NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Bintang

Istri Rahasia Sang Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Dokter
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Lampu-lampu megah di National Stadium Singapura perlahan mulai padam, menyisakan keremangan di panggung yang beberapa jam lalu menjadi saksi bisu kesuksesan luar biasa seorang Elvano Alvendra.

Gemuruh ribuan VALS masih terasa berdenging di telinga Elvano saat ia melangkah masuk ke dalam mobil van hitam yang sudah menunggunya di area backstage. Tubuhnya bersandar pada kursi kulit yang empuk, matanya terpejam sejenak, membiarkan rasa lelah dan kepuasan mengalir bersamaan di dalam dadanya.

Tanpa banyak bicara kepada timnya, Elvano langsung menuju apartemen pribadinya di kawasan Orchard. Setibanya di sana, ia tidak membuang waktu. Setelan panggung yang melekat di tubuhnya segera ia tanggalkan. Guyuran air pancuran yang hangat menyentuh kulitnya, membilas sisa-sisa peluh dan rasa pegal setelah menghibur ribuan orang dengan energi yang meledak-ledak.

Sepuluh menit kemudian, Elvano keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana kain santai. Ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, aroma sabun maskulin yang mahal memenuhi ruangan. Matanya langsung tertuju pada ponsel yang ia letakkan di nakas.

Ada notifikasi pesan masuk dari Jakarta. Elvano duduk di tepi ranjang, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat melihat nama Selena di layar. Ia membuka pesan berisi foto para staf rumah sakit yang sedang menonton konsernya melalui layar kecil.

“Kamu dapat banyak pujian dari para pejuang medis di Jakarta malam ini, El. Mereka bilang suaramu sangat menenangkan lelah mereka. Semangat ya, Tuan Bintang!” tulis Selena di bawah foto tersebut.

Sudut bibir Elvano terangkat, membentuk senyum tipis yang tulus. Ia bisa membayangkan wajah Selena yang sedang mengetik pesan itu dengan mata berbinar. Jemari panjang Elvano mulai menari di atas layar, membalas pesan tersebut.

“Hanya mereka yang memujiku? Apa kamu sendiri tidak mau memujiku, Dokter Sunshine?” tulis Elvano dengan nada menggoda.

Setelah mengirimkan balasan, Elvano tetap duduk di tepi ranjang, menatap layar ponsel yang masih menyala. Ia melirik jam di dinding. Di Singapura sudah tengah malam lewat, yang berarti di Jakarta juga sudah larut.

“Apa dia sudah tidur ya?” gumam Elvano lirih pada kesunyian kamar.

Ia kembali mengetik sesuatu karena rasa penasaran yang tidak bisa ia tahan. “Apa kamu sudah tidur? Kalau iya, selamat tidur ya,” tambahnya lagi.

Elvano merebahkan tubuh atletisnya di atas ranjang king size yang terasa begitu luas tanpa kehadiran seseorang di sampingnya. Namun, tak berapa lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi muncul dan Elvano langsung menyambarnya dengan gerakan kilat.

“Tentu saja aku akan memuji Tuan Bintang. Aku melihat potongan videonya tadi, konsermu berjalan sangat sukses. Aku baru saja selesai memeriksa data pasien dan baru akan bersiap untuk tidur sekarang,” balas Selena.

Elvano mengernyitkan dahi, ada rasa protektif yang muncul secara alami. “Jangan begadang, Selena. Kamu sendiri yang selalu bilang kalau tidur larut itu tidak baik untuk kesehatan dan metabolisme, kan?” ketik Elvano dengan nada memperingatkan.

Selena membalas dengan emoji tersenyum lebar yang membuat Elvano bisa mendengar suara tawa kecil wanita itu di kepalanya.

“Iya, Tuan Perfeksionis. Apa kamu sendiri sudah pulang ke apartemen?” tanya Selena kembali.

“Aku baru saja selesai mandi dan sekarang sedang berbaring. Rasanya tulang-tulangku baru saja disusun ulang setelah dance tadi,” balas Elvano jujur.

“Apakah lelah sekali?” tanya Selena dengan nada penuh perhatian yang bisa dirasakan lewat teks.

“Sangat lelah. Sepertinya aku butuh obat sekarang,” jawab Elvano, sengaja memancing reaksi wanita itu.

Balasan Selena datang lebih cepat kali ini. “Obat? Aku sudah menyiapkan semua obat dan vitamin di tas kecil dalam koper hitammu, El. Apa kamu tidak melihatnya? Ada suplemen untuk sendi dan vitamin C dosis tinggi di sana,” tulis Selena panjang lebar, menunjukkan sisi perfeksionisnya sebagai dokter gizi.

Elvano terkekeh pelan di atas bantalnya. “Aku tidak butuh obat-obatan kimia itu sekarang,” balasnya singkat.

“Lalu butuh apa? Jangan bilang kamu mau pesan makanan cepat saji tengah malam begini?” tanya Selena dengan emoji curiga.

Bukannya membalas lewat pesan teks, Elvano justru langsung menekan tombol panggilan video. Di seberang sana, Selena yang tampak sudah mengenakan piyama sutra berwarna krem terkejut melihat layar ponselnya menyala. Namun, ia tetap mengangkatnya.

Begitu wajah Selena muncul di layar, Elvano tersenyum lebar, menyingkirkan semua aura dingin yang biasanya ia tunjukkan pada dunia.

“Kenapa malah video call? Aku belum hapus makeup tipisku tahu!” protes Selena sambil menutupi sebagian wajahnya dengan bantal, meski ia tidak benar-benar marah.

“Melihat wajahmu adalah obat yang paling manjur untukku saat ini, Dokter Sunshine,” ucap Elvano dengan suara bariton yang lembut dan penuh perasaan.

Selena tertawa renyah, wajahnya memerah hingga ke telinga. “Sejak kapan Tuan Bintang yang dingin dan pendiam pandai berbicara manis seperti ini? Apa kamu sedang latihan akting untuk film terbarumu, El?” godanya lagi.

Elvano tersenyum, matanya memancarkan ketulusan yang dalam. “Sejak pertama kali bertemu Dokter Sunshine di meja makan Oma Ratna. Rasanya duniaku yang sepi ini jadi jauh lebih berisik, dan anehnya aku menyukai itu,” jawab Elvano jujur.

Mereka pun saling tertawa, menceritakan kejadian konyol selama konser di Singapura dan kegiatan rutin Selena di rumah sakit Jakarta. Keduanya seolah lupa akan jarak ribuan kilometer yang memisahkan mereka. Rasa rindu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat perlahan mulai mencair di antara obrolan ringan dan candaan kecil.

Akhirnya, percakapan itu ditutup dengan ucapan selamat malam yang sangat lembut dari Elvano. Ia baru saja hendak mematikan layar ponselnya saat Selena memberikan sebuah bisikan terakhir.

“Selamat tidur, Elvano. Sampai bertemu besok di mimpimu, ya?” ucap Selena sebelum layar menggelap.

Elvano mematikan ponselnya, memejamkan mata dengan senyum yang masih tersisa.

**

Udara pagi di sepanjang Marina Bay Sands terasa sejuk, membelai wajah dengan sisa-sisa kelembapan malam. Elvano, dengan setelan hoodie olahraga berwarna abu-abu gelap yang kontras dengan kulitnya yang bersih, sedang melakukan jogging santai. Di sampingnya, Darian tampak berjuang mengatur napas agar tetap bisa mengimbangi langkah kaki panjang sahabatnya itu.

Sesekali, beberapa pelari lokal Singapura menoleh ke arah mereka, menyadari bahwa pria jangkung di depan mereka adalah sang mega bintang yang semalam mengguncang stadion. Namun, aura tenang dan dingin yang dipancarkan Elvano membuat siapa pun enggan untuk menginterupsi rutinitas paginya.

“El, jangan lupa ya, siang ini jadwalmu adalah fanmeeting eksklusif di salah satu hotel bintang lima. Para pemenang tiket gold sudah menunggumu sejak subuh tadi,” ujar Darian sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil.

Elvano mengangguk tanpa mengurangi kecepatan larinya. “Aku ingat. Pastikan saja semua pengamanan berjalan ketat. Aku tidak mau ada kejadian tak terduga seperti kemarin,” sahut Elvano dengan nada baritonnya yang mantap.

Darian mengembuskan napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. “Oh iya, aku juga sudah memesankan sarapan sehat untukmu di apartemen. Menunya salmon panggang dengan asparagus,” lanjut Darian.

Elvano mendadak memperlambat langkahnya, dahinya berkerut sedikit. “Sarapan pesan? Apa makanan yang dibawakan Selena sudah tidak ada di dapur?” tanya Elvano dengan nada yang terdengar sedikit kecewa.

Darian seketika menghentikan langkah kakinya. Ia bertumpu pada kedua lututnya, menatap Elvano dengan ekspresi malas sekaligus tidak percaya. “Astaga, El. Kau ini bercanda? Apa kau lupa siapa yang menghabiskan semua bekal makanan berat dari Selena kemarin saat di backstage konser? Kau melahapnya seolah belum makan tiga hari,” sindir Darian.

Elvano terdiam sejenak, tampak sedang mengingat-ngingat kejadian semalam. “Lalu bagaimana dengan kue kering sehatnya? Tidak mungkin habis juga, kan?” tanya Elvano lagi, seolah tidak rela jika bekal dari Selena sudah ludes.

Darian memutar bola matanya, lalu mulai berjalan pelan di samping Elvano. “Masih ada satu toples kecil di lemari atas. Itu pun karena aku yang menyembunyikannya agar tidak kau habiskan sekaligus,” jawab Darian dengan nada jengkel.

“Apa kotak obatnya ada?” tanya Elvano memastikan.

Darian mengangguk mantap. “Ada, Tuan Besar. Semuanya lengkap. Vitamin, obat maag, sampai plester luka pun Selena yang menyiapkan dengan label nama di setiap kemasannya. Aku benar-benar heran, lama-lama kau ini sepertinya menjadi ketergantungan sama Selena. Apa-apa Selena, sedikit-sedikit tanya Selena,” cibir Darian sambil menggelengkan kepala.

Elvano justru tidak membantah. Ia malah menunjukkan senyum tipis yang penuh makna, sebuah ekspresi yang sangat jarang ia perlihatkan jika bukan di depan kamera.

“Kau benar. Nanti kalau sudah pulang ke Jakarta, aku akan menempel terus sama Selena. Dia itu satu-satunya orang yang tahu dosis yang pas untukku,” sahut Elvano tenang, lalu ia kembali menambah kecepatan larinya meninggalkan Darian yang terpaku.

Darian tercengang di tempatnya berdiri, mulutnya sedikit terbuka karena syok. “Dia benar-benar bilang mau menempel? Elvano Alvendra yang anti disentuh itu mau jadi benalu cinta? Ternyata benar kata orang, pria yang sulit jatuh cinta akan jadi sangat mengerikan dan bucin kalau sudah bertemu pawangnya,” gumam Darian takjub sambil berusaha mengejar Elvano lagi.

***

1
Sri Murtini
elvano kau benar " cinta ya bukan akting
Sri Murtini
Elfano jatuh cinta se jatuh"nya dipelukan kekasih hati. ternyata tidak selamanya perjodohan itu berdampak buruk.... ini memang ketemu pasangan sejatì
Penta Ning Thiyas
luar biasa
Penta Ning Thiyas
karyamu selalu keren.. dan nagih😍👍 semangat kak
Hugo Hamish
kak up dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!