NovelToon NovelToon
Arsitek Dosa

Arsitek Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Epik Petualangan / Drama
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di tengah, Ilyas Renvar, remaja laki-laki cerdas berusia 21 tahun, terlihat dengan ekspresi serius dan misterius, mengenakan pakaian gelap penuh lapisan dan armor ringan, tangannya memancarkan aura energi supranatural.
Di belakangnya, Seraphine Vaelor, wanita cantik dengan rambut pirang panjang, berdiri dengan sikap elegan namun dingin, menunjukkan kekuatan dan dominasi intelektualnya. Di langit kelam, samar-samar muncul wujud Arsitek—entitas tak kasatmata yang mempengaruhi dunia.
Di bagian bawah, seorang pria tua menunduk, seolah menunggu eksekusi, dikelilingi pasukan bersenjata, menegaskan sistem kekuasaan brutal di kota Varethra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumur di Bawah Altar 3 (akhir)

Mereka keluar dari Katedral Sanctum tidak melalui jendela sempit yang sama, tetapi melalui pintu rahasia di ruang bawah tanah yang membuka ke saluran pembuangan kuno. Ilyas memimpin, cahaya ungu di tangannya menjadi satu-satunya sumber penerangan di lorong-lorong gelap yang berbau tanah basah dan sesuatu yang lebih tua—bau yang mengingatkan pada sumur itu, pada Pengukir, pada kegelapan yang bernapas.

Seraphine berjalan tepat di belakangnya, gaun hitamnya yang panjang kini berlumuran lumpur, tetapi ia tidak mengeluh. Renaux dan Mira menjaga barisan belakang, mata mereka terus mengawasi bayang-bayang di belakang, telinga mereka mendengar setiap suara langkah yang mungkin berarti pengejaran. Eldrin Voss nyaris tersandung selusin kali, tetapi setiap kali ia jatuh, seseorang—kadang Ilyas, kadang Mira—menangkapnya sebelum tubuh tuanya menyentuh tanah.

Setelah hampir tiga puluh menit berjalan dalam kegelapan, mereka akhirnya muncul ke permukaan melalui lubang got di gang sempit antara dua gudang kosong di Distrik Tengah. Langit di atas masih merah tua, tetapi kini ada semburat jingga di ufuk timur—fajar akan segera tiba.

"Kita harus berpisah," kata Seraphine, terengah-engah. Tangannya berlumuran tanah, dan ada goresan tipis di pipi kirinya—kenangan dari saat ia hampir jatuh saat memanjat keluar dari saluran pembuangan. "Pasukan bayangan akan mencari di sekitar katedral. Mereka tidak tahu kita sudah sejauh ini. Tapi jika kita tetap bersama, kita terlalu mudah dilacak."

Ilyas mengangguk. Ia masih diam sejak meninggalkan ruang sumur itu. Bukan diam karena kelelahan—meskipun ia pasti lelah—tetapi diam karena pikirannya sedang berperang dengan dirinya sendiri. Seraphine bisa melihatnya di matanya, di cara ia menggenggam tangannya sendiri seolah-olah berusaha meyakinkan diri bahwa tangannya masih miliknya.

"Kau akan kembali ke rumah amanmu?" tanya Seraphine.

"Ya." Suara Ilyas serak. "Aku perlu... memikirkan banyak hal."

"Jangan terlalu lama memikirkannya." Seraphine melangkah mendekat, cukup dekat sehingga napasnya terasa hangat di pipi Ilyas. "Kita punya waktu, tapi tidak sebanyak yang kau kira. Jika Pengukir benar bahwa ia bisa bangun kapan saja—"

"Aku tahu." Ilyas memotongnya, tidak kasar, tetapi tegas. "Aku tahu."

Seraphine menatapnya untuk waktu yang lama. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia menepuk bahu Ilyas—sentuhan singkat yang terasa hangat meskipun telapak tangannya dingin—dan berbalik pergi, diikuti oleh Renaux.

Mira tetap berdiri di tempatnya, menatap Ilyas dengan ekspresi tidak terbaca. "Kau perlu pengawal?"

"Tidak."

"Aku akan tetap di sekitar Distrik Bawah. Jika kau membutuhkan bantuan—"

"Aku tahu cara menghubungimu."

Mira mengangguk. Ia melompat ke atap gudang terdekat dengan gerakan yang lincah dan menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan Ilyas dan Eldrin Voss sendirian di gang sempit itu.

Voss bersandar di dinding bata, dadanya naik turun dengan cepat. "Aku tidak tahu... bahwa kau akan menghadapinya secara langsung. Aku pikir kita hanya akan melihat sumurnya, mengambil sampel, lalu pergi."

"Aku juga berpikir begitu." Ilyas berjalan ke dinding di seberang Voss dan duduk bersandar, kakinya lurus ke depan, kepalanya menunduk. "Tapi begitu aku mendengar suaranya... aku tidak bisa pergi. Ada sesuatu yang menarikku. Sesuatu yang mengatakan bahwa jika aku pergi tanpa berbicara dengannya, aku akan menyesalinya seumur hidup."

"Dan sekarang? Setelah berbicara?"

Ilyas tidak menjawab untuk waktu yang lama. Angin pagi yang dingin bertiup di antara bangunan-bangunan, membawa serta bau roti dari toko roti di kejauhan—bau yang terlalu normal untuk malam seperti ini, terlalu manusiawi.

"Sekarang aku tidak tahu apa-apa," bisik Ilyas akhirnya. "Selama tujuh belas tahun, aku berpikir bahwa aku adalah korban. Bahwa kekuatan ini adalah kutukan yang diberikan kepadaku tanpa alasan. Bahwa Arsitek—Pengukir—adalah musuh yang harus dihancurkan. Tapi sekarang..." Ia mengangkat tangan kanannya, memandangi energi ungu yang berdenyut pelan di telapak tangannya. "Sekarang ia mengatakan bahwa aku adalah ciptaannya. Bahwa aku ada karena ia menginginkannya. Bahwa setiap langkah yang aku ambil dalam tujuh belas tahun terakhir adalah bagian dari cetak biru yang ia tulis."

"Kau percaya padanya?"

"Aku tidak ingin percaya. Tapi bagian dari diriku..." Ilyas mengepalkan tangannya, dan energi ungu itu padam. "Bagian dari diriku bertanya-tanya, bagaimana jika ia benar? Bagaimana jika aku memang tidak pernah bebas? Bagaimana jika semua yang aku lakukan—berjuang, bertahan, melawan—hanyalah ilusi yang ia ciptakan untuk membuatku merasa bahwa aku memiliki kendali?"

Voss berjalan mendekat dan duduk di samping Ilyas. Bahu mereka hampir bersentuhan. Untuk sesaat, arsitek tua itu tidak mengatakan apa pun—hanya duduk di sana, menemani, menawarkan kehadiran bukan kata-kata.

"Aku juga berpikir seperti itu dulu," kata Voss akhirnya. "Setelah Menara Selatan runtuh, setelah mereka membawa Mathea, aku berpikir bahwa tidak ada yang bisa kulakukan. Bahwa aku hanya boneka. Bahwa aku tidak punya pilihan selain menuruti perintah mereka, membangun menara demi menara, mencampur debu demi debu ke dalam fondasi."

Ia menarik napas panjang.

"Tapi kemudian aku bertemu denganmu. Dan aku menyadari sesuatu."

"Apa?"

"Bahwa pilihan tidak selalu tentang apa yang bisa kau lakukan. Kadang-kadang, pilihan adalah tentang apa yang tidak kau lakukan." Voss menoleh menatap Ilyas, matanya—meskipun tua dan lelah—bersinar dengan sesuatu yang mirip dengan tekad. "Selama tujuh belas tahun, aku tidak melarikan diri. Aku tidak mencoba mencari Mathea. Aku tidak bergabung dengan kelompok pemberontak. Aku hanya... bertahan. Setiap hari, aku bangun, aku pergi ke lokasi konstruksi, aku mencampur debu, dan aku pulang ke rumah kosongku. Aku pikir itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa. Tapi kau membuktikan bahwa aku salah."

"Aku?"

"Kau datang ke alun-alun eksekusi. Kau menyelamatkanku. Kau membawaku ke rumah amanmu. Kau membiarkanku melihat peta-peta itu, merencanakan bersama, berharap bersama." Voss tersenyum—senyum pertama yang tulus sejak ia berlutut di atas batu basah menunggu kematian. "Kau memberiku pilihan, Ilyas. Pilihan untuk tidak hanya bertahan, tetapi untuk hidup. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa diambil oleh Pengukir dariku, tidak peduli seberapa besar cetak biru yang ia tulis."

Ilyas menatap Voss untuk waktu yang lama.

Kemudian, perlahan, ia tersenyum kembali—senyum kecil, rapuh, tetapi nyata.

"Kau lebih bijak dari yang kau kira, Arsitek Tua."

"Usia," jawab Voss, "kadang-kadang berguna untuk sesuatu."

Mereka berdua tertawa—tawa pelan, lelah, tetapi tawa yang keluar dari dada mereka seperti air dari sumur yang lama kering. Di kejauhan, lonceng gereja berbunyi, menandakan fajar yang akan segera tiba.

Ketika mereka kembali ke rumah aman di Distrik Bawah, Ilyas menemukan sebuah amplop kecil terselip di celah pintu.

Amplop itu terbuat dari kertas tebal berwarna krem, dengan segel lilin merah di bagian belakang—segel bergambar lingkaran dengan tiga garis vertikal di dalamnya. Simbol yang sama yang ia lihat di dada baju zirah pasukan bayangan di Katedral Sanctum.

Ilyas membuka amplop itu dengan hati-hati, jari-jarinya bergetar sedikit. Di dalamnya, ada selembar kertas dengan tulisan satu kalimat, ditulis dengan tinta hitam pekat:

"Kau telah memilih untuk melawan. Itu adalah bagian dari cetak biru juga."

Tidak ada tanda tangan. Tidak ada nama.

Tapi Ilyas tahu dari mana surat itu berasal.

Ia meremas kertas itu di tangannya, dan energi ungu di telapak tangannya menyala dengan sendirinya, membakar surat itu menjadi abu dalam hitungan detik. Abu itu jatuh ke lantai, berhamburan ditiup angin dari celah di bawah pintu, dan menghilang ke dalam kegelapan.

"Apa itu?" tanya Voss dari belakang, suaranya hati-hati.

"Pengingat," jawab Ilyas, suaranya datar kembali—topeng yang ia kenakan selama bertahun-tahun kini kembali ke tempatnya. "Pengingat bahwa permainan ini belum selesai."

Ia berjalan ke jendela bundar dan menatap langit Varethra yang mulai berubah warna—dari merah tua menjadi jingga pucat, tanda bahwa matahari akan segera terbit di balik kabut dan polusi.

"Tapi kali ini," lanjut Ilyas, "aku tidak akan bermain sesuai aturannya. Aku akan membuat aturan baru. Aturanku sendiri."

Di kejauhan, Menara Keadilan masih berdiri—masih kokoh, masih megah, masih membohongi semua orang yang melihatnya. Tapi Ilyas tahu bahwa di bawah fondasinya, di bawah batu dan debu yang bernapas, ada sesuatu yang sedang bergerak. Sesuatu yang telah tidur terlalu lama dan kini mulai terbangun.

Dua hari lagi, menurut hitungannya, menara itu akan runtuh.

Dan ketika itu terjadi, semua orang di Varethra akan tahu bahwa dunia yang mereka kenal hanyalah ilusi.

Ilyas berbalik dari jendela.

"Tidurlah, Eldrin," katanya. "Besok kita punya banyak pekerjaan. Dan aku punya firasat bahwa mulai sekarang, segalanya akan bergerak lebih cepat."

Voss mengangguk, meskipun ia tahu ia tidak akan bisa tidur. Pikirannya terlalu sibuk—tentang putrinya, tentang sumur itu, tentang Pengukir yang entah di mana sedang menyusun cetak biru berikutnya.

Ilyas duduk di kursi kayunya, menutup mata, dan untuk sesaat, ruangan itu sunyi.

Namun di dalam kepalanya, suara Pengukir masih bergema—bisikan yang tidak bisa ia hentikan, yang terus berulang seperti mantra:

"Kau adalah ciptaanku. Kau adalah karya terbaikku. Kau tidak bisa melawanku, karena melawanku berarti melawan dirimu sendiri."

Ilyas menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah.

Mungkin Pengukir benar.

Mungkin ia memang tidak bisa melawan.

Tapi ia tidak akan menyerah.

Tidak sekarang.

Tidak pernah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!