Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 13
"Kalian hati-hati selama perjalanan. Masalah Kenan, lo nggak usah khawatir, Shila. Dia aman bersama gue di sini," kata Aira.
Shila dan Gibran akan menuju pabrik mochi itu. Mereka berdua bertekad memusnahkan pabrik tersebut agar tidak beroperasi lagi dan tidak ada lagi korban berikutnya.
"Selama kami nggak ada, lo jangan pernah keluar rumah, Ai. Cuma di dalam rumah kalian aman," pesan Shila dengan serius.
Aira mengangguk.
Gadis itu yakin orang tuanya akan melindunginya, terutama dalam situasi seperti sekarang yang semakin tidak menentu.
Shila dan Gibran pun pamit kepada Aira dan Kenan. Sebelum berangkat, Shila mencium pipi gembul adiknya yang tidak pernah berkurang itu, seolah memberi kekuatan untuk dirinya sendiri.
"Kalian keluar dari pintu belakang saja. Itu lebih aman untuk kalian," suruh Aira. Ia pun mengikuti mereka sampai ke belakang rumah.
Setelah Shila dan Gibran berangkat, Aira segera mengunci pintu kembali dan langsung menemani Kenan bermain, mencoba mengalihkan rasa cemasnya.
"Tuhan, lindungi Shila dan Gibran dalam perjalanan, dan semoga mereka berhasil memusnahkan pabrik itu," gumam Aira pelan.
"Shila, gue semprot ini dulu sebelum berangkat supaya perjalanan kita aman," kata Gibran sambil mengeluarkan cairan misterius itu.
Shila mengangguk. Cairan itu memang tidak berbau apa pun, tapi entah kenapa para zombie tidak berani mendekati mereka. Hal itu membuatnya sedikit lebih tenang.
Wanda dan Hadi melihat kedua anak muda itu sudah keluar dari rumah mereka. Mereka langsung mengangguk, memberi semangat kepada Shila dan Gibran. Tidak lupa, mereka membaca bismillah sebelum melangkah lebih jauh.
"Pabrik itu nggak jauh dari sini, Shil. Lihat, tuh," tunjuk Gibran.
"Jadi kita nggak perlu lewat jalanan, dong? Berarti kita lebih aman," balas Shila.
"Betul sekali. Mari kita musnahkan pabrik yang membuat manusia berubah jadi zombie," ucap Gibran dengan penuh tekad. Mereka pun berpegangan tangan selama perjalanan, saling menguatkan satu sama lain.
."Gib, kalau ini sudah selesai, kita pergi dari kota ini untuk mencari orang yang memberikan kita kalung ini, ya," ajak Shila penuh harap.
"Itu juga sudah gue rencanakan, Shil. Siapa tahu kita bisa belajar banyak hal dari orang itu," ujar Gibran.
Selama perjalanan, mereka terus mengobrol tentang banyak hal—tentang masa lalu, harapan, dan kehidupan mereka ke depannya. Di tengah situasi mencekam, percakapan itu menjadi satu-satunya penghibur.
Shila maupun Gibran merindukan saat-saat sekolah dulu, ketika mereka bebas pergi ke mana pun tanpa rasa takut. Tidak seperti sekarang, di mana bayangan zombie selalu menghantui di setiap sudut kota.
Namun kali ini, mereka memilih untuk melawan, bukan lagi bersembunyi.
******
Sementara itu...
Di kompleks rumah Hendro, suasana mencekam mulai terasa. Beberapa zombie tiba-tiba muncul di lingkungan tempat tinggal mereka, membuat keadaan yang semula aman berubah menjadi kacau.
Orang-orang yang keluar untuk bekerja menuju pabrik maupun laboratorium langsung menjadi korban. Mereka diserang tanpa ampun, digigit tanpa tersisa, hingga tidak sempat menyelamatkan diri.
Kini, tidak ada satu pun yang berani keluar rumah karena takut berubah menjadi zombie. Padahal, semua ini adalah ulah mereka sendiri—kesalahan yang kini berbalik menghantui.
"Pah, kok ada zombie di sini? Padahal, kan, dari beberapa bulan ini kompleks ini aman. Tapi sekarang banyak zombie di luar," ujar Dewi dengan suara gemetar.
"Papa juga nggak tahu, sayang. Kenapa kita sampai kecolongan seperti ini. Mulai sekarang, kita harus berdiam diri di rumah," suruh Hendro dengan wajah tegang.
"Papa coba telepon Prof. Teguh. Apa di rumahnya juga ada zombie?" ujar sang istri penuh harap.
"Sepertinya tidak ada. Rumah itu sangat aman, dan tidak sembarang orang bisa masuk," ungkap Hendro.
"Kenapa kita tidak tinggal di sana saja? Jujur, Dewi sudah tidak betah tinggal di sini. Apalagi tiap malam harus mendengar geraman para zombie itu," keluh Dewi, wajahnya tampak pucat.
"Itu tidak mungkin. Prof. Teguh tidak suka orang lain tinggal di rumahnya. Gimana kalau kita pindah ke rumah Shila yang ada di pinggir hutan? Rumah itu sangat aman untuk ditempati," usul Hendro.
"Tapi, apa Shila nggak akan balik ke sana? Dan dari mana Papa tahu Shila punya rumah di sana?" tanya Dewi lagi, masih ragu.
"Prof. Teguh yang kasih tahu Papa. Kamu nggak usah banyak tanya. Mending beresin barang-barang yang penting. Dua hari lagi kita akan ke sana," perintah Hendro dengan nada tegas.
Dewi terdiam. Meski masih diliputi banyak pertanyaan, ia tahu situasi tidak memungkinkan untuk membantah. Di luar sana, suara geraman mulai terdengar lagi, seakan mengingatkan bahwa waktu mereka tidak banyak.
sampai sekarang hendro tidak menyadari kalau dirinya lah yang membawa zombie itu kesana.. padahal zombie itu muncul setelah dia pulang dari kampung aira berapa hari yang lalu.
Gibran dan Shila pun sampai di pabrik itu. Mereka mengendap-endap untuk masuk dan bersyukur karena tidak ada orang yang berjaga di luar. Suasana di sekitar terasa sunyi, hanya suara angin yang sesekali terdengar.
"Gibran, kok pabrik ini sepi, ya?" tanya Shila berbisik, matanya waspada menyapu sekitar.
"Jangan-jangan para zombie yang orang tuanya Aira suruh ikut ke dalam mobil Om Hendro sudah berkeliaran di komplek itu. Mungkin sebagian dari mereka juga sudah jadi korban," tebak Gibran pelan.
"Bagus itu. Dengan begitu, kita bebas membakar pabrik ini. Ayo, kita siram pakai minyak," ajak Shila dengan penuh tekad.
"Tunggu, Shila. Lihat, ada CCTV. Apa kita nggak pakai masker supaya tidak ketahuan?" kata Gibran, menunjuk ke sudut atas bangunan.
"Tidak perlu. Biar si Prof. Teguh yang anjing itu bisa lihat secara langsung. Sudah saatnya kita balas dendam," ucap Shila dengan suara dingin dan penuh amarah.
Mereka langsung menyiram bagian-bagian pabrik itu dengan minyak yang mereka bawa. Setiap sudut dipastikan basah agar api cepat menyebar. Bau minyak mulai menyengat, tapi mereka tidak peduli.
Setelah semuanya tersiram, Shila berdiri tepat menghadap CCTV.
"Lihatlah, Prof. Teguh. Sebentar lagi, pabrik Anda akan ludes jadi abu. Dan tunggu giliran Anda dan laboratorium Anda," ucap Shila dengan terang-terangan, penuh ancaman.
"Dan untuk bajingan bernama Hendro, tunggu kedatangan saya. Saya akan buat hidup Anda menderita. Ini balasan untukmu, karena telah memperkosa dan membunuh bunda saya," Gibran ikut bicara, suaranya bergetar menahan emosi.
"Kami anak-anak dari Ningrum dan Satria akan membalas kalian dan membinasakan para zombie buatan kalian ini. Kami tahu kalianlah dalangnya," ucap Shila dan Gibran bersamaan dengan penuh kebencian.
Tanpa ragu, mereka langsung menyalakan api. Dalam hitungan detik, api mulai menjalar, melahap bagian-bagian pabrik yang terbuat dari kayu. Kobaran api membesar dengan cepat, menyebar ke segala arah tanpa bisa dihentikan.
Asap hitam membumbung tinggi ke langit, sementara suara kayu yang terbakar terdengar menyeramkan. Kini, pabrik itu benar-benar telah dilalap api dan perlahan berubah menjadi abu.
Shila dan Gibran berdiri sejenak, menatap hasil perbuatan mereka—sebuah awal dari balas dendam yang lebih besar.