Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 12
Ella masih berdiri di tempatnya, tapi kali ini tidak sendirian. Tante Rosa menoleh padanya, matanya melembut sedikit.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan.
Ella mengangguk, meski suaranya belum benar-benar kembali. “Tante… kapan datang?”
“Nanti kita bicara,” jawabnya singkat. “Sekarang kamu harus masuk kelas.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Ella merasa ia kembali punya pijakan. Di tengah semua kekacauan ini, akhirnya ada satu orang yang ia tahu bisa ia percaya.
"Sekarang kamu kuliah dulu. Tante akan menunggu sampai kamu selesai." lagi-lagi Tante Rosa menyuruh Ella segera masuk kelas.
"Tante!" tiba-tiba Ella memeluk Tante Rosa, ia yang selama beberapa waktu belakangan ini gamang kini merasa punya pegangan, makanya Ella kini merasa lebih tegar. "Tolong temani aku, Tante." pinta Ella dalam dekapan Tante Rosa.
"Ya, tante akan temani kamu sampai masalah ini selesai!" Tante Rosa menepuk pelan pundak Ella, lalu melepaskan pelukannya agar Ella bisa segera ke kelasnya. "Selesai kuliah temui Tante di kantin, Oke!" bisik Tante Rosa.
Ella mengangguk. Lalu melangkah mantap menuju ruang kelas untuk mengikuti mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum, mata kuliah pertama yang akan dipelajarinya.
***
Pertemuan itu berlangsung di mobil milik Tante Rosa yang tenang dan tertutup dari hiruk-pikuk luar, sebuah tempat yang untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai membuat Ella merasa sedikit aman, cukup aman untuk akhirnya membuka apa yang selama ini ia tahan sendiri; dengan suara yang semula ragu namun perlahan menjadi lebih pasti, Ella menceritakan semuanya, tentang kecelakaan ayahnya yang janggal, tentang jasad yang tak pernah ditemukan, tentang tuduhan korupsi yang datang terlalu cepat dan terasa dipaksakan, hingga pesan terakhir yang ia terima dari nomor ayahnya yang menyuruhnya untuk tidak percaya siapa pun dan mencari “sepatu kaca”, lalu dengan hati-hati ia mengeluarkan benda kecil itu dari tasnya dan meletakkannya di atas dasbor, menjelaskan bahwa di dalamnya tersembunyi flashdisk yang belum sempat ia buka.
Bahwa sejak saat itu segala sesuatu di rumahnya berubah, Bu Vero yang terlalu cepat mengambil alih, Sisil yang selalu muncul dengan sikap seolah mengetahui lebih banyak, orang-orang asing yang keluar masuk tanpa penjelasan, hingga dokumen dengan simbol-simbol aneh yang ia temukan secara tidak sengaja; Ella mengungkapkan semuanya tanpa lagi menyaring, berharap bahwa di hadapan Tante Rosa ia akhirnya bisa mendapatkan keyakinan bahwa ia tidak salah, bahwa semua kejanggalan itu nyata dan bukan hanya perasaan semata, namun ketika ia selesai dan menunggu respons, yang datang justru bukan pembenaran yang ia harapkan melainkan ketenangan yang terlalu terukur, karena Tante Rosa hanya menatapnya dalam diam.
Sejenak sebelum mengatakan bahwa ia percaya Ella jujur, tetapi dalam hukum apa yang terlihat bersih belum tentu tidak bersalah dan apa yang terlihat bersalah belum tentu pelaku utama, kalimat yang sederhana namun cukup untuk membuat sesuatu dalam diri Ella bergeser, karena untuk pertama kalinya ia dihadapkan pada kemungkinan bahwa bahkan kebenaran yang selama ini ia pegang tentang ayahnya mungkin tidak sepenuhnya utuh, dan bahwa orang yang ia harapkan berdiri di sisinya tanpa ragu justru memilih berdiri di tengah, berpegang pada bukti, bukan perasaan, membuat Ella menyadari dengan pelan namun pasti bahwa ia tidak lagi memiliki tempat yang sepenuhnya aman, dan dari situlah retakan pertama dalam keyakinannya mulai terbentuk.
"Lalu aku harus bagaimana Tante?" Ella butuh masukan. "Apa aku harus membuka flashdisknya?"
Tante Rosa tak menjawab, ia hanya mengeluarkan laptopnya yang berada di kursi belakang.
Mereka akhirnya memutuskan membuka isi “sepatu kaca” itu di laptop milik Tante Rosa, bukan di rumah, bukan di tempat yang mungkin diawasi, tapi di mobil yang cukup aman untuk mengambil risiko itu; dengan hati-hati.
Tante Rosa membantu membongkar bagian kecil pada sepatu tersebut hingga flashdisk tersembunyi itu benar-benar terlihat, dan saat benda itu terpasang ke laptop, Ella bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, seolah apa pun yang ada di dalamnya akan mengubah segalanya.
Layar sempat kosong beberapa detik, lalu folder demi folder muncul rapi, terstruktur, tidak seperti file acak, melainkan sesuatu yang disusun dengan sengaja.
Ella mendekat tanpa sadar ketika file pertama dibuka: deretan angka, tabel transaksi, tanggal, nominal dalam jumlah besar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, lalu nama-nama mulai muncul, bukan nama sembarangan, tapi pejabat, instansi, kode proyek, aliran dana yang berpindah dari satu titik ke titik lain dengan pola yang jelas namun rumit. Ini bukan sekadar catatan ini jaringan. Tapi Ella mengenal beberapa nama-nama yang ada diurutan atas itu.
Tante Rosa tidak berkata apa-apa, tapi ekspresinya berubah, lebih serius, lebih fokus, seolah ia sedang membaca sesuatu yang sangat ia pahami.
Ella sendiri berusaha mengikuti, matanya bergerak cepat dari satu baris ke baris lain, mencoba menangkap makna dari semua itu, sampai akhirnya ia berhenti. Bukan karena mengerti, tapi karena mengenali. Namanya ada di sana.
Bukan namanya. Nama ayahnya. Tertulis jelas, tanpa disamarkan. Tercantum dalam salah satu daftar, di antara nama-nama lain, dengan angka yang tidak kecil di sampingnya.
Ella membeku. Untuk beberapa detik, ia tidak bisa berpikir. Tidak bisa bernapas dengan normal.
Semua yang ia yakini sejak awal tentang kesederhanaan ayahnya, tentang hidup yang tidak pernah berlebihan, tentang keyakinannya bahwa ayahnya tidak mungkin melakukan hal seperti itu seakan bertabrakan langsung dengan satu baris data di layar itu.
“Tante…” suaranya pelan, nyaris tidak keluar.
Tapi Tante Rosa tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada layar. Mengamati. Menganalisis. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat. Karena tidak ada penyangkalan. Tidak ada kalimat yang langsung membela. Hanya diam yang seolah mengakui bahwa ini nyata.
Ella menatap layar itu lagi. Berharap ia salah lihat. Berharap itu hanya kebetulan nama yang sama. Tapi jauh di dalam dirinya, ia tahu tidak sesederhana itu.
Tangannya perlahan mengepal. Bukan karena marah. Tapi karena sesuatu yang mulai retak. Keyakinan yang selama ini ia pegang dengan kuat tidak lagi utuh.
Untuk pertama kalinya, sebuah kemungkinan muncul, pahit dan tidak ingin ia akui, ayahnya mungkin tidak sebersih yang ia percayai.
Layar laptop itu masih menyala, menampilkan deretan data yang sama, tapi bagi Ella semuanya sudah terasa berbeda. Nama ayahnya tetap di sana, tidak berubah, tidak hilang, dan justru itulah yang membuat segalanya semakin kabur.
Ia mencoba membaca ulang baris-baris di sekitarnya, berharap menemukan penjelasan yang lebih jelas, sesuatu yang bisa langsung mengarah pada satu kesimpulan, tapi yang ia temukan justru sebaliknya: pola yang rumit, aliran dana yang berputar, nama-nama yang saling terhubung tanpa penjelasan langsung, dan simbol-simbol kecil yang muncul berulang di beberapa bagian, seperti kode yang sengaja disembunyikan untuk orang tertentu.