Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.
Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12 Tawanan Mati
Langkah kaki Reigan bergema berat di lorong beton yang lembap. Aura di sekitarnya begitu pekat hingga para penjaga yang berpapasan dengannya refleks menunduk, tak berani menatap mata Reigan yang sedang terluka harga dirinya.
Dia marah mendapat kabar Boris tawanan bawah tanah mati di tempat.
Langkah mereka menuju bawah tanah dimana Boris ditawan, diikuti oleh Nico yang tampak lebih pucat dari biasanya.
Di depan pintu ruang sel sudah ada Marco.
"Jelaskan padaku bagaimana seorang tahanan di sel isolasi tingkat tinggi bisa mati tanpa ada satu pun alarm yang berbunyi," suara Reigan rendah, namun mengandung ancaman yang bisa membekukan darah. Malam ini kebanggaan Reigan atas bentengnya hancur berkeping-keping.
Marco dan Nico diam sejenak.
Reigan masuk ke dalam sel dengan wajah keruh.
"Dia duduk dengan kepala menunduk. Persis orang tidur." Marco memberi keterangan.
"Apa akibat kematiannya?" tanya Reigan.
"Maaf, Tuan. Tidak ada luka tusuk, tidak ada bekas cekikan. Tim medis forensik menduga gagal jantung," ujar Nico.
"Gagal jantung, mereka bilang?" Reigan mengulangi kata-kata itu dengan nada menghina saat mereka berdiri di depan jasad Boris yang kaku.
Ia berpaling pada Marco, emosinya mencapai titik didih karena merasa dikelilingi oleh orang-orang tidak kompeten. "Gedung di seberang jalan. Kau bilang ada sesuatu di sana. Cari rekaman yang tidak bisa dideteksi oleh sensor-sensor sampah ini!"
"Baik Bos!"
***
Nico membawa data mentah dari Gedung Valerius ke Markas, karena Reigan tidak ingin menganalisis video di tempat yang sudah kebobolan.
"Marco, tunjukkan padaku rekaman dari gedung satelit seberang jalan yang kau sebutkan tadi," perintah Reigan.
Marco memutar video di layar monitor portabel. Gambar itu buram dan berpasir, namun sosok yang terlihat keluar dari saluran pembuangan gedung di seberang jalan itu sulit untuk diabaikan. Seorang wanita dengan pakaian taktis serba hitam, gerakannya luwes, efisien, dan memiliki siluet bahu serta tinggi badan yang sangat spesifik.
Reigan terpaku. "Hana?" Rahang Reigan mengeras, ada kilat luka di matanya yang dalam sekejap tertutup oleh kabut amarah.
Jantungnya berdenyut kencang oleh kemarahan yang kini bercampur dengan rasa pengkhianatan yang pahit. Postur itu, cara wanita itu menoleh sekilas sebelum menghilang di kegelapan, sangat mirip dengan Hana.
"Tuan, kita tidak bisa memastikan itu Nyonya Hana hanya dari—" Nico mencoba bicara. Ia teringat bagaimana Hana memperlakukannya dengan sopan tempo hari. Namun tatapan Reigan membungkamnya seketika.
"Tidak banyak orang tahu tentang Boris. Orang pertama dengan siluet tubuh seperti itu yang berbahaya di dekat kita adalah, dia." Keyakinan Reigan tidak ada yang bisa membantah. Apalagi setelah kejutan di terowongan Waktu itu. Kewaspadaan Reigan makin ketat pada wanita yang dijodohkan dengannya.
"Ya, memang sangat memungkinkan wanita yang tiba-tiba saja memegang senjata itu melakukannya, Bos." Marco juga setuju.
Nico tahu keraguan semua orang, tapi kata maaf dan terima kasih yang ia dengar waktu itu bukan kebohongan. Ia ingin membela, namun aura gelap yang memancar dari Reigan membuatnya sadar bahwa malam ini, tidak akan ada tempat untuk pembelaan.
"Tunggu, Bos. Lihat di sudut layar. Ada 'tikus' yang ingin ikut tampil," sela Marco sambil menunjuk satu titik di trotoar luar gedung.
Reigan menyipitkan mata. Di sana, di bawah cahaya lampu jalan yang remang, muncul sesosok pria. Leon.
Leon berjalan dengan gaya yang sangat eksentrik. Pria yang tampan dengan garis wajah yang halus, namun ketampanannya tertutup oleh raut wajahnya yang culas.
"Si licik itu," desis Reigan.
Di rekaman itu, Leon berhenti tepat di bawah sorot lampu jalan, sengaja memposisikan dirinya agar tertangkap kamera. Ia mendongak, menyadari keberadaan lensa CCTV dengan seringai lebar yang mengerikan. Sebuah senyum culas dari seorang pria yang merasa dilindungi oleh kekuatan besar di belakangnya.
“Fuffuffuffu...” Reigan seolah bisa mendengar tawa melengking itu.
Leon mengangkat tangannya yang penuh dengan cincin permata, lalu melakukan gestur meniupkan ciuman ke arah kamera sebelum membentuk simbol pistol dengan jarinya.
"Cuih. Pria menjijikan," umpat Marco.
Reigan merasa amarahnya di ubun-ubun. "Selesaikan melihat isi rekaman. Aku akan membereskan perempuan itu sendiri," desisnya penuh ancaman.
"Marco, amankan jasad Boris. Aku tidak peduli bagaimana caranya, aku ingin hasil otopsi lengkap dalam dua jam. Jika tim medis bilang ini gagal jantung lagi, aku sendiri yang akan menghentikan jantung mereka," perintah Reigan tanpa menoleh.
"Baik, Bos."
Reigan keluar dengan menyisakan cerita soal Hana yang menjadi orang mencurigakan.
Nico menyesal dan merasa bersalah laporannya membuat Hana akan dibereskan oleh Reigan. Ia sempat menyukai kehangatan wanita itu diantara dinginnya tiga pria. "Aku harap nyonya tahu apa yang harus dikatakan."
"Kamu membela wanita misterius itu?" tanya Marco. Alisnya bertaut kurang suka.
"Dia baik, Marco."
"Jangan naif. Kita belum tahu apa-apa tentang dia." Marco berpikir logis.
"Aku tahu, tapi tidak banyak orang bisa mengatakan terima kasih dan maaf. Terutama maaf," imbuh Nico. Marco hanya mengangkat bahu.
***
Reigan pulang dari gedung Valerius dengan amarah memuncak. Hasil cctv yang dibawa Marco menunjukkan siluet yang pas seperti tubuh Hana membuatnya tidak ingin menunggu lama untuk menemui wanita itu.
Ting!
Suara pintu apartemen terbuka. Hana menoleh.
"Kamu sudah pulang?" tanya Hana di pantry. Harum roti menyeruak, tapi Reigan abai. Ia langsung menghampiri Hana. "Kau ingin roti?" tanya Hana polos.
Reigan langsung menyambar lengan Hana, menyentaknya hingga wanita itu menabrak pinggiran pantry. Nampan roti di tangan Hana terlempar, menghantam lantai. Menimbulkan suara yang berisik.
Tubuh besar Reigan mengurung Hana, kedua tangannya mengunci sisi pinggang wanita itu hingga Hana terdesak ke belakang, tulang belakangnya beradu dengan marmer keras.
"Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan dibelakangku," geram Reigan.
"Aku, aku tidak tahu apa yang kau katakan." Napas Hana tercekat sebentar.
"Boris. Pengkhianat itu mati di ruang bawah tanah. Dan aku tahu kau membunuhnya."
Dengan segala cara Hana berhasil keluar dari cengkeraman Reigan. Lalu mundur untuk menjaga jarak.
"Banyak pembunuh diluar sana selain aku. Kenapa kau bisa langsung menuduhku melakukannya?" Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, sebuah kontras yang tajam dengan napas Reigan yang memburu.
Ia merasakan sakit di punggungnya akibat benturan tadi, tapi wajahnya tidak menunjukkan ringisan sedikit pun.
"Orang yang tahu soal Boris ada di ruang bawah tanah adalah kau! Aku yang tidak menduga kau adalah orang berbahaya membiarkan kamu mendengar pembicaraan Nico." Reigan menggeram, tatapannya sarat dengan rasa muak pada kecerobohannya sendiri. Ia menyesal sudah membawa perempuan ini masuk ke dalam gedung Valerius.
Reigan melangkah maju, kembali mengikis jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. "Jangan bermain-main denganku, Hana!"
semangattttt
lanjutttt😄💪
lanjuttt
smangattt💪😄