Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang kusut di balik cadar
Kamar pengantin itu mendadak terasa sedingin es. Aira berdiri mematung, ponsel di tangannya gemetar hebat. Pesan dari Zivanna yang terpampang di layar seolah menjadi belati yang menusuk jantungnya berkali-kali. Ia menatap Ghibran, mencari kebohongan, mencari kebenaran, atau sekadar mencari napas.
"Kak... apa ini?" suara Aira serak, hampir hilang. "Azlan mandul? Dan wanita ini... dia bilang Kak Ghibran yang menghamilinya? Jadi selama ini Azlan hanya menutupi aib Kakak?"
Ghibran melangkah maju, tangannya terulur ingin menenangkan, namun Aira mundur dengan cepat hingga punggungnya menabrak pintu kamar mandi.
"Jangan sentuh aku!" teriak Aira. Air matanya tumpah seketika. "Kalian keluarga terhormat! Kalian keluarga Syarif! Tapi kenapa semuanya sebusuk ini? Azlan yang kupikir suci ternyata menyimpan rahasia ini, dan Kakak... Kakak adalah pelakunya?"
Ghibran menarik napas panjang, mencoba tetap tenang meski dadanya bergemuruh hebat. "Aira, dengarkan aku. Aku baru saja mendapatkan ponsel itu dari laci rahasia Azlan. Aku sama sekali tidak tahu siapa Zivanna, dan aku bersumpah demi Allah, aku tidak pernah menyentuh wanita itu, apalagi menghamilinya."
"Lalu kenapa dia mengirim pesan seperti itu ke Azlan?" cecar Aira. "Kenapa Azlan menyimpan catatan medis bahwa dia mandul? Jika dia mandul, pernikahan kami... dia tahu dia tidak bisa memberiku keturunan, tapi dia tetap melanjutkan semuanya?"
Ghibran terdiam sejenak. Otaknya bekerja cepat menghubungkan kepingan teka-teki. "Itulah yang sedang kucari tahu, Aira. Azlan sepertinya dijebak, atau dia sengaja membiarkan dirinya dianggap sebagai pelindung untuk seseorang. Tapi pesan Zivanna itu... itu fitnah yang sangat rapi."
Ghibran mendekat perlahan, kali ini ia tidak membiarkan Aira menghindar. Ia memegang kedua bahu istrinya dengan mantap. "Aira, lihat mataku. Aku kaku, aku dingin, aku mungkin bukan suami yang kamu inginkan. Tapi aku bukan pezina. Aku tidak akan pernah mengkhianati kehormatan keluarga Al-Husayn."
Aira menatap mata Ghibran. Ada kejujuran yang begitu dalam di sana, sebuah ketegasan yang membuatnya sedikit goyah. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling tatap dalam jarak yang sangat dekat. Rasa gugup yang asing kembali merayapi hati Aira, namun rasa sakit hatinya jauh lebih besar.
"Lalu siapa?" bisik Aira parau.
"Aku akan membuktikannya padamu. Tapi untuk sekarang, tolong... jangan katakan apa pun pada Baba atau Umi. Dan yang terpenting, jangan katakan apa pun pada Bundamu."
Aira mengerutkan kening, teringat kejadian jus yang tumpah tadi malam. "Kenapa Bunda? Apa hubungannya Bunda dengan semua ini?"
"Hanya... ikuti saja perkataanku untuk saat ini, Aira. Aku suamimu. Percayalah padaku, setidaknya untuk kali ini saja."
Keesokan Harinya, 08:00 WIB.
Ghibran tidak pergi ke kantor. Ia meminta Azka datang ke rumah dengan membawa hasil laboratorium sampel jus yang ia ambil semalam. Mereka bertemu di taman belakang pesantren yang sepi.
"Ghib, hasilnya keluar," ujar Azka dengan wajah pucat. Ia menyerahkan selembar kertas hasil uji klinis. "Jus itu tidak mengandung arsenik seperti yang dialami Azlan. Tapi... jus itu mengandung zat penenang dosis tinggi yang jika dikonsumsi terus-menerus bisa menyebabkan depresi berat, halusinasi, dan akhirnya... kelumpuhan saraf."
Ghibran meremas kertas itu. "Bunda Aminah ingin membuat Aira ketergantungan padanya? Atau dia ingin membuat Aira kehilangan kesadaran secara perlahan?"
"Ada yang lebih buruk, Ghib," lanjut Azka, suaranya hampir berbisik. "Gue menyelidiki soal Zivanna. Ternyata dia bukan cuma mantan perawat. Dia adalah adik sepupu dari Abrisam."
Jantung Ghibran mencelos. Abrisam adalah sahabat terbaik Azlan. Orang yang selalu ada di samping Azlan setiap hari.
"Jadi, Abrisam menggunakan adikku untuk menjebak Azlan? Atau Abrisam yang sebenarnya menghamili Zivanna dan mencatut namaku agar Azlan merasa berhutang budi?" analisis Ghibran.
"Gue rasa begitu. Dan ada satu info lagi. Abrisam sering terlihat keluar masuk dari kantor Ayah Amir, mertua lo. Sepertinya mereka punya kesepakatan bisnis di bawah meja yang Azlan ketahui, dan itulah alasan kenapa Azlan harus 'dihilangkan'."
Sore Harinya, Butik Aira.
Aira mencoba mengalihkan pikirannya dengan bekerja. Ia sedang merancang sebuah gaun pengantin pesanan pelanggan ketika pintu butiknya terbuka. Seorang wanita mengenakan cadar hitam masuk dengan langkah ragu.
"Mbak Aira Salsabila?" tanya wanita itu. Suaranya terdengar sangat akrab di telinga Aira, seperti suara yang pernah ia dengar dalam rekaman pesan suara di ponsel Azlan.
Aira meletakkan pensilnya. "Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"
Wanita itu membuka cadarnya perlahan. Wajahnya cantik, namun terlihat sangat lelah dan penuh ketakutan. "Nama saya Zivanna. Saya tahu ini sangat tidak sopan, tapi saya harus memberikan ini pada Anda."
Zivanna menyerahkan sebuah buku harian kecil bersampul kulit milik Azlan.
"Azlan menitipkan ini padaku seminggu sebelum dia meninggal. Dia bilang, jika terjadi sesuatu padanya, aku harus memberikannya pada istrinya, bukan pada kakaknya. Dia bilang... Kak Ghibran adalah orang yang paling berbahaya di keluarga Al-Husayn."
Jantung Aira berdegup kencang. Ia menerima buku itu dengan tangan gemetar.
"Kenapa Kak Ghibran berbahaya?" tanya Aira.
Zivanna menunduk, air matanya menetes. "Karena menurut Azlan, Kak Ghibran tahu siapa pembunuh ibu kandung kalian sebenarnya. Syarifah intan... dia bukan ibu kandung Ghibran dan Azlan, kan?"
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂