NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:895
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. Prajurit Nomor 047

Pelataran dalam barak pelatihan Barat yang semula riuh oleh sorak-sorai simulasi taktis kini telah berubah menjadi sunyi. Dua ratus pemuda desa dan kota yang tersisa dari seleksi ketat selama dua hari berdiri berjejer rapi dalam formasi ulat panjang. Mereka menunggu dengan napas tertahan di bawah tatapan tajam para perwira tinggi Majapahit yang berdiri di atas panggung kayu jati. Di barisan tengah, Mada berdiri dengan posisi pundak yang sengaja dibuat sedikit merosot, menyembunyikan postur tubuh jangkungnya di antara dua pemuda berotot besar yang tampak tegap mendongak.

Seorang bintara militer bertubuh pendek kekar melangkah maju ke tepi panggung sambil membawa segulung besar kain perkamen kulit domba yang berisi daftar nama kelulusan resmi. Di sampingnya, dua orang prajurit muda menggotong sebuah peti kayu jati berukir lambang surya Majapahit yang berisi ratusan keping lempengan tembaga berbentuk segi empat kecil. Kepingan tembaga itulah yang akan menjadi tanda pengenal resmi bagi setiap calon prajurit Tamtama yang berhasil lolos dari gerbang penyaringan awal.

"Dengarkan seluruh pendaftar!" teriak bintara tersebut, suaranya yang serak melengking memecah keheningan pelataran. "Nama-nama yang saya sebutkan dari gulungan ini adalah mereka yang telah dinyatakan layak oleh Senopati Kudamerta untuk memakai nama prajurit Majapahit. Bagi kalian yang namanya dipanggil, melangkahlah maju ke depan panggung untuk menerima keping nomor registrasi kalian, lalu segera berbaris di sebelah kanan lapangan menurut urutan nomor. Bagi yang namanya tidak disebutkan hingga gulungan ini ditutup, kalian dipersilakan mengemas barang-barang kalian dan meninggalkan kompleks barak sebelum matahari tenggelam!"

Ketegangan mendadak merayap naik. Satu demi satu nama mulai diteriakkan dengan lantang. Setiap kali sebuah nama disebut, seorang pemuda akan melesat maju dengan wajah yang berseri-seri penuh kebanggaan, menjura hormat sedalam-dalamnya ke arah panggung kehormatan, lalu menerima keping tembaga pengenal dengan tangan bergetar.

Mada tetap berdiri tenang di posisinya, menghitung setiap nomor yang keluar dengan cermat menggunakan analisis taktisnya. Ketika pembacaan nama sudah melewati angka tiga puluh, nama Ragajaya akhirnya diteriakkan. Pemuda pesisir utara yang tadi sempat dikalahkan oleh Mada dalam duel tombak itu melangkah maju dengan dagu terangkat. Meskipun guratan kekecewaan akibat kekalahan tadi masih samar-samar terlihat di sudut matanya, ia tetap memancarkan aura kepercayaan diri yang tinggi saat menerima keping tembaga bernomor nol tiga puluh lima. Ragajaya sempat menoleh ke arah barisan belakang, mencoba mencari sosok pemuda desa jangkung yang telah menjatuhkan tombaknya, namun Mada dengan cepat menundukkan kepalanya, berpura-pura sedang membetulkan ikatan tali sandalnya yang longgar.

"Mada dari Hutan Tarik!"

Suara bintara pembaca daftar memanggil nama Mada dengan tekanan yang cukup jelas. Mada menarik napas dalam-dalam, menekan getaran energi spiritual batin emas di dalam sukmanya agar tidak memicu reaksi sekecil apa pun pada indra para perwira di atas panggung. Ia melangkah maju dengan langkah yang sengaja dibuat agak goyah dan berat, menampilkan sisa-sisa kelelahan palsu dari ujian simulasi kelompok sebelumnya.

Saat tiba di depan panggung, bintara tersebut menatap Mada dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan dahi berkerut, seolah sedang mencocokkan wajah keluguannya dengan laporan taktis luar biasa yang baru saja ia terima dari perwira penguji lapangan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bintara itu mengulurkan sebuah keping tembaga tebal yang permukaannya telah diukir dengan angka yang cukup dalam. Mada menerima kepingan logam tersebut dengan kedua telapak tangannya sambil menjura santun.

(Nomor nol empat puluh tujuh. Mulai detik ini, aku adalah sebidak kecil di dalam papan catur militer Trowulan. Sesuai pesan Rama Sidacerma, aku harus tetap menjadi angka yang tidak terlihat di antara ratusan angka lainnya.)

Mada berjalan mundur perlahan lalu menempatkan dirinya di barisan sebelah kanan, tepat di urutan nomor empat puluh tujuh. Keping tembaga itu terasa dingin di dalam genggaman jemarinya yang panjang, namun bobot logam tersebut seolah menjadi pengingat bahwa langkah pertamanya untuk menembus lingkaran kekuasaan Majapahit telah resmi dimulai.

Setelah seluruh dua ratus nama selesai dibacakan dan sisa pendaftar yang gagal telah digiring keluar dari pelataran dengan wajah lesu, Senopati Kudamerta perlahan bangkit dari kursi jatinya. Jenderal sepuh itu melangkah ke tepi panggung kehormatan, membiarkan jubah merah besarnya berkibar pelan ditiup angin siang. Tatapan matanya yang setajam elang menyapu seluruh barisan prajurit baru di bawahnya. Ketika pandangannya melewati sosok Mada, mata jenderal itu sempat berhenti selama satu hitungan napas penuh, memberikan tekanan batin yang luar biasa kuat. Namun, Mada tetap mempertahankan pandangan matanya yang kosong menatap lurus ke arah tanah liat, tidak memberikan respons spiritual apa pun yang bisa memicu kecurigaan lebih lanjut.

"Kalian semua yang berdiri di sini telah membuktikan bahwa urat daging dan otak kalian sedikit lebih baik daripada ratusan kerbau yang baru saja diusir dari barak ini," ucap Senopati Kudamerta, suaranya tidak keras namun bergaung penuh wibawa hingga ke sudut-sudut pagar jati pelataran. "Namun, jangan pernah mengira bahwa memakai keping tembaga di dada berarti kalian sudah menjadi ksatria. Hari ini kalian hanyalah benih mentah yang baru dimasukkan ke dalam kawah pencandradimuka. Mulai malam ini, kalian akan mempelajari apa artinya disiplin besi, apa artinya kepatuhan mutlak, dan bagaimana cara mati demi kejayaan panji Wilwatikta. Bintara, bawa mereka ke barak hunian Barat!"

Dua puluh orang bintara senior segera bergerak cepat memecah barisan dua ratus prajurit baru tersebut menjadi beberapa kelompok besar berdasarkan urutan nomor pengenal mereka. Mada bersama tiga puluh sembilan orang lainnya, termasuk Ragajaya, dimasukkan ke dalam kelompok gelombang kedua yang ditugaskan untuk menghuni barak hunian nomor empat, sebuah bangunan kayu panjang beratap rumbia yang terletak di sudut paling belakang kompleks militer Barat, tepat berbatasan dengan dinding batu luar yang tinggi.

Mereka digiring berjalan melewati jalan-jalan setapak berbatu di dalam kompleks barak pelatihan. Di sepanjang jalan, Mada menggunakan ketajaman matanya untuk memetakan seluruh struktur bangunan, pos penjagaan, menara pengawas, hingga titik-titik buta yang bisa digunakan untuk bergerak di malam hari tanpa terdeteksi. Kompleks militer ini sangat luas dan dijaga dengan sistem patroli berlapis yang sangat ketat, sebuah bukti nyata dari ketangguhan manajemen militer yang pernah dirancang oleh mendiang Patih Nambi di masa awal berdirinya kerajaan.

Ketika kelompok Mada tiba di depan barak hunian nomor empat, bau apak kayu lembap dan jerami kering langsung menyengat indra penciuman mereka. Bangunan itu tampak sudah sangat tua, dengan beberapa tiang kayu penyangga yang mulai terkikis oleh rayap dan dinding anyaman bambu yang memiliki banyak celah udara. Di bagian dalam, tidak ada tempat tidur kayu yang layak atau kasur kain yang empuk. Yang ada hanyalah sebaris panjang amben bambu rendah yang dilapisi tikar pandan yang sudah robek-robek di beberapa bagian, membentang dari ujung pintu depan hingga ke sudut ruangan yang gelap.

"Ini adalah rumah baru kalian untuk tiga bulan ke depan!" teriak komandan barak hunian, seorang prajurit senior bertubuh kurus kering dengan luka parut memanjang di pipi kirinya. "Di tempat ini tidak ada kasta bangsawan atau anak pejabat daerah! Semua sama-sama tikus tanah yang harus belajar merangkak dari bawah! Sekarang, silakan kalian berebut tempat tidur kalian sendiri! Siapa yang lambat, dia boleh tidur di atas tanah liat bersama kecoak!"

Mendengar perintah tersebut, situasi di dalam barak langsung berubah menjadi kacau berantakan. Tiga puluh sembilan pemuda baru itu langsung saling sikut, mendorong, dan berteriak kasar demi mendapatkan posisi tempat tidur yang dianggap paling baik, yaitu di bagian tengah barak yang dekat dengan tiang lampu minyak dan jauh dari celah angin dinding anyaman bambu yang dingin.

Mada sama sekali tidak berniat untuk ikut serta dalam perebutan yang tidak berguna tersebut. Ia dengan sengaja membiarkan tubuh jangkungnya terdesak oleh kerumunan pemuda yang sedang emosi, melangkah mundur perlahan selangkah demi selangkah hingga akhirnya ia tiba di sudut paling belakang barak hunian. Tempat itu adalah titik terburuk di seluruh bangunan; sebuah sudut sempit yang pengap, gelap, beralaskan tikar pandan yang sudah berjamur hitam, dan tepat berada di bawah atap rumbia yang tampak agak bocor serta berdekatan dengan tempat pembuangan air kecil di luar dinding.

(Sudut ini sangat sempurna. Tempat terburuk adalah tempat yang paling jarang diperhatikan oleh mata para bintara penjaga. Di sudut yang gelap ini, aku bisa melatih peredaran energi batin Batara Niti Mandala dan mengaktifkan mata Niti Sastra di malam hari tanpa perlu takut memicu kecurigaan penghuni barak lainnya.)

Mada meletakkan buntalan kain kumalnya yang berisi beberapa potong baju katun desa di atas amben bambu yang berderit parah tersebut. Ia duduk dengan tenang sambil meluruskan kedua kakinya yang panjang, membiarkan dirinya menjadi sosok yang paling tidak dianggap di dalam ruangan tersebut.

Namun, ketenangan Mada di sudut gelap itu tidak berlangsung lama. Dari arah tengah barak, sosok Ragajaya melangkah mendekat dengan dikelilingi oleh tiga orang pemuda bertubuh besar lainnya yang tampaknya merupakan anak-anak dari keluarga prajurit daerah yang langsung menganggap Ragajaya sebagai pemimpin kelompok mereka karena kemampuan Kanuragan Raga yang dimilikinya. Ragajaya berhenti tepat tiga langkah di depan amben tempat Mada duduk, melipat kedua lengannya di dada sambil menatap Mada dengan pandangan mata yang penuh dengan selidik dan keangkuhan yang belum padam.

"Jadi, kamu mendapatkan tempat tidur yang paling cocok untuk seekor kerbau desa, nomor nol empat puluh tujuh," ucap Ragajaya, suaranya sengaja dikeraskan sehingga membuat beberapa pemuda lain di sekitarnya ikut menoleh dan menertawakan posisi Mada. "Jangan mengira karena keberuntungan sialanmu di arena duel tombak tadi siang membuatmu bisa bersikap tenang di tempat ini. Di barak pelatihan Trowulan, keberuntungan tidak akan bertahan lebih dari satu hari. Mulai besok pagi, latihan fisik yang sebenarnya akan dimulai, dan aku akan memastikan seluruh orang di barak ini tahu siapa yang sebenarnya memiliki darah petarung sejati dan siapa yang hanya seonggok daging jangkung yang kosong."

Mada mendongakkan kepalanya perlahan, menampilkan wajah polosnya yang sedikit berkerut ketakutan, lalu menundukkan kepalanya kembali dengan sikap yang sangat mengalah.

"Saya hanya seorang pemuda desa yang tidak mengerti apa-apa, Tuan Ragajaya," jawab Mada dengan nada suara yang dibuat sedikit bergetar dan pelan. "Kemenangan saya tadi siang murni karena tombak Anda tergelincir oleh keringat Anda sendiri. Saya tidak memiliki niat untuk bersaing dengan Anda atau siapa pun di barak ini. Saya hanya ingin menyelesaikan pelatihan ini dan mengirimkan sedikit upah ke desa."

Mendengar jawaban Mada yang terdengar sangat lemah, penakut, dan tidak memiliki harga diri tersebut, Ragajaya langsung mendengus remeh sambil tertawa terbahak-bahak bersama ketiga pengikutnya. Rasa penasaran dan kecurigaan yang sempat mengusik batin Ragajaya setelah kekalahannya di arena nomor empat tadi siang mendadak sirna seketika, digantikan oleh rasa jemawa yang semakin tebal.

"Sudah kuduga, kamu memang hanya seekor kerbau hutan yang kebetulan memiliki tubuh jangkung," ucap Ragajaya sambil menepuk tiang kayu di dekat Mada dengan keras hingga debu-debu atap berjatuhan. "Baguslah kalau kamu sudah tahu dirimu di mana. Jaga sikapmu di sudut gelap ini, dan jangan pernah mencoba menghalangi jalanku untuk menjadi lulusan Tamtama terbaik di angkatan ini, atau aku sendiri yang akan mematahkan tombak kayumu di tengah lapangan."

Ragajaya membalikkan badannya dengan gerakan cepat lalu berjalan kembali ke arah bagian tengah barak yang lebih terang, disambut oleh tepukan pundak dari para pengikut barunya. Mada hanya menatap punggung pemuda pesisir itu dengan pandangan mata yang kembali datar tanpa ekspresi.

(Sifat jemawa dan amarah yang meledak-ledak adalah racun terbesar bagi seorang petarung, Ragajaya. Aliran hawa murni air di dalam tubuhmu memang cukup padat untuk ukuran pemuda seusiamu, namun karena hatimu terlalu terikat pada pengakuan orang lain, energimu akan sangat mudah diaduk dan dipatahkan oleh siasat yang paling sederhana.)

Mada menyandarkan punggungnya ke dinding anyaman bambu yang kasar, membiarkan matanya terpejam pelan seiring dengan mulai meredupnya sinar matahari di luar barak. Di dalam kegelapan batin sukmanya, pusaka Nogo Kumolo yang bersembunyi di dalam dimensi spiritualnya seolah memberikan getaran hangat yang samar, merespons ketenangan batin sang pemilik yang sedang menyusun rencana jangka panjang di tengah lingkungan barunya.

Malam pertama di barak militer Trowulan akhirnya tiba, membawa hawa dingin yang menusuk dari sela-sela dinding bambu. Suara dengkur kegelisahan dan bisikan ketakutan dari puluhan prajurit baru mulai memenuhi ruangan yang pengap tersebut. Di sudutnya yang paling gelap dan paling tidak diinginkan oleh siapa pun, Prajurit Nomor 047 tetap terjaga dengan mata sakral yang mengawasi dalam diam, siap menyambut fajar pertama dari kehidupan barunya sebagai abdi bayangan Majapahit.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!