NovelToon NovelToon
TAHTA DARI PARA BUANGAN

TAHTA DARI PARA BUANGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Time Travel / Fantasi
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya.
Yang lemah diinjak. Yang gagal dibuang.
Ardan memahami itu sejak hari pertama ia terlempar ke dunia asing bersama satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya—Revan.
Tidak memiliki bakat langit.
Tidak memiliki garis darah legendaris.
Bahkan tidak memiliki sekte untuk berlindung.
Namun Ardan memiliki sesuatu yang lebih berbahaya.
Cara berpikir seorang pemimpin.
Saat para kultivator mengejar kekuatan pribadi, Ardan mulai membangun sesuatu yang lebih besar—kekuasaan.
Ia mengumpulkan para buangan.
Orang-orang gagal.
Mereka yang dihancurkan dunia kultivasi.
Dan dari tangan orang-orang yang dianggap sampah itulah, sebuah kekuatan perlahan lahir.
Sebuah organisasi yang akan mengguncang sekte, kerajaan, bahkan seluruh dunia kultivasi.
Karena terkadang…
monster paling menakutkan bukanlah petarung terkuat.
Melainkan seseorang yang mampu membuat dunia bergerak sesuai keinginannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kenangan

ardan semakin menggenggam erat gagang pedang.

ia mencoba menariknya dengan sekuat tenaga, bahkan qi sudah di alirkan ke pedang itu.

tapi hasilnya tetap nihil, pedang sama sekali tidak bergerak dari 2 jari yang mengapitnya.

bahkan, saat kedua jari itu sedikit menegang, qi yang jauh lebih dasyat keluar dari sana.

menghancurkan qi yang ardan alirkan sebelumnya, pefang itu hancur berkeping keping, ardan juga mundur beberapa langkah.

ia menatap tangannya yang bergetar, lalu kembali menatap bola tadi.

perlahan, tubuh wanita keluar dari sana.

tubuhnya kecil, kulit putih seputih Giok, dengan rambut hitam bergelombang.

"seorang wanita" batin ardan yang menatapnya lekat.

tatapan wanita itu benar benar lembut, bahkan lebih cenderung seperti tatapan wanita polos yang tidak tau apa apa.

walaupun begitu, ardan tidak hanya diam.

dia membuat segel tangan secara diam diam.

serpihan pedang yang sebelumnya berserakan mulai bergetar, melesat langsung ke arah wanita itu.

wanita itu sama sekali tidak memperdulikan apa yang di lakukan ardan ini, bahkan dia hanya menatap ardan dengan tatapan polosnya itu.

namun, saat sepihak pedang itu sudah berjarak kurang dari setengah meter, serpihan serpihan itu berhenti di udara.

tangan ardan bergetar, mencoba mengarahkan serpihan itu agar tetap maju.

sayangnya itu percuma, serpihan pedang itu tidak bisa bergerak sedikitpun.

wanita itu menatap serpihan pedang yang berhenti di udara sesaat, lalu menatap ardan dengan sedikit memiringkan kepalanya dengan tatapan polos.

setelah hanya menatap ardan sedari tadi, ia mulai melangkah.

bersamaan dengan langkahnya ini, serpihan pedang yang ada di udara hancur menjadi serpihan debu.

melihat ini, ardan sedikit mundur.

setelah mendapatkan jarak, ia berlari ke samping dengan bantuan qi.

ia mengelilingi wanita itu, saat berada tepat di belakang wanita itu, ia langsung menyerang.

tangannya terayun, dengan kepalan yang sudah di selimuti qi, untuk memperkuat pukulannya.

dengan pikiran yang sudah yakin akan berhasil mendaratkan pukulan.

ardan terdiam, saat pukulannya berhenti di udara kosong, seakan ada yang menghalanginya.

dia tidak menyerah sampai situ, ardan terus mengayunkan tinjunya.

tapi hasilnya tetap sama, seakan memang ada penghalang tak terlihat yang melindungi wanita ini.

di pukulan terakhir, ia merasakan ada yang mengikat tangannya.

padahal di pandangan tangannya tidak menyentuh apapun.

di saat yang bersamaan, wanita itu menoleh, memutar tubuhnya ke hadapan ardan.

bahkan wanita itu memegang lengan ardan yang tidak bisa bergerak di udara.

saat tangannya tersentuh dengan tangan wanita ini, tubuh ardan terasa menegang, hawa di sekitarnya terasa sangat dingin.

ia sangat ingin membuka mulut, tapi tenggorokannya terasa kaku, tidak ada satu patah katapun yang bisa keluar dari sana.

"kakak... apa kau memiliki kisah hidup?" ucap wanita itu.

"apa boleh aku melihatnya?" lanjut wanita itu sembari tersenyum manis.

ardan, yang sama sekali tidak bisa bergerak tentu hanya diam.

Tiba tiba, pandangannya buram sesaat.

saat jelas lagi dia melihat hal yang sangat tidak asing di matanya.

dan dia hanya bisa dari mata sebelah kanan saja.

"apa ini, tempat kamu hidup kak" suara terdengar dari benaknya.

suara yang tak asing di telinganya, karena baru saja dia mendengar suara yang sama.

saat ini, dia benar benar kembali ke masa kecil, tanpa bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.

di pandangannya kini, dia berada di depan gerbang sekolah SD.

"tuan muda, selamat belajar. saat pulang aku akan ada di sini" suara seseorang dari sampingnya.

tubuh ardan kecil, bergerak menatap supir yang tengah tersenyum di sampingnya.

"hem.." jawab ardan kecil.

setelah itu, ardan kecil berjalan masuk.

saat masuk ke lingkungan sekolah, ardan kecil hanya menunduk.

saat melewati lorong sekolah, sudah ada tiga kakak kelas yang menghadangnya.

"bagaimana, apa kau sudah membawa uang" tanya kakak kelas itu.

dengan lemas ardan kecil merogoh saku celana, mengambil 2 lembar uang merah dari sana.

ardan yang melihat kenangan ini sangat ingin menghentikan gerakan tubuhnya.

tapi sayangnya tak bisa.

bahkan, kakak kelasnya itu mengambil uang itu dengan kasar.

setelah mengantongi uang itu, kakak kelasnya menepuk pundak ardan, dan mendekatkan wajahnya.

"ingat, jangan sampai ada yang tau. kalo sampek ada yang tau selain kita, kamu pasti tau apa akibatnya"

ardan kecil, hanya mengangguk.

setelah kepergian mereka, ardan terduduk meringkup.

menatap pergelangan tangan yang memiliki bekas memar.

"dasar bodoh, sudah tidak bisa menguntungkan, di suruh belajar untuk tidak becus. kenapa aku bisa memiliki anak sepertimu" ucap ayah ardan sembari mencengkram pergelangan tangannya tadi malam.

setelah itu, sang ayah melepaskan cengkramannya dengan kasar.

"jika terus membuatku malu, lebih baik tidak usah hidup saja" ucap ayahnya sembari berjalan pergi.

ardan kecil, tidak menangis sama sekali.

ia berdiri, menghampiri kertas ujian dengan nilai 89 itu.

ingatan ini sangat membekas bagi ardan kecil.

saat ini tanpa terasa pipinya mulai basah, sembari menatap bekas memar di tangan.

tiba tiba, ardan melihat ada sapi tangan di pergelangan tangannya.

"udah kelas 5, ngapain nangis" ucap seseorang.

mendengar ini, ardan kecil mendongak.

ia melihat anak seusianya yang berdiri bak pahlawan, walau baju anak ini tampak lusuh dan sudah menguning, tapi di mata ardan anak ini benar benar bak pahlawan.

"apa ini temanmu yang sedang bertarung di pinggir kebun bunga" suara wanita itu terdengar lagi di benak ardan.

ardan hanya diam, walaupun dia bisa menjawabnya tapi dia sama sekali tidak melakukan itu.

ardan kecil mengambil sapu tangan itu, dan mengelap air matanya, ia berdiri di samping revan kecil.

mereka akhirnya pergi dari tempat itu di tuntun revan kecil, revan kecil ini benar benar bak pahlawan bagi ardan.

bahkan ardan yang hampir tidak pernah tertawa sejak ibunya menghilang, dia tertawa riang saat bersama revan.

saat jam pulang, ardan sengaja menghubungi supirnya untuk menjemput sore saja, karena dia beralasan akan les dulu.

saat ini ardan ikut revan untuk berjualan tisu di pinggir jalan, walaupun ardan sudah ingin memberi revan uang langsung.

tapi revan selalu menolaknya, alasan revan kecil.

dia selalu di ajarkan oleh mendiang kedua orang tuanya untuk usahanya sendiri tanpa meminta minta.

walaupun lelah, tapi entah mengapa ardan merasa lebih nyaman seperti ini.

namun, saat tengah berjualan.

tubuh ardan kecil menegang, tangannya gemetar saat ada mobil mewah berhenti di depan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!