Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Gua Iblis
Matahari baru saja menyentuh puncak gunung saat tujuh peserta berdiri di depan mulut Gua Iblis. Gua itu terletak di lereng belakang Gunung Cheongmyeong, tersembunyi di balik semak belukar lebat dan pohon-pohon cemara tua yang dahan-dahannya saling bertaut seperti jari-jari kerangka. Udara di sini terasa berbeda—lebih berat, lebih dingin, dan ada bau aneh yang tidak bisa Seol kenali. Bau seperti tanah basah bercampur sesuatu yang busuk, tetapi juga seperti bunga yang mekar di tengah malam.
Baek Yoon berdiri di depan mereka, wajahnya lebih serius dari sebelumnya. Di sampingnya, Seol Hwa berdiri dengan tangan di belakang punggung, matanya yang dingin menyapu wajah setiap peserta. Kang Jin dan dua murid senior lainnya berjaga di mulut gua, masing-masing membawa lentera yang menyala dengan cahaya biru pucat.
“Gua Iblis,” kata Baek Yoon, suaranya bergema di antara pepohonan, “bukanlah gua biasa. Di dalamnya, terdapat sisa-sisa qi iblis dari ribuan tahun yang lalu—sisa pertempuran antara Pendiri Sekte Pedang Surgawi dan Raja Iblis Pertama. Qi itu tidak bisa dibersihkan. Ia meresap ke dalam batu, ke dalam udara, ke dalam kegelapan itu sendiri.”
Ia menunjuk ke mulut gua yang gelap, sebuah lubang menganga di antara akar-akar pohon raksasa.
“Di dalam, kalian akan dihadapkan pada ilusi. Ilusi yang akan mengambil bentuk ketakutan terbesar kalian, penyesalan terdalam kalian, atau mimpi terliar kalian. Tidak ada cara untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Tidak ada teknik yang bisa melindungi kalian. Satu-satunya senjata kalian adalah pikiran kalian sendiri. Dan hati kalian.”
Ia berjalan menyusuri barisan, matanya menatap setiap peserta satu per satu.
“Aturannya sederhana: masuk, temukan jalan keluar di sisi lain gua, dan keluar dalam keadaan sadar. Waktu tidak terbatas, tetapi semakin lama kalian di dalam, semakin dalam ilusi itu menggerogoti pikiran kalian. Beberapa orang yang terjebak terlalu lama… tidak pernah keluar dengan utuh.”
Ia berhenti di depan Seol. Matanya yang tajam menatap pemuda itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Kau yang kemarin mendengar nyanyian pedang,” katanya pelan, hanya untuk Seol. “Itu berarti kau memiliki koneksi yang dalam dengan qi. Tapi hati-hati—koneksi yang dalam juga berarti ilusi akan lebih kuat. Gua ini akan menggunakan kepekaanmu melawanmu.”
Seol mengangguk. Ia tidak takut. Atau setidaknya, ia berusaha untuk tidak takut.
Baek Yoon mundur. “Mulai.”
---
Masuk ke Dalam Kegelapan
Seol melangkah pertama.
Udara di mulut gua terasa seperti memasuki ruangan yang berbeda—seperti melangkahi batas tak terlihat antara dunia nyata dan dunia lain. Suara angin dari luar tiba-tiba menghilang. Suara burung, suara dedaunan, semua lenyap dalam sekejap. Yang tersisa hanya keheningan yang pekat, berat, dan kelembapan dingin yang menempel di kulit seperti jari-jari tak terlihat.
Ia mengambil lentera kecil yang diberikan Kang Jin—sebuah batu bercahaya yang digantung di tali kulit—dan melangkah lebih dalam.
Di belakangnya, ia mendengar langkah kaki Baek Ho dan peserta lain masuk. Tapi dalam beberapa saat saja, suara itu menghilang, tenggelam dalam kegelapan yang seolah-olah memisahkan mereka satu per satu.
Sendirian. Aku sendirian.
Seol berjalan perlahan. Dinding gua di sekitarnya basah dan berlumut, dengan stalaktit-stalaktit runcing menggantung di langit-langit seperti taring raksasa. Tetesan air jatuh dengan suara plok yang bergema di kejauhan, menciptakan ilusi bahwa ada sesuatu yang bergerak di dalam gelap.
Sepuluh langkah. Dua puluh langkah. Tiga puluh langkah.
Dan kemudian—ia merasakannya.
Seperti ada angin yang bertiup dari dalam gua, tetapi angin itu tidak membawa dingin. Ia membawa sesuatu. Sebuah kehadiran. Sebuah tatapan dari kegelapan yang lebih dalam.
Seol berhenti. Lentera di tangannya bergetar pelan, cahayanya berdenyut tidak teratur.
“Ini dia,” bisik suara dalam kepalanya. Bukan suara Gu. Suaranya sendiri. “Ini yang kau takuti.”
Lorong gua di depannya tiba-tiba berubah.
Dinding-dinding batu menghilang, digantikan oleh pepohonan. Udara lembab berganti menjadi udara hangat dengan aroma tanah dan dedaunan. Seol berdiri di tengah hutan yang familiar—terlalu familiar.
Desa Cheonho.
---
Ilusi Pertama: Kembali ke Rumah
Seol berdiri di jalan setapak yang menuju ke gubuk reyotnya. Semuanya sama persis seperti yang ia ingat—rumah-rumah kayu dengan atap jerami, sumur tua di tengah desa, dan di kejauhan, gerbang hijau kediaman utama Klan Ryu.
Tapi ada yang aneh. Tidak ada orang. Desa ini kosong. Sunyi. Sepi.
Seol berjalan menuju gubuknya. Kakinya terasa berat, seperti menapaki lumpur. Ia ingin berhenti, tetapi tubuhnya terus bergerak tanpa kendali.
Pintu gubuk terbuka dengan sendirinya.
Di dalam, di tempat tidur yang sama, ibunya terbaring. Tubuhnya lebih kurus dari yang ia ingat, wajahnya lebih pucat, dan matanya—matanya terbuka lebar, menatap ke arah Seol dengan ekspresi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan kasih sayang. Bukan kelegaan.
Kekecewaan.
“Kau pergi,” kata ibunya, suaranya lemah tetapi tajam seperti belati. “Kau meninggalkanku. Seperti ayahmu.”
Seol ingin berkata sesuatu, tetapi mulutnya terkunci.
“Aku sakit, Seol. Aku butuh kau. Tapi kau lebih memilih pergi. Kau lebih memilih kekuatan.” Ibu itu menghela napas panjang, dan dalam helaan napas itu, Seol mendengar kematian. “Aku mati karena kau pergi.”
“Tidak!” Seol akhirnya bisa bersuara. “Aku… aku akan kembali. Aku berjanji. Aku akan membawa Ibu ke tempat yang lebih baik. Aku akan—”
“Kau terlambat.”
Tubuh ibunya mulai memudar, seperti kabut yang terkena sinar matahari. Seol berlari mendekat, mencoba meraih tangan ibunya, tetapi tangannya hanya menembus udara kosong.
“Ibu!”
Dan ibunya menghilang.
Seol jatuh berlutut di lantai gubuk yang dingin. Dadanya terasa seperti diremas-remas. Air mata jatuh, tetapi ia tidak merasakannya.
Ini tidak nyata, pikirnya. Ini ilusi. Gu bilang—
Tapi rasa sakit itu nyata. Rasa bersalah itu nyata. Dan ia tidak bisa mengusirnya.
“Kau tahu itu tidak benar.”
Suara itu datang dari belakangnya. Seol menoleh.
Seorang pemuda berdiri di ambang pintu. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh, matanya kosong. Wajahnya—wajahnya adalah wajah Seol sendiri. Tapi bukan Seol yang sekarang. Ini adalah Seol dari masa lalu. Seol yang tertunduk, Seol yang takut, Seol yang disebut sampah.
“Kau meninggalkannya,” kata Seol masa lalu, suaranya datar. “Kau tahu dia sakit. Kau tahu dia butuh kau. Tapi kau tetap pergi. Karena kau egois. Karena kau hanya memikirkan dirimu sendiri.”
“Aku pergi untuk menjadi kuat,” kata Seol, suaranya bergetar. “Aku pergi untuk melindunginya.”
“Melindungi?” Seol masa lalu tertawa. Tertawa kecil dan sinis. “Kau bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Lihat dirimu. Masih lemah. Masih takut. Masih sampah.”
Seol ingin membantah. Tapi kata-kata itu menusuk tepat di titik yang paling rentan.
Mungkin dia benar. Mungkin aku egois. Mungkin aku memang sampah.
Dan pada saat itu, ketika keraguan mulai merayap masuk, kegelapan di sekelilingnya mulai bergerak. Bayangan-bayangan di dinding gubuk mulai memanjang, merayap ke arahnya seperti tentakel hidup. Udara menjadi dingin—sangat dingin—dan Seol merasakan sesuatu yang menekan dadanya, mencoba mencekik napasnya.
“Ini cara gua ini bekerja,” suara Gu tiba-tiba muncul. Lemah, tetapi ada. “Ia tidak hanya menunjukkan ketakutanmu. Ia membuatmu mempercayainya. Jika kau percaya bahwa kau sampah, maka kau akan menjadi sampah. Dan gua ini akan memakanmu.”
“Gu!” Seol berteriak dalam pikirannya. “Kau bangun!”
“Tidak sepenuhnya. Tapi aku bisa… membantumu sedikit. Dengarkan aku. Ini adalah ilusi. Ibumu tidak mati. Kau tidak membunuhnya. Kau pergi untuk menjadi lebih kuat. Itu bukan keegoisan. Itu… pengorbanan.”
“Tapi—"
“Tidak ada tapi. Lihat ilusi itu. Apa yang ia tunjukkan padamu?”
Seol menatap Seol masa lalu yang masih berdiri di ambang pintu, tersenyum sinis.
“Diriku. Diriku yang dulu.”
“Itu bukan dirimu. Itu adalah ketakutanmu. Ketakutan bahwa kau tidak akan pernah berubah. Ketakutan bahwa kau akan selalu menjadi sampah. Tapi lihat tanganmu, Seol. Bandingkan dengan tangannya.”
Seol menunduk. Tangannya—tangan yang memegang lentera—tidak lagi kurus rapuh seperti dulu. Ada kapalan di jari-jarinya, bekas latihan. Ada kekuatan di genggamannya yang tidak dimiliki oleh Seol masa lalu.
Ia mengangkat kepalanya. Ia menatap Seol masa lalu di depannya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat perbedaan.
“Kau bukan aku,” katanya.
Seol masa lalu mengerutkan kening. “Apa?”
“Kau bukan aku. Kau adalah masa lalu yang sudah kutinggalkan. Aku bukan lagi orang yang takut. Aku bukan lagi orang yang menunduk. Aku sudah berubah.”
Ia melangkah maju. Satu langkah. Seol masa lalu mundur.
“Aku pergi bukan karena egois. Aku pergi karena aku harus. Karena jika aku tetap di sana, aku akan mati. Dan jika aku mati, siapa yang akan menjaga ibuku? Siapa yang akan menepati janjiku pada Gu?”
Langkah kedua. Seol masa lalu tersandung, tubuhnya mulai memudar.
“Aku tidak sempurna. Aku masih lemah. Tapi aku tidak akan berhenti. Aku tidak akan kembali menjadi diriku yang dulu. Aku adalah Ryu Seol yang sekarang. Dan aku akan menjadi lebih kuat.”
Langkah ketiga.
Seol masa lalu menghilang. Gubuk itu menghilang. Desa Cheonho menghilang. Seol berdiri kembali di lorong gua yang gelap, lentera di tangannya menyala terang, dan di dalam dadanya—pusaran qi berputar dengan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Bagus,” bisik Gu. Suaranya semakin lemah, seperti orang yang akan tertidur lagi. “Kau… kau sudah tidak perlu aku lagi untuk ini.”
“Gu! Jangan tidur dulu! Aku masih—”
Tapi Gu sudah pergi. Denyut di sakunya kembali tenang, teratur.
Seol berdiri diam sejenak, mengatur napasnya. Ia masih gemetar. Ilusi itu terasa sangat nyata. Tapi ia selamat.
Ia melanjutkan berjalan.
---
Lorong Terakhir
Perjalanan menembus gua itu terasa seperti berjam-jam, meski mungkin hanya beberapa puluh menit. Seol melewati lebih banyak ilusi—ilusi tentang Cheonmyeong yang menertawakannya, ilusi tentang Gu yang meninggalkannya, ilusi tentang Baek Ho yang mati karena kegagalannya melindungi.
Setiap ilusi mencoba menjatuhkannya. Setiap ilusi mencoba membuatnya percaya bahwa ia tidak cukup baik, bahwa ia akan gagal, bahwa semua usahanya sia-sia.
Tapi setiap kali, ia mengingat kata-kata Gu. “Itu bukan dirimu. Itu adalah ketakutannya.”
Dan setiap kali, ia melangkah maju.
Akhirnya, setelah ilusi terakhir—ilusi tentang dirinya yang berdiri di depan gerbang Sekte Pedang Surgawi, ditolak karena tidak layak—ia melihat cahaya.
Cahaya matahari.
Seol berlari. Kakinya terasa ringan, dadanya terasa lega. Ia menerobos keluar dari mulut gua di sisi lain gunung, dan cahaya matahari pagi menyambutnya dengan hangat.
Ia jatuh berlutut di tanah yang berumput, napasnya tersengal, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Di belakangnya, gua itu menganga gelap, tetapi ia sudah tidak peduli.
Ia keluar. Ia selamat.
---
Di Luar Gua
Seol tidak tahu berapa lama ia duduk di sana, menghirup udara segar, merasakan sinar matahari di wajahnya. Ia hanya tahu bahwa ketika ia akhirnya mengangkat kepalanya, ia melihat bahwa ia bukan satu-satunya yang berhasil keluar.
Di sampingnya, tiga peserta lain sudah duduk atau berbaring di tanah. Dua di antaranya menangis tanpa suara, tubuh mereka gemetar hebat. Yang ketiga, seorang pria muda dengan wajah pucat, hanya duduk diam dengan mata kosong, seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak bisa ia lupakan.
Dan di antara mereka, Baek Ho.
Pemuda itu berbaring telentang di rumput, matanya terbuka lebar ke langit, napasnya teratur tetapi wajahnya basah oleh air mata. Ketika Seol mendekat, Baek Ho menoleh, dan untuk sesaat, ada ketakutan di matanya—ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.
“Seol…” suaranya serak. “Aku… aku melihat mereka. Keluargaku. Mereka… mereka meninggalkanku. Dalam ilusi itu, mereka bilang aku tidak pernah cukup baik. Mereka bilang aku hanya beban.”
Seol duduk di sampingnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya meletakkan tangannya di bahu Baek Ho, menggenggamnya erat.
Baek Ho terdiam. Kemudian, perlahan, ia tersenyum. Senyum yang lemah, tetapi tulus.
“Tapi aku masih di sini,” katanya. “Aku tidak percaya mereka. Aku memilih untuk tidak percaya.”
“Kau melakukannya dengan baik,” kata Seol.
Baek Ho mengangguk pelan. Mereka duduk berdampingan dalam diam, membiarkan matahari pagi mengeringkan air mata yang masih tersisa.
---
Kehadiran yang Mengamati
“Tujuh masuk. Empat keluar.”
Suara itu datang dari belakang mereka, datar dan dingin seperti biasanya.
Seol menoleh. Seol Hwa berdiri di tepi hutan, tidak jauh dari mulut gua. Tangannya di belakang punggung, rambut hitamnya tergerai tertiup angin pagi. Matanya yang hitam pekat menatap Seol dengan intensitas yang tidak bisa ia jelaskan.
“Dua lainnya masih di dalam,” lanjut Seol Hwa. “Kang Jin sudah masuk untuk menjemput mereka. Tapi…” Ia berhenti sejenak. “Satu sudah tidak bernapas.”
Keheningan menyelimuti. Tidak ada yang berbicara.
Seol Hwa berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tetapi ada tekanan dalam setiap langkahnya—tekanan qi yang membuat Seol merasakan betapa dalam perbedaan level antara mereka.
Ia berhenti tepat di depan Seol. Jarak mereka hanya dua langkah.
Seol menatapnya. Dari dekat, wajahnya memang cantik—terlalu cantik untuk seseorang yang dikenal dingin dan tidak tersentuh emosi. Tapi matanya… matanya tidak dingin saat ini. Ada rasa ingin tahu di sana. Ada pengamatan yang mendalam. Seperti ia sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di dalam diri Seol.
“Kau,” katanya, “adalah yang pertama keluar.”
Seol mengerjap. “Aku?”
“Kau keluar sepuluh menit sebelum yang kedua. Itu adalah rekor tercepat dalam lima tahun terakhir.” Ia menunduk, menatap lentera yang masih tergenggam di tangan Seol. Cahaya biru di dalamnya sudah padam, tetapi ada sisa-sisa kilau yang masih berkedip. “Gua Iblis tidak hanya menguji ketakutan. Ia menguji seberapa dalam kau bisa menolaknya. Dan kau…” Ia menatap mata Seol langsung. “Kau tidak hanya menolak. Kau menghancurkannya.”
Seol tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya berdiri di sana, merasakan tatapan Seol Hwa yang tajam, seperti pisau yang membedahnya lapis demi lapis.
“Kau menarik, Ryu Seol,” kata Seol Hwa akhirnya, dan untuk pertama kalinya, ada senyum tipis di bibirnya. Bukan senyum ramah, tetapi senyum yang tulus. Senyum rasa ingin tahu yang mendalam.
Ia berbalik, melangkah meninggalkan mereka.
“Besok, pengumuman hasil akhir. Sampai jumpa.”
Seol berdiri di tempatnya, menatap punggung Seol Hwa yang menjauh. Angin pagi bertiup, membawa aroma bunga dari kebun sekte.
“Kau tahu,” kata Baek Ho dari belakangnya, suaranya masih serak tetapi ada nada bercanda di dalamnya, “aku pikir dia menyukaimu.”
Seol tersentak. “Apa? Tidak. Dia hanya… mengamati. Sebagai penguji.”
“Hm.” Baek Ho tersenyum lebar, meski matanya masih merah. “Terserahlah. Tapi satu hal yang aku tahu: kau berhasil menarik perhatian orang yang tidak mudah menarik perhatian. Itu sudah kemenangan tersendiri.”
Seol tidak menjawab. Ia menatap ke arah Seol Hwa yang perlahan menghilang di antara pepohonan.
Di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut pelan. Tidak ada suara, tetapi Seol merasakan kehangatan kecil—seperti ada yang ikut tersenyum.
Ia tersenyum sendiri. Untuk pertama kalinya sejak memasuki gua, senyum itu tulus dan ringan.
Ia sudah melewati ujian terberat. Ia sudah membuktikan bahwa ia bukan sampah.
Dan perjalanannya di Sekte Pedang Surgawi baru saja dimulai.
---