Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama Ndra adalah Mama Sekarang
"Papah tadi aku lihat mama ndra nangis". Aku yang baru selesai menunaikan ibadah shalat isya, samar mendengar percakapan kak Satya dan sandrina. Kini papah dan gadis kecilnya itu seperti biasa sedang berpelukan mesra di atas bed rumah sakit. Melepas rindu karena seharian gak ketemu.
"Nangis kenapa?"
"Gatau, tadi udah drina tanya. Tapi mama ndra malah senyum gak jawab apa-apa".
"hemm"
Aku mendengar respon yang dikeluarkan dari mulut kak Satya, hanya 'hemm'. Ah sudahlah aku gak mau pusing, hati aku sudah sakit tercabik cabik sedari tadi. Aku melepas mukena yang masih ku kenakan, melipatnya kemudian aku simpan di atas meja sofa, yang memang sudah di sediakan di ruang VIP.
Aku melanjutkan kegiatan dengan melipat pakaian sandrina dan membereskan barang-barangnya, karena besok sandrina sudah boleh pulang kerumah. Aku masih diam, sesekali melirik tontonan televisi yang sedang menyala. Kak Satya masih bersenda gurau dengan sandrina, diatas bed sandrina.
Setelah selesai aku bersandar pada sandaran sofa, aku memejamkan mata, kepalaku terasa berat mungkin terlalu banyak menangis.
"Nangis kenapa ndra?" suara bariton itu membangunkanku, sontak aku membuka mata. Aku melihat kak Satya yang berjalan ke arahku kemudian duduk disampingku.
Aku belum menjawab, kenapa aku jadi sedih lagi ya saat ditanya oleh ka Satya. Aku melirik kak Satya yang kini sama sudah menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Drina tidur kak?". Bukannya menjawab pertanyaan kak Satya, aku malah melontarkan pertanyaan balik.
kak Satya tampak mengangguk, pandangannya kini terarah padaku seolah sedang meneliti wajahku.
"Kenapa ?". Salah satu yang sering aku sukai, tatapan kak Satya yang meneduhkan hati.
Aku bingung, apakah kak Satya juga harus tau berita yang sedang ramai. aku meraih ponsel kemudian membukanya, ah air mataku mulai turun lagi.
"Nih kak, beritanya lagi rame banget. Sampe masuk DM sosial mediaku" aku menyerahkan ponselku pada kak Satya. Kak Satya mengerutkan keningnya.
Sambil berderai air mata, aku memperhatikan raut wajah kak Satya yang tampak serius. Sesekali ku melihat rahangnya mengeras. Lama sekali kak Satya memegang ponselku.
"Akun instagramnya sudah aku nonaktifkan dulu, sampai berita ini mereda ndra" kak Satya memberikan ponsel kepadaku.
Aku mengangguk pelan menyeka air mata, sedih rasanya.
"Sudah, sekarang tidur ndra"
"Aku tidur sama drina ya kak"
kak Satya mengangguk samar, aku berjalan menuju bed sandrina dan tidur disampingnya.
Aku memeluk gadis kecil itu. Dan mengecup keningnya.
"Mama ndra" Drina tersenyum dan juga balas memelukku erat, jadilah kini aku dan sandrina tertidur sambil berpelukan.
*
Pukul 07.30 sandrina sudah lepas infus, gadis kecil itu tampak ceria karena hari ini sudah bisa pulang ke apart.
"Mari kita pulang sayang" kak Satya sudah menggedong sandrina dengan satu tangan, dan satu tangan lagi membawa tas yang berisi pakaian aku, sandrina dan kak Satya. sementara aku membawa beberapa paper bag yang berisi makan ringan dan mainan sandrina.
Aku telah duduk di mobil samping pengemudi, sementara drina duduk di jok belakang. kita sedang menunggu kak Satya yang sedang mengurus administrasi Rawat inap sandrina.
"Ingat kata dokter tadi apa na?".
"Gak boleh jajan sembarangan, minum vitamin dan makan-makanan yang sehat"
"Pinter" aku mengacungkan dua jempol pada sandrina.
Kak Satya telah kembali memasuki mobilnya, ia langsung mengemudikan mobilnya tanpa banyak tanya. Kini kami hanya bertiga hanya fokus pada jalanan yang setiap hari padat, macet yang bikin gerah.
Cukup 20 menit kami sampai di apartemen, setelah memarkirkan mobil kak Satya kembali menggendong sandrina.
Aku memasuki apart yang telah kosong selama tiga hari, walaupun kosong kondisi aparteman ini masih tetap bersih.
"Kak, hari ini kerja?"
Aku bertanya memastikan, aku sangat tau kalau laki laki di depanku ini sangat gila kerja dan pantang ambil cuti.
"Kerja ndra, tapi nanti sekitar jam sepuluhan"
"Yaudah aku buatkan sarapan dulu, mau sarapan apa kak?"
"Telor aja ndra"
Aku mengangguk dan bersiap-siap untuk memasak karena tadi pagi di rumah sakit kami belum sempat sarapan. Aku membuka kulkas dan mengambil sosis, beberapa nugget dan telor untuk di goreng. Tidak lupa aku mengambil sepotong buah melon biar sarapan lebih segar.
Cukup lima belas menit sarapan sudah matang. Aku, kak Satya dan drina sarapan bersama sambil menonton kartun kesukaan drina.
"Mama ndra, kok Oma Can sama Opa Can ga marah, mama ndra nginep lama di sini?"
Aku menghentikan kegiatan mengunyahku, seketika aku menoleh pada kak Satya.
"emhh, Mama ndra nginep selamanya disini"
Hahh untungnya kak Satya yang menjawab
"Emangnya gak dimarihin mama ndra?" gadis kecil itu sepertinya belum paham.
"Mama ndra adalah mama sekarang"
Ucap kak Satya, pandangannya tetap fokus pada sarapan di piringnya.
"Mama?, Mama drina. Seperti ibu?"
Aku melihat anggukan samar di kepala kak Satya. Yang membuat hatiku menghangat sekarang. Ah kak Satya ternyata mengakui aku sebagai istrinya, walaupun dari sikap kami dan interaksi nya kami seperti orang yang baru kenal.
Setelah sarapan aku menyiapkan pakaian kerja kak Satya. Sementara kak Satya mandi terlebih dahulu, biar badannya lebih fresh katanya.
Drina menonton televisi, gadis kecil itu masih harus banyak bedrest dan harus di kontrol asupan nutrisinya. Aku sedang menyetrika beberapa dasi untuk di pilih kak Satya nanti.
Setelah kurang lebih dua puluh menit kak Satya telah siap dengan pakaian formalnya. Kemeja baby blue dengan dasi berwarna navy. Gagah dan berwibawa melihatnya.
"Papah, berangkat kerja dulu ya, drina harus banyak istirahat dulu. Jangan dulu main game, nanti kepalanya pusing lagi" ucap kak Satya menunduk, memberi beberapa wejangan pada putri kesayangannya, setelahnya ia mengecup kedua pipi putrinya itu.
"Ndra, aku berangkat kerja dulu. Titip drina ya"
"iya kak, aman" ucapku sambil mengangguk dan tersenyum pada kak Satya. Seperti biasa aku hanya mematung memperhatikan punggung kak Satya yang sedang berjalan menuju pintu apart.