu apakah kita telah ditipu oleh Nebula atau tidak. Namun yang jelas, ramalan tentang kehancuran dunia itu nampaknya benar-benar sedang terjadi sekarang," ucap sang Kaisar.
Kini, sang penguasa tidak tampil dengan pakaian mewahnya yang biasa menyilaukan mata. Meski berpakaian jauh lebih sederhana, aura kewibawaannya tetap mampu menjaga martabat kekaisaran yang sedang sekarat.
"Yang Mulia! Izinkan hamba untuk memasuki kapal asing itu secara langsung dan mencari tahu kebenaran yang sebenarnya!" ucap Elian sambil menunduk dalam memberi hormat.
"Itulah yang sedang kupikirkan. Namun, kalian akan bergerak dalam kelompok yang sangat kecil. Saat ini, kita sudah hampir kehabisan prajurit yang cukup hanya untuk sekadar menjaga keamanan ibu kota," jawab sang Kaisar dengan nada berat.
Tatapan sang Kaisar kemudian menyapu sekeliling ruangan, menyadari satu kursi yang kosong. Ia bertanya-tanya mengapa sosok penting yang seharusnya ada di sana tidak terlihat.
"Di mana Arta Valerion?" tanya sang Kaisar.
"Maafkan dia, Yang Mulia. Saat ini keadaannya sedang tidak baik," jawab Elian.
"Oh, apakah dia terluka? Aku belum mendapatkan banyak informasi tentang kalian akhir-akhir ini karena kekacauan komunikasi."
Elian ragu sejenak. Ia ingin menjawab "iya," tetapi ia sadar bahwa secara fisik, Arta tidak mengalami luka luar sedikit pun. Jika ia jujur mengatakan bahwa Arta sedang mengalami gangguan psikologis, hal itu terdengar tidak pantas dan dikhawatirkan bisa merusak reputasi serta nama baik Arta sebagai penyihir yang menjanjikan.
Namun, Elian juga tahu bahwa berbohong kepada Kaisar adalah langkah yang sangat bodoh. Hukuman bagi siapa pun yang berani membohongi Kaisar adalah penjara minimal lima tahun—sebuah hukuman yang lebih dari cukup untuk menghancurkan seluruh karier dan masa depan seseorang selamanya.
"Arta mengalami syok berat akibat kejadian kemarin, sehingga kesehatannya menurun drastis, Yang Mulia," jawab Elian akhirnya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam agar sang Kaisar tidak melihat betapa tangannya bergetar karena gugup saat mengatakan hal itu.
"Begitukah? Baiklah, aku akan memberi kalian waktu istirahat selama satu hari penuh. Setelah itu, kamu dan timmu harus segera menjelajahi reruntuhan kapal itu secepatnya. Kita tidak punya banyak waktu."
"Terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia," jawab Elian.
Rapat darurat itu terus berlanjut hingga berjam-jam, membahas prioritas penyelamatan rakyat dan logistik yang semakin menipis.
...
Malam harinya, di dalam kamar tidur Kaisar.
Sang Kaisar berdiri di balkon menara istana, menatap dingin ke arah bulan. Meskipun tanpa bantuan sihir, matanya cukup tajam untuk menyadari ada benda-benda mengkilap yang terus bergerak di permukaan bulan. Sesuatu sedang mengintai mereka dari sana.
"Apakah bangsa kami benar-benar bisa bertahan dari ini?" ucap sang Kaisar lirih pada angin malam.
Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju sebuah rak buku raksasa. Kaisar memiringkan sedikit posisi rak itu, menjatuhkan beberapa buku ke lantai agar rak yang berat itu lebih mudah didorong ke samping. Di balik rak itu, tersembunyi sebuah pintu dengan ukiran kaligrafi lingkaran sihir yang sangat rumit dan kuno.
Kaisar menempelkan telapak tangannya, merapalkan kalimat sihir kuno untuk memecah segelnya. Begitu pintu terbuka, ia melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia yang lebih kecil dari kamarnya, namun dipenuhi oleh benda-benda berharga yang tak ternilai harganya.
Ruangan itu berisi artefak-artefak sihir legendaris dari masa lalu yang biasanya hanya dianggap dongeng dalam buku sejarah. Namun, sang Kaisar melewati semua benda itu. Tujuannya hanya satu: sebuah tombak yang memancarkan keindahan yang mematikan. Itu adalah senjata yang di buat oleh sang Pahlawan Pertama.
Ia menggenggam gagang tombak itu, lalu membayangkan benda itu berubah menjadi sebuah busur panah. Dalam sekejap, logam pada tombak itu bergeser dan berubah bentuk secara ajaib menjadi busur yang ia inginkan.
Senjata itu adalah artefak unik yang bisa berubah bentuk sesuai keinginan penggunanya, namun pada saat ini hanya keturunan langsung Kaisar lah yang mampu membangkitkan kekuatannya. Senjata itu diciptakan khusus untuk menghadapi ancaman yang tak bisa dikalahkan dengan sihir biasa.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat