Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Mencari Kenyamanan
Alea menjalani hari-harinya dengan kehamilannya. Alea pikir ketika dia hamil maka Dharma akan memberikan perhatian khusus kepadanya. Dharma kerap kali disibukkan dengan pekerjaannya dan sementara ibu Dharma terus memberi aturan kepada Alea.
Ikut campur dalam kehamilannya ternyata tidak membuat Alea nyaman dan justru merasa tidak bisa melakukan apapun.
Sama seperti saat ini di kediaman kedua orang tua Dharma. Alea tampak di suguhkan banyak makanan dan juga jamu-jamuan yang dia tidak tahu apa khasiatnya semua minuman tradisional itu.
Expresi wajah Alea terlihat jelas tidak ada penolakan dan bahkan ingin mual melihat jenis makanan yang tidak cocok untuknya.
"Alea jangan hanya dilihat saja, ayo di makan, Mama sudah memesan makanan ini jauh-jauh hari sebelumnya agar bisa kamu nikmati," ucap Liana.
Alea menjawab hanya dengan menganggukkan kepala.
"Ayo kamu makan ini!" lagi-lagi Liana terlihat memaksa.
Alea juga terpaksa menikmati makanan yang tidak ingin dia makan itu.
"Tante!" tiba-tiba Raidan sudah berada di ruang tamu, mendengar suara tidak asing itu membuat Alea menoleh ke sebelahnya dengan kepala mendongak ke atas saat pria yang sudah cukup lama tidak bertemu dengannya sekarang muncul di hadapannya.
Pandangan mata Raidan tetap tertuju pada Liana, seolah-olah menghindari pandangan dari Alea.
"Raidan ada apa?" tanya Liana.
"Saya mendapatkan perintah mengambil dokumen di ruang kerja Om Adiwijaya," jawab Raidan.
"Begitu, ya sudah kalau begitu kamu langsung saja ambil apa yang kamu butuhkan," ucap Liana.
"Baik Tante," sahut Raidan dengan menundukkan kepala.
"Ya ampun Alea, ayo makanannya dimakan jangan sedikit-sedikit seperti itu memakannya," Raidan menghentikan langkah dengan menoleh ke belakang melihat bagaimana Liana tampak memaksa Alea memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
Alea seperti orang tidak bisa menolak apapun yang diberikan Liana kepadanya.
"Kamu itu sedang mengandung cucu saya, kamu harus memikirkan bagaimana kondisi cucu saya ke depannya. Jadi kamu harus makan yang banyak dan jangan bertingkah, Saya tidak ingin cucu saya sampai kenapa-napa, sebagai seorang ibu kamu tidak boleh egois!" tegas Liana tanpa mengetahui bahwa Alea tidak menyukai makanan itu sama sekali.
Eheg, Ehegg, Ehegg.
Karena makanan yang dipaksa membuat Alea memuntahkan isi makanannya di luar rumah tepat di depan tong sampah. Alea pada akhirnya berpamitan pulang dengan alasan ada hal penting yang harus dia selesaikan, tetapi pada kenyataannya saat ini Alea hanya ingin buru-buru keluar dari rumah tersebut karena perutnya sudah tidak tahan.
Jika dimuntahkan di dalam kamar mandi di rumah tersebut bisa-bisa saja Liana mendengar dan justru tersinggung atau bahkan marah-marah.
Suara nafas Alea terdengar naik turun benar-benar lemes karena semua makanan itu keluar dari perutnya, tiba-tiba saja sebotol air mineral muncul di hadapannya membuat Alea melihat tangan yang baru saja memberikan air tersebut.
Raidan menggerakkan matanya untuk memberi perintah kepada Alea agar segera minum.
"Makasih!" Alea mengambil dan kemudian meneguk air putih tersebut.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Raidan.
"Hmmm, sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya," jawab Alea.
"Saya antar pulang," ucap Raidan menawarkan diri karena dia mengetahui bahwa Alea saat ini tidak baik-baik saja.
"Tidak usah, aku....."
"Kamu takut Dharma marah jika mengetahui bahwa saya mengantar kamu pulang?" tebak Raidan.
"Kamu tahu sendiri, Dharma sudah membatasi jarak diantara kita, bukan hanya membatasi jarak bahkan tidak ada pertemuan apalagi komunikasi seperti ini," ucap Alea.
"Bagaimana jika saat ini saya tidak akan menuruti keinginannya?" tanya Raidan.
Alea menatap serius ke arah Raidan seolah-olah ada maksud dari perkataan itu.
"Kamu sedang mengandung dan anak yang kamu kandung adalah darah daging saya, bagaimanapun kenyataannya dan seperti apapun berjanji dalam hubungan kita, tetapi tidak akan pernah menutup kemungkinan bahwa bayi yang kamu kandung adalah darah daging saya, saat ini kondisi kamu tidak baik-baik saja dan bagaimana jika terjadi sesuatu karena kamu memaksakan diri untuk menyetir, maka akan terjadi sesuatu pada anak saya," ucap Raidan menekankan pada Alea sampai membuat Alea terdiam.
"Ayo! Saya akan antar kamu pulang," ucap Raidan memegang tangan Alea dan membawanya begitu saja.
Alea tidak memiliki waktu untuk menolak tiba-tiba saja sudah berada di dalam mobil Raidan.
Di dalam mobil terasa begitu hening tidak ada pembicaraan baik Alea maupun Raidan, suasana macet seperti ini seharusnya kedua orang itu membahas satu topik agar tidak bosan menunggu mecet. Tetapi sampai saat ini keduanya masih tetap dia membisu.
Raidan menoleh ke arah Alea, hanya ingin memastikan bagaimana ekspresi wajah wanita di sampingnya dan ternyata Alea melihat keluar jendela.
"Kamu mau?" tanya Raidan membuat Alea menoleh ke arah Raidan.
Raidan ternyata memperhatikan bagaimana Alea seperti menginginkan rujak yang berjualan di gerobak di sebrang jalan.
"Tunggu sebentar di sini!" Raidan membuka sabuk pengaman dan kemudian keluar dari mobil.
Alea padahal belum menjawab iya atau tidak tetapi pria itu sudah terlihat menyeberangi jalan dan ikut antri membeli rujak tersebut.
Alea tiba-tiba saja tersenyum memegang perut ratanya, tidak lama akhirnya Raidan kembali membawa mangga muda yang sudah dipotong-potong.
"Makanlah...." ucap Raidan.
Alea menganggukkan kepala, mulai menikmati buah yang sejak tadi menggugah selera. Alea tampak menyukainya dan bahkan tidak mual saat memakannya.
"Enak," ucap Alea.
"Biasanya ibu hamil muda memang selalu menginginkan makanan seperti itu, entahlah apa yang membuat mereka menyukainya," ucap Raidan.
"Selama aku hamil, aku belum menemukan makanan yang cocok untukku, setiap makan ini dan makan itu pasti akan mual-mual, aku harus memaksakan diri untuk makan agar bayi di kandunganku tidak apa-apa," ucap Alea.
"Bukan tidak menemukan makanan yang cocok untuk kamu, tetapi kamu tidak berusaha untuk mencari tahu apa yang kamu mau dan hanya menyerahkan semua tentang apa yang kamu butuhkan kepada orang yang tidak memahami keinginan kamu," ucap Raidan.
Alea terdiam mendengarnya.
"Alea, kamu yang mengetahui apa yang kamu inginkan dan makanan apa yang membuat kamu bisa nyaman, jangan terus menyerahkan kepada orang lain, untuk apa mau makan semua makanan yang tidak kau mau dan pada akhir-akhir ini menyiksa kamu," Raidan seolah-olah mengingatkan Alea untuk menjaga kandungannya dan menjadi diri sendiri.
"Kamu benar dan sepertinya aku memang memiliki kesulitan untuk menolak, tetapi terkadang aku juga susah mendapatkan makanan yang aku inginkan. Mas Dharma terlalu sibuk bekerja dan setiap aku menginginkan sesuatu beliau selalu lupa," ucap Alea seolah-olah menceritakan keluhannya selama hamil cukup membuatnya tersiksa.
"Kalau begitu mulai sekarang repotkan aku, mintalah kepadaku apapun yang kamu inginkan," ucap Raidan.
Alea kembali melihat serius ke arah Raidan.
"Kenapa kamu takut, Dharma akan marah? Dharma yang membuat kita berdua seperti ini, kamu mengandung anakku dan aku juga ingin anaku baik-baik saja. Aku memiliki hak yang banyak untuk anakku," ucap Raidan dengan tegas.
"Jadi mintalah apa yang kamu inginkan dariku, jangan menyiksa diri sendiri hanya karena merasa tidak enak dan pada akhirnya kamu yang tersiksa atas semua itu," ucap Raidan.
"Kenapa setiap mendengar perkataannya jantungku akan kembali berdebar tidak menentu. Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang ada di dalam pikiranku, semuanya terus seperti ini," batin Alea.
Bersambung....