Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Brussels
Mahreen berjalan bersama dengan Collin usai quiz karena pengawalnya sudah mode over protective. Gadis itu jadi ingat lagu milik Britney Spears yang judulnya Overprotected.
"What am I to do with my life?
(You will find it out don't worry)
How am I supposed to know what's right?
(You just got to do it your way)
I can't help the way I feel
But my life has been so overprotected," dendangnya.
Collin menoleh ke arah Mahreen. "Anda nyanyi apa?"
"Lagunya Britney Spears," jawab Mahreen santai.
"Princess, saya memang berlagak seperti tadi karena demi melindungi Anda dari pria mokondo. Anda sendiri yang bilang bukan? Jangan bilang Anda terpengaruh dengan sikapnya?" omel Collin. "Kalau memang Anda masih mau dengan pria itu, lebih baik saya mundur menjadi bodyguard Anda."
Mahreen melongo dan dia segera memegang lengan jaket Collin. "Kok gitu?"
"Saya sudah berjanji pada ayah Anda untuk melindungi Anda. Tapi kalau Anda tidak tidak mau ya sudah! Percuma bukan?" Collin menatap dingin ke Mahreen.
Mereka berdua sudah berada di dekat mobil Collin.
"Dia stalker aku kan?" tanya Mahreen.
"Benar."
"Dia bisa saja mencoba mencelakakan aku?"
"Benar."
Mahreen tersenyum licik. "Kamu tenang saja. Aku sudah punya caranya."
Collin mengrenyitkan dahinya. "Anda mau melakukan apa Princess?"
"Sudah. Santai." Mahreen membuka ponselnya dan melihat jadwal kuliahnya. "Oke, kosong. Ayo Lange. Kita pulang, ambil baju, terus ke Belgia."
Collin melongo. "Apa?"
"Aku harus ke Belgia untuk mengambil sesuatu yang penting. Ayo lah, kita ke Brussels!"
Collin hanya menuruti permintaan Mahreen. Mau apa ke Belgia?
***
Apartemen Mahreen
"Kamu mau kesini?" tanya Amira Daugherty saat menerima telepon adik sepupunya.
"Iya. Aku gabut di Leiden," jawab Mahreen.
"Lha, kan ada Vava di Amsterdam," ucap Amira.
"Tapi Vava kan susah dipegang. Mana dia lebih milih sama mas Alfie."
Amira menghela napas panjang. "Jujur sama Mbak Mira. Kamu ngapain ke Brussels? Sama siapa kamu kemari? Nissa?"
"Jalan-jalan. Itu satu. Kedua, aku tidak sama Nissa. Sudah ditarik Daddy. Sekarang aku sama Collin Lange. Pengawal yang membagongkan."
"Lange? Brit or American?" tanya Amira.
"Half Brit half Irish."
Amira terbahak. "Padahal kamu tidak mau punya bodyguard orang Irish kan?"
Mahreen mengangguk. "Jadi aku boleh ke Brussels?"
"Boleh saja. Jangan bikin perkara ya."
"Insyaallah," jawab Mahreen cuek.
***
Mahreen sudah siap dengan koper kecilnya sementara Collin dengan duffle bag nya. Mahreen memakai kaus leher tinggi, jaket dari Loro Piana dan celana jeans milik Burberry sementara tas Louis Vuitton tersampir di lengannya.
"Sudah siap Lange?" tanya Mahreen.
"Sudah. Kita naik mobil atau kereta?" balas Collin.
"Mobil saja. Toh cuma dua jam. Ayo!" Mahreen pun berjalan terlebih dahulu ke pintu apartemennya.
Collin mengikuti Mahreen dan mereka pun pergi ke Brussels setelah pintu apartemen terkunci. Mereka masuk ke dalam lift dan menuju parkiran. Collin memasukkan koper milik Mahreen dan tas nya sendiri.
Mahreen pun duduk manis di kursi penumpang dan menunggu Collin masuk ke kursi pengemudi. Tak lama mereka pun pergi menuju Brussels.
Sepanjang perjalanan, Mahreen menyetelkan lagu milik Britney Spears agar Collin tahu.
"Princess, kalau Anda merasa overprotected itu wajar karena Anda seorang Princess Kerajaan Bahrain," komentar Collin usai mendengarkan seluruh lagunya.
"Kadang ya Lange, aku pengen bebas tapi satu sisi, aku sudah terbiasa dikawal. Kadang menjadi simalakama." Mahreen menatap pemandangan dari kaca jendelanya.
"Apa Anda menyesal lahir menjadi Princess?" tanya Collin.
"Oh tidak. Aku tidak menyesal, Lange. Aku malah senang lahir di keluarga Al Khalifa. Aku punya Daddy yang awesome dan Mommy yang terbaik. Plus kakak yang random tapi sayang padaku. Keluarga kami itu keluarga Cemara yang membagongkan. Aku juga sudah tahu apa yang akan aku berikan pada negaraku. Seperti Daddy yang suka seni dan perlindungan alam, aku akan meneruskan yayasan Al Khalifa untuk perlindungan dua hal itu. Kami juga menanam banyak pohon di Bahrain meskipun sulit medannya."
Collin mendengarkan keinginan Mahreen. "Seperti yang keluarga Pratomo lakukan di Konoha?"
"Yup. Kami pemilik hutan terluas di dunia. Satu juta hektar di setiap propinsi di Sumatera, satu juta hektar di Kalimantan dan tiga ratus ribu hektar di Papua. Tidak untuk komersial, semua murni untuk perlindungan flora dan fauna," jawab Mahreen.
"Uang kalian memang sepatutnya untuk sesuatu yang berguna," komentar Collin.
"Benar. Justru karena kita bersikap seperti itu, Allah memberikan banyak rejeki buat keluarga besar kami. Bisnis kami semua lancar, meskipun krismon pun, kami bisa survive dan tidak ada pegawai yang dipecat serta tetap mendapatkan gaji."
Collin tahu semua tentang keluarga klan Pratomo. Berkas FBI, CIA dan MI6 sendiri menunujukkan banyaknya kejahatan yang dilakukan keluarga Sultan itu. Entah sudah berapa banyak orang yang dibunuh oleh mereka sejak jaman Duncan Blair. Namun mereka tidak bisa menangkap keluarga Pratomo karena yang dibunuh pun penjahat dan rata-rata yang sudah kelas kakap.
Bahkan paling parah waktu mereka gegeran di Turin, Rio de Jaeniro, New York, Glasgow, Kairo, Kroasia, London, Oman, Singapura dan Hongkong. Dan semua generasi punya catatan hitam tersendiri.
Sayangnya, keluarga mereka juga sangat dikenal humble dan rajin beramal. Mereka tipe memberikan sembunyi tangan. Tidak suka publikasi soal kebaikan bahkan bodo amat kalau yang di blow up yang jelek-jelek. PRC Group membangun rumah sakit dan sekolah di daerah konflik, sumbangan besar untuk perlindungan flora dan fauna, kesejahteraan guru di Konoha bahkan membeli lahan yang luas hanya untuk membangun hutan kembali yang dirusak rezim bodoh.
Mahreen menatap jalanan yang mulai masuk ke tol. "Apakah kamu memikirkan sesuatu?"
Collin menggeleng. "Sebenarnya ada sedikit."
"Which is?"
"Apakah kalian tidak pernah merasa bosan dengan keluarga?" tanya Collin. "Pasti dalam keluarga, ada anomalinya."
Mahreen tersenyum. "Kadang aku sebal kalau mereka sudah tahu apa yang terjadi tanpa harus bercerita tapi kami termasuk keluarga yang menghormati satu sama lain. Rule number one, jangan julid yang menyinggung masalah pribadi. Misal kapan nikah yang bisa diganti kapan nih seriusnya. Soal anak, jika belum hamil, ya sudah biarin saja. Kita tidak pernah pergi kalau ada anggota keluarga yang kena masalah pelik. Tapi kalau kasus aku kena masuk sel kemarin, sudah pada paham jadi tidak kaget."
Collin mengangguk. Aku tahu soal keluarga kamu yang sudah banyak yang masuk sel sejak generasi ketiga. Entah kasus besar ataupun kasus sepele.
"Jangan dijadikan kebiasaan, Princess."
"Kenapa?" tanya Mahreen.
"Karena itu tidak baik kedepannya."
***
Yuhuuuu up malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh