Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepas Jangkar Ibu Kota
Langit Jakarta masih berwarna kelabu keunguan ketika Aris memarkirkan motornya di depan pagar rumah Rania. Embun tipis masih menempel di jok kulitnya, dan udara pagi yang biasanya pengap terasa sedikit lebih sejuk. Aris menarik napas panjang, mencoba menetralkan rasa sesak yang kembali menghimpit dadanya. Hari ini adalah hari di mana proses "pemutusan akar" Rania dari kota ini dimulai secara resmi.
Pintu depan terbuka sebelum Aris sempat mengetuk. Rania muncul dengan pakaian rapi—blazer krem yang dipadukan dengan celana kain hitam, rambutnya diikat ekor kuda yang sederhana namun tegas. Meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa pucat, matanya memancarkan ketegasan yang sudah lama tidak Aris lihat.
"Sudah siap, Ran?" tanya Aris lembut.
Rania mengangguk. "Sudah, Ris. Bapak dan Ibu masih merapikan koper di dalam. Kita berangkat sekarang?"
"Ayo."
Mereka masuk ke dalam mobil SUV putih milik Rania. Kali ini, Rania bersikeras agar Aris yang menyetir. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tempat Rania mengabdi sebagai dokter spesialis anak, suasana di dalam kabin terasa kontemplatif. Rania menatap gedung-gedung pencakar langit yang mulai disinari cahaya matahari pagi, gedung-gedung yang selama ini menjadi latar belakang kehidupannya bersama Damar.
Perpisahan di Lorong Putih
Setibanya di rumah sakit, langkah Rania terasa berat namun pasti. Ia menuju ruang Direktur Pelayanan Medik. Aris menunggu di koridor, bersandar pada dinding putih yang dingin, mengamati para perawat yang berlalu-lalang.
Di dalam ruangan, dr. Gunawan, senior sekaligus mentor Rania, menatap surat pengunduran diri di hadapannya dengan raut wajah sedih.
"Rania, kamu adalah salah satu aset terbaik kami. Pasien-pasien kecilmu akan sangat merindukanmu," ujar dr. Gunawan pelan. "Apa tidak ada cara lain? Cuti panjang, mungkin?"
Rania tersenyum getir, jarinya mengusap ujung meja kerja yang mengkilap. "Terima kasih, Dokter. Tapi keputusan saya sudah bulat. Saya butuh ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh Jakarta saat ini. Saya ingin membesarkan anak saya di tempat yang lebih bersahabat bagi jiwa saya."
"Saya mengerti," dr. Gunawan menghela napas, lalu menandatangani berkas tersebut. "Semarang beruntung memilikimu. Jika suatu saat kamu ingin kembali, pintu rumah sakit ini selalu terbuka lebar untukmu."
Keluar dari ruang direktur, Rania menyempatkan diri mampir ke bangsal anak. Ia melihat beberapa pasien kecilnya yang sedang berjuang melawan sakit. Air matanya hampir tumpah saat seorang anak perempuan berusia lima tahun melambaikan tangan ke arahnya. Rania mendekat, mengusap kepala anak itu, dan membisikkan doa. Ini adalah bagian tersulit dari kepergiannya—meninggalkan panggilan jiwanya untuk sementara demi menyelamatkan kewarasannya sendiri.
Janji di Atas Akta
Setelah dari rumah sakit, tujuan mereka selanjutnya adalah kantor notaris milik Widya, sahabat Rania sejak masa kuliah yang kini sukses mengelola firma hukum dan properti. Widya sudah menunggu di ruang tamunya yang harum aroma kopi arabika.
Begitu melihat Rania, Widya langsung memeluknya erat. "Ran... aku dengar semuanya. Aku benar-benar minta maaf baru bisa bertemu sekarang."
Rania membalas pelukan itu dengan hangat. "Tidak apa-apa, Wid. Aku butuh bantuanmu sekarang."
Mereka duduk mengelilingi meja kaca yang penuh dengan dokumen. Rania meletakkan sertifikat rumah dan kunci-kuncinya di atas meja.
"Aku ingin menjual rumah ini secepat mungkin, Wid. Harga di bawah pasar pun tidak apa-apa, yang penting urusannya selesai dan uangnya bisa langsung masuk ke rekening orang tua Damar di Semarang. Aku ingin mereka punya pegangan yang kuat di sana," jelas Rania tanpa ragu.
Widya memeriksa dokumen tersebut dengan teliti. "Rumahmu di lokasi premium, Ran. Peminatnya pasti banyak. Aku punya beberapa klien investor yang sedang mencari aset di daerah itu. Aku jamin dalam dua minggu, rumah ini sudah terjual dengan harga terbaik. Aku tidak akan membiarkanmu rugi hanya karena terburu-buru."
"Terima kasih, Wid. Aku mempercayakan segalanya padamu," Rania menggenggam tangan sahabatnya. "Satu lagi, tolong pastikan semua urusan administrasi peninggalan kantor Damar benar-benar bersih. Aku tidak ingin ada ekor masalah yang mengikutiku ke Semarang."
"Serahkan padaku. Aris juga sudah banyak membantuku berkoordinasi dengan pihak bank dan kepolisian semalam," Widya melirik Aris yang duduk tenang di kursi sudut. "Kau punya pelindung yang luar biasa, Rania."
Rania menoleh ke arah Aris, lalu kembali menatap Widya. "Aku tahu. Dan itulah sebabnya aku harus melakukan satu hal lagi hari ini."
Penyerahan Kunci dan Sebuah Alasan
Setelah urusan dengan Widya selesai, mereka kembali ke mobil. Saat hendak menyalakan mesin, Rania menahan tangan Aris. Ia mengeluarkan kunci mobil dari tasnya dan meletakkannya di telapak tangan Aris yang lebar.
Aris mengernyit bingung. "Maksudnya apa, Ran? Ini kunci cadangan?"
"Bukan, Ris. Ini kunci utama. Mulai hari ini, mobil ini milikmu," ujar Rania tenang.
Aris langsung menarik tangannya seolah kunci itu terbuat dari bara api. "Tidak. Jangan gila, Rania. Aku tidak bisa menerima ini. Ini harta terakhirmu yang tersisa."
"Ris, dengarkan aku," Rania memegang tangan Aris, memaksa pria itu untuk menatap matanya. "Aku tahu kau sudah menguras seluruh tabunganmu untuk menutup hutang-hutang Damar. Kau menjual apartemenmu, kau merelakan segalanya demi aku. Jangan kira aku tidak tahu seberapa hampa rekeningmu sekarang hanya karena ingin menjagaku tetap berdiri."
"Itu keinginanku sendiri, Ran. Aku tidak butuh balasan," bantah Aris dengan suara parau.
"Ini bukan balasan, Aris. Ini adalah kebutuhan," Rania melembutkan suaranya. "Aku akan ke Semarang. Di sana aku akan tinggal bersama Bapak dan Ibu, aku tidak butuh mobil mewah ini di jalanan desa yang sempit. Tapi kau? Kau di Jakarta harus tetap bekerja, Ris. Kau harus punya kendaraan yang layak untuk mengejar kasus-kasus itu, untuk melacak keberadaan pria yang bersembunyi di balik identitas 'Dara' itu."
Aris masih terdiam, namun Rania belum selesai.
"Dan yang paling penting," Rania tersenyum tipis, "kalau kau punya mobil ini, kau tidak punya alasan untuk tidak berkunjung ke Semarang. Jika suatu saat aku rindu, atau bayiku ini ingin bertemu dengan 'Paman Aris-nya', kau bisa langsung tancap gas lewat tol dan sampai dalam beberapa jam. Mobil ini adalah jembatan kita, Ris. Kalau kau menolaknya, itu sama saja kau memutus jembatan untuk menemuiku."
Aris menelan ludah. Alasan terakhir Rania menghantam titik terlemah di hatinya. Keinginan untuk selalu bisa menjangkau Rania adalah motivasi terbesarnya untuk terus bertahan hidup.
"Tapi ini terlalu banyak, Ran..." bisik Aris.
"Tidak ada yang terlalu banyak dibandingkan apa yang sudah kau berikan padaku, Aris," Rania menutup jemari Aris di atas kunci itu. "Pakailah. Rawatlah mobil ini sebagaimana kau merawatku selama ini. Aku merasa jauh lebih tenang di Semarang jika aku tahu kau berkeliling Jakarta dengan aman di dalam mobil ini, bukan kepanasan di atas motor tuamu itu."
Aris menatap kunci itu lama, lalu menghela napas panjang—tanda ia menyerah pada keras kepala Rania. "Baiklah. Aku terima. Tapi dengan satu syarat: aku yang akan menanggung semua biaya perawatan dan pajaknya. Dan mobil ini tetap atas namamu. Aku hanya pemakainya."
Rania tertawa kecil, tawa pertama yang terdengar tulus dalam beberapa minggu terakhir. "Terserahlah, Tuan Polisi yang kaku. Yang penting kunci itu sudah di tanganmu."
Penutup Bab Jakarta
Mereka kembali ke rumah untuk menjemput Bapak Suprapto dan Ibu Lastri. Sore itu, rumah sudah benar-benar kosong dari barang-barang pribadi. Koper-koper besar sudah tertata rapi di bagasi mobil SUV yang kini dikemudikan Aris.
Rania berdiri di teras untuk terakhir kalinya. Ia menatap ke arah pintu depan yang kini terkunci rapat. Ia teringat hari pertama ia masuk ke rumah ini sebagai pengantin baru, penuh bunga dan harapan. Kini, ia pergi sebagai seorang wanita yang terluka namun membawa tunas kehidupan baru di dalam dirinya.
"Ayo, Ran. Matahari sudah mulai turun. Kita harus sampai di Semarang sebelum tengah malam agar Bapak dan Ibu tidak terlalu lelah," ajak Aris.
Rania mengangguk, ia berbalik dan masuk ke dalam mobil. Saat mobil bergerak meninggalkan pagar rumah, Rania tidak menoleh lagi ke belakang. Ia menatap lurus ke depan, ke arah jalan tol yang membentang luas menuju Jawa Tengah.
Aris menyetir dengan sangat hati-hati, sesekali melirik Rania melalui spion tengah. Ia merasa bangga sekaligus haru. Pria yang kemarin hampir kehilangan segalanya secara finansial, kini merasa menjadi orang paling beruntung karena diberi kepercayaan untuk membawa "harta" paling berharganya menuju tempat yang lebih aman.
"Semarang akan menyukaimu, Ran," bisik Aris pelan.
"Aku harap begitu, Ris. Aku harap begitu," jawab Rania sambil mengusap perutnya yang mulai terasa memberikan sensasi hangat.
Di dalam kabin mobil yang nyaman itu, di bawah deru mesin yang halus, sebuah babak baru dalam hidup mereka dimulai. Jakarta dengan segala kebisingan dan rahasia kelamnya perlahan menjauh di belakang, digantikan oleh hamparan sawah dan pepohonan hijau yang menyambut mereka di sepanjang jalur Pantura. Perjalanan ini bukan hanya soal pindah rumah, melainkan perjalanan menyembuhkan jiwa yang terkoyak.