NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Malam makin larut, dan hujan sudah berhenti hanya menyisakan suara tetesan air dari atap-atap gedung tua di distrik lama. Dari jendela kecil lantai dua itu, kota terlihat jauh lebih sunyi dari biasanya.

Mobil hitam tadi sudah tidak lewat lagi tapi Han masih tetap berdiri dekat jendela. Ia belum benar-benar bisa rileks. Instingnya sudah terbiasa untuk selalu waspada.

Di sofa, Arga sudah mirip orang mati dengan posisi tidurnya yang aneh, yang kelihatannya sangat menyiksa tulang belakang buat manusia normal. Nara duduk di kursi dekat meja kecil sambil memegang segelas air hangat.

Ruangan akhirnya terasa, tenang. Aneh memang, karena beberapa jam lalu mereka nyaris di mati. Namun justru karena semuanya berhenti sejenak, rasa lelah yang datang mulai terasa lebih berat. Nara melirik Han diam-diam. Pria itu belum tidur sejak kemarin.

“Kamu memang ngga bisa tidur?” tanyanya pelan.

Han menoleh,“Bisa.”

“Lalu kenapa belum tidur?”

“Belum ngantuk.”

Iru jelas kebohongan dan Nara mulai bisa mengenali itu sekarang.

“Apa kamu selalu begini?”

“Begini bagaimana?”

“Kayak, apa ya” Nara mencari kata yang tepat. “mmm…seperti selalu buat siap lari.”

Han diam sebentar lalu menjawab.

“Kurang lebih.”

Nara mengangguk pelan, Ia tidak bisa memaksanya lagi. Ada sesuatu dalam diri Han yang terasa seperti pintu besi. Bisa dibuka sedikit, tapi kalau didorong terlalu keras pasti langsung tertutup lagi. Nara menatap sekeliling ruangan kecil itu perlahan. Tempat ini terasa seperti kapsul waktu.

Ada debu tipis di sudut rak, buku-buku lama yang mulai menguning, dan beberapa barang kecil yang jelas sudah lama tidak disentuh. Tatapannya berhenti pada asbak logam dekat jendela yang penuh dengan puntung rokok yang entah sudah berapa lama tidak buang.

“Kamu dulu sering tinggal di sini?”

Han melirik asbak itu sekilas.

“Kadang.”

“Kedengarannya bukan tempat nyaman.”

“Memang bukan.”

“Kenapa tetap disimpan?”

Han tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian baru ia berkata pelan,

“Karena beberapa tempat terlalu susah untuk dibuang.”

Kalimat itu terasa punya arti lebih dari sekadar ruangan kecil ini. Nara tidak melanjutkan pertanyaannya, ia berdiri pelan lalu berjalan ke rak buku kecil di dekat sofa.

Sebagian besar bukunya acak:

novel bekas buku teknis majalah lama bahkan ada buku resep masakan Nara mengangkat salah satunya lalu tertawa kecil.

“Kamu punya buku masak?”

Han melirik sekilas.

“Itu bukan punyaku.”

“Jadi dulu ada orang lain di sini?”

Han tidak menjawab dan itu sudah cukup buat jawaban. Nara perlahan mengembalikan buku itu ke tempat semula.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar sadar: Han pernah punya kehidupan sebelum semua ini. Mungkin kecil dan kacau, tapi nyata. Bukan sekadar seorang pembunuh bayaran yang muncul dari kegelapan.

Arga tiba-tiba mengigau dari sofa.

“Jangan diskon mie… itu penipuan…”

Nara refleks menahan tawa. Han memandang Arga beberapa detik.

“Dia selalu begini waktu tidur?”

“Entahlah.” Nara duduk kembali sambil tersenyum tipis. “Aku baru kenal dia kemarin.”

Aneh dan kalimat itu membuat mereka berdua diam sebentar. Karena memang benar, semua ini baru berjalan sangat singkat. Tapi rasanya sudah sangat lama.

Han akhirnya duduk di kursi dekat pintu. Posisinya otomatis menghadap akses keluar.

Nara memperhatikan itu.

“Kamu selalu pilih tempat dekat pintu ya?”

Han terlihat sedikit heran.

“Kamu sadar.”

“Kamu kira aku ngga bakal memperhatikan?”

Han tidak menjawab tapi ada sesuatu di matanya. Bukan kaget hanya belum terbiasa diperhatikan oleh seseorang. Nara meminum airnya dengan perlahan lalu berkata.

“Kamu juga selalu melihat ke luar jendela dulu tiap kali masuk ruangan.”

Han bersandar kecil di kursinya.

“Kebiasaan.”

“Karena pekerjaan?”

“Karena ingin tetap hidup.”

Jawaban datar itu seharusnya terdengar dingin. Tapi sekarang justru terdengar melelahkan. Nara menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan,

“Hidupmu capek ya.”

Han terdiam dan memandangnya cukup lama kali ini. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tidak menghindari pertanyaan personal.

“…iya,” jawabnya. Hanya satu kata tapi entah kenapa terasa sangat jujur.

Ruangan kembali hening sesudah itu. Tidak canggung, hanya… diam. Suatu keanehan yang membuat nyaman. Nara bersandar di kursinya sambil menahan kantuk yang mulai menyerang . Matanya sudah beberapa kali hampir tertutup.

Han memperhatikannya.

“Kamu tidur saja.”

Nara menggeleng kecil.

“Nanti kalau aku tidur, nanti kalian kabur.”

“Kami ngga akan pergi.”

“Kamu ngomong ‘kami’ sekarang.”

Han sedikit mengernyit seolah baru sadar. Nara tersenyum kecil karena berhasil menangkap itu. Ekspresi Han yang berubah tipis, seperti orang yang tidak tahu harus membalas apa. Dan itu cukup lucu  buatnya.

Beberapa menit telah berlalu. Arga masih terdengar mendengkur dengan nyaman. Lampu kecil di ruangan mulai terasa hangat. Lalu tiba-tiba, perut Nara berbunyi pelan. Nara langsung diam  mematung. Han menatapnya. Beberapa detik hening. Lalu untuk pertama kalinya, Han tertawa kecil.

Pendek.

Serak.

Tapi jelas itu tertawa.

Wajah Nara langsung merah.

“Jangan ketawa!”

“Aku tidak ketawa.”

“Itu jelas ketawa!”

“Aku cuma bernapas agak aneh.”

“Pembohong.”

Untuk beberapa detik singkat, suasana ruangan tua itu terasa hampir normal. Bukan tempat persembunyian, bukan pelarian. Hanya tiga orang kelelahan yang mencoba bertahan sampai pagi.

Namun saat Han kembali melirik keluar jendela, tatapannya perlahan berubah jadi serius. Karena di ujung jalan yang gelap di distrik lama itu, seseorang sedang berdiri diam di bawah lampu jalan yang padam sambil melihat ke arah bangunan mereka.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!