Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Pertanyaan
Siang harinya di kantor. Rara datang mengantarkan bekal makan siang untuk Aksara, sesuai permintaan lelaki itu. Ia ingin makan berdua dengan Rara di ruangannya dengan membawa bekal dari rumah — hal yang sudah lama tidak ia lakukan.
Saat Rara sedang berjalan menuju lift, langkahnya terhenti karena Naura muncul menghalangi jalan tepat di depan ruang kerja Aksara.
Wajah Naura terlihat serius, tidak seperti biasanya yang sok ceria.
"Bisa bicara sebentar?" Tanya Naura. Suaranya terdengar datar namun menekan.
Rara menatap Naura tenang. "Ada apa? Aku mau masuk mengantarkan makan siang untuk Aksara."
"Cuma sebentar. Aku cuma mau tanya sesuatu," potong Naura. Ia lalu mengajak Rara menjauh sedikit ke sudut koridor yang agak sepi.
Naura menatap Rara lekat-lekat, mencoba mencari celah di wajah gadis desa itu.
"Dengar ya, Ra... jujur aku bingung sama kamu. Kemarin malam aku lihat sendiri cara kamu bersikap. Kamu datang, lihat aku bersama Aksara, terus kamu pergi lagi dengan santai. Tidak marah, tidak cemburu, tidak protes sama sekali."
Rara tetap diam, mendengarkan dengan wajah tenang.
"Kenapa kamu bisa se-dingin itu?" Tanya Naura mulai melontarkan pertanyaannya. "Apa memang benar kamu tidak punya rasa cinta pada Aksara? Apa kamu menikah dengannya cuma karena kewajiban atau karena harta?"
Pertanyaan itu cukup tajam. Kali ini, Rara tidak langsung memotong atau menyindir. Ia justru menunduk sedikit, jari-jarinya memegang erat kotak bekal di tangannya. Bahunya tampak sedikit menegang.
Setelah hening sejenak, Rara mengangkat wajahnya. Tatapannya tulus, jujur, dan terlihat sangat bingung.
"Benar..." Suara Rara pelan namun jelas.
Naura terkejut, tidak menyangka akan dijawab sejujur ini. "Apa?"
Rara menarik napas panjang, seolah berjuang mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya.
"Kamu tidak salah duga. Jujur saja... aku sendiri juga tidak tau. Aku bingung." Rara menatap mata Naura ragu. "Aku tidak bisa bohong. Sampai saat ini... aku memang belum bisa bilang kalau aku mencintai dia sepenuh hati seperti yang dia berikan kepadaku."
"Jadi... kamu mengakuinya?" Naura semakin mendekat. "Kamu tidak cinta sama dia?"
"Ya... mungkin memang belum ada rasa cinta seperti yang kamu bayangkan." Rara menggeleng pelan, wajahnya terlihat sungguh-sungguh. "Aku menikah dengan dia bukan karena cinta di awal. Aku menikah karena dia yang meminta. Aku hanya merasa terikat kewajiban sebagai istri yang sah."
"Terus kenapa kamu tidak lepaskan dia?!" Seru Naura, suaranya meninggi. "Kamu dengar sendiri kan betapa Aksara sangat sayang sama kamu? Dia rela melakukan apa saja buat kamu! Dia mencintai kamu lebih dari apa pun! Tapi kamu kasih balasan cuma sikap dingin dan ketidakpedulian! Kasihan dia! Kalau kamu tidak cinta, jangan siksa perasaan dia begini. Biarkan dia bahagia sama orang yang benar-benar bisa mencintai dia balik!"
Rara tersenyum tipis, senyum yang terlihat sedih dan penuh keraguan. Ia mengusap pelan dadanya sendiri, seakan mencoba meraba apa yang ada di sana.
"Kamu pikir aku tidak merasa bersalah? Kamu pikir aku tidak bertanya-tanya setiap hari, kenapa hati aku bisa sebeku ini?"
Rara menatap Naura dengan mata yang menyiratkan kebingungan yang dalam.
"Aku juga bingung sama diri aku sendiri. Aku tahu dia baik. Aku tahu dia sayang. Dia memperlakukan aku seperti ratu, dia penuhi semua keinginan aku. Tapi... entah kenapa, hati ini belum bisa berdegup kencang atau meledak-ledak menyebut namanya. Aku hanya merasa... berhutang budi."
"Berarti kamu memang tidak cinta!" Potong Naura mantap. "Kalau begitu lepaskan!"
"Tidak semudah itu, Nau." Rara menggeleng kuat. "Aku orang desa. Bagi aku, janji dan tanggung jawab itu segalanya. Aku tidak bisa seenaknya pergi hanya karena perasaan aku belum tumbuh. Apa pantas meninggalkan orang yang sudah berbuat baik hanya karena alasan 'tidak cinta'?"
"Tapi kamu menyiksa dia!"
"Mungkin..." Rara menunduk lagi. "Mungkin aku memang jahat. Mungkin aku memang tidak pantas dapatkan perlakuan sebaik itu dari dia. Tapi... aku tidak bisa pergi. Selama aku masih jadi istrinya, selama aku masih punya nama itu di samping nama dia... aku akan tetap di sini. Menjalani semua dengan baik, meskipun hati aku masih belum mengerti apa rasanya cinta."
Rara mengangkat wajah, menatap Naura datar.
"Jadi... tolong jangan suruh aku melepaskan dia. Karena selama aku masih berdiri di sini, kamu tidak akan pernah punya tempat. Sekalipun aku belum cinta, posisi aku sebagai istrinya tidak akan terganti."
Tanpa menunggu jawaban Naura, Rara melangkah pergi meninggalkan wanita itu yang terpaku diam. Tapi Naura menarik tangannya, mencegah Rara berlalu.
"Aku belum selesai bicara!" Ucap Naura dengan tatapan tajam.
"Apalagi?"