NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

​Aroma sabun beraroma mentol yang segar menguar dari tubuh Fahri yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang sedikit basah disisir rapi ke belakang, dan kali ini ia sudah berganti pakaian menggunakan kemeja flanel kotak-kotak yang dipadukan dengan celana jin hitam. Peci hitamnya kembali terpasang rapi di kepala, tegak tanpa miring sedikit pun.

​"Nah, kalau suaminya udah wangi dan tampan begini, kan enak dipandang. Buruan gih mandi, giliran kamu, Teteh Jakarta," ujar Fahri sambil menepuk ransel Zara yang tergeletak di atas sofa.

​Zara yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menggulir layar ponselnya langsung mendongak. Ia mencibir pelan, meski dalam hati mengakui kalau penampilan Fahri pagi ini jauh lebih rapi dibanding biasanya. "Iya, iya, ini juga mau mandi. Gak usah bawel."

​Sambil menunggu Zara bersiap-siap, Fahri berjalan menuju meja telepon kamar. Ia menekan tombol layanan kamar (room service) untuk memesan menu sarapan.

​Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu kamar diketuk. Zara yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk keluar dari kamar mandi, sudah berganti pakaian rapi dengan tunik biru muda dan kerudung senada. Matanya langsung tertuju pada petugas hotel yang sedang mendorong troli makanan masuk ke dalam kamar.

​Begitu petugas itu pergi setelah mengucapkan selamat menikmati, Zara melangkah mendekati meja makan. Ia mengernyitkan dahi begitu melihat dua mangkuk besar berisi hidangan berwarna putih kental yang dihiasi taburan ayam suwir, seledri, cakwe, dan kerupuk kuning.

​"Fahri... kamu pesan apa ini?" tanya Zara, wajahnya menunjukkan ekspresi bingung yang kentara.

​"Lah? Kelihatan bentukannya kayak apa? Ya bubur ayam-lah, Teteh Jakarta," sahut Fahri santai, langsung menarik kursi dan duduk dengan tidak sabar. Ia meraih botol kecap dan sambal yang disediakan di atas troli.

​"Hah? Pagi-pagi sarapan di hotel bintang lima, menunya bubur ayam?!" Zara melongo, menatap mangkuk tersebut seolah-olah hidangan itu adalah benda asing dari planet lain.

 "Ya ampun, Fahri! Di hotel semewah ini kan pilihannya banyak banget! Ada American breakfast, sosis, omelet, roti bakar, atau minimal nasi goreng kek! Kok kamu malah mesen bubur sih?"

​"Heh, Teteh Jakarta... denger ya," Fahri mengangkat sendoknya, menunjuk Zara dengan gaya menasihati. "Saya ini lidahnya lidah Tasikmalaya tulen. Di Tasik mah, sarapan pagi itu ya hukumnya wajib bubur ayam. Mau di emperan jalan, mau di pesantren, sampai di hotel bintang lima pun, kalau ada menu bubur, ya saya sikat. Itu namanya konsisten!"

​Zara mendengus kecil, lalu duduk di kursi seberang Fahri dengan ragu. Ia menatap mangkuk buburnya dengan enggan.

 "Tapi kan aneh tahu, Fahri... lagian, bubur itu kan makanan buat orang sakit! Kenapa kita yang sehat walafiat begini malah makan makanan orang opname?"

​"Astagfirullah! Syirik dari mana itu? Bubur makanan orang sakit katanya?" Fahri menepuk jidatnya, pura-pura syok menatap langit-langit kamar.

"Zar, ini namanya bubur ayam premium, bukan bubur rumah sakit yang hambar gak ada rasa itu! Di Tasik, bubur itu melambangkan kebersamaan, kehangatan pagi, dan energi buat menghadapi kenyataan hidup."

​"Duh, filosofi kamu maksa banget tahu gak!" Zara memutar bola matanya malas. "Tetap aja aneh bagi aku. Dari kecil kalau aku gak lagi demam atau flu, gak bakal menyentuh yang namanya bubur."

​"Ah, kamunya aja yang kurang piknik kuliner. Sini, saya ajarin sekalian cara makan bubur yang beradab dan beretika," Fahri menarik mangkuk Zara mendekat ke arahnya. Dengan cekatan, ia menuangkan sedikit kecap asin, kecap manis, kaldu kuning, lalu menaburkan kerupuk di atasnya sampai penuh.

"Nih, ini aliran bubur diaduk. Cobain satu sendok aja. Kalau gak enak, boleh coret nama saya dari buku nikah semalam."

​"Serius? Sampai bawa-bawa buku nikah segala?" Zara menaikkan sebelah alisnya, merasa tertantang. Ia mengambil sendok, menyendok sedikit bubur yang sudah diracik Fahri dengan ragu-ragu, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

​Zara terdiam sejenak. Matanya berkedip beberapa kali saat merasakan gurihnya kaldu, kelembutan tekstur bubur, dan perpaduan bumbu yang pas di lidahnya. Jauh berbeda dari bayangan bubur hambar rumah sakit yang ada di otaknya selama ini.

​"Gimana? Enak, kan?" pancing Fahri sambil menahan tawa, memperhatikan perubahan ekspresi di wajah istrinya. "Muka kamu gak bisa bohong gitu, Zar."

​"Mmm... ya, lumayan sih. Sedikit lebih enak dari dugaan aku," aku Zara gengsi, wajahnya merona tipis karena tertangkap basah menikmati makanan yang tadi didebatnya.

​"Hahaha! Tuh kan, lidah kota kalau udah kena racikan santri Tasik mah langsung takluk!" ledek Fahri puas, langsung menyendok buburnya sendiri dengan lahap.

"Udah, buruan dihabisin buburnya. Biar stamina kamu kuat. Habis ini kita langsung meluncur ke rumah sakit tempat Ibu kamu dirawat."

​Mendengar kata 'rumah sakit', gerakan sendok Zara mendadak terhenti. Gurat kecemasan yang sempat hilang berkat debat bubur tadi kembali membayangi wajahnya.

​Melihat perubahan atmosfer itu, Fahri meletakkan sendoknya. Ia menatap Zara dengan pandangan hangat dan menenangkan.

 "Zar, tenang aja. Ingat yang saya bilang di mobil semalam? Apapun drama yang bakal dimainin sama Pak Rahmad atau Reza di sana, kamu gak usah pusing. Cukup berdiri di belakang saya. Paham?"

​Zara menatap mata hitam Fahri, lalu perlahan mengangguk. "Iya, Fahri. Paham."

​"Nah, gitu dong. Ya udah, lanjut makan lagi. Buburnya keburu dingin, nanti rasanya berubah jadi sedih," ucap Fahri kembali ke mode jenakanya, membuat Zara tak bisa menahan senyum tipisnya.

Di atas lantai dua puluh hotel mewah itu, sarapan bubur sederhana rasa Tasikmalaya menjadi bahan bakar terakhir mereka sebelum melangkah masuk ke dalam jebakan yang sudah disiapkan di Jakarta Pusat.

​Sendok di tangan Zara berdenting pelan, berbenturan dengan dasar mangkuk porselen yang kini tinggal tersisa setengah. Pandangannya kosong, menatap butiran kerupuk yang mulai layu terendam kuah kaldu. Jemarinya mendadak dingin, dan perasaan mual yang bukan karena makanan tiba-tiba mengocok perutnya.

​"Fahri..." panggil Zara lirih. Suaranya terdengar begitu tipis, hampir tenggelam oleh deru halus pendingin ruangan kamar hotel.

​Fahri yang baru saja meneguk air putihnya langsung menaruh gelas ke meja. Mata tajamnya menangkap perubahan drastis dari gurat wajah Zara. "Hmm? Kenapa, Zar? Buburnya beneran bikin mual? Wah, berarti lidah kamu beneran menolak produk lokal ya?"

​"Bukan... bukan soal buburnya," Zara menggeleng pelan. Ia meremas ujung jilbab biru mudanya dengan sangat erat. "Aku... aku mendadak takut, Fahri."

​"Takut? Takut kenapa?"

​"Aku takut ke rumah sakit," bisik Zara, matanya mulai berkaca-kaca menatap Fahri. "Bagaimana kalau nanti sampai di sana... Ayah langsung bentak-bentak aku lagi? Bagaimana kalau Ayah beneran bakal menyeret aku paksa buat nikah sama Reza hari itu juga? Kamu tahu sendiri kan, Ayah kalau udah marah kayak gimana? Nada suaranya, tatapan matanya... aku... aku rasanya gak sanggup kalau harus ngadepin itu lagi, Fahri. Trauma malam pengusiran itu rasanya muncul lagi sekarang."

​Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos, membasahi pipi Zara. Tubuhnya sedikit bergetar membayangkan konfrontasi dengan Pak Rahmad.

​Fahri terdiam sejenak. Alih-alih memasang wajah ikut panik atau ikut tegang, cowok berpeci hitam itu malah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi rotan. Ia melipat tangan di dada, lalu mengembuskan napas panjang dengan gaya yang sengaja dibuat dramatis.

​"Oh... jadi Teh Jakarta yang biasanya galak dan hobi menyemprot saya ini, sekarang lagi ciut nyalinya?" ledek Fahri dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, memancing emosi Zara.

​"Fahri! Aku lagi serius, ih! Malah diledek!" semprot Zara kesal, menghapus air matanya dengan kasar menggunakan tisu. "Kamu gak tahu rasanya jadi aku!"

​"Lah, ya bagus kalau kamu kesal. Berarti nyawanya udah balik lagi sebagian," sahut Fahri santai, seulas senyum usil kembali bertengger di wajahnya. Ia memajukan badannya, menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja, menatap Zara lekat-lekat. "Gini aja deh, Zar. Kalau kamu beneran ketakutan setengah mati sampai dengkulnya mau lepas begitu... gimana kalau kita putar balik aja sekarang?"

​"Hah? Putar balik?" Zara mengernyitkan dahi, bingung. "Maksud kamu?"

​"Iya, kita turun ke lobi, panggil lagi sopir travel yang semalam, terus kita balik kanan pulang ke Tasikmalaya. Kita ngumpet lagi di pesantren Abah. Aman, toh? Gak usah ketemu Pak Rahmad, gak usah lihat mukanya Mas Batik yang bikin sepet mata itu. Gimana? Setuju?"

​"Tapi... tapi Ibu gimana? Ibu kan lagi kritis, Fahri!" Zara makin bingung dengan jalan pikiran suaminya ini. "Masa aku tega ninggalin Ibu yang lagi sakit di Jakarta?"

​"Nah! Itu kamu tahu!" Fahri menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Zara. "Katanya takut sama Ayah, tapi giliran diajak kabur, kamunya mikirin Ibu. Berarti, rasa sayang kamu ke Ibu itu jauh lebih gede daripada rasa takut kamu ke Ayah, kan?"

​Zara tertegun. Kalimat Fahri barusan telak mengunci argumennya. Ia terdiam, mencerna kata-kata santri di depannya itu.

​"Lagian ya, Zar..." Fahri kembali bersandar, senyum usilnya berubah jadi kedipan mata yang super jahil. "Kalau kita beneran putar balik ke Tasik sekarang juga... ada satu syaratnya."

​"Syarat apa lagi?" Zara menatap curiga.

​"Ya... pernikahan kita yang semalam tetap diteruskan, ya? Gak boleh dibatalkan. Kan lumayan, modal nikah gratis di hadapan Abah, saya udah bisa bawa pulang istri cantik asal Jakarta ke rumah panggung saya di kampung. Nanti tiap pagi kamu yang bagian jemur rengginang, saya yang bagian nyari rumput buat domba. Romantis, kan?"

​"Duh! Fahri bener-bener ya!!! Sempat-sempatnya mikirin rengginang sama domba!" Zara spontan mengambil sendok bersih yang menganggur di atas meja dan mengarahkannya ke Fahri seolah-olah itu adalah senjata tajam. Tapi sedetik kemudian, tawa Zara pecah di sela sisa tangisnya. "Siapa juga yang mau diajak jemur rengginang!"

​"Hahaha! Nah, gitu dong, senyum! Kalau ketawa kan kelihatan tuh manisnya, aura pengantin barunya keluar," goda Fahri puas, matanya berbinar senang karena misi menghibur istrinya sukses total.

​Perlahan, Fahri mengubah raut wajahnya menjadi lebih teduh. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, berniat menyentuh tangan Zara, namun ia mengurungkan niatnya karena tahu Zara masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan kedekatan fisik mereka. Sebagai gantinya, ia mengetuk meja pelan, menarik perhatian Zara sepenuhnya.

​"Zara... dengerin saya," ucap Fahri, suaranya kini terdengar sangat mantap dan penuh wibawa seorang suami. "Ketakutan kamu itu wajar. Trauma kamu itu nyata, dan saya gak bakal menyepelekan itu. Tapi ingat, status kamu hari ini udah beda sama status kamu malam saat kamu diusir dulu."

​Zara menatap mata hitam Fahri yang memancarkan keyakinan kuat.

​"Malam itu, kamu sendirian. Gak ada yang belain kamu. Tapi hari ini, di detik ini, kamu datang ke Jakarta bareng saya. Di dalam dompet saya, ada buku nikah sah yang menyatakan kalau kamu itu hak dan tanggung jawab saya. Kalau Ayah kamu berani bentak kamu lagi, dia harus berhadapan sama saya dulu sebagai menantunya. Kalau Reza berani macam-macam, saya yang bakal urus dia pakai cara saya," Fahri tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh tekad pelindung. "Jadi, gak usah takut. Kita hadapi badai ini bareng-bareng. Oke, Istriku?"

​Kata 'istriku' yang keluar dari mulut Fahri mendadak membuat pasokan oksigen di sekitar Zara terasa menipis. Jantungnya berdebar, bukan karena takut lagi, melainkan karena rasa haru dan getaran aneh yang makin kuat menjalar di dadanya.

​Zara menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu mengangguk mantap dengan mata yang kini memancarkan keberanian baru. "Oke, Suamiku... eh, maksudnya Fahri! Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"

​"Hahaha! Tadi mau manggil apa? Suamiku? Duh, telinga saya langsung geli-geli basah gimana gitu," goda Fahri sambil berdiri dari kursinya, mengambil kunci kamar dan memakai jaket flanelnya kembali.

​"Ih, salah dengar! Aku gak ngomong gitu!" elak Zara dengan wajah yang sudah sewarna buah tomat merah, buru-buru menyambar tas kecilnya dan melangkah cepat menuju pintu kamar untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

​Permainan mental Fahri sekali lagi berhasil menaklukkan ketakutan Zara. Kini, dengan langkah tegap, sang pengantin baru siap meluncur ke rumah sakit pusat di Jakarta Pusat untuk membongkar drama apa pun yang sudah disiapkan oleh Pak Rahmad dan Reza.

1
partini
love aja yah ,my love gitu
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!