Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.
Suaminya ke mana??
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"
Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.
" Mas...maaf " lirih suara Arista.
Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.
Arista tergugu, tak ada air mata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11.
Anisa terbangun sebelum adzan Subuh. Dia merentangkan ke dua tangannya , pandangannya beralih ke samping di mana Restu suaminya masih tertidur pulas.
( Tumben biasanya dia yang paling rajin bangun pagi, dia yang selalu membangunkanku setiap Subuh).
Anisa membatin. Tak ingin membangunkan suaminya karena adzan belum berkumandang, Anisa bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sudah menjadi kebiasaan sejak mereka menikah, Restu selalu sarapan pagi lebih dulu sebelum berangkat bekerja.
Nasi putih, ayam goreng dan cap cay sudah tersedia di meja makan. Tak ketinggalan sambal dan juga kerupuk.
Anisa bergegas ke kamar untuk membangunkan suaminya , sepertinya adzan Subuh sebentar lagi akan berkumandang. Dia pun sudah mandi dan rapi. Sudah beberapa hari ini rutinitas pagi tak Anisa lakukan , sejak suaminya menginap di rumah orang tuanya.
" Mas...bangun, mas. Sudah mau adzan Subuh. Nanti kesiangan sholatnya." Anisa menggoyang lengan suaminya perlahan.
"Apaan sih, Lin. Masih ngantuk ini." kata Restu sambil berbalik memunggungi Anisa.
Seketika ada sesuatu yang lolos dari tubuh Anisa. Jantungnya berdebar, tangannya pun gemetar. Tubuhnya terasa tak bersendi, dia diam terpaku, tatapannya kosong.
(Ah...mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin di rumah mertua , Lina yang bangunin Restu setiap hari. Dan mungkin juga mas Restu mengira kalau dia masih menginap di sana)
Anisa bermain dengan pikirannya sendiri. Menghibur diri sendiri, dan merasa sakit sendiri.
Bohong. Sebagai wanita tak mungkin merasa sakit hati ketika suaminya menyebut nama wanita lain di kala tidurnya.
Dengan tangan masih gemetar , Anisa menyentuh punggung Restu.
"Mas...udah siang. Bangun mas, adzan Subuh udah lewat, nanti kalau sekiranya mas masih capek, mas bisa lanjut tidur lagi." kata Anisa dengan suara bergetar menahan sesak di dada.
" Udah aku bilang, aku ma..." Restu menggantung kalimatnya setelah tubuhnya berbalik ke arah suara yang membangunkannya.
"A...A..Nisa. Astaga...maaf, mas kira siapa tadi." kata Restu berusaha menutupi wajahnya yang sempat gugup.
"Memangnya siapa mas, di rumah ini hanya ada kita berdua. Memangnya pernah ada selain aku yang membangunkan mas." jawab Anisa datar.
" Bu...Bu..kan itu maksud mas. Ah...aku belum sholat, mas ke kamar mandi dulu."
Anisa mengangguk pelan, tatapannya tertuju pada punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Restu sempat melirik istrinya dengan ekor matanya. Pelan. Ya...pelan sekali dia menghela nafas, dan menghembuskannya kembali tak kalah pelannya.
Seolah takut istrinya mendengar hembusan nafasnya.
Anisa menggelar sajadah , di depan satu dan di belakang satu. Seperti biasa kalau Restu nggak berangkat ke Masjid, mereka akan sholat berjamaah.
Anisa menoleh ke pintu kamar mandi. Orang yang di tunggu belum keluar juga, padahal sudah jam 05.15 menit.
Dengan menghela nafas kasar , Anisa melangkah ke depan pintu kamar mandi.
Tok..tok..tok
"Mas, udah siang'.Aku juga belum sholat Subuh , aku nungguin mas dari tadi." kata Anisa.
" Aduh...maaf, Nis. Mas lagi mules perutnya, sholat duluan aja nanti mas belakangan." jawab Restu .
Anisa mengangguk, walau dia sadar Restu tak mungkin melihat anggukannya.
Anisa menunaikan sholat Subuh sendiri. Selesai sholat entah kenapa dia merasa sangat sedih sekali, tanpa sadar air matanya sudah mengalir, isak tangisnya tedengar sedih , sampai ke dua bahunya sedikit berguncang.
Dia tak menyadari seseorang berdiri di belakangnya bagai patung. Tubuhnya seolah kaku, jantungnya berdebar. Perlahan seseorang itu mendekati istrinya yang sedang tergugu.
" Nis...Nisa...kenapa Nis. Ada apa?" Restu mengusap punggung istrinya pelan.
Anisa mengangkat wajah dan segera menghapus air matanya dengan mukenah yang masih dia pakai.
" Kenapa?." tanya Restu sambil memindai wajah istrinya.
" Nggak ada apa-apa. Cuma kangen sama bapak, sama ibu." jawab Anisa masih sibuk mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Anisa bergeser dan memundurkan badannya ke belakang. Dia memberi suaminya untuk menunaikan sholat Subuh.
Setelah selesai sholat, mereka bergeser ke meja makan. Mata Restu berbinar, ternyata istrinya padi ini memasak masakan kesukaan dia.
Restu menyendok nasi serta lauk pauknya. Dan langsung menyantapnya dengan lahap.
"Pelan-pelan, mas."
" Mas sudah kangen sama masakanmu." jawab Restu sambil mengunyah.
Arista ingin berkomentar lagi, tapi dia urung. Tak ingin merusak suasana sarapan pagi mereka, akhirnya Anisa diam saja.
Piring di hadapan Restu sudah bersih, sepertinya dia entah lapar atau nggak pernah ketemu makanan, jadi sampai nambah dia kali.
"Akhirnya kangenku terobati, masakanmu tak pernah berubah sayang." puji Restu sambil mengusap lengan istrinya.
Reflek Anisa kaget dan menarik lengannya. Dia sendiri pun heran, entah dorongan apa hingga tangannya reflek bergerak menarik diri.
Jujur Anisa merasa gerah mendengar kata sayang dari suaminya. Jika tadi telinganya tak mendengar mulut suaminya menyebut nama wanita lain, mungkin perutnya akan di penuhi kupu-kupu yang berterbangan. Tapi sekarang Anisa merasa mula.
Restu kaget dengan sikap istrinya.
" Jadi pulang cuma karena kangen masakanku aja. Sepertinya masakanku nggak akan pernah berubah mas, karena aku masak sepenuh hati. Mungkin yang berubah si penikmatnya yang bersantap sambil memikirkan makan hati yang lain." kata Anisa terdengar absurd.
" Kamu ngomong apa sih, Nis."
" Lupakan aja, mas." Anisa membersihkan meja makan , membawa piring ke wastafel dan langsung mencucinya.
Restu berjalan ke arah Anisa sambil senyum-senyum kucing. Di peluknya punggung Anisa, kepalanya pun mendusel ke tengkuk istrinya. Anisa terdiam, bohong kalau dia tak merindukan suaminya.
Saat Restu mau memutar tubuh Anisa untuk menghadap ke dirinya. Tiba-tiba terdengar dering ponsel. Restu meraba saku dan mengeluarkan ponsel dengan tangan kirinya. Anisa melirik dengan ekor matanya.
Yaa...nama yang tadi pagi sempat Restu sebut saat dia membangunkannya.
Restu terlihat gugup. Tapi dia berusaha bersikap tenang dan biasa saja.
" Hallo...Lin. Ada apa?" tanya Restu sambil berjalan ke arah ruang tamu.
Anisa terhenyak. Dia baru menyadari tak biasanya Restu mengantongi hpnya. Karena seingat dia, Restu selalu meletakkan hpnya sembarang tempat. Pun kalau tidur, dia akan menaruh hpnya begitu saja. Entah di nakas, di meja riasnya bahkan di tempat tidur.
Hpnya selalu geletakan. Tapi sejak semalam dia tak melihat hp suaminya. Dia pun baru menyadarinya sekarang.