Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Kembali ke Istana Mandala Hyang
"Tuan! Akhirnya aku menemukanmu!" seru Tengkorak Hideung dari udara.
Jleg!
Dengan dentuman berat yang menggetarkan lapak dagangan, si TAHI mendarat tepat di depan tubuh Kiano yang masih tiarap.
Kiano perlahan bangkit berdiri. Ia melepaskan besek bambu yang tersangkut di lehernya dengan kasar, lalu melempar benda itu ke tanah.
Pikirannya sudah telanjur pasrah. Toh, identitasnya sudah kepalang tanggung ketahuan oleh warga pasar.
"Lo nongol juga akhirnya! Sekarang buruan cabut dari sini. Gue mau pulang ke rumah gue... eh, maksud gue, ke istana!" perintah Kiano sembari menepuk-nepuk debu yang menempel di kolor Upin-Ipinnya.
Sementara itu, para warga jin di sekitar mereka tampak melongo berjamaah melihat penampakan jin jawara berwajah tengkorak arang tersebut. Suasana pasar mendadak ricuh. Bahkan, ada beberapa pedagang jin yang langsung lari pontang-panting, mengira ada monster gila yang baru saja lepas dari kandangnya.
"Baik, Tuan! Ayo kita terbang!" seru Tengkorak Hideung patuh.
Syutt! Wussshh!
Tanpa aba-aba, si TAHI langsung mencengkeram kerah belakang baju pangeran Kiano yang tersisa, lalu menarik tubuh remaja itu melesat naik ke angkasa. Mereka terbang tinggi membelah awan gaib, meluncur bagaikan roket bertenaga jet abad ke-22 menuju ke arah Istana Mandala Hyang.
Kiano hanya bisa pasrah menggelantung di udara, berharap kolor kuningnya tidak melorot di tengah jalan dan menciptakan skandal baru di langit dimensi Bunian.
****
Sementara itu, Arum Rengganis yang bernasib malang akhirnya tetap tertangkap oleh para pengawal gaib suruhan ayahnya. Tubuh sang putri diseret paksa untuk dibawa kembali pulang ke Istana Kerajaan Gunung Kidul.
"Lihatlah kelakuan putrimu ini, Kakang. Dia sangat membangkang dan tidak tahu adat," cibir seorang wanita cantik bergaun mewah yang berdiri di sisi singgasana. Wanita itu tidak lain adalah Nyi Ratu Ratih Kemuning, ibu tiri Arum.
"Sifatnya jauh sekali dibanding kedua putriku yang selalu anggun, penurut, dan menjaga kehormatan kerajaan."
Prabu Jayasengara menghela napas berat, menatap sang putri dengan pandangan murka sekaligus kecewa. "Ayah sangat kecewa padamu, Arum! Kenapa kau malah melarikan diri dari acara kencan buta maraton itu? Untung saja pihak Kerajaan Mandala Hyang tidak mengetahui kebohonganmu tentang alasan sakit itu!"
Arum Rengganis tampak mengeraskan rahangnya kuat-kuat. Ia menatap lurus ke depan dengan kilat kemarahan yang tertahan di balik sepasang matanya. Ia sudah sangat muak diatur-atur seperti boneka pajangan.
Semenjak wanita bermuka dua di hadapannya ini datang dan merebut takhta sebagai ibu tirinya, sang ayah berubah drastis. Prabu Jayasengara yang dulunya penyayang, kini menjadi sosok yang dingin dan lebih memercayai setiap hasutan licik dari Nyi Ratu Ratih Kemuning.
"Aku muak, Ayah! Aku sudah lelah dengan semua drama busuk di istana ini!" bentak Arum Rengganis, mengabaikan tata krama kerajaan karena emosinya sudah di ambang batas. "Jika Ayah memang begitu membenciku dan berniat mengusirku dari sini, maka aku akan pergi detik ini juga!"
Lalu, Arum Rengganis mengangkat tangannya, menunjuk lurus ke arah Nyi Ratu Ratih Kemuning dengan tatapan mata yang menghunus tajam laksana belati.
"Dan Ayah harus tahu!" seru Arum, suaranya menggema memecah keheningan aula singgasana. "Selama belasan tahun aku dipaksa hidup bersama wanita yang Ayah anggap baik dan anggun itu, dia memperlakukanku dengan sangat kejam! Dia tidak sebaik yang Ayah kira selama ini. Dia wanita ular yang sangat licik, Ayah!"
Brak!
Sang Prabu langsung menggebrak kursinya.
"Lancang kau, Arum! Berani-beraninya kau menuduh ibundamu seperti itu!" bentak Prabu Jayasengara. Wajah sang penguasa Gunung Kidul itu memerah padam menahan amarah, jubah kebesarannya bergetar karena aura gaibnya yang mendadak meluap.
"Dia bukan ibuku!" jerit Arum Rengganis, air mukanya mengeras tanpa rasa takut sedikit pun pada wibawa sang raja. "Ibuku ada di dunia manusia! Aku lebih baik pergi dan hidup melarat bersama Ibu di dunia sana, daripada harus batin saya tersiksa setiap hari di dalam istana megah yang penuh kemunafikan ini!"
Tak lama kemudian, pintu besar aula singgasana terbuka lebar. Dua sosok wanita kembar—yang tidak lain adalah putri kandung sang ratu sekaligus anak tiri Prabu Jayasengara—melangkah masuk dengan penampilan yang luar biasa berantakan.
"Ibunda...!" Isak tangis salah satu dari mereka yang bernama Ginanda Kemuning pecah seketika.
"Astaga! Kalian kenapa?!" Nyi Ratu Ratih Kemuning terpekik syok. Gurat kecemasan langsung menghiasi wajah cantiknya saat ia berlari turun dari undakan singgasana demi menghampiri kedua putrinya.
"Ini semua gara-gara Arum, Ibunda! Dia menyerang kami dengan sangat kejam di luar istana!" adu Ninanda Kemuning dengan suara terisak-isak. Wajah cantiknya tampak babak belur, penuh luka lebam keunguan, dan pakaian mewahnya pun robek di sana-sini.
"Padahal kami berdua sudah membujuknya baik-baik agar mau ikut bersama kami ke acara kencan buta maraton itu, tapi dia malah menolak dan memukuli kami hingga seperti ini!"
Sontak saja, sepasang mata zamrud Arum Rengganis melebar sempurna mendengar fitnah keji tersebut. "Bohong! Ucapan mereka sama sekali tidak benar! Aku bahkan belum pernah bertemu dengan mereka berdua sejak pagi tadi!"
"Kau masih mencoba mengelak, Arum?! Buktinya sudah terpampang jelas di depan matamu!" Nyi Ratu Ratih Kemuning menoleh ke arah sang suami dengan derai air mata palsu yang mulai bercucuran. "Kakang... lihatlah kelakuan putrimu. Dia sudah benar-benar kehilangan akal sehat dan bertindak keterlaluan pada anak-anakku!"
"Kau dihukum, Arum!" titah Prabu Jayasengara. Suaranya menggelegar dahsyat, menutup segala celah bantahan. "Mulai detik ini, kau tidak boleh keluar dari kamarmu! Pengawal, bawa dia masuk dan kunci pintunya rapat-rapat! Jangan biarkan anak ini kabur lagi!"
"Aku tidak bersalah, Ayah! Aku tidak melakukan kejahatan apa pun seperti yang mereka tuduhkan! Aku difitnah!" jerit Arum Rengganis. Ia meronta sekuat tenaga ketika dua pengawal bertubuh kekar mencengkeram kedua lengannya dengan kasar.
Nyi Ratu Ratih Kemuning melangkah maju, memasang gurat wajah yang tampak begitu tersakiti. "Gadis sepertimu sepertinya memang harus diberi pelajaran tata krama lagi. Kenapa kau bisa berubah menjadi sekasar ini, Arum? Ibu sudah susah payah ikut membesarkan dan mendidikmu, tapi kau malah tega melukai kakak-kakak tirimu sendiri."
"Berhenti mengucapkan kata 'ibu' kepadaku, dasar wanita munafik!" bentak Arum Rengganis berang. Ia menghunuskan tatapan tajam ke arah mata licik sang ratu, sebelum akhirnya tubuh ringkihnya diseret paksa keluar dari aula singgasana oleh para pengawal istana.
****
Kiano terpaksa menerima nasib untuk pulang ke istana dan kembali menyamar sebagai pangeran KW. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Ia telah terikat perjanjian sakral dengan Si TAHI. Kiano berjanji akan membantu jin jawara itu menghabisi Nini Kalingking. Sebagai imbalannya, Si TAHI bersumpah akan membantu Kiano pulang ke dunia manusia, kembali ke Jakarta Barat pada tahun 2050.
Mereka berdua mendarat darurat langsung di dalam kamar Kiano. Berhubung jendela kamar Pangeran Wirasada sengaja tidak dikunci, mereka memilih menyelinap lewat sana daripada harus lewat pintu depan.
Kiano belum siap mental jika harus ditodong berbagai pertanyaan oleh orang tua KW-nya. Bagus kalau cuma ditodong pertanyaan, bagaimana kalau ia langsung ditembak dor menggunakan senjata gaib para pengawal jin? Bisa tamat riwayatnya sebelum sempat menikmati masa depan.
"Tuan, kita sudah sampai," ucap Si TAHI seraya menurunkan tubuh Kiano ke atas lantai kamar yang berlapis karpet sutra.
Kiano menghela napas berat, langsung ambruk telentang di atas kasur emasnya. "Gue baru sadar, Tahi. Kayaknya gue enggak bakalan semudah itu bisa pergi dari dunia bunian ini. Meskipun lo mau bantuin gue balik ke Jakarta Barat setelah misi balas dendam lo selesai, gue tetap harus nyari dulu Pangeran Wirasada yang asli."