ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT IV—{Chapter 5}
“Beras, daging ayam, jagung, dan permen jeli. Apa menurutmu semua bahan ini terdengar masuk akal?” Gadis di barisan ketiga dari depan membalikkan badannya, mendapati teman sekelasnya sedang menundukkan kepala dan memainkan ponsel.
Si lawan bicara mengangkat pandangannya, menatap selembar kertas yang tahu-tahu saja sudah berada persis di depan wajahnya. Dia tidak menggubris, hanya menatap datar sambil memindahkan ponselnya ke tangan kiri, lalu menunjukkan balik lembaran kertas milik kelompoknya. Kertas itu adalah kertas menu bahan makanan yang merupakan hadiah poin selama Permainan Kelompok, setiap kamar memilikinya. Kebetulan kertas miliknya dengan milik temannya itu memiliki coretan tanda silang cukup banyak. Jadi tujuan dari obrolan mereka itu selain untuk pamer adalah untuk saling menertawakan nasib.
Berjarak sekitar sepuluh meter dari lapangan, para gadis berdiri memanjang membentuk dua barisan di aula Fe-Mart. Ramai, namun cukup tertib. Mereka yang mengantre adalah perwakilan dari setiap kamar, sementara itu anggotanya yang lain menunggu di beberapa area sekitar untuk menunggu gilirannya membantu membawakan bahan makanan. Petugas asrama dibagi jadi dua tim dengan masing-masing empat anggota yang sibuk melayani di sisi kanan dan kiri. Setiap satu demi satu gadis mulai pergi, mereka terus mengulang pekerjaan kepada gadis berikutnya. Mereka menerima kertas yang berisikan gambar bahan makanan, lalu rekannya yang lain mengambilkan bahan makanan tersebut dari rak, kulkas, dan etalase. Setiap kertas memiliki tanda silang berbeda-beda, ada yang hanya tiga atau empat tanda, ada juga yang sampai separuhnya dari menu. Namun bagaimanapun, para gadis telah berjuang selama permainan. Jadi alih-alih mengeluh, mereka justru memikirkan bagaimana caranya mengolah bahan makanan yang terbatas itu menjadi sebuah hidangan enak. Toh, ini bukan yang pertama kalinya buat mereka, jadi yang lebih penting tentunya adalah menyelamatkan acara api unggun dengan tanpa kelaparan.
“Oi, beruang laser. Lihat aku.” Karinn berujar di sela-sela tangannya sibuk bekerja. Dibantu dengan Irene yang bertugas membumbui jagung, ia membungkus satu demi satu jagung tersebut menggunakan aluminium foil. “Kau tidak pandai berakting, ya?” Dia melanjutkan lagi, mengungkit perihal permainan mafia yang sudah berakhir sejak setengah jam lalu.
Irene telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia pun bangkit dari lantai dan pergi menuju dapur. Di sebelah penanak nasi, ada sebuah wadah besar yang ditutupi oleh kain bermotif kotak. Itu adalah nasi yang didiamkan selama lima menit setelah matang dengan tujuan agar tetap hangat selama proses pembentukan bola-bola. Irene menyarungkan plastik bening ke kedua telapak tangannya, mulai bekerja. Ia menggunting beberapa lembar rumput laut menjadi ukuran kecil-kecil, lalu memasukkannya ke dalam wadah nasi bersama dengan mayonaise, sedikit garam, kaldu bubuk, dan taburan wijen. Setelah diaduk rata, langkah selanjutnya adalah membentuknya menjadi bola-bola. Ini bagian paling sulit dan melelahkan karena harus melakukannya tanpa bantuan alat. Terlebih kadang-kadang hasilnya tidak bulat sempurna, jadi itu bisa mengurangi nilai estetika terhadap penilaian para gadis.
“Villy, aku sudah selesai!” Ayaa berseru saat telur gulung terakhirnya diangkat menggunakan saringan. Minyak berwarna cokelat keemasan menetes jatuh ke mangkok di bawahnya. “Kau tahu di mana keranjang makanan?”
“Di dalam lemari.” Villy membalas tanpa menolehkan kepala, hanya berusaha fokus pada daging ayam yang sedang dicucinya. Dia mengganti air bilasannya beberapa kali sampai warnanya benar-benar bening dan tidak ada lagi bau amis. Setelah itu dia memindahkan daging tersebut ke wadah berlubang untuk ditiriskan. “Karinn pergi ke mana?” Dia mengedarkan pandangannya ke segala sudut kamar, mencari juniornya yang tiba-tiba tak terlihat batang hidungnya itu.
“Dia pergi ke Fe-Mart untuk meminjam alat pemanggang.” Di sela-sela tangannya sibuk menyayat permukaan sosis, Erica menyahut memberikan jawaban.
Villy tampak sedikit kecewa. Dia baru saja ingin meminta bantuannya untuk memotong daging ayam.
“Kau tidak tahu cara memotongnya, kak?” Erica datang menghampiri setelah buru-buru menyelesaikan pekerjaanya. Dia menatap si senior, namun tak kunjung mendapatkan balasan. “Kalau begitu biar aku saja.”
Villy menganggukkan kepala sekali, seperti isyarat meminta maaf karena tak bisa melakukannya. Sebagai gantinya, ia pun berinisiatif mengambil alih memasak sosis bakar. Pertama-tama, dia melelehkan margarin, kemudian menuangkan semua campuran bumbu—saus sambal, saus tomat, kecap manis, gula pasir, bawang putih bubuk, dan lada sesuai takaran yang diarahkan oleh Erica. Begitu uap harum mulai mengepul di udara, sendok kayunya digerakkan secara perlahan supaya bumbu dapat tercampur merata dan menghasilkan tekstur mengental ringan. Selanjutnya, sosis yang telah disayat dimasukkan dan dibiarkan terendam selama lima menit. Selagi menunggu sampai bumbu meresap, Villy mengambil bawang putih dari rak, lalu mengiris dan mencincangnya sampai menjadi sedikit halus. Itu akan digunakannya sebagai bumbu untuk ayam teriyaki. Dia memasukkan margarin, kemudian menumisnya bersama cincangan bawang putih. Setelah aroma wangi menguar, dia memasukkan potongan ayam, lalu mengaduknya sebentar sampai warnanya berubah jadi putih pucat. Tujuannya supaya protein di permukaan daging menggumpal (mengeras) dan cairan di dalamnya terperangkap. Itu akan membuat daging menjadi lebih lembut saat bumbu dimasukkan, menghasilkan rasa yang meresap sempurna karena cairan tetap terjaga di dalam daging.
Tok.. Tok.. Pintu yang dibiarkan terbuka selama para gadis memasak, diketuk dua kali. Bunyinya terdengar halus, seperti tidak dilakukan oleh salah satu anggotanya ataupun tetangganya di kamar sebelahnya.
“Ah, Bu Kaila.” Karinn tiba-tiba muncul di belakangnya, menegur kehadirannya sembari melepaskan sepatu di ambang pintu. Di tangannya kanannya, dia membawa keranjang rotan yang dilapisi plastik bening. Itu adalah jagung bakar yang baru saja matang dan hendak dibawa kembali ke kamar.
“Ibu mau membagikan ini.” Bu Kaila membuka penutup dus, menunjukkan isi di dalamnya yang berupa kapsul kecil bermotif macam-macam. Karena terbuat dari kaca, jadi saat lampu koridor memantulkan cahayanya, kapsul tersebut berkilau seolah lukisan yang tercetak di permukaannya menari di udara dalam bentuk butiran halus.
“Kalau begitu, mari masuk,” ajak Karinn.
Irene dan Ayaa yang semula sedang bekerja menata hidangan makanan ke dalam keranjang, segera bergerak cepat menyisihkan tempat duduk untuk Bu Kaila. Erica dan Villy pun juga bergegas pergi meninggalkan dapur, membiarkan ayam teriyaki mereka dimasak dalam api kecil. Bu Kaila mendaratkan dus berwarna coklat itu ke lantai, kemudian membukanya di tengah-tengah lingkaran para gadis.
“Pilihlah mana yang kalian suka,” kata Bu Kaila sembari menegakkan punggungnya, mempersilakan para gadis untuk mendekat dan memilih di antaranya.
“Ini untuk apa, bu?” Erica bertanya, mengangkat salah satu kapsul ke udara.
“Itu kapsul surat. Kalian akan menggunakannya sebagai media untuk menyimpan surat kalian.”
“Kenapa kita harus menyimpannya di sini?” Ayaa ikut mengajukan pertanyaan.
Bu Kaila tersenyum. “Karena itu adalah surat untuk diri kalian di masa depan.”
...• • • • •...
Dari ketinggian sekoloni burung melintas, atrium besar menampakkan cahaya lampu berpendar warna-warni, memantulkan gemerlapnya pada jendela-jendela kamar di sekelilingnya. Di tengah lapangan, api unggun berbentuk kerucut raksasa menjulang setinggi dua meter. Lidah apinya tampak menjilat-jilat seolah tengah beradu dengan udara dingin. Para gadis berbondong-bondong turun dari tangga, tubuh mereka dibungkus oleh berbagai macam pakaian hangat—jaket berbulu, sweater rajut, bantalan leher, sampai selimut yang hanya dililitkan separuh badan. Sementara itu, di tangan mereka penuh oleh macam-macam barang bawaan, terutama keranjang rotan berisikan makanan yang menjadi poin paling penting supaya tidak kelaparan sepanjang acara.
“Guys!”
“Ayo cepat, kemari!”
“Tempat kita di sini!”
“Di sini!”
“Ayo!”
“Ayo!
“Bergegas!”
Sahut-sahutan para gadis mulai terdengar. Riuh suara cerewet mereka berpadu dengan musik yang berdentum di atas panggung. Di sini, sistem siapa cepat dia dapat berlaku lagi. Para gadis segera berlarian memilih tempat duduk sesuai anggota kamar masing-masing, kemudian membentuk lingkaran di sekitar tali pembatas api unggun. Sebagian ada yang hanya duduk santai tanpa mempedulikan kondisi lapangan, ada juga yang begitu rumit sampai-sampai harus menggelar tikar dua lapis demi mendapatkan kenyamanan dari batu kerikil kecil yang luput dari pandangan mata. Setelah itu, barulah keranjang rotan makanan serta ponsel dan benda lainnya diletakkan di tengah-tengah mereka. Semuanya ditata sedemikian rupa supaya tampak sempurna sebelum dilakukan pengambilan gambar. Ckreek..! Bunyinya bukan hanya terdengar satu kali, tetapi bisa mencapai tujuh sampai belasan kali jepretan.
Acara telah dimulai sejak dinyalakannya api unggun, jadi para gadis sudah diperbolehkan untuk menyantap makanan buatan mereka sambil berbincang-bincang santai. Di atas panggung, beberapa gadis dari klub musik naik dan turun secara bergantian. Mereka membantu mengisi acara dengan membawakan sebuah lagu atau hanya sekadar memainkan instrumen. Para penonton yang terdiri dari teman-temannya, guru, juga petugas asrama kompak bersorak sambil bertepuk tangan tinggi-tinggi. Mereka yang semula malu-malu untuk maju jadi merasa lega sekaligus bangga. Benar-benar pengalaman yang berkesan.
“Wah, Erica,” Ayaa memanggil namanya. Kepalanya menari ke kanan dan ke kiri saat merasakan betapa lezatnya ayam teriyaki yang meleleh di dalam mulutnya. “Kau harus buka restoran. Aku yakin bisnismu akan meraup keuntungan besar. Wah, ini sungguh enak. Rasanya seperti aku mendapatkan kenikmatan dari surga.”
Erica tidak membalas apa-apa, hanya tersenyum malu-malu sambil mengambil bola-bola nasi menggunakan sumpit.
Karinn yang duduk di sebelahnya justru menyahut, “Hari ini kita sudah membuat bahkan memakan makanan dari neraka. Setidaknya kita bisa merasa hidup lagi setelah memakan sesuatu yang baru layak dikatakan makanan.”
Ayaa memberi jempol, mengangguk-angguk dengan pipi bulat berisikan daging ayam yang sedang dikunyahnya. “Kau sedang apa?” Dia bertanya pada Villy. Tampak sobat masa kecilnya itu bukan sedang menikmati makanan, melainkan melamun sambil memegang bolpoin dan kertas.
Villy menjauhkan kepala Ayaa dari dekatnya, tidak berniat menggubris. Ketiga juniornya secara serempak menatapnya juga, namun mereka hanya diam karena tahu yang sedang dilakukan si senior itu adalah menulis surat untuk masa depannya—surat yang nantinya akan dimasukkan ke dalam kapsul waktu.
“Kau sudah memikirkan akan menulis apa, kak?” Erica bertanya.
Villy mengangkat bahu, wajahnya masih tampak melamun memikirkan sesuatu.
Ngiing..! Mikrofon berdengung panjang ketika Pak Bams—selaku moderator—mengetuknya dua kali guna memastikan alat itu berfungsi. Saat bunyi dengan frekuensi 4 kHz itu mengaung nyaring, para audiens langsung menutup telinga. Ada yang meringis, ada pula yang tertawa geli melihat temannya kesakitan.
“Selamat malam para gadis!” Suara lantangnya seolah membelah udara, membungkam beberapa mulut yang sebelumnya sedang asyik berbincang dengan gosip serunya. “Bagaimana dengan makanannya? Apa kalian menikmatinya?”
Semuanya kompak berseru, “Ya!”
namun di tengah gelapnya malam, satu kelompok memberikan jawaban berbeda. “Tidak!” teriak mereka sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Kemudian salah satu anggotanya—yang kebetulan merupakan ketua kamar—menyahut, “Kita hanya mendapatkan empat bahan makanan, pak! Di kelompok kita juga tidak ada koki yang dapat memberikan instruksi. Lihatlah bagaimana kami mengolahnya menjadi sebuah makanan yang entah bisa dimakan atau tidak.” Sementara dia menyuarakan keluhannya, anggotanya yang lain secara inisiatif menunjukkan keranjang rotan. Empat hidangan dari bahan yang mereka dapat itu tersaji dengan empat cara pengolahan berbeda. Beras 200 gram dikukus untuk dijadikan bola-bola nasi, lima jagung dilumuri bumbu panggang, daging ayam di tusukkan untuk dijadikan sate, sementara itu—yang paling absurd—semangkuk permen jelly asam dijadikan topping pancake.
“Hmm, tetapi makanan yang kalian buat terlihat normal, kok.” Pak Bams membalas sembari melirik sekilas ke kelompok tersebut, kemudian menahan tawa sebelum akhirnya mengalihkan pandangan untuk lanjut berbicara. “Yah, bagaimanapun itu adalah hasil kerja keras kalian. Jadi nikmatilah dengan perasaan gembira. Karena pengalaman tidak enak itu biasanya punya tempat tersendiri untuk dikenang. Semuanya setuju?”
Dengan berat hati, para gadis secara serentak menganggukkan kepala sambil berteriak, “Ya!” lalu tertawa bersama-sama.
“Wah, lihat, sekarang sudah hampir pukul setengah sepuluh.” ujarnya lagi setelah ia memeriksa arloji di pergelangan tangannya. “Tidak terasa, ya sebentar lagi akan larut. Baiklah, mari kita lanjutkan ke sesi berikutnya. Para gadis, guru, dan petugas asrama, silakan naik ke atas panggung! Ini waktunya ... Berbagi Cerita Horor!”
Tepat setelah bunyi dengung mikrofon terdengar, lampu panggung berwarna-warni yang dipasang dalam rangkaian seri dipadamkan. Gelap lantas menyebar ke seluruh penjuru, menyisakan satu-satunya penerangan yang berasal dari nyala api unggun. Dari atap terbuka yang langsung menampakkan keadaan langit hitam tanpa bintang, angin dingin bertiup masuk secara perlahan. Para gadis segera merapatkan jaket dan selimut mereka.
Berbagi Cerita Horor telah dimulai. Pada kesempatan ini, siapa pun diperbolehkan untuk maju dan bercerita. Jadi tak heran, setiap kali momen ini tiba, semuanya mengangkat tangan cepat-cepat untuk berebut giliran.
“Seperti yang kalian tahu,” Seorang petugas asrama pria memegang mik dengan gugup. Dia tampak tak fokus saat mulai berbicara. Tangannya gemetar pelan, manik matanya sibuk melirik ke kanan dan kiri. “..aku adalah petugas yang paling sibuk saat pagi dan siang hari. Itu karena aku penakut dan sangat menghindari bekerja malam. Beruntungnya Pak Sion tak keberatan, jadi aku tak mau mengecewakannya dengan bekerja lebih keras untuk gedung asrama ini.”
Para audiens bertepuk tangan, terutama para guru dan petugas asrama yang mengarahkan pujian tersebut kepada sang kepala pengurus.
Dia melanjutkan, “Selama ini aku berpikir bahwa hal-hal yang berbau horor itu hanya muncul pada malam hari. Percayalah, aku sudah banyak mengalaminya saat aku bekerja sebagai satpam di rumah sakit. Itu sebabnya aku tak tahan lagi dan akhirnya memilih bekerja di sini, dengan kalian yang telah kuanggap seperti keluarga.”
Para gadis bersorak. Belum juga suara mereka mereda, salah seorang berteriak dari kegelapan. “Tapi kau tidak mau mengantarkan galon ke kamar kami, pak! Kau bukan pria sejati!”
Dia memicingkan mata, kemudian membalas dengan galak. “Siapa itu yang berbicara?! Beraninya, ya. Tahu apa kalian tentang pria sejati?! Akulah yang paling berusaha keras di sini!” Dia berdeham, menelan kembali keinginannya untuk lanjut marah-marah. Setelah menunjukkan senyum palsu kepada seluruh audiens, dia melanjutkan,
“Ah, terserah. Sekarang dengarkan baik-baik ceritaku. Minggu lalu, tepatnya pada hari selasa pukul dua siang, aku membantu mengangkat kiriman dus-dus Fe-Mart bersama petugas lain. Ingat, ya, saat itu tengah hari. Langit tampak cerah tanpa awan. Aku melakukan pekerjaan seperti biasa, sampai kemudian aku berakhir di gudang penyimpanan barang. Dua petugas yang tadi bersamaku berpisah setelah semua dus diturunkan, mereka pergi ke tempat lain untuk melakukan pekerjaan lain. Begitu juga denganku, aku berakhir di gudang penyimpanan untuk mendata semua dus yang telah tiba. Saat aku sedang sibuk mencatat, tiba–tiba pintu gudang terbuka. Braak..!” Suaranya seolah membelah udara, sukses membuat para audiens tersentak kaget saat mendengarnya. “Keras sekali. Benar-benar keras seperti seseorang mendobraknya—ah, tidak, sepertinya lebih tepat ada yang menendangnya—dari luar. Aku langsung menoleh ke belakang dengan perasaan kesal, namun tidak ada siapa pun di sana selain jajaran rak. Memang benar, petugas lain sedang bekerja di tempat-tempat berbeda, tetapi mereka semua tampak sibuk. Rasanya mustahil bagi mereka untuk berbuat jahil, kan? Karena itu, aku terus memikirkannya sampai sekarang. Bagaimana menurut kalian? Adakah di antara kalian ada yang bisa menjelaskannya?” Dia mengedarkan pandangannya di kegelapan para gadis, kemudian mendapati satu tangan terangkat ke atas.
Seorang gadis berdiri dari tempatnya, mengajukan diri untuk maju ke atas panggung. Dia memposisikan diri di sebelah Pak Petugas, lalu berujar, “Sepertinya kau belum tahu tentang sejarah gudang penyimpanan Fe-Mart itu, ya, pak?”
Si petugas mengernyitkan dahi, perasaannya mulai tak enak saat si gadis kembali melanjutkan,
“Dahulu, saat gedung SMA ini masih berfungsi sebagai gedung SMP, ada seorang gadis yang kerap dikunci di gudang belakang karena perundungan. Gadis itu diseret ke sana setiap kali dia tidak menurut. Maka itu, dia tidak bisa keluar sebelum satpam yang sedang berpatroli menemukannya.
“Dahulu, saat gedung SMA ini masih berfungsi sebagai gedung SMP, ada seorang gadis yang kerap dikunci di gudang belakang karena perundungan. Gadis itu diseret ke sana setiap kali dia tidak menurut. Maka itu, dia tidak bisa keluar sebelum satpam yang sedang berpatroli menemukannya.
“Suatu hari, kulihat dia memberi makan seekor anjing liar di area pembakaran sampah. Kurasa sejak itu dia mulai mengajaknya bermain dan bersikap baik padanya. Bahkan di saat dia dikunci di dalam gudang pun anjing itu selalu mencari cara untuk masuk, lalu meminta makanan dan tertidur di sebelahnya. Beberapa minggu kemudian, aku mendengar kabar dia telah pindah sekolah. Kupikir semuanya sudah berakhir bila dia pergi, namun ternyata para gadis (perundung) malah berbalik menyakiti anjing tak bersalah itu. Aku sering mendengar gonggongannya di beberapa waktu. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain melihatnya dari kejauhan, bagaimana anjing itu ditarik saat hendak membuka pintu gudang lalu dijatuhkan ke tanah sebelum kemudian dilempari dengan batu. Aku tahu itu karena aku menemukan rekaman videonya diunggah ke forum anonim. Sepertinya mereka menggunakan anjing itu sebagai alat untuk menemukan gadis itu.
“Perbuatan mereka semakin keterlaluan, jadi akhirnya aku pun memutuskan pergi untuk memeriksanya. Anjing itu telah mati. Tubuhnya dipenuhi belatung berukuran besar, dia pasti sudah mati dan dibiarkan di sana sejak dua hari lalu. Aku segera memanggil teman-temanku untuk membantu menguburnya. Kami menguburnya di tempat pembakaran sampah, tidak jauh dari gudang. Lalu tidak lama setelah itu, muncul rumor tentang kejadian horor di gudang belakang sekolah. Kadang-kadang terdengar bunyi pintu didobrak namun tak ditemukan siapa yang melakukannya. Aku percaya bahkan sampai sekarang, bahwa itu adalah roh anjing yang berusaha untuk masuk ke dalam gudang untuk menemukan gadis itu.”