NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Sisa Waktu Dalam Sunyi

​Suasana di dalam kamar yang luas itu terasa begitu sunyi, hampir mati. Hanya ada suara detak jarum jam dinding yang terdengar jelas, berdentum ritmis seolah sedang menghitung mundur waktu yang tersisa bagi pemilik kamar itu.

Kamar yang dahulu menjadi saksi bisu ambisi dan tawa masa mudanya, kini berubah pengap oleh aroma antiseptik dan keheningan yang mencekam. Cahaya matahari yang menerobos masuk dari sela-sela gorden terasa asing, tidak lagi membawa kehangatan, melainkan hanya menegaskan betapa terisolasinya ia dari dunia luar.

​Alden terbaring lemah di atas tempat tidur besarnya. Tubuhnya yang dulu kekar dan tegap kini tampak menyusut di balik selimut tebal. Kulitnya kusam, pucat, nyaris seputih kain seprai yang membungkusnya, dengan lingkaran hitam pekat di bawah mata, tanda kelelahan yang tidak lagi bisa disembunyikan.

​Ia sudah melakukan rangkaian pemeriksaan ulang di rumah sakit sesuai yang diminta Dokter Handoko.

Beberapa kali ia mesti bolak-balik hanya untuk menjalani prosedur medis tersebut. Dan itu sangat melelahkan.

Hasilnya dipastikan sama persis. Vonis mengerikan yang pernah ia terima dari rumah sakit di Perth beberapa bulan lalu memang benar adanya, mutlak, dan tidak bergeser satu milimeter pun. Sel-sel jahat itu telah menyebar, dan ia harus segera menjalani kemoterapi jika ingin bertahan sedikit lebih lama.

​Kanker hati stadium lanjut, dengan perkiraan sisa waktu hidup kurang dari setahun.

​Dua kali ia mendapatkan hasil yang sama, saat di Perth dan kini di Jakarta. Namun tetap saja, ketika lembar laporan laboratorium itu berada di depannya, rasanya tetap menghantam batinnya tanpa ampun. Berita Itu menghancurkan seluruh sisa harapan, membakar mimpi-mimpi masa depan yang belum sempat ia wujudkan.

Hari ini ia terbaring lemah, tak berdaya. Seluruh badan rasanya benar-benar remuk, seolah tulang-tulangnya dipatahkan satu per satu dari dalam. Bahkan tadi malam ia sempat terserang demam tinggi yang membuatnya menggigil di balik selimut tebal, terjebak di antara ilusi dan kenyataan.

​Alden mencoba memutar tubuhnya perlahan, namun rasa sakit yang tajam segera menyambar dari perut kanan hingga menjalar ke punggung, membuatnya meringis dan mengerang tertahan seraya memejamkan mata rapat-rapat.

Keringat dingin seketika membasahi seluruh pelipis dan lehernya. Ia merasa tenaganya seperti terkuras sedikit demi sedikit, tanpa mampu ia hentikan.

​Tubuh yang dulu begitu patuh, begitu mudah diajak bergerak aktif, berolahraga, dan menerjang badai, kini terasa sangat asing baginya sendiri.

Kehilangan kendali atas fisik adalah jenis hukuman yang paling menjatuhkan mentalnya.

Bahkan untuk sekadar membalikkan badan di atas ranjang, ia harus mengumpulkan niat dan sisa tenaga terlebih dahulu selama beberapa menit.

Otot-ototnya terasa lemah, persendiannya pegal dan berat, seolah seluruh tubuhnya sedang memikul beban ribuan ton yang tidak terlihat.

​Dengan susah payah, Alden mencoba duduk. Namun baru saja punggungnya terangkat dari kasur, kepalanya langsung terasa melayang. Pandangannya berkunang-kunang.

Ia terpaksa berhenti dan bersandar pada kepala ranjang sambil mengatur napas yang terasa lebih pendek dari biasanya.

​Rasa lelah itu tidak pernah benar-benar pergi. Tidur berjam-jam tidak membantu. Bangun tidur pun tidak membuat tubuhnya terasa segar.

Sebaliknya, ia justru merasa seperti belum beristirahat sama sekali. Kelopak matanya selalu terasa berat, tubuhnya selalu meminta untuk kembali berbaring.

​Alden menunduk pelan.

"Jadi begini rasanya tubuh mulai menyerah..." gumamnya lirih.

​Pandangannya perlahan jatuh pada kedua tangannya sendiri yang terletak di atas paha.

Kulitnya memang kusam dan badannya sudah jauh lebih kurus, tetapi setidaknya tulang-tulang di tangannya masih belum menyusut drastis, masih menyisakan sisa-sisa wujud Alden yang dahulu.

Pemandangan itu tetap saja membuat dadanya terasa sesak dan sesak. Kini ia benar-benar bisa melihat secara visual bagaimana penyakit sialan itu perlahan-lahan mulai mengambil alih kendali atas tubuhnya.

Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Memakan dirinya dari dalam tanpa permisi.

​Jadwal pemeriksaan rumah sakit yang padat dan kondisi fisik yang kerap drop secara mendadak ini benar-benar menjadi kendala besar yang membentang di depannya.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki kembali di tanah air, Alden sama sekali belum sempat melangkah untuk menemui Anjani.

Padahal, ia tahu persis jarak rumah lama mereka tidak terlalu jauh, hanya beberapa ratus meter saja jika memotong lewat jalan komplek.

​Kedatangannya ke Indonesia ini pun belum diketahui oleh banyak orang, termasuk teman-teman lamanya. Ia memang sengaja menutup diri. Ia tidak ingin suasana yang ramai, tidak butuh rombongan penjenguk yang datang membawa tatapan kasihan. Ia hanya menginginkan suasana yang tenang, tempat di mana ia bisa berdamai dengan takdirnya sendiri.

​Namun, realita fisik memaksanya untuk tertahan di atas ranjang ini.

Rangkaian pemeriksaan medis yang menguras energi membuatnya tidak memiliki pilihan selain menjalani istirahat total, membiarkan tubuhnya yang ringkih memulihkan sisa-sisa tenaga yang ada sebelum ia diizinkan melakukan aktivitas lain oleh Dokter Handoko.

​Padahal, di tengah tubuh yang semakin lama semakin rapuh, dan di tengah rasa lelah yang seolah tak kunjung menemukan ujungnya, ada satu nama yang terus muncul di permukaan kesadarannya tanpa bisa ia usir.

Nama yang memiliki kekuatan magis, yang selalu berhasil menembus barikade rasa sakit fisik yang sedang ia rasakan.

​Anjani Lestari.

​Nama itu berputar berulang kali di dalam kepalanya, layaknya kaset tua yang rusak.

Hadir begitu saja tanpa diundang, seolah menolak dengan keras untuk dilupakan, bahkan di saat-saat paling kritis dalam hidupnya.

Alden mengerutkan keningnya yang lemas, bertanya-tanya pada dirinya sendiri dalam sebuah dialog batin yang membingungkan.

​Kenapa harus dia?

​Kenapa harus wajah Anjani yang terus muncul di saat-saat seperti ini? Di saat maut mulai mengintai di sudut kamar?

Kenapa bukan wajah Papanya? Bukan Ibu tirinya?

Atau wajah teman-teman tongkrongannya yang selama ini selalu ada, tertawa bersama, dan mengisi hari-harinya di masa lalu?

​Kenapa justru Anjani?

Gadis yang dulu paling sering ia sakiti dengan lisan dan sikapnya.

Gadis yang berkali-kali menerima luapan emosi buruk, sinisme, dan ego remajanya yang meledak-ledak.

Gadis yang akhirnya ia dorong menjauh dengan kedua tangannya sendiri hingga benar-benar hilang dari jangkauan.

​Semakin keras Alden mencoba mencari jawaban logis atas pertanyaan itu, semakin kuat pula perasaan asing itu tumbuh di dalam dadanya.

Rindu yang selama sembilan tahun ini ia kubur rapat-rapat di bawah lapisan kesombongan masa muda, perlahan-lahan merayap naik ke permukaan.

Kerinduan itu tidak lagi bisa diabaikan, tidak lagi bisa disangkal dengan argumen apa pun.

Ego Alden telah luruh bersama menyusutnya berat badannya. Kini, yang ia miliki saat ini hanyalah ingatan samar, potongan-potongan fragmen masa lalu yang tersimpan di kepalanya.

​Namun anehnya, di tengah tubuh yang terasa semakin rapuh, di tengah rasa sakit yang menusuk dan ketidakpastian ajal yang terus menghantuinya, ingatan tentang sosok Anjani justru menjadi satu-satunya hal yang terasa menenangkan.

Seolah-olah, di antara semua hal materi dan kebanggaan duniawi yang perlahan hilang dan tidak lagi berguna dari hidupnya, hanya kenangan tentang gadis itulah yang masih bertahan dengan warna yang jelas dan utuh.

​Alden mengembuskan napas pelan, menyandarkan kepalanya yang terasa berat ke dinding ranjang, lalu menatap kosong ke langit-langit kamar yang putih bersih.

Ada sebuah ketenangan yang perlahan mengalir di dadanya setiap kali ia membayangkan senyum menyipit gadis itu.

Ketenangan yang aneh, yang tidak mampu diberikan oleh dosis obat penahan rasa sakit tertinggi, tidak mampu diberikan oleh fasilitas rumah sakit terbaik, ataupun kata-kata penghiburan klise dari siapa pun.

​Untuk beberapa saat yang berharga, rasa sakit yang menggerogoti organ hatinya seolah menjauh, mereda dengan sendirinya.

Yang tersisa di kamar sunyi itu hanya kerinduan yang murni, dan satu keinginan sederhana yang semakin hari justru semakin kuat bergejolak di dalam dadanya yang kempis.

​Ia sangat ingin bertemu Anjani. Ia harus menemuinya. Bukan untuk mengemis cinta atau meminta gadis itu datang kembali dalam kehidupannya tanpa ada pertengkaran dan permusuhan masa lalu, melainkan untuk meminta maaf atas segala kesalahannya dulu, serta menjelaskan alasan bodoh kenapa ia tega melakukannya.

Ia harus memulihkan tenaganya secepat mungkin selama masa istirahat total yang menyiksa ini.

Ia harus memaksa tubuhnya patuh. Ia ingin bertemu bukan nanti ketika kondisinya membaik, melainkan sesegera mungkin setelah kakinya bisa diajak berjalan kembali. Sebelum waktu yang dimilikinya benar-benar habis dijemput takdir.

Namun keinginan itu tidak bisa lagi dijalankan hanya dengan mengandalkan keras kepalanya seperti dulu.

Sejak kepulangannya dari rumah sakit, seorang perawat pribadi mulai datang setiap hari untuk mendampinginya. Keputusan itu diambil langsung oleh Pak Armanto dan Ranti setelah mereka mendengar sendiri kondisi Alden saat berada di ruang praktik Dokter Handoko.

Selama ini Alden selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Bahkan ketika ditanya soal rasa sakit yang dialaminya, ia cenderung menjawab seolah semuanya masih bisa ditoleransi.

Namun hari itu, di hadapan dokter, ia akhirnya berkata jujur.

Nyeri itu tidak pernah benar-benar hilang.

Kadang hanya berupa rasa tidak nyaman yang samar di perut kanan, tetapi beberapa saat kemudian bisa berubah menjadi tusukan tajam yang menjalar hingga ke punggung dan pinggang.

Datang dan pergi.

Mereda sesaat, lalu kembali lagi dengan intensitas yang berbeda.

"Hampir terus ada, Dok. Cuma tingkat sakitnya yang berubah-ubah," jawab Alden saat ditanya seberapa sering nyeri itu muncul.

Kalimat sederhana itu membuat kedua orang tuanya terdiam.

Sejak saat itu mereka tidak lagi ingin mengambil risiko.

Perawat pribadi ditugaskan untuk memantau kondisinya setiap hari, memeriksa tanda-tanda vital, memastikan jadwal obat tidak terlambat, serta membantu memberikan obat pereda nyeri sesuai anjuran dokter ketika rasa sakit mulai meningkat.

Alden sebenarnya tidak terlalu menyukai semua perhatian itu. Ia merasa seperti sedang diawasi sepanjang waktu.

Namun ia juga tahu, semua itu dilakukan karena Pak Armanto dan Ranti tidak ingin dirinya menanggung rasa sakit sendirian.

Dan meski obat-obatan itu tidak mampu menghilangkan nyeri sepenuhnya, setidaknya gelombang rasa sakit yang datang silih berganti kini sedikit lebih mudah dikendalikan.

Cukup untuk membuatnya bisa bernapas lebih lega.

Cukup untuk memberinya sedikit tenaga melewati hari-harinya secara normal.

Dan saat ini, tenaga serta waktu adalah dua hal yang ingin ia pertahankan selama mungkin.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!