NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Beberapa minggu telah berlalu sejak insiden menegangkan di ruang BK Winterhall International School. Kehidupan Maizy di sekolah berubah drastis menjadi jauh lebih tenang. Paul, Hartonkind, Cade, dan Reze benar-benar menjalani masa skorsing panjang mereka, dan bahkan setelah kembali ke sekolah, mereka sama sekali tidak berani mendekati atau sekadar menatap Maizy lagi. Perlindungan dari Paman Michael benar-benar membungkam mereka secara mutlak.

Hari ini, kelas 10 mengadakan kunjungan lapangan (field trip) ke sebuah museum sejarah besar di pusat kota Berlin. Di sinilah takdir seolah kembali mempertemukan Maizy dengan rasa penasaran lamanya. Museum ini rupanya menjadi tempat di mana puing-puing bangunan kuno yang baru diekskavasi—termasuk penemuan sepasang kerangka tangan yang saling berpegangan dengan dua cincin misterius yang sempat heboh di berita TV—akhirnya dipamerkan untuk publik.

"Wah, Maizy! Lihat itu! Itu kan kerangka kuno yang kemarin ramai dibicarakan di berita!" seru Rachel Rossete sambil menarik pelan lengan sweater Maizy, menunjuk ke arah sebuah paviliun kaca besar di tengah ruangan museum.

Jantung Maizy mendadak berdegup kencang. Fokusnya yang sempat terpecah berminggu-minggu lalu akibat teror Paul kini kembali seutuhnya. Jiwa ENFJ-nya yang penuh rasa ingin tahu langsung menuntun langkah kakinya mendekati paviliun kaca tersebut, mengabaikan keriuhan murid-murid lain di sekitarnya.

Di dalam paviliun kaca, di bawah pencahayaan museum yang temaram dan dramatis, terbaring replika pelestarian dari dua kerangka tangan yang saling bertautan dengan begitu erat. Di jari-jari manis mereka, melingkar dua buah cincin kuno yang tampak megah namun menyimpan aura kesedihan yang mendalam. Di sekeliling kerangka tersebut, ditata puing-puing batu bata kuno dan sisa-sisa pilar bangunan tempat mereka ditemukan.

Maizy melangkah semakin dekat, menempelkan kedua tangannya di permukaan kaca pajangan. Matanya yang kini mengenakan kacamata baru menatap lekat-lekat ukiran rumit pada kedua cincin tersebut. Entah mengapa, melihat kerangka yang saling berpegangan di antara puing-puing itu membuat dada Maizy mendadak terasa sesak, seolah dia bisa merasakan keputusasaan sekaligus kesetiaan mutlak dari sepasang manusia di masa lalu yang memilih mati bersama demi mempertahankan ikatan mereka.

"Indah sekali ya, tapi juga tragis..." bisik Rachel yang berdiri di sampingnya, ikut merinding melihatnya. "Kira-kira, mereka ini siapa ya di masa lalu?"

Maizy tidak menjawab, namun matanya beralih membaca papan informasi kecil yang tertera di samping paviliun kaca:

Die ewige Treue (Kesetiaan Abadi) — Abad ke-19"

Puing-puing dan sepasang cincin ini ditemukan di bawah reruntuhan sebuah kastil tua di perbatasan Jerman. Berdasarkan struktur cincin, keduanya diyakini milik kaum bangsawan tinggi yang menolak memisahkan diri di tengah konflik besar saat itu...

Saat Maizy sedang tenggelam dalam pikirannya dan mencoba mengaitkan ingatan tentang jurnal tua yang sempat ia baca di perpustakaan sekolah dulu, sebuah langkah kaki yang familier perlahan mendekat dari arah belakang.

Maizy menoleh sedikit, dan seketika atmosfer di sekitarnya kembali mendingin. Paul Graxiel Laxsman rupanya juga berada di sana, berdiri beberapa langkah di sampingnya. Cowok Kanada itu kini tampak jauh lebih pendiam dan tidak seangkuh dulu, namun matanya yang tajam juga sedang menatap lurus ke arah sepasang cincin di dalam kaca tersebut dengan tatapan yang sangat rumit dan penuh arti.

Rachel sudah berjalan duluan untuk melihat replika pedang kuno di ujung koridor pameran, meninggalkan Maizy yang masih berdiri terpaku di depan paviliun kaca. Pikirannya masih agak terguncang setelah mendengar ucapan penuh kebencian dari Paul tadi.

Namun, rasa penasaran Maizy jauh lebih kuat. Dia kembali berbalik menghadap kaca, menatap sepasang cincin kuno dan kerangka tangan yang saling berpegangan itu. Di bawah temaram lampu museum, ukiran pada cincin perak itu seolah berkilau, memanggil jiwa ENFJ-nya untuk menyentuh pembatas paviliun.

Di saat yang sama, Paul ternyata kembali melangkah mendekat. Entah karena ada barangnya yang tertinggal di dekat meja informasi pameran atau karena rasa penasarannya sendiri yang belum tuntas, cowok Kanada itu berjalan dengan gusar tanpa memperhatikan langkahnya.

Set.

Karena jarak pandang yang agak buram di sudut remang museum, lengan jaket Paul tidak sengaja menyenggol punggung tangan Maizy yang sedang bertumpu di dekat pinggiran kaca pajangan.

Ctek!

Seketika itu juga, sensasi aneh yang sangat mengejutkan terjadi. Begitu kulit mereka bergesekan, ada hantaman gelombang energi pendek yang terasa persis seperti kesetrum aliran listrik statis—namun jauh lebih intens dan menghentak hingga ke dalam dada.

"Ah!" Maizy refleks menarik tangannya dengan cepat, menjatuhkan tas kecilnya ke lantai museum. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena ada rasa anyep dan getaran aneh yang menjalar dari ujung jarinya langsung menuju ke ulu hati.

Paul pun tidak bisa menyembunyikan rasa syoknya. Cowok tinggi tegap itu langsung mundur satu langkah besar, memegangi pergelangan tangannya sendiri yang baru saja bersentuhan dengan Maizy. Matanya yang bengkak membelalak lebar, menatap punggung tangannya, lalu beralih menatap Maizy dengan pandangan yang campur aduk antara tidak percaya, bingung, dan ngeri. Sifatnya yang tinggi hati membuat Paul langsung berusaha menguasai diri, meskipun napasnya sempat tertahan.

"Apa yang kau lakukan?!" desis Paul dengan suara tertahan, menuduh Maizy seolah gadis itu baru saja melakukan trik aneh padanya.

"A-aku tidak melakukan apa-apa..." bisik Maizy terbata-bata sambil berlutut mengambil tasnya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Sifat tidak enakannya membuat dia refleks meminta maaf, "Maaf, aku tidak sengaja."

Paul tidak menjawab. Dia hanya terus menatap tangannya yang masih menyisakan sensasi kesetrum dan hangat yang aneh, seolah ada aliran energi purba dari sepasang cincin di dalam kaca yang baru saja melompati tubuh mereka berdua. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Paul berbalik dengan terburu-buru, melangkah pergi secepat mungkin seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang terkutuk.

Maizy berdiri perlahan, memandangi telapak tangannya sendiri yang masih terasa kesemutan. Pandangannya beralih kembali pada sepasang cincin kesetiaan abadi di dalam paviliun kaca. Ada apa dengan sensasi barusan? Kenapa menyentuh Paul terasa begitu mengejutkan, seolah ada benang tak kasat mata dari masa lalu yang mendadak terhubung di antara kebencian mereka?

Paul berdiri dengan jarak dua meter dari Maizy, namun kebencian yang menguar dari tubuhnya terasa begitu pekat dan menusuk. Sifatnya yang tinggi hati dan mutlak tidak mau kalah telah dihancurkan berkeping-keping beberapa minggu lalu di ruang BK. Gara-gara Maizy, Paul tidak hanya harus menanggung malu karena ditampar di depan umum oleh ayahnya sendiri, tetapi dia juga kehilangan posisinya yang terhormat di sekolah akibat skorsing panjang. Lebih buruk lagi, bisnis logistik keluarganya hampir hancur jika bukan karena belas kasihan Maizy yang bagi Paul justru terasa seperti hinaan terbesar.

Paul tidak pernah kalah seumur hidupnya. Dan kenyataan bahwa dia harus tunduk di bawah kuasa Paman Michael membuat harga diri Paul terluka sangat dalam. Semua rasa frustrasi, malu, dan amarah itu kini dia tumpahkan dalam bentuk kebencian mutlak kepada Maizy.

Merasakan atmosfer yang mendadak mencekam, Rachel yang berdiri di samping Maizy refleks menyenggol lengan sahabatnya itu, lalu berbisik cemas, "Maizy... ayo kita pindah ke stan sebelah saja."

Maizy tidak bergerak. Sifat ENFJ-nya yang peka membuatnya bisa merasakan tatapan Paul yang menghunus tajam ke arah samping wajahnya. Maizy perlahan menoleh, menatap Paul melalui kacamata barunya.

Begitu mata mereka bertemu, Paul membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Maizy. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Luka memar di pipinya akibat tamparan tempo hari memang sudah memudar, tetapi luka pada egonya masih menganga lebar.

"Puas melihatku seperti ini, Nona Kacamata?" desis Paul dengan suara yang sangat rendah, dingin, dan sarat akan kebencian yang mendalam. Dia sengaja tidak berbicara keras agar tidak menarik perhatian guru museum, namun nadanya begitu tajam. "Kau pikir dengan menggunakan kuasamu dan membuatku merangkak seperti ini, kau sudah menang?"

"Paul, aku tidak pernah bermaksud membuatmu—"

"Diam," potong Paul ketus, matanya berkilat penuh amarah. "Jangan berlagak sok suci di depanku. Gara-gara kau, seluruh hidupku berantakan. Kau menghancurkan reputasiku, dan kau membuat ayahku sendiri mempermalukanku."

Paul maju satu langkah, tatapannya beralih sekilas ke arah sepasang cincin kuno di dalam paviliun kaca, lalu kembali mengunci mata Maizy.

"Kau mungkin aman sekarang karena pria masinis itu melindungimu," bisik Paul dengan nada mengancam yang tertahan, matanya menyipit penuh dendam. "Tapi ingat satu hal, Maizy. Aku membencimu. Sangat membencimu. Dan aku tidak akan pernah melupakan apa yang sudah kau dan keluargamu lakukan pada harga diriku. Jangan pernah berpikir kita sudah selesai."

Setelah menumpahkan seluruh racun kebenciannya, Paul berbalik dengan sentakan kasar dan berjalan menjauh dari paviliun kaca, membaur ke dalam kerumunan murid lain dengan aura gelap yang masih menyelimutinya.

Maizy hanya bisa berdiri terpaku, memegangi dadanya yang kembali berdebar kencang. Meskipun fisik Paul tidak lagi menyentuhnya karena takut pada Paman Michael, Maizy tahu bahwa dia baru saja menciptakan seorang musuh bebuyutan yang menyimpan dendam teramat dalam di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!