NovelToon NovelToon
Sistem Supir Angkot

Sistem Supir Angkot

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.

Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.

Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode: 13

Baron menjatuhkan goloknya. Bunyi besi berdentang di atas lantai beton gudang yang anyir oleh bau darah terasa begitu nyaring memekakkan telinga.

Pria yang biasanya memutilasi korbannya tanpa kedipan mata itu kini berlutut, menempelkan dahinya ke lantai yang basah oleh darah anak buahnya sendiri.

"Ampun, Tuan... Ampun..."

suara Baron parau, tersedat oleh ludah dan ketakutan yang mencekat tenggorokannya.

"Saya cuma anjing suruhan. Jenderal Hermawan yang merencanakan semuanya. Dia yang menyuruh kami membersihkan Hardi malam ini!"

Farrel tidak menjawab. Ia berdiri di atas genangan darah, menatap Baron dari atas dengan pandangan yang kosong—tatapan khas seorang predator yang melihat mangsa yang sudah tidak memiliki nilai jual.

【 Ting! Tugas Mandiri Selesai dengan Sempurna! 】

【 Selamat! Pengguna mendapatkan Keterampilan Bertarung: Seni Bela Diri Militer Mematikan (Tingkat Maksimal) & Peningkatan Stat Kecepatan sebesar +5 poin! 】

【 Menghitung Status Terbaru Pengguna... 】

• Kekuatan: 20

• Kecepatan: 23 (Tiga kali lipat kecepatan manusia biasa)

• Stamina: 20

Seketika, aliran energi dingin yang jauh lebih pekat dari sebelumnya meresap ke dalam sumsum tulang Farrel.

Otot-otot di kakinya terasa lebih ringan, dan ketajaman visualnya meningkat drastis hingga ia bisa melihat kepakan sayap lalat di sudut gudang dengan sangat jelas.

Farrel melirik Tiger yang berdiri tegap di sampingnya. "Tiger, urus sampah-sampah ini.

"Untuk Baron... biarkan dia hidup sampai besok pagi. Kirim dia kembali ke kediaman Jenderal Hermawan dengan sebuah paket."

"Paket apa yang Anda maksud, Tuan Besar?" tanya Tiger penuh hormat.

Farrel melirik Hardi yang masih terikat di kursi besi dengan tubuh lemas sekujur badan.

"Potong kepala Hardi. Masukkan ke dalam kotak. Biarkan Baron yang mengantarkannya sendiri ke meja makan Jenderal Hermawan sebagai menu sarapan paginya."

Mendengar perintah yang begitu dingin dan tanpa beban dari mulut Farrel, baik Baron maupun Hardi langsung menjerit histeris.

Hardi bahkan pingsan seketika sebelum pisau tim elit menyentuh kulit lehernya. Farrel tidak memedulikan itu. Ia berbalik, melangkah keluar meninggalkan gudang logistik Sentul di bawah guyuran hujan yang kian menggila.

          * * *

Keesokan paginya, matahari kota Bogor tertutup oleh awan kelabu yang tebal. Di sebuah kawasan elit di daerah Bogor Baru, sebuah rumah megah dengan gaya kolonial berdiri kokoh di balik pagar beton setinggi tiga meter.

Ini adalah kediaman pribadi Komisaris Jenderal Purnawirawan Hermawan.

Di dalam ruang makan yang mewah, Jenderal Hermawan seorang pria berusia 60 tahun dengan rambut memutih namun masih memiliki gurat wajah yang tegas dan kejam—sedang menikmati kopi hitamnya.

Di hadapannya, beberapa dokumen bisnis penyelundupan barang pelabuhan dan potongan dana ormas pangkalan terhampar rapi.

Brak!

Pintu ruang makan terbuka kasar. Baron merangkak masuk dengan wajah yang dipenuhi air mata dan keringat dingin. Tubuhnya gemetar hebat, dan kedua tangannya memegang sebuah kotak kayu hitam berlumuran darah yang masih segar.

"J-Jenderal... Jenderal..." Baron terbata-bata, meletakkan kotak itu di atas meja makan mewah yang dilapisi kain putih, menodai kain tersebut dengan cairan merah pekat.

Hermawan menghentikan cangkir kopinya di udara. Alisnya bertaut tajam, memancarkan aura intimidasi seorang mantan petinggi militer.

"Baron! Apa-apaan ini?! Mana Hardi? Dan kenapa penampilanmu seperti pecundang?!"

"Hardi... Hardi sudah mati, Jenderal! Bocah bernama Farrel itu... dia datang! Dia membantai seluruh tim kita hanya dalam waktu satu menit! Ini... ini pesan dari dia untuk Anda!"

Hermawan dengan tangan dinginnya membuka tutup kotak kayu tersebut. Begitu tutupnya terbuka, aroma busuk darah langsung menyeruak.

Di dalam kotak itu, kepala Hardi terbujur kaku dengan mata melotot penuh horor. Di dahi Hardi, terdapat sebuah bekas sayatan pisau yang membentuk simbol seekor burung garuda hitam.

Brak!

Hermawan menggebrak meja hingga cangkir kopinya pecah berantakan. Wajah tuanya memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak.

"Gila! Bocah ingusan itu beneran menantang maut! Dia pikir dia siapa bisa mengusik gua di Bogor?!"

Hermawan langsung mengambil ponsel khususnya, menekan sebuah nomor cepat yang terhubung dengan lingkaran kekuasaannya di pemerintahan kota dan kepolisian daerah.

"Halo!

"Kerahkan tiga kompi pasukan taktis malam ini juga! Cari supir angkot bernama Farrel Aditama! Gedor semua tempat di Baranangsiang, kalau ada yang melindungi dia, ratakan tempat itu dengan tanah! Gua mau kepala bocah itu ada di meja gua sebelum tengah malam!"

 raung Hermawan ke dalam telepon sebelum membantingnya hingga hancur.

Sementara itu, di dalam unit penthouse apartemen mewah, suasana justru berbanding terbalik. Kehangatan pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden jendela besar yang menghadap ke Gunung Salak.

Farrel baru saja kembali setelah membersihkan sisa darah di tubuhnya. Begitu memasuki kamar utama, ia melihat Nisa sudah terbangun.

 Gadis itu sedang duduk di tepi ranjang, mengenakan kemeja putih milik Farrel yang kedodoran di tubuhnya, memperlihatkan pundak mulusnya yang seputih susu dan paha sintalnya yang memikat. Rambut hitamnya yang kini sudah kering tampak bergelombang alami.

Melihat Farrel masuk, wajah manis Nisa langsung dihiasi oleh senyuman yang begitu tulus dan penuh kerinduan.

 Getaran efek sistem "Cinta Buta" (95%) membuat Nisa benar-benar menganggap Farrel sebagai pusat dari seluruh dunianya.

"Kamu dari mana aja, Rel? Aku nyariin kamu pas bangun tadi," kata Nisa dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, terdengar begitu manja di telinga Farrel.

Farrel berjalan mendekat, lalu duduk di samping Nisa. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping gadis itu, menariknya lembut ke dalam pelukannya.

"Cuma menyelesaikan sedikit urusan bisnis di luar, Nis. Gimana tidurnya? Nyenyak?"

Nisa menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Farrel, menghirup aroma tubuh pria itu yang selalu membuatnya merasa aman secara absolut.

"Nyenyak banget... Ini pertama kalinya aku tidur tanpa takut besok ditagih utang atau diganggu preman pangkalan. Semua karena kamu, Rel."

Farrel mendongakkan wajah Nisa lembut, menatap mata bulat jernih milik gadis Sunda itu. Sentuhan hangat jemari Farrel di leher Nisa membuat napas gadis itu mendadak memburu kembali.

Efek dari peningkatan fisik 20% dari sistem membuat kulit Nisa terasa jauh lebih kenyal, sensitif, dan memancarkan aura kesegaran wanita muda yang sangat menggoda.

"Nis... mulai malam ini, mungkin bakal ada badai besar di Bogor," bisik Farrel, matanya menatap lekat ke dalam bola mata Nisa. "Kamu siap terus ada di samping aku, kan?"

Nisa menggenggam tangan Farrel yang ada di pipinya, lalu mengecup telapak tangan itu dengan penuh pengabdian.

 "Mati pun... aku bakal tetep ikut kamu, Farrel. Aku udah gak punya siapa-siapa lagi yang berharga selain kamu dan Ibu."

Mendengar ikrar kesetiaan yang mutlak itu, gairah Farrel kembali tersulut. Ia membalikkan tubuh Nisa, merebahkannya di atas kasur empuk, dan mengunci tubuh molek itu di bawah kungkungannya.

Gaun kemeja putih yang dikenakan Nisa perlahan terbuka saat jemari kekar Farrel mulai menjelajahi lekuk-lekuk keindahan tubuhnya yang tersembunyi dengan penuh keahlian, memicu desahan demi desahan manis yang memenuhi kamar tidur mewah itu.

Di luar, faksi militer Jenderal Hermawan mungkin sedang bergerak memburu kepalanya, namun di dalam kamar ini, Farrel tahu bahwa ia telah memenangkan pertempuran pertama: mengunci hati wanita pertamanya dan bersiap menelan siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai hendra beserta keluarganya bikin hendra menyesal mencari masalah dengan mcnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai para penguasa itu bikin mcnya ambil alih
eza
apakah ini terinspirasi dari kisahnyata, ehem😙😙
Tri Wahyuni: ya bisa di bilang bgtu.hehe
total 1 replies
eza
100 buat author
Tri Wahyuni: kalau suka sama ceritanya jangan lupa Giftnya ya kak
total 1 replies
eza
buset iklan
Achmad Zaki
terlalu lebay
Aisyah Suyuti
menarik
Fajar Fathur rizky
cepat bantai juga keluarga musuhnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai musuhnya dan keluarganya dengan cara paling kejam
Herman Tere
lanjuut
Herman Tere
ceritanya menarik walaupun agak berlebihan, tapi ini hiburan
Fajar Fathur rizky
cepat bantai lima puluh Preman itu bawa tubuh mereka ke musuhnya bikin musuhnya ketakutan memohon ampunan jangan libatkan keluarganya bikin mcnya tidak perduli
Fajar Fathur rizky
cepat bantai musuhnya dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai orang itu beserta keluarganya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!