NovelToon NovelToon
Hubungan Terlarang

Hubungan Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / CEO / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cintapertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi bersama

Keesokan harinya...

Matahari pagi menyinari dunia dengan cahayanya yang hangat. Embun-embun yang ada di permukaan daun perlahan-lahan mulai menguap, menjadikan gas-gas kecil yang perlahan naik ke udara. Burung-burung kecil bertengger manja diatas ranting. Suara nyanyiannya yang merdu, menjadi musik alami bagi siapa saja yang mendengarnya.

Indah, damai, tentram.

Leya bangun dengan kondisi yang jauh lebih baik dan segar pastinya. Tidak ada lagi air mata, tidak ada kesedihan yang menyakitkan dada. Karena sekarang, ia mendapatkan kembali cintanya. Meskipun jalan mereka kedepannya akan lebih sulit dan lebih rumit dari sebelumnya.

Selepas mandi dan berdandan. Leya turun dari lantai atas, menuju ke meja makan untuk sarapan bersama keluarga. Disana sudah ada Kakek Hardiman, Ibunya Sukma, dan Ayah tiri sekaligus kekasihnya, Angkasa.

Kepala pria itu langsung menoleh, saat mendengar irama langkah kaki yang sangat familiar sedang menuruni anak tangga. Ia tersenyum, memberikan senyum yang terbaik untuk kekasih hatinya.

Leya membalas senyum itu. Tanpa sepengetahuan Ibu dan Kakeknya, Leya memberikan ciuman jarak jauh untuknya.

Angkasa melotot, ia terkejut. Tapi tidak bisa membohongi perasaannya jika ia senang melihatnya.

"Selamat pagi semuanya!" setelah sekian lama keadaan rumah sepi. Kini, khususnya pagi ini... Suara Leya yang ceria kembali terdengar.

"Pagi sayang!" balas Sukma, menoleh sejenak lalu kembali fokus pada sarapannya.

Leya mengambil posisi duduk, berhadapan dengan Ibunya yang lagi-lagi sarapan sambil memegang tablet yang berdisi segudang pekerjaannya.

"Mama sarapan dulu! kerjanya dilanjut nanti saja?" kata Leya, tak tega melihat ibunya yang sudah mirip seperti robot pekerja.

"Kamu anak malas tau apa! fokus saja sama kuliahmu! Jangan ikut campur urusan orang tua!" sentak Hardiman, yang entah kapan bisa bicara lembut padanya.

"Aku kan cuma khawatir Mama sakit Kek!" sahutnya, pelan nyaris tanpa suara.

Taak!

Hardiman membanting sendoknya. "Mama kamu itu tulang punggung keluarga. Dia penanggung jawab perusahaan. Gak boleh ceroboh dan lalai sedikitpun dalam pekerjaan. Mau dia mati besok pun... hari ini dia tetap harus urus perusahaan!"

Rahang kakeknya mengeras, matanya melotot. Urat lehernya menegang, begitu juga depan kedua tangannya yang mengepal.

Leya gemetar melihatnya.

"Maaf Kek aku salah!" ucap Leya menunduk.

Sukma masih sibuk dengan tabletnya. Tidak ada pembelaan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir wanita itu. Ia tahu putrinya sedang mengkhawatirkan dirinya. Namun, ia sama sekali tidak menganggap hal itu penting. Karena prioritas utamanya saat ini hanyalah menunjukkan pada ayahnya, jika ia jauh lebih baik dan jauh lebih berkompeten dari almarhum kakaknya yang sudah tiada.

"Pa, maaf jika aku ikut campur. Tapi apa yang Leya katakan itu benar Pa. Urusan perusahaan memang penting. Tapi kesehatan Sukma juga jauh lebih penting!" sela Angkasa, tak tega melihat kekasihnya yang terus di pojokan.

"Kamu sedang belain aku Angkasa?" Sukma baru menoleh, senyum terbit di wajahnya.

"Aku sedang tidak membela siapapun. Aku hanya menilai mana yang benar menurutku!" jelas Angkasa. Tak ingin kata-kata itu akan disalah pahami oleh kekasihnya.

Hardiman menyatukan kedua tangannya, dengan siku yang tertumpu diatas meja. "Papa tahu maksud baikmu Angkasa. Tapi ini keluarga Hardiman, bukan keluarga Felix! Sejak dulu, mempertahankan perusahaan jauh lebih penting dari nyawa!"

Hardiman tetap kekeh dengan pendiriannya. Sejak dulu, pria tua itu memang tidak pernah mau mendengar nasehat orang lain.

Angkasa diam. Ia tidak lagi bersuara. Sekarang ia baru tahu jika kepala keluarga Hardiman sangat diktator dan keras.

"Oh iya mengenai janji investasi 20 miliar itu bagimana?" tanya Hardiman.

"Soal itu Papa jangan khawatir. Asistenku sudah mengurus semuanya. Nanti dia yang akan datang ke perusahaan untuk tanda tangan!" jelasnya.

Hardiman menghela napas lega. Inilah yang paling ia tunggu-tunggu. Perusahaan keluarga memang sedang dalam krisis keuangan. Awalnya mereka hanya ingin meminjam dari keluarga Felix. Namun Persimon malah mengajukan pernikahan antar keluarga, sebagai syarat agar janji investasi itu dipenuhi.

"Aku sudah selesai!" ucap Leya, hanya menyentuh sedikit sarapannya.

"Pergilah! kuliah yang rajin!" sahut Sukma, kali ini tanpa menoleh putrinya.

"Berangkat bareng Papa aja!" ucap Angkasa, kaku, berat dan tak rela menyebut dirinya Papa dihadapan kekasihnya.

"Gak usah dia bawa mobil sendiri. lebih baik kamu antar Sukma saja!" sela Hardiman.

"Papa antar Mama aja!" ketus Leya, langsung pergi begitu saja.

Ia melanjutkan langkah. Tak mau lihat kebelakang dan tak mau mendengar percakapan yang terjadi selanjutnya. Tapi saat ia akan masuk ke dalam mobil, angkasa memegang tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya sendiri.

"Apa yang kamu lakukan Mas!" seru Harleya terkejut.

Angkasa mendekat, mengikis jarak diantara mereka.

"Mas, jangan aneh-aneh deh! kita masih ada dihalaman rumah loh!" kedua mata Leya bergerak liar. Takut jika ada yang mencurigai mereka.

"Tenang! mereka yang di luar tidak akan bisa melihat ke dalam!"

Leya belum memberikan respon apapun. Tetapi Angkasa... Langsung membungkam bibirnya dengan ciuman yang lembut tapi menuntut. Leya terhanyut, ia membalas ciuman Angkasa yang memabukkan.

Untuk sesaat dunia terasa milik mereka berdua. Mereka tidak peduli dengan siapa yang ada di luar sana. Tetapi, ciuman mereka terpaksa berhenti saat Sukma mengetuk kaca mobilnya.

"Mas, Mama!" Leya panik, ia menghapus sisa saliva mereka yang ada bibirnya.

Angkasa melakukan hal sama. Lalu ia membuka kaca mobilnya.

"Ada apa?" tanya Angkasa.

"Kalian kok masih disini?" tanya Sukma melihat ke dalam mobil, dimana Leya sedang berpura-pura membaca bukunya.

"Tadi terima telepon sebentar!" jawabnya.

Sukma mengangguk. Karena tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan. Angkasa segera melanjutkan mobilnya menuju ke kampus Leya.

"Huh! hampir saja ketahuan!" Leya menghela nafas lega setelah mobil jauh dari rumah.

Angkasa tersenyum. "tapi seru kan sayang. memicu adrenalin?" ujarnya.

Leya melotot, mencubit lengan kekar Angkasa. "Dasar kamu ini! Lain kali gak boleh cium bibir aku dihalaman lagi!"

"Aduh! Sakit sayang! Lepasin dong? Cubitan kamu sakit tahu!" Angkasa tidak berbohong. Cubitan Leya memang sakit luar biasa.

"Janji dulu!" paksa Leya.

Angkasa berjanji, ia mengikuti permintaan kekasihnya yang langsung melepaskan cubitannya.

"Tapi kalau di dalam kamar boleh kan?" goda Angkasa lagi.

Leya kembali melayangkan cubitan yang lebih menyakitkan. Angkasa merintih, ia memohon ampun. Tetapi setelah itu mereka tertawa bersama.

"Apa kita bisa terus seperti ini Mas?" tanya Leya, tiba-tiba mendadak sendu.

Angkasa meraih tangan Leya untuk ia genggam dengan lembut. "Tentu saja! Mas akan berjuang agar bisa nikahi kamu!" ia mengangkat tangan mereka, mengecup punggung tangan Leya dengan penuh rasa cinta, sayang, yang tidak bisa digambarkan seberapa luas dan dalamnya.

"Aku tunggu Mas!" sahutnya.

Angkasa menghentikan mobilnya di depan kampus Leya. Sebelum berpisah, mereka kembali ciuman. Seperti yang selalu mereka lakukan.

"Hati-hati dijalan ya? semoga pekerjaan kamu lancar hari ini?" ucap Leya, diiringi sebaris doa yang selalu gadis itu ucapkan setiap hari.

"Terima kasih sayang? Aku mencintaimu!" sahutnya.

Setelah Leya turun dan memastikan kekasihnya masuk dengan selamat. Angkasa baru melakukan mobilnya, melanjutkan perjalanan ke perusahaannya sendiri.

1
Jhesika Cika
bagus cta ny
Dew666
👑👑👑
Dew666
💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!