【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Jeritan Rika di halaman rumah panggung siang itu memutus ketegangan yang sempat membeku di antara mereka. Tanpa banyak bicara, di bawah kepanikan yang memuncak, Andry langsung membawa tubuh Tina yang tak sadarkan diri masuk ke dalam kabin mobil SUV hitamnya. Rika yang masih menangis histeris segera menyusul masuk di kursi belakang, memeluk kepala adiknya yang sedingin es.
Namun, keadaan tidak berhenti di situ. Mengetahui dari ratapan Rika bahwa Bu Aminah juga sedang kritis di rumah panggung mereka, Ibu Yuna dengan ketegasan yang jarang diperlihatkannya langsung memerintahkan Andry untuk memutar balik mobil menuju rumah Pak Rahman terlebih dahulu. Di sana, dengan bantuan warga sekitar dan Fandi yang menggotong ibunya dengan tangan gemetar, Bu Aminah turut dinaikkan ke dalam mobil mewah tersebut.
Mobil itu melaju membelah jalanan aspal antar-kecamatan dengan kecepatan tinggi, mengabaikan segala guncangan demi mengejar waktu. Di dalam kabin yang tegang, hanya terdengar suara isak tangis Lisa dan Rika, serta napas Bu Aminah yang semakin melemah. Andry mencengkeram kemudi dengan keringat dingin yang membasahi keningnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, kekayaan dan kendali yang biasa ia agungkan terasa sama sekali tidak berguna di hadapan sekat tipis antara hidup dan mati.
Sesampainya di Rumah Sakit Umum Daerah kota kabupaten, lorong Instalasi Gawat Darurat langsung dipenuhi oleh kesibukan petugas medis. Tubuh lemah Bu Aminah dan Tina segera dilarikan ke ruangan terpisah di atas brankar beroda. Pak Rahman, Rika, dan Lisa mengikuti dari belakang dengan langkah tergesa-gesa meninggalkan Ibu Yuna dan Andry yang berdiri mematung di koridor luar yang berbau tajam antiseptik.
Begitu pintu IGD tertutup rapat, Ibu Yuna berbalik. Wajah wanita paruh baya yang biasanya selalu dihiasi senyum ramah dan tawa renyah itu kini mengeras, menyiratkan kemarahan yang teramat sangat. Matanya menatap tajam ke arah keponakan kesayangannya.
"Ikut Tante ke taman belakang, Andry," ucap Ibu Yuna dengan nada suara yang rendah namun sangat dingin, sebuah nada yang membuat Andry tidak berani membantah sedikit pun.
Di bawah rindangnya pohon ketapang di sudut taman rumah sakit yang sepi, benteng pertahanan Ibu Yuna akhirnya runtuh. Ia berbalik dan menatap Andry dengan napas yang memburu.
"Apa yang ada di dalam otakmu sebenarnya, Andry?!" bentak Ibu Yuna, suaranya bergetar hebat menahan rasa kecewa yang mendalam. "Tante mendukung rasa sukamu pada Tina karena Tante tahu dia adalah anak perempuan yang baik, jujur, dan berbakti! Tante pikir kamu akan mendekatinya dengan cara yang terhormat, sebagai seorang laki-laki dewasa yang punya harga diri!"
Andry menundukkan kepalanya, menyembunyikan sepasang matanya di balik poni rambutnya yang berantakan. "Tan... saya hanya ingin dia memperhatikan saya. Saya takut dia menolak saya jika saya datang dengan biasa saja..."
"Lalu kamu memerasnya?! Kamu mempermainkan hidup orang lain?!" potong Ibu Yuna dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. "Kamu memanipulasi kesulitan keluarganya, membeli surat utang mereka, dan berniat menjadikan sertifikat rumah mereka sebagai alat untuk memaksanya menikahimu? Di mana hati nuranimu, Andry? Kamu bukan sedang mencari istri, kamu sedang menjerat seorang budak!"
Ibu Yuna melangkah mendekat, mencengkeram lengan kemeja linen hitam keponakannya dengan erat. "Kamu tahu kenapa Tina sampai pingsan seperti mayat hidup di teras Tante? Karena dia sudah menanggung beban yang terlalu besar di rumahnya! Dan kamu, alih-alih meringankan bebannya sebagai pria yang mengaku mencintainya, malah menambahkan batu besar di atas kepalanya! Tante benar-benar malu mempunyai keponakan yang picik seperti kamu!"
Kalimat demi kalimat dari Ibu Yuna menghantam dada Andry bagai gada besi yang sangat berat. Setiap kata terasa menguliti kesombongan dan keangkuhan yang selama ini ia rawat di kota besar. Seringai licik yang sempat ia miliki kemarin kini lenyap tanpa bekas, digantikan oleh rasa sesak dan penyesalan yang teramat sangat. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar; tangan yang sama yang kemarin malam memegang surat utang keluarga Pak Rahman dengan rasa kemenangan yang semu.
"Saya salah, Tan..." bisik Andry dengan suara yang serak. Tenggorokannya terasa tersumbat. "Saya... saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud membuat keadaan tina dan keluarganya semakin parah..."
"Jangan minta maaf pada Tante! Minta maaflah pada Tina dan keluarganya jika mereka nanti sudah sadar. Dan kembalikan surat utang itu tanpa syarat! Jika kamu tidak melakukannya, jangan pernah menganggap Tante sebagai keluargamu lagi," ucap Ibu Yuna tegas, lalu berbalik meninggalkan Andry sendirian di bawah bayangan pohon.
Andry berdiri mematung untuk waktu yang cukup lama, membiarkan rasa bersalah membakar seluruh egonya hingga menjadi abu. Setelah berhasil menguasai diri, ia melangkah kembali ke dalam gedung rumah sakit, berniat menuju ruang tunggu IGD untuk mengabarkan bahwa seluruh biaya pengobatan dan kamar perawatan terbaik untuk Tina dan Bu Aminah telah ia urus sepenuhnya menggunakan kartu pribadinya. Ia ingin bersujud dan meminta maaf kepada Pak Rahman atas kelicikannya.
Namun, langkah kaki Andry melambat saat matanya menangkap sesosok pemuda yang duduk sendirian di ujung bangku tunggu yang panjang dan dingin.
Itu Fandi.
Lelaki yang biasanya selalu sibuk bermain handphone dan bersikap acuh kepada keluarganya kini tampak sangat rapuh. Fandi duduk menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara kedua telapak tangan. Bahunya naik turun secara tidak teratur, menandakan bahwa ia sedang menangis dalam kesunyian lorong rumah sakit yang sepi.
Andry menarik napas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa pemuda di depannya ini adalah salah satu penyebab hancurnya kehidupan Tina, namun di saat yang sama, ia juga sadar bahwa dirinya sendiri tidak jauh lebih baik dari Fandi—mereka berdua adalah pria egois yang telah menorehkan luka mendalam di hati Tina.
Andry berjalan mendekat, lalu mengambil posisi duduk di sebelah Fandi, menyisakan jarak beberapa jengkal. Ia tidak membuka suara selama beberapa saat, membiarkan keheningan lorong menjadi jembatan di antara mereka.
"Fandi..." panggil Andry lembut, memecah kesunyian.
Fandi tersentak, mendongakkan kepalanya yang sembab dengan mata yang memerah sempurna. Begitu melihat bahwa yang duduk di sebelahnya adalah pria kota pemilik mobil mewah yang membawa ibunya, Fandi buru-buru menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga diri lelakinya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Fandi dengan suara serak yang bergetar.
Andry menatap lurus ke depan, memandangi pintu ruang IGD yang masih tertutup. "Saya di sini karena saya juga merasa bersalah, Fandi. Sama sepertimu."
Fandi mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud ucapan Andry. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Andry kembali berbicara dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan penekanan yang dalam.
"Kamu tahu... semalam saya melihat kakakmu, Tina, menangis sendirian di kantor sekolah setelah semua orang pulang," tutur Andry bohong, mencoba menggambarkan kerapuhan Tina yang sebenarnya ia ketahui dari laporan mata-matanya. "Dia meremas jemarinya sampai memutih, memikirkan bagaimana cara membelikan obat untuk ibumu dan bagaimana cara mengembalikan uang modal usaha kakakmu yang hilang."
Mendengar kata-kata itu, dada Fandi seperti dihantam ombak besar. Ia kembali menundukkan kepalanya, menatap lantai keramik yang dingin.
"Fandi, kita berdua ini adalah laki-laki," lanjut Andry, menoleh dan menatap sisi wajah Fandi. "Tugas seorang laki-laki di dalam keluarga adalah menjadi tiang pelindung, menjadi pembawa ketenangan bagi ibu dan saudara perempuannya. Tapi apa yang sudah kita lakukan? Kamu merusak rumahmu dari dalam dengan egomu, dan saya... saya mencoba menjepit kakakmu dari luar dengan kekuasaan saya."
Andry mengembuskan napas pendek, menepuk pundak Fandi yang tampak tegang. "Jangan biarkan gengsimu menghancurkan sisa waktu yang kamu miliki bersama ibumu, Fan. Kamu masih muda, fisikmu kuat. Penyesalan terbesar seorang anak adalah ketika ia baru menyadari kesalahannya saat raga orang tuanya sudah terbujur kaku di bawah kain kafan. Jangan sampai kamu mengalami hal itu."
Nasihat yang keluar dari mulut Andry mengalir begitu jujur, karena di saat yang sama, Andry pun sedang menasihati dirinya sendiri yang hampir saja kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hati Tina dengan cara yang benar.
Mendengar penuturan Andry yang begitu menusuk tepat di pusat rasa bersalahnya, pertahanan terakhir di dalam diri Fandi runtuh sepenuhnya. Dinding ego, kesombongan jalanan, dan gengsi yang selama ini ia agungkan di depan saudara-saudaranya mendadak hancur berkeping-keping. Fandi tidak bisa lagi menahan gemuruh di dadanya.
Sambil mengeluarkan suara tangisan yang pecah dan terisak-isak, Fandi mendadak menggeser tubuhnya dan langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Andry. Ia mencengkeram erat kemeja linen hitam milik pria kota itu, menenggelamkan wajahnya di bahu Andry, dan menangis sejadi-jadinya seperti seorang anak kecil yang ketakutan kehilangan arah.
"Saya... saya salah, Bang... Saya yang bikin Ibu begini... Uang mereka saya habiskan... Saya anak durhaka, Bang..." ratap Fandi di sela tangisnya yang membuncah, tubuhnya berguncang hebat di dalam dekapan Andry.
Andry sempat tertegun sejenak menerima pelukan spontan tersebut. Namun, perlahan-lahan, ia melingkarkan lengannya di punggung Fandi, menepuk-nepuk pundak pemuda desa itu dengan gerakan yang konsisten, mencoba memberikan kekuatan yang tersisa. Di dalam keheningan lorong rumah sakit yang dingin, di antara dekapan hangat dua pria yang sama-sama sedang menebus dosa, sebuah lembaran baru yang lebih bersih perlahan-lahan mulai terbuka di atas altar penyesalan mereka.