Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9: Sisa Badai dalam Tenang Ibu
Karya Vian's
Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian di galeri, namun mendung di wajah Savya belum juga beranjak. Meskipun ia berusaha menyibukkan diri di kedai, kegelisahan itu tetap membuntutinya hingga ke rumah. Sebagai anak tunggal yang sangat dekat dengan orang tuanya, perubahan sekecil apa pun pada diri Savya tentu tidak bisa disembunyikan dari penglihatan sang Ibu.
Malam itu, suasana rumah sangat sunyi. Ibu memperhatikan Savya yang hanya mengaduk-aduk tehnya tanpa meminumnya sedikit pun. Tak tahan melihat putrinya terus-menerus dirundung pilu, Ibu akhirnya mendekat dan duduk di sampingnya.
"Sayang, apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu beberapa hari ini?" tanya Ibu dengan nada yang sangat lembut namun penuh penekanan. "Ibu sedih melihatmu seperti ini, Savya. Cerita pada Ibu, Nak."
Savya terdiam sejenak, menatap uap teh yang perlahan menghilang. Akhirnya, tembok pertahanan itu runtuh. Dengan suara lirih, Savya menceritakan tentang pertemuannya dengan Katya dan bagaimana kata-kata perempuan itu kembali membangkitkan hantu masa lalu yang selama ini ia coba kubur dalam kesunyian.
Mendengar hal itu, raut wajah Ibu berubah sendu. Beliau merasa sedih karena ternyata kisah lama itu masih saja menghantui putri kesayangannya. Namun, Ibu segera meraih jemari Savya dan menggenggamnya erat, memberikan kehangatan yang paling nyata.
"Dengar Ibu, Nak," ucap Ibu dengan tenang. "Semua yang terjadi di masa lalu adalah takdir Tuhan yang tidak bisa kita ubah. Kamu tidak perlu memikul beban itu seolah-olah itu kesalahanmu. Kamu hanyalah korban dari situasi yang sulit saat itu."
Ibu menatap dalam ke mata Savya, mencoba menyalurkan kekuatan. "Jangan biarkan masa lalu merampas ketenanganmu hari ini. Tuhan tahu hatimu, dan Ibu selalu ada di belakangmu. Kamu tidak sendirian, Savya."
Nasihat itu mengalir seperti air sejuk di tengah bara yang membakar hati Savya. Meskipun kegelisahan itu tidak langsung hilang sepenuhnya, setidaknya riak badai di kepalanya mulai mereda. Di pelukan Ibunya, Savya merasa bahwa sesulit apa pun gangguan dari Katya nanti, ia memiliki rumah yang cukup kuat untuk melindunginya.
Setelah mendengar nasihat dan kalimat penenang dari Ibunya, Savya akhirnya bisa bernapas lega. Sesak yang selama beberapa hari ini menghimpit dadanya perlahan mulai mengurai. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang Ibu, merasakan kehangatan yang selama ini selalu menjadi benteng pelindungnya.
"Terima kasih ya, Bu," bisik Savya tulus. "Terima kasih karena Ibu selalu ada dan mau mendengarkan semua keluh kesah Savya tanpa pernah memaksa Savya untuk bercerita sebelum Savya siap."
Savya akhirnya menyadari satu hal penting; berlarut-larut dalam memikirkan masalah sendirian sama sekali tidak akan meredakan kegelisahannya. Justru, pikirannya sendirilah yang seringkali membuat badai itu terasa lebih besar dari kenyataannya. Ia sadar bahwa sekuat apa pun ia mencoba menjaga ketenangan seorang diri, ia tetap butuh tempat untuk berbagi beban.
Di rumah yang sunyi itu, Savya bersyukur karena ia memiliki sang Ibu—tempat pulang yang paling jujur dan penenang utama dalam setiap kegelisahan hatinya. Malam itu, Savya tidak lagi memikirkan Katya dengan rasa takut. Ia menutup harinya dengan keyakinan bahwa selama ia memiliki sandaran yang tepat, masa lalu tidak akan pernah punya kuasa untuk menghancurkan masa depannya.
Keesokan harinya,
Matahari seolah menyambut kembalinya semangat Savya. Ia melangkah menuju kedai dengan perasaan yang jauh lebih ringan, dan senyuman hangat yang menjadi ciri khasnya kini telah kembali terbit. Beban dari masa lalu memang belum sepenuhnya hilang, namun ia menolak untuk membiarkan hal itu menghentikan langkahnya lagi.
Di tengah perjalanannya, Savya ya teringat akan rencana yang sempat tertunda beberapa waktu lalu: menambah dua orang karyawan baru. Ia tersadar betapa melelahkannya melayani kedai saat sedang ramai. Terbayang di benaknya wajah Sila dan Farel yang sering kali keteteran mengatur pesanan. Sebagai pemilik, ia merasa kasihan dan tidak ingin tim kecilnya itu tumbang karena beban kerja yang berlebihan.
Begitu sampai di kedai, Savya ya langsung mempersiapkan segalanya. Ia memilih sebuah meja di sudut yang tenang, tak jauh dari meja bar, sebagai tempat untuk memulai sesi interview.
"Sila, Farel, hari ini kita mulai cari rekan baru untuk kalian ya," ucap Savya dengan nada ceria sambil menata beberapa lembar draf CV di atas meja kayu tersebut.
Suasana kedai pagi itu terasa berbeda. Bukan lagi tentang kegelisahan, melainkan tentang lembaran baru dan harapan untuk membuat tempat favoritnya itu menjadi lebih baik lagi. Savya duduk dengan tenang di kursi sudut itu, siap menyambut siapa pun yang akan menjadi bagian dari perjalanan kedainya ke depan.
Meja sudut di dekat meja bar yang biasanya menjadi tempat favorit Savya untuk menulis, kini beralih fungsi menjadi meja interview. Sejak pukul sepuluh pagi, sudah ada tiga kandidat yang duduk di hadapannya, namun belum ada satu pun yang membuat Savya merasa "klik."
Kandidat pertama adalah seorang pria yang terlalu kaku; ia bicara seolah sedang membaca teks undang-undang, membuat suasana kedai yang santai jadi terasa seperti ruang sidang. Kandidat kedua adalah seorang gadis yang sangat ahli meracik kopi, namun sepanjang percakapan ia terus-menerus melihat jam tangan dan tampak tidak sabar, sebuah sikap yang menurut Svyya akan merusak kehangatan layanan kedainya. Sementara kandidat ketiga adalah seorang pemuda yang bahkan tidak tahu perbedaan antara latte dan cappuccino, ia hanya ingin bekerja karena menganggap menjadi barista itu keren untuk dipajang di media sosial.
Savya menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu sambil memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Sila yang sedari tadi menemani dengan setia pun mulai tampak lesu, semangatnya yang berapi-api tadi pagi kini mulai memudar tertutup rasa bosan.
"Mbak Savya, apa kita tunda saja ya? Kayaknya hari ini bukan hari keberuntungan kita buat nemu orang yang pas," keluh Sila sambil menopang dagu.
Savya menatap lembaran CV yang tersisa di atas meja. Tinggal dua nama lagi. Ia teringat kembali pada ketenangan ibunya semalam; jika ia bisa bersabar menghadapi masa lalunya yang kelam, seharusnya ia juga bisa bersabar mencari rekan kerja yang tepat.
"Dua orang lagi, Sil. Kita coba habiskan draf ini dulu. Siapa tahu, kejutan justru datang di saat kita hampir menyerah," ucap Savya dengan senyum kecil yang mulai kembali menghiasi wajahnya.
Savya membenarkan letak duduknya, menarik napas dalam-dalam untuk mengusir rasa lelah yang mulai menghinggap. Ia memberi kode kepada Sila untuk memanggil kandidat berikutnya. Ia tidak tahu bahwa setelah ini, ketenangannya akan benar-benar diuji oleh seorang gadis yang "loading"-nya membutuhkan waktu selamanya dan seorang pemuda yang masuk seolah-olah pintu kedai adalah pintu gerbang menuju panggung komedi.
..."Story by Vian's."...