Raisa dan Adit keduanya sudah menikah selama 2 tahun, namun sampai saat ini keduanya belum dikaruniai seorang anak.
Hingga Raisa pun mendatangi seorang dokter untuk program kehamilan, namun tanpa disangka dokter itu adalah mantan kekasihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Raisa dan Bayu menunggu Rangga di kantin rumah sakit, sudah 10 menit Rangga pergi meninggalkan keduanya.
" Kemarin Sherly datang sendirian buat ambil hasil lab "
" Oya, terus gimana Dok ? "
" Ya sepertinya emang Sherly sendiri ga yakin kalau itu anaknya Adit, terlebih dengan bukti yang kamu punya Sa sekarang. Terus rencananya kamu mau bilang kapan kalau sebenarnya Adit yang mandul ? "
" Hmm biar aja kali ya dok, kayaknya emang saya juga udah males berurusan dengan dia "
" Hmm iya sih "
Bayu menganggukan kepalanya, karena kondisi cukup canggung ia pun mulai mengalihkan pembicaraan.
" Aahh iya Sa, saya punya sesuatu untuk kamu lihat "
" Apa itu ? "
" Sebentar "
Bayu mengeluarkan ponselnya, ia menunjukkan sebuah rekaman suara yang ia diam diam ambil.
Rekaman itu berisikan percakapannya dengan Rangga siang tadi, Raisa tertawa kecil mendengarnya
" Tapi sebenarnya kalian itu putus baik baik kan ? "
" Ya bisa dibilang begitu, tapi saat itu Rangga sendiri lagi kuliah di luar kan jadi ya yaudah "
" Sebenarnya waktu kamu putusin Rangga malam itu, lusa Rangga pulang ke Indonesia. Dia pakai semua tabungannya buat nemuin kamu, tapi katanya waktu itu dia liat kamu udah sama laki laki lain Sa. Ya jadi Rangga mikir kalau emang kamu udah punya pacar lagi, saya dan Rangga itu kan satu tempat tinggal Sa. Jadi ya saya tau gimana hancur dan berantakannya Rangga, apalagi kedua orangtuanya meninggal dengan jarak yang ga jauh itu bikin Rangga semakin berantakan "
" Sa.. kalau saran saya, coba deh pelan pelan kamu buka hati lagi buat Rangga. Ya emang pasti susah karena kamu ada trauma pernikahan, tapi saya yakin kalau Rangga itu laki laki yang baik. Jaminannya saya deh Sa, kalau Rangga sampe jadi cowok brengsek kamu bisa bunuh saya "
Raisa tertawa kecil melihat tingkah Bayu.
" Saya akui emang Rangga itu ga pernah berubah, selama beberapa hari saya sama Rangga pun saya merasa nyaman dan aman. "
" Entah karena saya sudah lama merasa kesepian selama pernikahan dengan Mas Adit, atau emang hal lain saya sendiri ga tau. Tapi yang jelas, Rangga membuat saya kembali menjadi diri saya sendiri "
" Hmm, saya berdoa yang terbaik untuk Rangga dan kamu Raisa "
" Terimakasih dokter Bayu "
" Kamu mau liat ga foto foto dan vidio Rangga selama kuliah ? "
" Boleh boleh "
Bayu pun menunjukkan beberapa gambar dan vidio Rangga.
....
Setelah kurang lebih dua jam menunggu, Rangga pun datang menghampiri Bayu dan juga Raisa.
" Gimana Ga ? " tanya Bayu
" Gagal Bay " jawab Rangga dengan raut wajah yang nampak murung
" Gagal ? Gagal gimana Ga ? "
" Ibu dan Anaknya ga bisa di selamatkan "
" Maksudnya meninggal? " tanya Raisa
" Iyah Sa "
" Yaampun "
" Yaudah Ga, itu udah takdir tuhan bukan lo yang gagal. "
" Gue sedih banget Bay liat suaminya, anak pertama yang mereka udah tunggu selama 6 tahun pernikahan. Dan ternyata istrinya pun juga ga bisa di selamatkan Bay "
" Rangga, mereka berdua sekarang udah bahagia di surga. Ya emang sih suaminya itu pasti kehilangan, tapi itu bukan salah kamu Rangga " ucap Raisa sambil memegangi tangan Rangga
Rangga terdiam, terdengar beberapa kali ia menghela nafasnya.
" Yaudah mending lo pulang Ga, istirahat udah malem juga kasian Raisa " ucap Bayu
" Dokter Bayu bareng aja sama kita " ucap Raisa
" Gausah Sa, rumah saya dekat dari sini ko jadi aman aja "
" Yaudah Bay, makasih ya udah temenin Raisa "
" Aman, udah sana pulang istirahat "
Raisa dan Rangga pun akhirnya segera pulang, selama perjalanan raut wajah Rangga pun nampak murung tak seperti biasanya.
Sesampainya dirumah, Raisa langsung membuatkan teh hangat untuk Rangga.
" Diminum dulu mumpung hangat " kata Raisa
" Makasih ya Sa, maaf kamu jadi lama nunggu "
" Ga apa apa, lagian itu kan tugas kamu juga Rangga "
Raisa mengusap pelan lengan Rangga, ia mencoba untuk menenangkan Rangga.
" Aku takut Sa "
" Apa yang kamu takutin Rangga ? "
" Aku takut berada di posisi laki laki tadi, kehilangan dua orang yang dicintai untuk selama lamanya "
" Rangga, semua yang hidup itu pasti akan kembali. Dan kita juga ga pernah tau kan dengan cara seperti apa kita akan pergi, ya memang susah buat ikhlas tapi semua itu sudah jadi rencana tuhan "
" Sa.. "
" Iya, kenapa Rangga ? "
" Kalau emang tuhan kasih aku kesempatan sekali lagi buat miliki kamu, aku janji Sa akan jagain kamu Sa. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu bahagia "
Raisa tak menjawab apapun, ia justru langsung memeluk Rangga dengan erat.
" Makasih Rangga, makasih untuk semuanya "
" Maaf Raisa, maaf karena aku terlambat "
Malam itu rasanya Rangga kembali memiliki peluang besar untuk bersama dengan Raisa, Rangga berharap jika Raisa akan bisa segera menerima dirinya kembali.
***
Pagi hari Raisa merasakan perutnya yang amat sakit, hari ini hari pertama dirinya datang bulan dan seperti biasa ia pasti akan merasakan sakit pada perut dan juga tubuhnya.
" Sa, kenapa ? " tanya Rangga melihat wajah Raisa yang nampak kesakitan
" Perut aku sakit banget Rangga "
" Kamu duduk dulu sini, dimana sakitnya ? "
" Hari ini aku pertama datang bulan, jadi sakit banget "
" Sebentar aku ambil obat pereda nyeri dulu ya "
Rangga pun langsung mengambil obat yang dirinya maksudkan, ia pun langsung memberikan kepada Raisa.
" Kamu rebahan dulu di kamar, nanti biar aku kompres air hangat ya "
" Kamu kan harus berangkat praktek Rangga, ini hari Sabtu kan ? "
" Iya masih ada waktu ko, yaudah sana kamu ke kamar nanti aku nyusul "
" Hmm "
Raisa pun segera kembali ke kamar, Rangga pun mulai menyiapkan apa yang ia butuhkan.
Raisa berbaring sambil memegangi perutnya, rasanya sangat sakit seperti bulan bulan biasanya.
Dulu disaat seperti ini Adit tak pernah perduli dengannya, justru Adit akan marah jika melihat ada bercak darah haid di seprai atau sofa.
Rangga pun datang dengan membawa air hangat, ia pun duduk di pinggir ranjang Raisa
" Maaf ya Sa, biar aku kompres dulu "
" Hmm "
Rangga mengangkat sedikit baju Raisa, ia mulai meletakkan handuk hangat itu.
" Kalau terlalu panas bilang ya " ucap Rangga dan Raisa mengangguk
Raisa memperhatikan Rangga yang tengah mengurus dirinya, Rangga begitu tenang mengurus Raisa.
" Dulu kamu ga seperti ini Sa ? "
" Aku sendiri juga ga tau Ga, tiba tiba aja setiap datang bulan perut aku sakit banget "
" Masih sakit banget ? "
" Udah mendingan ko, makasih ya Ga "
" Sama sama Sa "
" Ada air hangat yang aku siapkan buat kamu Sa, nanti kamu minum ya "
" Iyah Dokter Rangga, aduh berapa nih biayanya ya "
" Bayarannya sih cukup mahal ya "
" Waduh dok saya belum gajian tanggal tua "
" Saya bisa menerima pembayaran selain uang, tenang aja "
" Paylater? "
" Hmm boleh boleh "
Karena air sudah tidak lagi hangat, Rangga pun mengakhirinya.
" Nanti kalau masih nyeri kamu bilang ya Sa sama aku "
Raisa pun mencoba untuk duduk, ia merasa dirinya cukup lebih baik dari sebelumnya.
" Jadi berapa semuanya dok ? "
" Berapa ya, terserah deh "
Raisa menarik kerah kemeja milik Rangga, hingga akhirnya wajah Rangga pun kini berada tepat didepan wajah Raisa.
" Terima bayaran apapun kan ? "
" Hmm " Rangga mengangguk
Raisa pun mencium bibir Rangga, hal itu membuat Rangga terkejut.
" Oke udah kan Dok ? " ucap Raisa dengan salah tingkah
" Masih kurang "
Kini bergantian Rangga yang lebih dulu mencium bibir Raisa, Raisa pun memejamkan matanya menikmati bibir Rangga.
" Lunas " ucap Rangga pelan sambil tersenyum didepan wajah Raisa
Raisa pun membalasnya dengan senyuman nya, ia dengan lembut mengusap pipi Rangga.
" Aku berangkat dulu ya Sa " ucap Rangga
" Hati hati ya, aku tunggu kamu pulang"
Rangga memberikan kecupan di kening Raisa, ia pun segera pergi meninggalkan Raisa