NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setahun Menjadi Bayangan

Ada perbedaan besar antara tinggal di sebuah rumah dan merasa memiliki rumah.

Nandin baru benar-benar memahami perbedaan itu setelah setahun tinggal di rumah mertuanya.

Rumah itu besar.

Jauh lebih besar daripada kontrakan yang dulu ia tinggali bersama Shella dan Sherly.

Keramiknya mengilap.

Dindingnya baru dicat.

Ada toko baru di bagian depan.

Ada dapur yang lebih luas.

Ada halaman yang cukup untuk bermain anak-anak.

Tapi entah kenapa...

Nandin tidak pernah merasa nyaman.

Tidak pernah merasa pulang.

Karena setiap sudut rumah itu selalu mengingatkannya pada satu hal.

Bahwa ia hanya menumpang.

"Mm... Mammmaah… Mamah..."

Suara kecil itu membuat Nandin menoleh.

Sherly berdiri sambil berpegangan pada kaki meja.

Rambutnya yang tipis menutupi dahi.

Pipinya bulat.

Dan matanya berbinar penuh kemenangan.

Seolah baru saja menaklukkan dunia.

"Mamah..."

Nandin langsung tersenyum.

"Iya sayang."

Sherly tertawa kecil.

Lalu berjalan dua langkah.

Tiga langkah.

Empat langkah.

Sebelum akhirnya jatuh terduduk.

Bukannya menangis.

Anak itu malah tertawa.

Membuat Nandin ikut tertawa.

Di sudut lain ruangan, Shella yang tidak mau kalah langsung ikut berdiri.

"Mama!"

"Iya, Shella."

Dalam hitungan detik kedua anak itu sudah berlomba berjalan ke arahnya.

Meski masih sempoyongan.

Meski kadang jatuh.

Meski kadang menabrak kursi.

Tetapi mereka tumbuh.

Dan itu membuat hati Nandin hangat.

Setidaknya ada sesuatu yang berkembang dalam hidupnya.

Karena kehidupan yang lain terasa jalan di tempat.

Shella dan Sherly kini sudah berusia satu tahun.

Waktu berlalu begitu cepat.

Rasanya baru kemarin mereka lahir.

Baru kemarin mereka menangis pertama kali di rumah sakit.

Dan sekarang...

Keduanya sudah bisa berjalan sendiri.

Bisa mengoceh.

Bisa berebut mainan.

Bahkan sudah mulai menunjukkan sifat yang berbeda.

Shella lebih tenang.

Lebih mudah diatur.

Sedangkan Sherly...

Ya Allah.

Anak itu seperti memiliki baterai yang tidak pernah habis.

Kalau pagi mulai berlari.

Siang memanjat kursi.

Sore membongkar lemari.

Malam masih sempat membuat ulah sebelum tidur.

"Persis ayahnya."

gumam Nandin suatu hari.

Lalu langsung terdiam.

Karena menyebut Wisnu selalu membuat suasana hatinya berubah.

Dua tahun.

Sudah dua tahun penuh Wisnu berada di Korea.

Dan dalam dua tahun itu, tidak banyak yang berubah.

Kecuali satu hal.

Nandin semakin sadar bahwa dirinya tidak bisa berharap apa-apa lagi.

Dulu ia masih menunggu.

Menunggu telepon.

Menunggu transfer.

Menunggu perhatian.

Sekarang?

Tidak lagi.

Karena setiap kali berharap, yang datang hanya kecewa.

Pagi itu Nandin sedang menghitung hasil katering.

Pesanan nasi kotak dari kantor kecamatan baru saja selesai.

Lumayan.

Keuntungannya hampir satu juta rupiah.

Belum sempat uang itu masuk ke dompet, suara Ibu Sri terdengar dari belakang.

"Dapat berapa?"

Nandin langsung menghela napas pelan.

Pertanyaan yang sama.

Lagi.

Dan lagi.

"Sedikit."

"Berapa?"

"Sekitar satu juta."

Ibu Sri mengangguk.

Lalu duduk di kursi.

"Nanti kasih Ibu lima ratus."

Tangan Nandin berhenti bergerak.

"Lima ratus?"

"Iya."

"Buat apa?"

Ibu Sri mendengus.

"Ya kebutuhan rumah."

Nandin ingin tertawa.

Tapi tidak lucu.

Karena kebutuhan rumah itu hampir selalu muncul setiap kali ia menerima pembayaran.

Padahal setiap bulan Wisnu rutin mengirim uang kepada ibunya.

Rutin.

Tidak pernah telat.

Namun anehnya...

Uang itu tidak pernah cukup.

Malamnya Nandin kembali menghubungi Wisnu.

Susu hampir habis.

Dan Shella sedang demam.

"Mas."

"Iya."

"Bisakah kirim uang sedikit?"

Hening.

Nandin sudah hafal.

Hening seperti ini biasanya pertanda buruk.

"Buat apa lagi?"

Deg.

Kalimat itu selalu berhasil membuat dadanya sesak.

"Buat anak-anak."

"Kamu kan punya usaha."

"Ada."

"Ya pakai uangmu."

Nandin memejamkan mata.

"Kamu ayah mereka."

"Lalu?"

Air mata mulai menggenang.

"Mas..."

"Aku kerja capek di sini."

"Lalu aku?"

Wisnu terdiam.

"Seharian aku ngurus anak."

"Ngurus rumah."

"Jualan."

"Masak."

"Semua sendiri."

Nada suara Nandin mulai bergetar.

Dan seperti biasa.

Pertengkaran tidak bisa dihindari.

Padahal selama ini Wisnu belum sama sekali belum memberikan nafkah.

Setelah telepon ditutup, Nandin duduk sendirian di belakang rumah.

Langit malam terlihat gelap.

Sherly dan Shella sudah tertidur.

Sementara dari ruang tengah terdengar suara televisi.

Ibu Sri sedang menonton sinetron.

Entah kenapa malam itu Nandin merasa sangat lelah.

Bukan tubuhnya.

Melainkan hatinya.

Karena setiap hari ia bekerja.

Tetapi hasilnya tidak pernah benar-benar ia nikmati.

Setiap hari ia berjuang.

Tetapi tidak pernah dihargai.

Setiap hari ia bertahan.

Tetapi seolah dianggap biasa.

Saat itulah sebuah pikiran muncul.

Pikiran yang sebenarnya sudah lama bersembunyi di sudut hatinya.

Bagaimana kalau keluar dari rumah ini?

Bagaimana kalau kembali tinggal sendiri?

Awalnya ia langsung menepis ide itu.

Tapi semakin dipikirkan...

Semakin masuk akal.

Shella dan Sherly sudah lebih besar.

Tidak seperti dulu saat masih bayi.

Mereka sudah bisa bermain sendiri.

Sudah bisa makan.

Sudah lebih mudah diurus.

Dan yang paling penting...

Nandin mulai merasa dirinya perlahan kehilangan kewarasan jika terus tinggal di rumah itu.

Beberapa hari kemudian.

Saat sedang mengantar pesanan katering, ia sengaja melewati jalan tempat kontrakannya dulu berada.

Jantungnya langsung berdebar.

Rumah kecil itu masih ada.

Catnya memang sudah sedikit berubah.

Tetapi bentuknya tetap sama.

Teras kecil.

Jendela hijau.

Dan pohon mangga di samping rumah.

Seketika kenangan menyerbu.

Tentang masa kehamilan.

Tentang perjuangan.

Tentang malam-malam panjang bersama bayi-bayinya.

Tentang semua hal yang pernah ia lalui di sana.

Tanpa sadar Nandin menghentikan motornya.

Ia berdiri cukup lama di depan rumah itu.

Sampai seorang pria keluar dari dalam.

Pak Darto.

Pemilik kontrakan.

"Nandin?"

Pria itu tampak terkejut.

Nandin tersenyum.

"Assalamualaikum Pak."

"Waalaikumsalam."

"Kok ke sini?"

"Cuma lewat."

Padahal itu bohong.

Ia sengaja datang.

Setelah mengobrol sebentar, Nandin akhirnya memberanikan diri bertanya.

"Pak..."

"Iya?"

"Kontrakan ini sudah ada yang isi?"

Pak Darto menggeleng.

"Belum."

Jantung Nandin langsung berdegup lebih cepat.

Belum.

Artinya masih kosong.

Artinya masih ada kemungkinan.

Artinya...

Ia masih punya pilihan.

"Kalau saya mau sewa lagi?"

Pak Darto tersenyum.

"Pintu selalu terbuka buat kamu."

Kalimat sederhana itu membuat mata Nandin panas.

Karena sudah lama sekali tidak ada yang membuatnya merasa diterima.

"Terima kasih Pak."

"Nggak usah buru-buru."

"Pikirkan baik-baik."

Nandin mengangguk.

Namun jauh di dalam hati...

Keputusannya sebenarnya sudah mulai terbentuk.

Hari-hari berikutnya ia mulai diam-diam menghitung.

Biaya kontrakan.

Biaya listrik.

Biaya air.

Biaya kebutuhan anak.

Biaya usaha.

Semuanya.

Dan semakin dihitung...

Semakin terlihat satu kenyataan.

Jika uang hasil katering tidak terus-menerus diminta Ibu Sri...

Ia sebenarnya mampu hidup mandiri.

Mungkin tidak mewah.

Tapi cukup.

Suatu siang saat sedang memasak, Nandin mendengar percakapan Ibu Sri dengan salah satu tetangga.

"Nandin itu beruntung."

kata Ibu Sri.

"Kenapa?"

"Saya kasih tempat tinggal gratis."

Tetangga itu mengangguk.

"Iya juga."

"Toko juga saya pinjamkan."

Nandin yang berdiri di dapur langsung membeku.

Karena tidak ada satu kata pun tentang semua yang telah ia lakukan.

Tentang rumah yang ia bersihkan setiap hari.

Tentang masakan yang ia buat.

Tentang uang yang ia berikan.

Tidak ada.

Seolah dirinya hanya penerima bantuan.

Bukan seseorang yang juga memberi.

Malam itu Nandin kembali melihat Shella dan Sherly tertidur.

Anak-anak itu tampak damai.

Tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ibunya.

Tidak tahu betapa sering ibunya menangis diam-diam.

Tidak tahu betapa sering ibunya merasa terjebak.

Dan mungkin memang lebih baik begitu.

Karena mereka masih terlalu kecil untuk memahami luka orang dewasa.

Untuk pertama kalinya setelah setahun tinggal di rumah mertua...

Nandin mulai berani membayangkan kehidupan yang berbeda.

Rumah kecil.

Kontrakan sederhana.

Tidak ada yang mewah.

Tidak ada yang istimewa.

Tetapi ada ketenangan.

Ada kebebasan.

Dan ada ruang untuk bernapas.

Mungkin hidupnya tidak akan lebih mudah.

Mungkin justru lebih berat.

Namun setidaknya...

Ia tidak perlu merasa seperti tamu di rumah orang lain.

Di sisi lain, sebuah pertanyaan mulai mengganggunya.

Pertanyaan yang semakin sering muncul.

Kenapa Wisnu begitu keras menolak dirinya tinggal bersama orang tuanya?

Kenapa Wisnu lebih memilih dirinya tinggal bersama Ibu Sri?

Kenapa?

Dan semakin lama...

Semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal.

Hal-hal kecil yang selama ini ia abaikan.

Hal-hal yang perlahan mulai membentuk sebuah kecurigaan.

Kecurigaan yang belum memiliki jawaban.

Namun cukup untuk membuat tidurnya tidak nyenyak.

Karena jauh di lubuk hatinya...

Nandin mulai merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Wisnu.

Sesuatu yang suatu hari nanti akan mengubah seluruh hidupnya.

Dan ketika kebenaran itu akhirnya datang...

Tidak ada satu pun dari mereka yang siap menghadapinya.

1
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Aku mampir utk baca kak 😊 sekarang sdh baca episode pertama. Semangat kak♡
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Wah nyebelin banget ya ibu mertuanya
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani: Semangat, fighting💪
total 1 replies
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!