Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.
Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Feng Bo [REVISI]
Feng Bo masih mengingatnya, meski samar. Kekuatan aneh itulah yang tujuh tahun lalu membuatnya terkulai lemas dalam sekejap saat mencoba merasuki tubuh Wang Yan.
Wujudnya menyerupai api hitam pekat dengan lidah ungu yang hidup. Hanya dengan melihatnya saja, jiwa seseorang seakan terseret, hanyut mengikuti arus deras yang tak terlihat.
Meski tampak seperti kobaran api yang panas, sifatnya justru berlawanan dengan api pada umumnya. Api hitam itu dingin—dan perlahan menggerogoti jiwa.
“Kau… bagaimana kau bisa memanifestasikannya?” tanya Feng Bo penasaran. Ia sama sekali tidak merasakan jejak qi dalam tubuh Wang Yan. Seharusnya, hanya kultivator tingkat lautan qi yang mampu memanifestasikan energi spiritual seperti itu dengan bebas.
Apakah dia sedang menyembunyikan kekuatannya?
Feng Bo tahu bahwa Wang Yan telah memiliki kemampuan misterius itu sejak tujuh tahun lalu. Namun kini, keraguan mulai menyusup ke dalam benaknya.
Wang Yan melirik Feng Bo dengan senyum licik. “Bagaimana menurutmu? Kemampuan ini sudah membantuku menyingkirkan beberapa orang jahat sepertimu,” ucapnya tegas.
Feng Bo tidak terkejut mendengarnya. “Dia benar. Jika ditinjau dari pengalamanku, aku telah hidup sangat lama. Meski saat itu kekuatanku berada di titik paling rendah. Hanya di lautan spiritual lapisan pertama, menghadapi makhluk fana bahkan bocah sepuluh tahun sekalipun. Seharusnya sangat mudah bagiku. Tapi itu sebelum aku bertemu dengannya...”
“Dengan kekuatan sebesar itu, apa yang bisa aku bantu untukmu, Tuan?”
Nada bicara Feng Bo mendadak merendah. Ia sadar, sekarang bukan saat yang tepat untuk mengulang kesombongan lama—mengaku sebagai leluhur agung, memerintah, atau mengancam seperti tujuh tahun lalu saat pertama kali bertemu Wang Yan.
Selama tujuh tahun tersegel di dalam kotak persegi itu, Feng Bo terus menggali ingatannya, berusaha mencari tahu hakikat kekuatan yang dimiliki Wang Yan. Namun, tak satu pun petunjuk tentang api hitam itu ia temukan dalam ingatannya yang samar.
“Aku sudah memikirkannya selama beberapa hari terakhir. Benar saja, pengetahuan di dunia ini begitu luas. Kau mengatakan bahwa kau telah hidup sangat lama. Kau pasti memilikinya—sesuatu yang mampu mengguncang langit. Berikan padaku hal seperti itu.”
Feng Bo menyipitkan mata. Permintaan Wang Yan terdengar terlalu gila. Mengguncang langit? Jika ia benar-benar memiliki sesuatu seperti itu, Wang Yan sudah lama menjadi santapannya—tidak, bahkan lebih tepatnya, menjadi wadahnya.
“Tuan,” suaranya berubah lebih berat, “bahkan aku sendiri tidak memiliki sesuatu yang mampu mengguncang langit.”
Wang Yan tidak menjawab. Dalam keheningan singkat itu, ia perlahan mengangkat tangan kanannya.
Werr.
Api hitam kembali muncul. Namun kali ini, tekanannya langsung diarahkan kepada Feng Bo. Jiwa Feng Bo bergetar hebat, seolah terseret dan dihanyutkan oleh arus deras yang tak terlihat.
“Aku tahu kau memilikinya. Bukankah tujuh tahun lalu kau sendiri yang menyebutnya? Kitab Agung Penipu Langit, di dalamnya terdapat rahasia kultivasi mengguncang langit. Berikan kitab itu padaku.”
Wang Yan sendiri hanya berhipotesis, mengingat sesuatu yang pernah disebut Feng Bo tujuh tahun silam. Dalam berbagai catatan yang pernah ia baca, tidak ada satu pun sumber yang benar-benar mencatat keberadaan hal legendaris seperti itu. Yang ada hanyalah dongeng—cerita yang dibuat untuk hiburan atau sekadar memperkuat citra suatu latar.
Tekanan dari api hitam semakin menguat, menekan langsung ke inti kesadaran Feng Bo, menembus hingga ke dasar jiwanya.
Tubuh batu hitam Feng Bo bergetar halus. Bukan sekadar rasa takut biasa, melainkan ancaman yang jauh lebih dalam. Ia benar-benar merasa berada di ambang kematian.
Pada saat yang sama, amarah perlahan menyusup ke benaknya. “Bocah sialan... Jika bukan karena keadaanku saat ini, jika kekuatanku telah pulih, jika dulu aku tidak disegel olehnya.”
Namun pikiran itu segera terputus. Ia sadar, angan-angan seperti itu tak ada artinya di hadapan Wang Yan sekarang.
Feng Bo berusaha sekuat tenaga menahan tekanan itu sambil memutar otak. “Kitab Agung Penipu Langit? Kapan aku pernah mengatakannya?”
Nama itu terasa asing, namun juga anehnya begitu familiar. Perlahan, sebuah ingatan samar pun mulai muncul.
...*****...
Tujuh tahun yang lalu.
Hari ke-30 sejak Feng Bo pertama kali bertemu Wang Yan. Saat itu, ia memang sempat menggoda Wang Yan dengan menyebut Kitab Agung Penipu Langit. Ia mengklaim bahwa kitab tersebut berisi teknik kultivasi dan beragam hal lain yang mampu mengguncang langit bagi siapa pun yang memilikinya. Namun, semua itu hanyalah kiasan—sebuah tipu daya untuk menarik minat Wang Yan, agar pemuda itu membuka diri dan bersedia menjadi wadah-nya.
Namun, Wang Yan menolak.
Hari itu menjadi titik di mana kesabaran Feng Bo runtuh. Amarahnya meledak karena terus-menerus ditolak.
Dalam keadaan tersulut emosi, Feng Bo nekat mencoba memasuki tubuh Wang Yan secara paksa, tanpa persetujuan. Namun, begitu berhasil masuk, ia justru terkejut—kesadarannya terlempar ke dalam kegelapan tak bertepi, entah di mana.
Di sana, Feng Bo kebingungan mencari inti kesadaran Wang Yan. Tiba-tiba, sebuah api hitam muncul di hadapannya. Ia mengira itulah inti kesadaran tersebut. Namun saat ia mencoba mendekat, jiwanya langsung terkulai lemas, seakan dihanyutkan oleh arus deras yang tak kasatmata.
Ketika tersadar, ia sudah tersegel di dalam kotak persegi milik Wang Yan.
...*****...
Sejak hari itu, ingatannya tenggelam, tertutup oleh keingintahuan lain yang tak sempat ia selesaikan.
“Sial... aku telah membuat kesalahan besar,” gumam Feng Bo pelan.
Namun, ketika ia mencoba menelusuri kembali ingatannya lebih dalam, sesuatu terasa janggal.
Kepingan demi kepingan memori mulai bermunculan. Meski samar dan tak utuh, kepingan demi kepingan itu seolah menjadi petunjuk tentang Kitab Agung Penipu Langit yang kini ia pikirkan. Seakan-akan, kebohongan yang dulu ia ucapkan justru berakar pada sesuatu yang nyata.
Ekspresi Feng Bo perlahan berubah.
“Ini? Ini bukan sekadar kiasan-ku. Tapi...”
Semakin ia berusaha mengingat isi Kitab Agung Penipu Langit, semakin kabur logikanya. Namun satu hal menjadi jelas—klaim yang dahulu ia lontarkan sebagai kebohongan... ternyata benar-benar ada.
…