Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Hari Lamaran
Hari itu, suasana rumah Alya terasa lebih hidup dari biasanya.
Sejak pagi, Ummi sudah sibuk di dapur. Alya sebelumnya sudah mau menolong Umminya tapi Umminya melarang dan menyuruh dia bersiap siap saja, sehingga Umminya sendiri yang menyiapkan berbagai hidangan, dan Aroma masakan itu memenuhi seluruh bagian rumah, yang menciptakan suasana hangat yang jarang terasa sebelumnya.
Sedangkan Abi pun tampak lebih rapi, sesekali membantu menata ruang tamu.
Karena hari ini…..bukan sekadar kunjungan biasa.
Hari ini adalah hari lamaran.
Di dalam kamar, Alya duduk di depan cermin.
Tangannya merapikan hijabnya dengan hati-hati.
Wajahnya tenang…...namun hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Di usia 21 tahun, Alya tidak pernah membayangkan bahwa langkah ini akan datang secepat ini dalam hidupnya.
“ Bismillah Ya Allah....” bisiknya pelan.
Namun suasana rumah pagi itu terasa sedikit berbeda dari biasanya. Bukan hanya karena lamaran. Tapi karena… satu anggota keluarga mereka kembali pulang, yaitu adik laki-laki Alya yang selama ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Mesir akhirnya pulang karena masa libur. Namanya Faris. Usianya tahun ini 17 tahun, terpaut empat tahun lebih muda dari Alya.
Sejak pagi, ia sudah terlihat membantu Abi, sesekali bercanda ringan untuk mencairkan suasana.
“ Kak Alya deg-degan ya ? ” godanya pelan saat sempat berpapasan di depan kamar.
Alya hanya tersenyum kecil.
“ Faris… ”
Faris tertawa pelan.
“ Tenang aja, Kak. InsyaAllah Kak, Kakak bedoa saja semoga semuanya berjalan baik-baik saja. ”
Ucapan sederhana itu….. justru sedikit menenangkan hati Alya.
Tak lama kemudian…
Suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.
Tok… tok… tok…
Abi berdiri dan membuka pintu.
Di sana, keluarga Zidan datang lengkap.
“Assalamu’alaikum,” ucap ayah Zidan sopan.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Abi hangat.
Mereka dipersilakan masuk.
Alya keluar dari kamarnya dengan langkah perlahan, lalu duduk di samping Uminya.
Pandangan tetap tertunduk, menjaga adab.
Di sisi lain, Faris duduk tidak jauh dari Abi. Sikapnya tenang, namun sesekali ia memperhatikan Zidan dengan pandangan yang dalam.
Sebagai seorang adik…
ia ingin memastikan kakaknya baik-baik saja.
...****************...
Percakapan pun dimulai.
Hingga akhirnya, ayah Zidan menyampaikan maksud kedatangannya.
“ Kami datang dengan niat baik… ingin melamar Alya untuk anak kami, Zidan. ”
Suasana terasa hening kembali.
Abi menatap Alya sejenak, lalu menjawab,
“ InsyaAllah, kami menerima niat baik dari Zidan, anak Pak Ahmad dan Ibu Siti "
Senyum mulai terlihat.
Namun di sudut ruangan, Faris tetap memperhatikan dengan tenang.
Sesekali ia melirik ke arah Zidan.
Bukan dengan tatapan tidak suka…..
tapi lebih kepada ingin memahami sosok pria yang akan menjadi pasangan kakaknya nanti.
Pembicaraan berlanjut.
Tentang rencana ke depan.
Tentang waktu yang tepat.
Semua dibahas dengan hati-hati.
Sebelum acara selesai, Faris akhirnya berbicara pelan kepada Zidan saat suasana sedikit lebih santai.
“ Maaf Mas…” ucapnya sopan.
Zidan menoleh.
“ Saya cuma mau titip satu hal, ” lanjut Faris dengan tenang.
“ Tolong jaga kakak saya dengan baik, jika kalian memang berjodoh ”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat suasana sejenak hening.
Zidan menatap Faris beberapa detik. Lalu mengangguk kecil, sebagai jawaban yang sangat singkat.
Setelah keluarga Zidan pamit, rumah kembali tenang.
Alya berdiri di dekat jendela kamarnya. Dia kembali menatap langit sore seperti biasanya,
Namun hatinya jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Sementara itu, Faris berdiri di dekat pintu, memperhatikan mobil yang mulai menjauh.
Ia menghela napas pelan.
“ Semoga pilihan Kak Alya memang yang terbaik….. ” gumamnya dalam hati.
Hari itu…
Mereka telah resmi lamaran.
Di mana ini tidak menjadi lamaran saja, namun menjadi awal dari tanggung jawab baru untuk kedepannya.
Bagi Alya........dan Bagi Zidan...........
Serta bagi orang-orang yang mencintai mereka.