Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13:Tiba Di Negara Bai Xue
Angin di lereng Pegunungan Giok tidak hanya membawa dingin, ia membawa belati-belati es yang sanggup mengoyak kain jubah terkuat sekalipun.
Di tempat ini, oksigen terasa tipis dan kering, meninggalkan rasa logam di pangkal tenggorokan setiap kali Chen Lin menarik napas.
Salju turun bukan sebagai butiran lembut, melainkan serpihan kristal tajam yang menumpuk cepat, menelan jejak kaki siapa pun dalam hitungan detik.
Di tengah badai yang menderu, suara gesekan salju di kejauhan mulai berubah. Bukan lagi deru angin, melainkan geraman rendah yang mengandung getaran energi haus darah.
Chen Lin berhenti melangkah. Tangan kanannya secara intuitif menyentuh gagang pedangnya. Di depannya, sebuah lembah sempit menjadi panggung bagi sebuah pembantaian yang hampir usai.
Lima praktisi muda berdiri saling memunggungi, membentuk lingkaran pertahanan yang rapuh di tengah kepungan bayangan abu-abu yang bergerak cepat di atas salju.
Tujuh ekor Serigala Cakar Es mengitari mereka dengan mata merah yang berpendar di tengah kabut.
Enam di antaranya berada di ranah Marrow Purification Tingkat 1, namun pemimpin mereka seekor pejantan dengan bulu perak setinggi bahu manusia memancarkan tekanan yang jauh lebih berat, setara dengan Marrow Purification Tingkat 4.
Di antara praktisi itu, tiga gadis tampak terengah-engah, basis mereka yang baru mencapai Blood Purification Tingkat 9, membuat napas mereka pendek dan tidak stabil. Dua pria lainnya yang berada di Marrow Purification Tingkat 1.
berusaha keras menahan serangan kilat dari para serigala, namun luka-luka robek di lengan dan paha mereka menunjukkan bahwa mereka sudah berada di ambang batas.
"Jangan menyerah! Jika kita tumbang di sini, tidak akan ada yang menemukan mayat kita di bawah salju ini!" teriak salah satu pria dengan pedang yang sudah patah ujungnya.
"Tapi Yan Bo, pemimpin mereka... dia terlalu kuat! Kita tidak bisa menembus kulitnya!" sahut salah satu gadis dengan suara yang bergetar menahan rasa takut.
Serigala pemimpin itu melolong, sebuah aba-aba kematian. Enam serigala bawahannya menerjang serentak dari berbagai sudut, menciptakan badai cakar dan taring. Saat itulah, sebuah kilatan biru pucat membelah udara kelabu.
Tanpa suara, Chen Lin melesat dari tebing batu di atas mereka. Ia tidak menggunakan teknik yang mewah; hanya sebuah tebasan horizontal yang membawa resonansi dingin dari Esensi Tulang Rembulan.
Dua serigala yang berada di jalur lintasannya terlempar ke samping dengan leher yang membeku seketika, darah mereka mengkristal sebelum sempat menyentuh salju.
Chen Lin mendarat dengan anggun di depan kelompok praktisi yang terperangah itu. Jubah hitamnya berkibar ditiup angin, memberikan kontras yang tajam terhadap latar belakang salju yang putih bersih.
"Siapa..." gumam Yan Bo, matanya membelalak melihat dua monster tingkat satu itu mati hanya dalam satu gerakan.
"Fokus pada yang kecil. Biarkan yang besar untukku," ucap Chen Lin dingin. Suaranya datar, nyaris tenggelam oleh deru badai, namun mengandung otoritas yang tak terbantah.
Pemimpin serigala itu menggeram marah melihat kawanannya dijatuhkan. Ia menerjang dengan kecepatan yang luar biasa, meninggalkan jejak kawah kecil di salju.
Chen Lin tidak mundur. Ia merasakan getaran di tulangnya, menyerap hawa dingin di sekitarnya untuk memperkuat otot-ototnya. Saat taring raksasa itu nyaris mengapai lehernya, Chen Lin melakukan putaran kecil, mengalirkan energi es ke ujung pedangnya.
Brakk!
Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menyapu salju di sekitar mereka. Pedang Chen Lin menghantam tepat di kening serigala tingkat empat tersebut. Energi es yang melapisi permukaannya membuatnya sekeras baja meteorit.
Es mulai merambat dari titik benturan, membekukan saraf-saraf motorik monster itu.
Pemimpin serigala itu mencoba melepaskan diri, namun Chen Lin tidak memberinya kesempatan.
Dengan satu gerakan tambahan yang sangat presisi, ia menusukkan pedangnya ke arah jantung monster itu.
Energi dingin yang masif meledak di dalam tubuh serigala tersebut, menghancurkan organ dalamnya menjadi serpihan es dalam hitungan detik.
Monster itu jatuh tersungkur, mati tanpa sempat mengeluarkan lolongan terakhirnya.
Melihat pemimpin mereka tewas begitu mudah, sisa serigala lainnya melarikan diri ke dalam kegelapan badai.
Keheningan kembali menyelimuti lembah, hanya menyisakan suara napas terengah-engah dari lima praktisi yang baru saja diselamatkan.
"Terima kasih... Anda telah menyelamatkan nyawa kami. Saya Yan Bo, dan ini rekan-rekan saya," ucap pria yang tadi memimpin pertahanan, sambil membungkuk dalam dengan penuh hormat.
Dua pria lainnya bernama Lu Han, sementara tiga gadis itu memperkenalkan diri sebagai Mei Ling, Xiao Yu, dan Ruo Lan. Mereka menatap Chen Lin dengan campuran rasa kagum dan takut.
Bagi mereka, seorang pemuda yang tampak seumuran namun bisa membantai monster tingkat empat Marrow Purification dengan begitu mudah adalah sosok yang tidak biasa.
"Aku Chen Lin," jawabnya singkat. Ia mulai membersihkan pedangnya dari sisa-sisa kristal darah serigala.
"Saudara Chen, apakah Anda juga bertujuan ke Negara Bai Xue? Kami semua sedang dalam perjalanan untuk mencoba peruntungan di salah satu dari enam sekte utama," tanya Mei Ling, gadis yang tadi hampir menyerah. Matanya kini berbinar dengan harapan baru.
"Ya. Itu tujuanku," sahut Chen Lin.
Yan Bo segera menimpali, "Jika demikian, mengapa kita tidak berjalan bersama? Pegunungan ini sangat berbahaya bagi mereka yang berjalan sendirian, dan dengan kekuatan Saudara Chen, kita semua akan memiliki peluang lebih besar untuk sampai ke perbatasan dengan selamat."
Chen Lin terdiam sejenak. Ia melirik kelompok itu. Mereka tampak lemah, namun mereka memiliki informasi yang mungkin ia butuhkan.
Berjalan sendiri di wilayah yang sama sekali asing terkadang bisa menjadi bumerang, tidak peduli seberapa kuat basis kultivasinya.
"Baiklah. Kita akan bergerak bersama sampai perbatasan," ucap Chen Lin akhirnya.
Mendengar hal itu, kelima praktisi itu tampak sangat lega. Mereka segera menyiapkan tempat berteduh sementara di bawah ceruk tebing untuk memulihkan energi sebelum melanjutkan perjalanan.
Di bawah temaram api unggun kecil yang dijaga dengan energi spiritual agar tidak padam oleh angin, mereka mulai berbagi informasi.
"Saudara Chen pasti sangat berbakat. Teknik es Anda... saya belum pernah melihat yang sepresisi itu di ranah Marrow Purification," puji Yan Bo sambil memberikan sepotong daging kering pada Chen Lin.
"Aku hanya beruntung memiliki teknik yang cocok dengan lingkungan ini," jawab Chen Lin datar, mengabaikan pujian tersebut.
"Katakan padaku tentang enam sekte utama yang kalian tuju. Aku butuh gambaran yang lebih jelas."
Xiao Yu, gadis yang tampak paling berpengetahuan di antara mereka, mengangguk pelan. Ia mulai menjelaskan dengan nada serius, seolah-olah sedang membicarakan entitas dewa.
"Negara Bai Xue dikuasai oleh enam pilar. Yang pertama adalah Sekte Bing Di. Mereka adalah penguasa mutlak dalam hal manipulasi elemen es. Bagi mereka yang memiliki akar es, ini adalah surga. Teknik-teknik mereka dikenal sangat dominan dan sulit ditandingi jika bertarung di medan bersalju."
Ia berhenti sejenak untuk membetulkan letak jubahnya sebelum melanjutkan.
"Lalu ada Sekte Shou Hun. Mereka memiliki spesialisasi yang unik, yaitu menjinakkan binatang roh. Murid-murid mereka biasanya bertarung bersama monster yang telah mereka kontrak. Di hutan-hutan Bai Xue, bertemu dengan murid Shou Hun adalah mimpi buruk karena Anda tidak pernah tahu berapa banyak mata yang sedang mengincar Anda dari kegelapan."
"Ketiga adalah Sekte Xiannu Gu," sambung Mei Ling dengan sedikit rona merah di pipinya. "Sekte ini sangat eksklusif, mereka hanya menerima murid wanita. Mereka tidak hanya melatih kekuatan fisik, tapi juga keterampilan pesona. Dikatakan bahwa seorang murid Xiannu Gu bisa memikat lawan hanya dengan satu tatapan, membuat musuh menyerah tanpa sempat menghunus senjata."
"Bagaimana dengan sekte lainnya?" tanya Chen Lin, mulai merasa tertarik.
"Keempat adalah Sekte An Yu. Ini adalah sekte yang paling misterius. Mereka memiliki jumlah murid yang jauh lebih sedikit dibanding sekte lainnya, namun masing-masing dari mereka adalah elit yang mengerikan. Mereka jarang mencampuri urusan dunia luar, namun sekali mereka bergerak, itu biasanya berarti ada perubahan besar yang akan terjadi," Xiao Yu melanjutkan.
"Kelima adalah Sekte Sheng Yao. Jika Saudara Chen butuh pengobatan atau pil-pil tingkat tinggi, mereka adalah ahlinya. Mereka adalah pilar logistik bagi Negara Bai Xue. Meskipun kekuatan tempur individu mereka mungkin tidak sekuat sekte lainnya, pengaruh mereka sangat luas karena setiap praktisi pasti membutuhkan jasa mereka suatu saat nanti."
"Dan yang terakhir adalah Sekte Qian Jian. Mereka adalah sekte yang menyembah pedang sebagai satu-satunya jalan Dao mereka. Bagi mereka, pedang adalah nyawa. Teknik pedang mereka dikenal sangat tajam dan bisa membelah apa pun, bahkan energi spiritual sekalipun."
Xiao Yu menatap Chen Lin dengan sungguh-sungguh sebelum menambahkan informasi yang paling krusial.
"Di antara keenam sekte itu, Sekte Bing Si dan Sekte Qian Jian diakui sebagai yang terkuat di Negara Bai Xue. Mereka sering bersaing memperebutkan posisi pertama. Setelah mereka, peringkat diikuti oleh Sekte An Yu, kemudian Shou Hun, Xiannu Gu, dan di peringkat terakhir adalah Sheng Yao dalam hal kekuatan tempur murni."
Chen Lin menyesap air dari kantung kulitnya, mencerna informasi tersebut. "Seberapa kuat para pemimpin sekte ini?"
Xiao Yu menghela napas panjang, matanya menunjukkan rasa hormat yang mendalam. "Walaupun kekuatan sekte ini banyak perbedaannya, tetapi seluruh ketua sektenya berada di ranah Birth Soul Tingkat 3 Hingga Tingkat 7. Itu adalah tingkat kekuatan yang bisa meratakan seluruh kota besar hanya dengan lambaian tangan."
Suaranya merendah saat ia membisikkan bagian selanjutnya.
"Dan bahkan... mungkin leluhur dari dua sekte terkuat, Bing Si dan Qian Jian, sudah mencapai puncak Birth Soul atau bahkan mungkin menyentuh ranah Soul Essence. Itu adalah tingkat yang sudah melampaui imajinasi praktisi tingkat rendah seperti kita."
Keheningan melanda sejenak saat mereka semua membayangkan kekuatan luar biasa tersebut. Di hadapan ranah Birth Soul, ranah Marrow Purification milik mereka tidak lebih dari sekadar butiran debu di tengah badai.
"Lalu, Saudara Chen sendiri... sekte mana yang Anda tuju?" tanya Xiao Yu dengan penuh rasa ingin tahu.
"Sekte Bing Si," jawab Chen Lin tanpa keraguan. "Keterampilan es mereka adalah yang paling cocok untuk teknik yang kupelajari saat ini."
Mendengar hal itu, Yan Bo dan Lu Han saling pandang. "Itu adalah pilihan yang sangat berani. Bing Si dikenal memiliki ujian masuk yang sangat kejam. Kami berdua sendiri lebih memilih untuk mencoba ke Sekte An Yu atau Sekte Shao Hun. Kami merasa basis kami mungkin lebih berguna di sana."
Mei Ling dan kedua temannya tampak lebih ragu-ragu. "Bagi kami, tujuan utama adalah Sekte Sheng Yao. Keterampilan pengobatan akan memberikan kami keamanan jangka panjang.
Tapi... jika kami cukup beruntung dan tetua dari Sekte Xiannu Gu melihat kami cukup cantik serta memiliki bakat pesona, kami tentu akan memilih untuk bergabung dengan mereka. Menjadi murid Xiannu Gu adalah impian bagi banyak praktisi wanita di Utara."
Obrolan itu berlanjut hingga larut malam, membahas detail-detail kecil tentang prosedur pendaftaran dan rumor-rumor mengenai para jenius yang akan muncul tahun ini.
Chen Lin lebih banyak mendengarkan, menyerap setiap informasi geografis dan politik dari teman perjalanan barunya.
Ia menyadari bahwa perjalanannya ke Bai Xue bukan hanya sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah lompatan ke kolam yang penuh dengan hiu-hiu kelaparan.
Saat api unggun mulai meredup, Chen Lin menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang dingin. Di dalam kesadarannya, ia memanggil Lin XingYu.
"Dengar itu, XingYu? Pemimpin sekte di ranah Birth Soul. Apakah kau masih yakin aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan di sana?"
"Jangan meremehkan dirimu sendiri, Chen Lin. Birth Soul memang kuat di dunia kecil ini, tapi di mataku, mereka tetaplah manusia yang baru mulai memahami esensi jiwa. Dengan bimbinganku kau hanya butuh waktu. Sekte Bing Si adalah batu loncatan yang sempurna. Jika kau bisa menguasai keterampilan es mereka, kau akan memiliki fondasi untuk menantang siapa pun di daratan ini," jawab Lin XingYu dengan nada yang tetap tenang dan penuh percaya diri.
"Aku harap kau benar. Aku tidak menempuh ribuan mil hanya untuk menjadi murid biasa yang tidak diperhatikan," gumam Chen Lin pelan sebelum memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.
Pagi harinya, badai telah sedikit mereda, menyisakan pemandangan salju yang menutupi segala arah. Kelompok itu kembali bergerak menuju utara.
Chen Lin berjalan di depan, menjadi pemecah angin bagi rekan-rekannya. Kehadirannya memberikan rasa aman yang belum pernah dirasakan oleh Yan Bo dan yang lainnya selama perjalanan ini.
Sepanjang perjalanan, Chen Lin terus melatih kendali energi esnya secara pasif. Ia mencoba menyelaraskan detak jantungnya dengan ritme alam sekitar yang membeku.
Ia menyadari bahwa di Bai Xue, lingkungan bukan lagi musuh, melainkan keuntungan yang harus ia manfaatkan.
"Kita hampir sampai di perbatasan utama," teriak Yan Bo dari belakang sambil menunjuk ke arah celah gunung yang besar di kejauhan.
"Begitu kita melewati celah itu, kita akan resmi berada di wilayah kedaulatan Negara Bai Xue."
Chen Lin menatap celah gunung tersebut. Ia bisa merasakan aura yang sangat berbeda terpancar dari sana sebuah aura yang dingin, kuno, dan sangat luas. Itu adalah pintu masuk menuju panggung yang lebih besar, tempat di mana ia akan benar-benar diuji.
Saat mereka melangkah mendekati celah tersebut, bayangan-bayangan dari masa lalu di Qingchu terasa semakin jauh. Nama Chen Lin yang ditakuti di sana kini tidak berarti apa-apa di sini.
Ia hanyalah seorang pemuda pengelana yang membawa pedang kayu dan beban harapan dari seorang dewi primordial.
Langkah kaki mereka meninggalkan jejak yang dalam di salju, sebuah garis lurus yang menuju ke utara. Chen Lin tahu bahwa begitu ia menginjakkan kaki di tanah Bai Xue, tidak ada jalan untuk kembali.
Ia telah melepaskan segalanya, dan sekarang, dunia harus bersiap untuk menerima kehadirannya.
"Bai Xue... mari kita lihat seberapa dingin kau sebenarnya," bisik Chen Lin saat kakinya menginjak perbatasan pertama negara es tersebut.
Matahari yang pucat mencoba menembus awan kelabu, memberikan sedikit kilauan pada salju yang tak kunjung mencair.
Di depan mereka, daratan putih yang tak berujung terbentang luas, menyimpan ribuan rahasia dan tantangan yang akan menentukan apakah Chen Lin akan menjadi legenda atau hanya sekadar butiran kristal es yang terlupakan di tengah badai.