PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Basah
Arsenio perlahan membuka matanya saat merasakan sebuah usapan yang teramat lembut sekaligus sensual di atas dada bidangnya yang telanjang. Detik berikutnya, sepasang mata abu-abunya langsung melotot sempurna. Jantungnya berdegup seperti genderang perang melihat sosok perempuan yang kini tengah duduk mengangkang tepat di atas perutnya. Kulit wanita itu tampak begitu eksotis, berkilau oleh cairan keringat yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih menggoda.
"Apa-apaan ini?!" Arsenio mendesis, suaranya tercekat di tenggorokan.
Dia berniat memberontak dan mendorong tubuh wanita di atasnya, namun kedua tangannya mendadak terasa begitu lemas tak bertenaga. Bukannya menjauh, wanita itu justru menunduk dan perlahan menjilat puting dadanya bergantian dengan sangat lihai. Sentuhan basah dan hangat itu seketika mengirimkan sengatan listrik yang luar biasa kuat ke seluruh saraf tubuh Arsenio, membuat sesuatu yang besar di bawah sana langsung bangun dan menegang maksimal dalam hitungan detik.
Arsenio menggeram rendah saat wanita di atasnya mulai menggoyangkan pinggulnya secara memutar, menggesekkan keintiman mereka tepat di atas penis besar berurat milik Arsenio yang sudah mengeras di balik kain. Sengatan kenikmatan itu begitu nyata hingga membuat Arsenio tidak bisa menahan diri untuk tidak memaki.
"Alicia sialan!" umpat Arsenio dengan napas yang mulai memburu hebat.
Wanita itu yang tidak lain adalah Mina hanya melempar senyuman genit yang sangat nakal ke arah Arsenio. Tidak berhenti sampai di situ, Mina mengangkat sedikit tubuhnya, memposisikan diri dengan tepat, lalu perlahan menduduki penis besar Arsenio yang terbungkus kain. Dia menggoyangkan pinggulnya ke sana kemari, menciptakan gesekan ekstrem yang membuat Arsenio menggelinjang hebat. Pria itu mencoba memberontak, namun tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan, seolah terkunci oleh pesona magis wanita di atasnya.
"Kenapa, Mas? Enak, kan?" Mina mengeluarkan kata-kata vulgar yang begitu menggoda, berbisik tepat di telinga Arsenio sebelum kembali menciumi dada bidang berotot suaminya dengan rakus.
Arsenio sudah berada di batas pertahanannya. Dia tidak tahu dari mana datangnya kekuatan besar yang mendadak mengalir ke tubuhnya, namun dengan satu sentakan kasar, Arsenio membalikkan posisi mereka berdua. Kini, giliran Mina yang berada di bawah kungkungan tubuh tegap Arsenio, menatap pria itu dengan pandangan yang penuh dengan damba dan gairah yang membara.
Mina menggigit bibir bawahnya sendiri dengan sensual sembari mengelus area sensitifnya yang tampak berkilau, sebuah pemandangan yang sukses membuat mata Arsenio semakin melotot.
"Tunggu apa lagi, Mas? Masukkan penis besar mu ke dalam lubangku sekarang..." bisik Mina dengan nada suara yang teramat manja dan menuntut.
Mina kemudian melebarkan kedua kakinya lebar-lebar ke samping, membuat Arsenio dapat melihat dengan sangat jelas lubang pink penuh cairan pelumas alami milik wanita itu. Jika situasinya sudah seperti ini, maka seluruh pertahanan, logika, dan wibawa formal seorang Arsenio sudah runtuh total tak bersisa. Lagipula, wanita ini yang menggodanya duluan sejak awal!
Mina memang seorang jalang! Jalang yang sangat menggoda! Arsenio berteriak liar dalam pikirannya, diselimuti oleh kabut gairah yang pekat.
"Hari ini, saya pastikan kamu tidak akan bisa bangun dari ranjang ini, Alicia!" ancam Arsenio dengan suara baritonnya yang parau dan sarat akan dominasi.
Arsenio memosisikan miliknya yang sudah menegang maksimal, lalu dengan gerakan yang tergesa-gesa dan penuh dorongan gairah, dia langsung memasukkan miliknya yang besar, melesak dalam ke dalam lubang kenikmatan Mina yang terasa sangat hangat dan menjepit ketat.
"Ahhh! Faster, Mas! Aku ingin lebih!" Mina berteriak keenakan, melengkungkan punggungnya menikmati setiap rabaan dan hujaman yang diberikan.
Arsenio mengumpat pelan, kehilangan seluruh kendali dirinya dan langsung menaikkan tempo dorongannya menjadi sangat cepat dan bertenaga. Setiap tumbukan menciptakan suara basah yang memenuhi ruangan, membawa keduanya semakin dekat ke puncak pelepasan. Hingga beberapa saat kemudian, seluruh tubuh Arsenio mendadak kaku, otot-ototnya menegang sempurna, dan dia langsung menumpahkan seluruh sperma kentalnya yang panas jauh ke dalam rahim Mina dalam beberapa kali semprotan yang kuat.
Arsenio terengah-engah, menjatuhkan tubuhnya di atas dada Mina yang naik-turun. Namun, saat dia mendongak untuk menatap wajah wanita itu, Mina tidak lagi menatapnya dengan gairah. Wanita itu justru menatap Arsenio dengan tatapan mencemooh yang sangat dingin dan menjengkelkan.
"Sudah waktunya bangun, sayang," ucap Mina dengan nada datar, yang bersamaan dengan itu, Arsenio merasakan tubuhnya diguncang-guncang dengan cukup keras dari luar.
Deg!
Arsenio langsung membuka kedua matanya dengan sentakan kaget. Napasnya memburu hebat, jantung nya berdegup sangat kencang, dan pelipisnya dipenuhi oleh keringat dingin. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada sosok wanita yang berdiri di samping ranjangnya, tengah menatapnya dengan wajah yang sangat galak dan kedua tangan yang bersedekap di dada.
Mina. Wanita itu ada di sana, mengenakan daster rumahan biasa.
Arsenio mematung di atas ranjang, otaknya mendadak blank mencoba mencerna situasi yang baru saja terjadi. Apa-apaan semua ini? Dia melihat ke sekeliling kamarnya yang rapi. Tidak ada cairan, tidak ada desahan, dan tidak ada pergulatan panas.
"Apa jangan-jangan... saya baru saja mengalami mimpi basah? Mimpi basah dan melakukannya dengan Alicia?!" batin Arsenio berteriak histeris, batinnya dilanda syok yang luar biasa berat.
"Yang benar saja! Saya tidak akan pernah selera dengan wanita menyebalkan seperti dia!" rutuk Arsenio dalam hati, mencoba menolak kenyataan yang baru saja disadarinya.
Namun, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Saat ini, Arsenio dapat merasakan dengan sangat jelas bahwa miliknya di bawah sana masih menegang keras, berdenyut-denyut akibat sisa gairah dari mimpi yang terlampau nyata tadi. Tapi tentu saja, bukan itu inti masalahnya sekarang.
Saat ini, Mina masih setia berdiri di samping tempat tidur sambil menatap Arsenio dengan pandangan yang sangat tajam dan menusuk. Sifat sembrono dan cerianya pagi ini tampaknya sedang tergantikan oleh rasa kesal yang maksimal.
"Mas Arsenio! Kamu tuh budek atau gimana sih?!" sembur Mina kesal, langsung mengomeli suaminya tanpa ampun.
"Aku tuh udah mengetuk pintu kamar kamu berulang kali dari luar sampai tangan aku pegel, tapi gak dibuka-buka juga! Makanya aku berani langsung masuk ke dalam!"
Arsenio masih terdiam, mencoba menetralkan suaranya yang masih terasa parau.
"Lalu... apa urusannya sampai kamu harus masuk ke kamar saya?" tanya Arsenio, mencoba mengembalikan nada suara sedikit formalnya yang kaku, meskipun batinnya masih bergetar hebat karena malu.
Mina mendengus kencang, melangkah satu langkah lebih dekat ke ranjang, membuat Arsenio refleks menarik selimut tebalnya sampai ke batas dada untuk menyembunyikan kondisinya di bawah sana.
"Ya urusannya karena kamu gak bangun-bangun! Tadi pas aku udah di dalem dan coba membangunkan kamu baik-baik, kamu malah gak bangun dan malah mengumpat-umpat gak jelas dalam tidur kamu! Kamu bilang 'Alicia sialan, Alicia jalang' gitu berulang kali dengan muka yang aneh banget! Bikin kesal tahu gak?!" cerocos Mina blak-blakan dengan gaya santainya, sama sekali tidak tahu bahwa umpatan itu adalah bagian dari pergulatan panas mereka di alam bawah sadar Arsenio.
"Gue—eh, aku, lagi baik ya mau bangunin kamu, malah dituduh yang enggak-enggak!"
Arsenio merasakan wajahnya, terutama bagian telinganya, mendadak terasa sangat panas seperti terbakar mendengar ucapan Mina. Dia benar-benar mengumpat dalam tidurnya? Ya Tuhan, runtuh sudah harga diri Arsenio sebagai seorang pria terhormat, rasanya dia ingin menenggelamkan dirinya ke dasar laut sekarang juga.
"Sudahlah, tidak usah dibahas," potong Arsenio cepat, suaranya terdengar agak gugup namun dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat cuek dan dingin.
"Lalu, untuk apa kamu membangunkan saya sesegera ini?"
Mina memutar bola matanya malas, lalu ekspresi wajahnya berubah melunak saat mengingat alasan utamanya datang ke kamar ini.
"Itu, Gino udah bangun dari tadi. Dia langsung celingukan dan mencarikan kamu, Mas. Dia terus nanya 'Papa mana? Papa mana?' gitu dengan suaranya yang masih agak serak. Makanya aku ke sini buat panggil kamu."
Mendengar nama putranya disebut, fokus Arsenio langsung teralih.
"Gino mencari saya? Baik, katakan padanya saya akan datang ke kamarnya sebentar lagi. Saya harus... bersiap-siap terlebih dahulu."
"Ya udah, cepetan ya! Jangan pake acara tidur lagi terus mengumpat gak jelas!" sahut Mina ketus.
Wanita itu langsung membalikkan badannya dengan wajah yang cemberut, lalu melangkah pergi meninggalkan kamar Arsenio dengan mengentak-entakkan kakinya kesal. Pagi ini, Mina tampak mengenakan dress katun rumahan berwarna maroon tua. Pilihan warna itu terlihat sangat kontras dengan kulit putih mulusnya yang terekspos di bagian lengan dan leher, membuat siluet tubuhnya yang seksi kembali terlihat dengan jelas dari belakang saat dia berjalan keluar.
Melihat pemandangan nyata itu, Arsenio merasakan miliknya di bawah sana mendadak semakin menegang ketat dan terasa sangat sesak di dalam celana tidurnya. Otak kotornya kembali memutar potongan adegan mimpi basah tadi, membuat Arsenio langsung mengerang frustrasi.
"Sialan..." umpat Arsenio pelan.
Setelah memastikan pintu kamarnya benar-benar tertutup rapat dan Mina sudah pergi jauh, Arsenio dengan perlahan dan penuh rasa was-was menyibak selimut tebal yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Begitu selimut tersingkap, sepasang mata abu-abunya langsung terpejam erat, menahan rasa malu yang amat sangat pada dirinya sendiri.
Sialan! Tebakannya benar seratus persen. Celana tidur berbahan satin mahal yang dikenakannya kini sudah basah kuyup, menyisakan noda cairan sperma yang lengket akibat pelepasan ekstrem yang tidak tertahan di dalam mimpinya tadi.
Arsenio memijit pangkal hidungnya yang mancung dengan frustrasi, napasnya berembus berat.
"Oh, ayolah... saya ini sudah dewasa, seorang CEO, bukan lagi anak remaja berusia belasan tahun yang baru puber! Untuk apa lagi saya harus mengalami fenomena mimpi basah menjengkelkan seperti ini?!" runtuhnya kesal pada dirinya sendiri.
Dan yang paling membuat Arsenio merasa sangat terhina dan tidak habis pikir adalah fakta tentang sosok perempuan yang dia gempur habis-habisan di dalam mimpi indahnya tadi. Kenapa harus Alicia? Wanita sembrono, berisik, dan tidak ada anggun-anggunnya sama sekali yang selama ini paling ingin dia ceraikan?! Apa-apaan semua ini?! Apakah alam bawah sadarnya mendadak sudah mulai kehilangan selera waras nya?
Arsenio mengembuskan napas kasar, tidak ingin berlama-lama merenungi kebodohan fisiknya.
"Saya harus mandi lagi sekarang," gumam Arsenio dingin.
Dia langsung bergegas turun dari ranjang, melepas celana tidurnya yang kotor dengan perasaan jijik, lalu melangkah lebar menuju kamar mandi untuk mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin demi menghapus sisa-sisa dosa dan bayangan nakal tentang Alicia sebelum dia pergi menemui Gino.
semngat update lagi ya kak