NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Berat dan Kebohongan Digital

Alarm berbentuk kepala robot di meja samping tempat tidur Arthur berdering tepat pukul 06.30 pagi. Suaranya yang melengking nyaring menusuk gendang telinga, memaksa Sang Sovereign untuk menarik selimutnya lebih tinggi. Bagi seseorang yang pernah hidup selama jutaan tahun, waktu delapan jam tidur terasa seperti kedipan mata yang terlalu singkat.

Arthur mengerang, membalikkan tubuhnya yang mungil. Tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang keras dan hangat di bawah bantalnya. Heart of Gaia. Kristal itu masih di sana, berdenyut pelan dengan irama yang menenangkan. Energi hijau yang dipancarkannya telah menciptakan lapisan isolasi di sekitar apartemen nomor 402, membuat udara di dalamnya terasa jauh lebih segar dan murni dibandingkan polusi logam di luar sana.

"Lima menit lagi," gumam Arthur dengan suara serak. Ia tidak sedang memerintah alam semesta, ia hanya sedang memohon pada alarm plastiknya agar berhenti berteriak.

Namun, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan suara brak yang cukup keras. Clara berdiri di sana, sudah rapi dengan kemeja kampusnya dan aroma roti panggang yang tercium dari arah dapur.

"Arthur! Bangun! Kau akan terlambat untuk bus sekolah!" teriak Clara sambil menarik selimut Arthur tanpa ampun. "Dan apa ini? Kau tidur mengenakan tas pinggang?"

Clara menunjuk ke arah tas pinggang dinosaurus yang masih melilit di pinggang piyama Arthur. Arthur tersentak, segera duduk tegak sambil memegangi bantalnya erat-erat agar kristal di bawahnya tidak terlihat.

"Aku... aku bermimpi menjadi penjelajah hutan semalam, Kak," jawab Arthur, otaknya bekerja cepat mencari alasan paling kekanak kanakan yang bisa ia pikirkan. "Jadi aku ingin tetap mengenakannya agar mimpiku berlanjut."

Clara menggelengkan kepala, tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut Arthur. "Kau ini ada-ada saja. Cepat mandi. Aku sudah menyiapkan telur mata sapi dan susu cokelat. Jangan sampai aku harus menyeret mu ke kamar mandi."

Begitu Clara keluar dari kamar, Arthur menghela napas panjang. Ia mengambil Heart of Gaia dari bawah bantalnya. Kristal itu tampak begitu indah, namun keberadaannya adalah magnet bagi masalah. Ia tidak bisa meninggalkannya di sini, apartemen ini tidak memiliki perlindungan fisik jika ada agen GDC yang melakukan pemeriksaan rutin.

Arthur memasukkan kristal itu ke dalam tas sekolahnya, menyembunyikannya di antara buku matematika dan kotak pensil bergambar pahlawan. Ia memastikan energinya telah dikunci sehingga tidak akan terdeteksi oleh pemindai keamanan sekolah.

Setelah mandi kilat dan menghabiskan sarapannya dengan terburu buru, Arthur melangkah keluar apartemen. Di koridor, ia bisa merasakan suasana kota yang sedikit berbeda. Ada ketegangan yang merambat melalui kabel-kabel listrik Sektor Tujuh. Hilangnya penstabil dimensi dari museum mulai memberikan dampak kecil pada jaringan energi kota.

"Mereka mulai menyadarinya," bisik Arthur sambil berjalan menuju lift.

Sementara itu, di lantai bawah tanah Markas Besar GDC, Silas sedang berhadapan dengan layar monitor yang menampilkan ribuan baris kode merah. Matanya merah karena kurang tidur. Di sampingnya, tiga teknisi tingkat tinggi tampak bingung melihat log keamanan museum yang bersih namun barangnya hilang.

"Tuan Silas, ini tidak masuk akal," ujar salah satu teknisi muda. "Kamera menunjukkan koridor kosong sepanjang malam. Tidak ada penurunan tekanan pada kotak kaca, tidak ada anomali termal. Tapi kristal itu benar-benar tidak ada di tempatnya!"

Silas mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sudah menyiapkan skenario ini sejak dua jam yang lalu. "Itulah sebabnya aku memanggil kalian. Ini adalah kegagalan sistem sinkronisasi. Kristal itu tidak hilang."

Para teknisi itu menatap Silas dengan bingung. "Maksud Anda?"

"Komandan Valerius sendiri yang memberikan otorisasi pemindahan darurat pukul tiga pagi tadi," bohong Silas dengan nada yang sangat meyakinkan. "Ada indikasi degradasi struktur pada inti kristal akibat serangan di Sektor Empat. Kristal itu sekarang berada di laboratorium rahasia Komandan untuk stabilisasi molekuler."

"Tapi kenapa tidak ada catatan otorisasi di sistem pusat?" tanya teknisi lainnya.

"Karena ini adalah protokol Black Box. Jika data ini bocor ke publik, akan ada kepanikan masal bahwa penstabil bumi rusak," Silas berdiri, menatap mereka dengan tatapan mengancam. "Kalian hanya perlu memasukkan data Perawatan Rutin di log publik. Lakukan sekarang, atau kalian akan berurusan langsung dengan Valerius."

Mendengar nama pahlawan nomor satu disebut, para teknisi itu tidak berani membantah lagi. Mereka segera mengetikkan perintah yang diminta Silas. Dalam hitungan detik, seluruh jaringan berita global menerima pembaruan bahwa Heart of Gaia sedang dalam proses pembersihan tahunan dan akan kembali dipajang dalam satu minggu.

Di ruang pribadinya, Valerius memantau percakapan itu melalui mikrofon tersembunyi. Ia menghela napas lega, meskipun tangannya masih gemetar. Ia baru saja melakukan korupsi data terbesar dalam kariernya untuk menutupi jejak seorang bocah tujuh tahun.

"Semoga kau tahu apa yang kau lakukan, Arthur," gumam Valerius sambil menatap layar radar yang menunjukkan aktivitas aneh di Samudra Pasifik semakin meningkat.

Di sekolah, Arthur duduk di kelasnya dengan sangat tenang. Tas sekolahnya diletakkan di samping kakinya. Di dalam sana, sebuah artefak yang mampu menstabilkan lempeng tektonik bumi bersinggungan dengan penghapus karet berbentuk kelinci milik Arthur.

Mia, yang duduk di sampingnya, tampak sibuk dengan tabletnya. "Arthur, kau lihat berita? Kristal hijau yang kita lihat kemarin di museum dibawa untuk perawatan. Padahal aku ingin menunjukkan fotonya pada ibuku hari ini, tapi fotonya mendadak buram."

Arthur melirik sekilas ke arah tablet Mia. Tentu saja fotonya buram; keberadaan Heart of Gaia selalu merusak sensor optik dalam jarak dekat. "Mungkin kameramu rusak, Mia. Kau terlalu banyak mengambil foto kemarin."

"Mungkin juga," sahut Mia, lalu ia beralih ke topik lain. "Ngomong-ngomong, kau merasa tidak kalau hari ini udara terasa agak... berat? Seperti mau hujan tapi langitnya cerah sekali."

Arthur terdiam. Mia memiliki insting yang tajam untuk ukuran manusia biasa. Udara terasa berat karena Jembatan para Architects mulai menarik oksigen bumi untuk menstabilkan portal mereka. Atmosfer sedang menipis secara perlahan, dan hanya orang-orang yang peka yang bisa merasakannya.

"Mungkin itu hanya perasaanmu saja," jawab Arthur singkat, mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka buku pelajarannya.

Pelajaran berlangsung dengan sangat lambat. Bu Hera menjelaskan tentang sejarah geografi, tanpa menyadari bahwa objek geografi paling krusial di dunia sedang berada di dalam tas salah satu muridnya. Arthur menghabiskan waktunya dengan mencoret coret kertas, namun sebenarnya ia sedang mengirimkan denyutan energi melalui Heart of Gaia ke arah dasar laut Pasifik.

Setiap denyutan itu bertujuan untuk mengganggu frekuensi Jembatan. Ia tidak menghancurkannya belum saatnya tapi ia membuat para Architects di sisi lain merasa bingung karena koordinat sasaran mereka terus bergeser beberapa milimeter setiap detiknya.

Berusahalah sekuat tenaga, para serangga, batin Arthur dingin. Semakin kalian mencoba masuk, semakin besar energi yang akan kalian ledakkan saat aku menutup pintunya nanti.

Saat jam istirahat, Arthur pergi ke halaman belakang sekolah yang sepi. Ia mengeluarkan Heart of Gaia dari tasnya sebentar, hanya untuk memastikan kondisinya. Kristal itu kini mulai berubah warna dari hijau menjadi sedikit kemerahan, pertanda bahwa ia sedang menyerap energi negatif dari luar angkasa dengan kapasitas maksimal.

"Kau bekerja keras, ya?" bisik Arthur pada kristal itu.

Tiba-tiba, sesosok bayangan menutupi sinar matahari yang mengenai Arthur. Ia segera memasukkan kembali kristal itu ke dalam tasnya dan menoleh dengan waspada.

Itu adalah Silas. Pria itu tampak sangat berantakan, jasnya kusut dan ada kantung mata yang dalam di bawah kacamata hitamnya. Ia berdiri di balik pagar sekolah, berpura pura sedang memeriksa kabel telepon.

"Aku sudah membereskan jejakmu di museum," bisik Silas tanpa menoleh ke arah Arthur. "Tapi dewan pusat mulai curiga. Mereka mengirimkan penyelidik independen dari Sektor Satu. Kau tidak bisa menyimpan benda itu lebih lama lagi, Arthur."

"Aku butuh tiga hari," jawab Arthur pelan, sambil berpura pura mengikat tali sepatunya. "Benda ini adalah satu satunya jangkar yang tersisa. Jika aku mengembalikannya sekarang, Sektor Empat akan lenyap karena resonansi portal."

Silas menghela napas, menyulut sebatang rokok untuk menenangkan sarafnya. "Tiga hari? Valerius mungkin akan mati karena serangan jantung sebelum itu. Dan Jembatan itu... armada kita melaporkan bahwa air di sana sudah mulai mendidih. Ikan-ikan laut dalam terdampar di pantai dengan tubuh yang hangus."

"Biarkan mereka mendidih," sahut Arthur dingin. "Pastikan saja Valerius melakukan apa yang kukatakan, siapkan evakuasi. Jangan mencoba bertempur melawan apa yang akan keluar dari sana. Itu bukan monster, Silas. Itu adalah armada penghapus."

Silas menatap Arthur dengan tatapan yang dipenuhi rasa takut sekaligus hormat. "Siapa sebenarnya kau, Nak? Kenapa kau peduli pada kami? Dengan kekuatanmu, kau bisa saja pergi ke planet lain dan membiarkan kami hancur."

Arthur berdiri, membersihkan debu di celana pendeknya. Ia menatap ke arah kantin sekolah di mana anak-anak sedang tertawa sambil berebut makanan.

"Karena di planet lain, tidak ada susu stroberi yang enak," jawab Arthur dengan nada yang sangat serius sebelum berjalan kembali menuju kelas.

Silas hanya terdiam di tempatnya, menatap punggung bocah kecil itu. Ia menyadari bahwa seluruh eksistensi umat manusia kini digantungkan pada seberapa suka seorang entitas kuno terhadap minuman rasa buah buatan manusia.

Di dimensi tinggi, para Architects menatap layar monitor biologis mereka dengan geram. "Jembatan tidak stabil! Ada gangguan dari dalam planet! Sesuatu sedang membelokkan koordinat kita!"

"Gunakan energi cadangan!" perintah pemimpin mereka. "Jika kita tidak bisa masuk dengan halus, kita akan mendobraknya dengan paksa. Aktifkan Fase Ketiga: The Solar Flare. Kita akan membakar atmosfer mereka agar portalnya bisa terbuka lebar."

Arthur, yang sedang duduk di kursinya sambil memegang pensil, tiba-tiba merasakan panas yang menyengat di udara. Ia menatap ke arah matahari yang tampak sedikit lebih besar dari biasanya.

"Kalian benar-benar ingin bermain kotor, ya?" gumam Arthur. Ia merapatkan tasnya, merasakan Heart of Gaia yang kini berdenyut sangat kencang. Pertempuran sesungguhnya sudah bukan lagi soal monster fisik, melainkan perang memperebutkan kendali atas struktur alam semesta itu sendiri.

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!