NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Maut di Ruang Kerja

Angin malam berdesir kasar menyusup melalui celah jendela ruang kerja Baron Kaelos yang hanya diterangi cahaya remang. Suara hembusan angin itu terdengar menyerupai rintihan arwah penasaran yang menuntut keadilan dari alam baka.

Di sudut ruangan berlapis karpet merah mahal itu, sang penguasa benteng merosot lemas dengan kedua lutut gemetar. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes deras dari dahi Baron Kaelos yang kini sepucat kapas.

Ujung pedang dingin milik pemimpin pembunuh bermata satu itu menekan kuat pada lipatan lemak di lehernya yang kotor. Sebuah goresan tipis telah terbuka, meneteskan darah hangat yang perlahan menodai kerah sutra mewah miliknya.

"Kau terlalu rakus untuk ukuran seekor babi perbatasan, Baron Tua," ejek pria bermata satu itu dengan suara serak yang memuakkan. Ia menekan ujung pedangnya sedikit lebih dalam, menikmati rintihan ketakutan yang tertahan dari tenggorokan korbannya.

Sembilan pembunuh bayaran lainnya tertawa pelan, suara mereka menggema penuh nuansa penghinaan di dalam ruangan tertutup itu. Mereka menatap Kaelos bukan sebagai seorang bangsawan terhormat, melainkan layaknya segumpal daging rongsokan yang sama sekali tak berharga.

Kaelos tersedu-sedu merana, air matanya mengalir membasahi pipinya yang gemuk dan kotor oleh debu lantai batu. Keputusasaan absolut telah mencabik-cabik seluruh sisa arogansi yang selalu ia banggakan dengan angkuh selama puluhan tahun.

Ia mengutuk keserakahannya sendiri yang telah menyeretnya buta ke dalam pusaran konflik mematikan keluarga agung Draken. Ilusi indah tentang kepingan emas dan kekayaan tanpa batas kini runtuh seketika, berganti dengan bayangan liang lahat yang gelap gulita.

"Tolong, kumohon dengan sangat, aku tidak akan mengatakan sepatah kata pun pada siapa pun!" rengek Kaelos dengan suara yang terdengar pecah. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon setetes belas kasihan pada algojo tak berhati yang berdiri di depannya.

Pria bermata satu itu meludah ke atas karpet merah, ekspresi wajahnya dipenuhi rasa jijik yang sangat luar biasa. "Tuan Muda Aldrich tidak pernah mengambil risiko sekecil apa pun dengan membiarkan sampah kotor seperti kalian tetap bernapas lega."

Valerius menyaksikan seluruh drama menyedihkan itu dari balik celah pintu kayu jati ganda dengan senyuman yang sangat tipis. Ia bisa melihat dengan jelas aura hijau keserakahan sang Baron kini sepenuhnya tertelan oleh keputusasaan hitam yang pekat.

Mental pria tambun itu telah hancur berkeping-keping hingga menyentuh titik paling dasar dari harga diri seorang manusia. Ini adalah momen psikologis yang paling sempurna baginya untuk turun tangan dan mengklaim kendali penuh atas jiwa rapuh tersebut.

Valerius menendang pintu kayu jati ganda itu dengan tenaga luar biasa hingga engsel besi penahannya terlepas paksa. Daun pintu yang berat itu terlempar ke dalam ruangan, menghantam jatuh dua orang pembunuh bayaran yang berdiri tak jauh darinya.

Suara dentuman keras memekakkan telinga seketika menghentikan tawa merendahkan dari para pembunuh bayaran di dalam ruangan tersebut. Debu dan serpihan kayu berterbangan liar di udara, menciptakan tirai kabut sementara yang menutupi kemunculan sosok di ambang pintu.

Kesepuluh pasang mata di ruangan itu sontak menoleh tajam dengan ekspresi penuh kewaspadaan dan keterkejutan yang tak tertutupi. Pemimpin bermata satu itu segera menarik pedangnya dari leher Kaelos, matanya memicing mencoba menembus kabut debu yang mulai menipis.

Valerius melangkah masuk dengan sangat perlahan, membiarkan ujung pedang bajanya terseret di atas lantai batu menciptakan irama lengkingan maut. Jubah rumah sakitnya yang compang-camping kini telah sepenuhnya ternoda merah oleh darah segar kelima rekan mereka yang dibantai sebelumnya.

"Maaf mengganggu pesta kecil kalian yang menyenangkan ini, Tuan-tuan," sapa Valerius dengan nada suara yang terdengar sangat tenang dan sopan. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, menatap mereka semua dengan mata hitam kelam yang tak memancarkan setitik pun emosi.

Aura kematian yang sangat pekat dan menyesakkan tiba-tiba menguar keluar dari setiap pori-pori tubuh Valerius menyelimuti udara. Hawa di dalam ruangan itu mendadak turun drastis menjadi sangat dingin, membuat napas para pembunuh itu membentuk kepulan uap putih.

Baron Kaelos membelalakkan matanya yang sembab karena menangis, tak percaya melihat siapa sosok yang baru saja mendobrak masuk menyelamatkannya. "T-Tuan Muda Valerius?!" pekik sang Baron keras, suaranya dipenuhi campuran aneh antara kelegaan absurd dan kebingungan total.

Pemimpin pembunuh bayaran itu mendecakkan lidah kesal, matanya menyipit penuh perhitungan menatap pemuda pucat di depannya. "Jadi kau yang datang mengantarkan nyawa kemari, anak anjing. Ini sungguh menghemat waktuku untuk menyeret lehermu keluar dari ranjang pesakitan."

Valerius hanya membalasnya dengan senyum tipis, sebuah lengkungan bibir asimetris yang selalu ia tunjukkan sebelum memulai setiap pembantaian. "Aku hanya khawatir kelima teman bodoh kalian merasa terlalu kesepian menanti di neraka tanpa kalian temani."

Pernyataan dingin dan datar itu langsung menyentak keras kesadaran kesepuluh pembunuh bayaran profesional tersebut. Pemimpin mereka seketika menyadari dengan ngeri bahwa noda darah yang membasahi pakaian Valerius adalah darah segar milik rekan-rekannya sendiri.

"Bunuh dia sekarang! Cincang tubuhnya sampai hancur tak bersisa!" raung pria bermata satu itu dengan urat leher menonjol karena amarah. Delapan pembunuh yang masih berdiri tegap serempak mencabut senjata mereka dan menerjang maju bagai sekawanan serigala lapar yang mengamuk.

Valerius sama sekali tidak mundur sejengkal pun dari posisinya, ia justru menarik napas panjang dan membiarkan energi Mana mengalir deras. Skill 'Langkah Bayangan' miliknya ia aktifkan hingga mencapai batas maksimal, membuat tubuh fisiknya mengabur menjadi siluet hitam di udara.

Saat pembunuh pertama mengayunkan kapak besarnya ke arah kepala Valerius dengan kekuatan penuh, ia hanya menebas ruang kosong. Valerius telah bergeser mulus ke sisi kirinya dengan kecepatan kilat yang tak bisa diikuti oleh respons mata manusia biasa.

Sebuah kilatan baja perak melintas horizontal di udara dengan suara desingan tajam yang menyayat ngilu telinga. Kepala pembunuh pertama itu terlepas bersih dari lehernya dengan ekspresi bingung yang masih tercetak jelas menegang di wajah kasarnya.

Darah menyembur tinggi ke arah langit-langit ruangan saat tubuh tanpa kepala itu ambruk kaku menimpa lantai batu. Valerius tidak berhenti bergerak sedetik pun, ia langsung menjadikan mayat yang baru jatuh itu sebagai pijakan keras untuk melompat maju.

Ia mendarat mulus tepat di tengah kepungan tiga pembunuh bayaran lainnya yang bersenjatakan pedang pendek bergerigi tajam. Mata Valerius memindai cepat letak kelemahan postur mereka dalam sepersekian detik dengan menggunakan skill pasif 'Mata Penilai Iblis'.

Aura merah terlihat menyala berkedip di sekitar persendian lutut dan siku mereka, menandakan pertahanan bawah mereka yang sangat terbuka lebar. Valerius memutar tubuhnya secepat gasing, mengayunkan pedang panjangnya secara berputar setinggi pinggang orang dewasa normal.

Jeritan agoni seketika meledak bersahutan memekakkan telinga saat pedang Valerius memotong bersih kaki ketiga pria itu sekaligus tanpa ampun. Mereka jatuh bergelimpangan ke atas hamparan karpet merah, meronta-ronta gila memegangi tungkai mereka yang terus menyemburkan darah panas.

"Dewa Cahaya, tolong kami!" jerit histeris salah satu dari mereka, air mata ketakutan membasahi wajahnya yang kini mengeras pucat. Namun doa tulus itu hanya dijawab oleh injakan keras sepatu bot Valerius yang langsung meremukkan tengkoraknya menjadi serpihan berdarah.

Layar sistem holografik terus berkedip merah terang tiada henti, membanjiri sudut pandangannya dengan rentetan notifikasi pertambahan Poin Dosa. Valerius menikmati setiap nada dari melodi kematian ini, merasakan eforia gelap yang membakar semangatnya meluap hingga ke ubun-ubun.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!