NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tagihan Dara

Hari-hari di Rumah Sakit Medika berlalu dengan ritme yang lambat dan penuh kehati-hatian. Di bawah penjagaan ketat Aris dan kasih sayang yang tak terbatas dari Ibu Lastri serta Bapak Suprapto, kondisi Rania mulai menunjukkan kemajuan. Flek pendarahan yang sempat mengancam nyawa janinnya perlahan berhenti. Wajah Rania yang tadinya sepucat kertas kini mulai mendapatkan rona kemerahannya kembali, meski matanya masih menyimpan kabut kesedihan yang belum juga sirna.

Aris adalah sosok yang paling sibuk. Pria itu seolah memiliki energi yang tak habis-habis. Pagi hari ia sudah berada di rumah sakit membawa bubur gandum kesukaan Rania, siang hari ia berkoordinasi dengan pengacara untuk memastikan proses penutupan kantor Damar berjalan tanpa celah, dan malam hari ia sering kali tertidur di kursi tunggu kayu hanya untuk memastikan tidak ada orang asing yang mendekati kamar Rania.

"Kau harus makan lebih banyak, Ran. Ingat, sekarang ada nyawa lain yang bergantung padamu," ujar Aris sambil mengupas buah pir dengan sangat rapi. Gerakan tangannya yang kekar namun telaten menunjukkan betapa ia sangat memuja setiap detik yang ia habiskan di samping wanita itu.

Rania tersenyum tipis. "Terima kasih, Ris. Aku merasa jauh lebih baik. Tapi aku merasa bersalah karena membuatmu menghabiskan seluruh waktumu di sini. Pekerjaanmu di kepolisian bagaimana?"

Aris hanya mengibaskan tangan, menyembunyikan fakta bahwa ia mengambil cuti panjang dan merelakan beberapa kasus besar demi menjaganya. "Tenang saja. Komandan tahu situasiku. Yang penting sekarang kau fokus pada pemulihan. Dokter bilang jika besok kondisimu stabil, kau sudah boleh pulang dan bed rest di rumah."

Ibu Lastri yang sedang merapikan selimut Rania menimpali, "Iya, Nak. Nanti di rumah Ibu masakan sayur bening kesukaanmu. Ibu sudah bilang ke Bapakmu untuk membersihkan kamar atas agar sirkulasi udaranya lebih bagus."

Suasana hangat itu seolah menjadi oase di tengah padang pasir penderitaan Rania. Untuk sejenak, ia bisa melupakan ruko tua, wig, dan kepergian Damar yang misterius. Ia merasa aman dalam kepompong perlindungan yang dibangun oleh Aris dan orang tua angkat suaminya.

Namun, ketenangan itu terusik pada sore hari berikutnya. Aris sedang turun ke kantin untuk membelikan kopi untuk Bapak Suprapto, sementara Ibu Lastri sedang berada di mushola rumah sakit. Rania sendirian di kamar, mencoba membaca buku untuk mengalihkan pikirannya.

Tiba-tiba, pintu kamar perawatan diketuk pelan. Seorang wanita muncul dari balik pintu. Wanita itu tampak sangat modis, mengenakan kacamata hitam besar yang ia sangkutkan di atas kepala, tas tangan bermerek, dan aroma parfum yang sangat menyengat memenuhi ruangan. Usianya mungkin akhir dua puluhan, dengan riasan wajah yang sangat tebal.

Rania mengernyit. "Maaf, Anda siapa? Apakah Anda salah kamar?"

Wanita itu melangkah masuk dengan gaya yang sangat percaya diri, matanya menyapu ruangan dengan tatapan yang sedikit meremehkan. "Ini kamar Ibu Rania, istri dari Mas Damar Mahendra, kan?"

Jantung Rania berdegup kencang. Nama Damar selalu menjadi pemicu kecemasannya. "Iya, benar. Saya Rania. Ada keperluan apa ya?"

Wanita itu menarik sebuah kursi dan duduk tanpa diminta di samping tempat tidur Rania. Ia mengeluarkan sebuah amplop panjang berwarna merah muda dari tasnya. "Kenalin, nama saya Shinta. Saya sahabat Mas Damar... ya, bisa dibilang rekanan bisnis pribadinya juga selama satu tahun terakhir ini."

Rania terdiam. Sahabat? Rekanan bisnis pribadi? Ia tidak pernah mendengar nama Shinta sebelumnya.

"Saya dengar Mas Damar hilang, ya? Duh, kasihan banget Ibu Rania," Shinta berbicara dengan nada yang dibuat-buat prihatin, namun matanya tidak menunjukkan simpati sedikit pun. "Tapi masalahnya begini, Bu. Bisnis harus tetap jalan, kan? Sebelum Mas Damar 'menghilang', dia punya kewajiban yang belum diselesaikan ke butik saya."

Rania mengernyitkan dahi. "Butik? Damar punya urusan apa dengan butik?"

Shinta tertawa kecil, suara tawanya terdengar sumbang di telinga Rania. "Lho, Ibu Rania nggak tahu? Mas Damar itu pelanggan setia di butik eksklusif saya di daerah perbatasan Bogor. Dia sering pesan custom-made dresses. Gaun-gaun sutra, pakaian wanita kelas atas, pokoknya seleranya tinggi banget."

Rania merasa seolah-olah ada tangan dingin yang meremas jantungnya. Ingatan tentang ruko tua dengan deretan gaun sutra itu kembali menghantamnya.

"Ini tagihannya, Bu," Shinta meletakkan amplop itu di atas tempat tidur Rania. "Ada tiga gaun malam dan beberapa set pakaian dalam sutra yang sudah dia ambil dua minggu lalu, tapi pembayarannya yang pakai kartu kredit kemarin ditolak pihak bank—mungkin karena Ibu sudah memblokir rekeningnya, ya?"

Rania membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat rincian tagihan sebesar dua puluh juta rupiah. Di kolom deskripsi barang tertulis: Evening Silk Gown (Emerald Green), Silk Lingerie Set, dan Classic Bob Wig (High Quality).

"Dua puluh juta?" bisik Rania. Suaranya nyaris hilang.

"Iya, Bu. Itu harga sahabat, lho. Mas Damar selalu bilang kalau gaun-gaun itu buat 'seseorang yang sangat spesial' yang ingin dia 'hidupkan'. Dia bilang istrinya nggak boleh tahu, jadi dia selalu minta dikirim ke alamat kantor lamanya di Palmerah," Shinta menjelaskan dengan enteng, seolah-olah ia sedang membicarakan cuaca.

Rania merasa mual yang luar biasa kembali menyerangnya. "Seseorang yang spesial..." ulangnya lirih. Apakah selama ini Damar benar-benar memiliki wanita lain yang ia sembunyikan di ruko itu? Ataukah Shinta ini tahu rahasia identitas ganda Damar?

"Tapi... kenapa dres wanita? Suami saya kontraktor, dia tidak butuh baju-baju seperti ini," Rania mencoba melakukan pembelaan terakhirnya, meski hatinya tahu kebenarannya.

Shinta tersenyum penuh arti. "Aduh, Ibu Rania ini polos sekali atau memang nggak mau tahu? Mas Damar itu kalau datang ke butik saya, dia sangat detail soal ukuran. Ukuran bahu, lingkar pinggang... dia sangat hafal. Kadang dia juga coba-coba sendiri kainnya ke kulitnya, katanya buat memastikan kenyamanannya. Saya sih nggak mau nanya-nanya lebih jauh, yang penting barang laku. Tapi sekarang barang sudah dibawa, uang belum masuk. Jadi, karena Mas Damar nggak ada, saya terpaksa tagih ke Ibu."

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Aris masuk membawa dua cup kopi. Ia membeku di ambang pintu saat melihat sosok wanita asing duduk di samping tempat tidur Rania. Mata Aris yang tajam langsung menangkap gelagat tidak beres; ia melihat wajah Rania yang pucat pasi dan amplop merah muda di tangan sahabatnya itu.

"Siapa Anda?" suara Aris terdengar rendah dan mengancam. Ia meletakkan kopi di atas meja dan berdiri di antara Rania dan wanita itu.

Shinta tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Aris yang memiliki aura otoritas kuat. Ia segera berdiri dan merapikan tasnya. "Oh, saya Shinta. Teman bisnis Mas Damar. Saya cuma mau nagih hutang belanjaan Mas Damar yang belum dibayar."

Aris menyambar amplop itu dari tangan Rania dan membacanya secepat kilat. Matanya menyipit saat membaca daftar barang yang tertulis di sana. Ia menatap Shinta dengan tatapan dingin yang biasa ia gunakan untuk menginterogasi tersangka pembunuhan.

"Dres wanita? Wig? Dua puluh juta?" Aris mendengus. "Pergi dari sini sekarang."

"Lho, nggak bisa gitu dong, Pak Polisi! Itu hak saya"

Aris melangkah maju satu langkah, memangkas jarak antara dirinya dan Shinta hingga wanita itu terpaksa mundur. "Saya bilang pergi. Jangan pernah berani menampakkan wajah Anda di depan wanita ini lagi. Urusan hutang piutang ini akan diurus oleh pengacara keluarga. Jika Anda berani mengganggu pasien rumah sakit lagi, saya pastikan butik Anda di Bogor itu akan saya periksa kelengkapan izin usahanya sore ini juga. Mengerti?"

Ancaman Aris yang sangat spesifik tentang lokasi butiknya membuat nyali Shinta menciut. Ia tahu ia sedang berhadapan dengan orang yang tidak bisa diajak main-main. "O-oke... oke. Saya pergi. Tapi tolong sampaikan, saya butuh uang itu segera!"

Shinta bergegas keluar dari kamar dengan langkah terburu-buru, suara hak sepatunya terdengar menjauh di lorong.

Suasana di kamar menjadi sunyi senyap. Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah tanpa suara. Setiap kali ia merasa sudah mulai pulih, kenyataan tentang "sisi gelap" Damar selalu datang menghantamnya kembali.

"Ran... jangan dengarkan dia," Aris duduk di tepi tempat tidur, mencoba menenangkan.

"Dia bilang Damar membeli baju-baju itu untuk 'seseorang yang spesial', Ris," isak Rania. "Dua puluh juta hanya untuk baju wanita dan wig. Di saat kantornya terpuruk, di saat aku sedang hamil... dia menghabiskan uang sebanyak itu untuk hobinya yang gila itu?"

Aris menghela napas panjang. Ia meremas amplop tagihan itu hingga menjadi bola kertas dan membuangnya ke tempat sampah. "Dengar aku, Rania. Apa pun yang dilakukan Damar, itu bukan salahmu. Dia yang sakit, dia yang bermasalah. Jangan biarkan sampah seperti wanita tadi menghancurkan kesehatanmu."

Rania menggeleng. "Bagaimana aku bisa tenang, Ris? Siapa wanita tadi sebenarnya? Apakah dia hanya penjual baju, atau dia juga bagian dari kehidupan rahasia Damar? Kenapa Damar harus mengambil uang tunai begitu banyak di Bogor kalau dia masih berhutang di butik itu? Ke mana perginya uang-uang itu?"

Aris terdiam. Pertanyaan Rania sangat logis. Jika Damar menarik uang ratusan juta, membayar tagihan dua puluh juta seharusnya bukan masalah. Berarti, uang yang ditarik Damar digunakan untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang membutuhkan uang tunai dalam jumlah masif agar tidak terlacak oleh sistem perbankan.

"Aku akan mencari tahu siapa Shinta ini sebenarnya," janji Aris. "Tapi tolong, demi bayi kita... maksudku, demi bayimu, Ran... jangan dipikirkan dulu. Aku akan membayar tagihan itu agar dia tidak datang lagi."

"Jangan, Ris! Jangan gunakan uangmu lagi," Rania memegang tangan Aris. "Kau sudah menutup semua denda kantor. Aku tidak mau kau jatuh miskin karena suamiku yang tidak tahu diri itu."

Aris menatap mata Rania dengan intensitas yang membuat Rania terpaku. "Uang tidak ada artinya bagiku, Rania. Aku sudah katakan padamu, selama kau aman dan kau tidak perlu menangis karena orang-orang seperti Shinta, aku rela memberikan segalanya."

Rania tertegun melihat ketulusan di mata Aris. Ia mulai menyadari bahwa selama bertahun-tahun ini, ia mungkin telah mengabaikan pria yang benar-benar mencintainya demi pria yang hanya mencintai bayangannya sendiri di dalam cermin.

Malam itu, setelah Rania tertidur karena kelelahan emosional, Aris berdiri di luar kamar. Ia menelepon salah satu anak buahnya. "Cek izin usaha Butik Shinta di daerah perbatasan Bogor-Sukabumi. Cari tahu semua transaksi atas nama Damar Mahendra di sana. Dan satu lagi... cari tahu apakah wanita bernama Shinta ini punya hubungan dengan komunitas transgender atau klinik bedah plastik di sekitar sana."

Aris mematikan ponselnya. Ia tahu, kemunculan Shinta bukan sekadar urusan hutang. Ini adalah petunjuk baru. Damar tidak hanya sekadar ingin menjadi wanita secara visual dengan wig dan gaun; ia sedang merencanakan sesuatu yang lebih permanen. Dan Aris tidak akan berhenti sampai ia menemukan di mana "Dara" menyembunyikan dirinya.

Sambil menatap pintu kamar Rania, Aris berbisik pada dirinya sendiri, "Kau boleh lari ke mana pun, Damar. Kau boleh berubah menjadi siapa pun. Tapi kau tidak akan pernah bisa lari dari apa yang telah kau perbuat pada Rania."

Di kegelapan lorong rumah sakit, Aris berdiri seperti penjaga gerbang yang tak tergoyahkan. Ia tahu badai belum berakhir, namun ia berjanji bahwa dialah yang akan menjadi orang pertama yang menyambut petir itu sebelum menyentuh Rania.

1
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!