hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 16: RASA SAKIT DAN PEMBELAAN SANG
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 16: RASA SAKIT DAN PEMBELAAN SANG KAKAK
Setelah masuk ke dalam kelas dan baru saja hendak duduk di bangkunya, tiba-tiba seorang anak laki-laki yang selama ini selalu suka mengejek dan menyakiti hati Ria dengan sengaja menggeser bangku itu menjauh, membuat Ria kehilangan tumpuan.
"Astaghfirullah... Ya Allah!" seru Ria terkejut. Ia pun kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling terduduk di lantai, tangannya langsung meraba pinggangnya yang terasa sangat sakit sekali akibat benturan keras itu. Ria menahan rasa perih yang luar biasa, berusaha menahan tangis agar tidak pecah di hadapan teman-temannya yang justru malah tertawa puas melihat kejadian itu.
Belum jauh melangkah dari pintu kelas, Bang Ardiansyah yang masih menunggu di luar sontak terkejut bukan main mendengar suara benturan dan jeritan pelan adiknya.
"Astaghfirullah! Ria!" serunya panik.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari masuk menghampiri Ria.
"Dik... Sakit ya? Katakan sama Abang," tanyanya cemas sambil memegang bahu adiknya dengan sangat hati-hati dan lembut, takut menambah rasa sakit yang sedang dirasakan adiknya.
"Sakit sekali, Bang... Ria tidak kuat rasanya, susah mau berdiri," jawab Ria pelan, suaranya bergetar menahan kesakitan yang luar biasa itu.
Wajah Bang Ardiansyah seketika berubah tegas dan penuh amarah. Ia bangkit dan menatap tajam ke arah anak laki-laki yang tadi menggeser bangku, serta teman-teman sekelas lainnya.
"Kenapa kalian begitu jahat pada Ria? Apakah dia pernah berbuat salah atau menyakiti kalian semua?" suaranya terdengar berat dan menggetarkan hati. "Saya tanya kalian semua! Jawab!"
Namun, seluruh anak di dalam kelas hanya diam membisu, tak ada yang berani bersuara atau menjawab tatapan tajam itu.
"Siapa yang melakukannya? Katakan pada Abang, jangan diam saja!" desak Bang Ardiansyah lagi, nadanya semakin tegas.
"Tu... itu Dito, Bang... Sidi dan Adi yang melakukannya," tunjuk salah satu murid sambil gemetar ketakutan.
"Ya Allah... Kalian berani-beraninya! Tak ada kapalan! Sedikit pun kalian tidak punya rasa segan dan perikemanusiaan, benarkah itu?" Bang Ardiansyah menatap tajam ke arah Dito dan Adi. "Kalian... seharusnya punya hati dan perasaan. Kalian laki-laki, mengapa suka sekali menyakiti perempuan? Ingatlah, menyakiti perempuan itu sama saja dengan menyakiti saudara perempuan sendiri, apa kalian tidak punya adik perempuan di rumah? Kalau kalian disakiti di sini, pasti kalian juga sedih dan sakit hati. Kalian kira kalau kalian di sini, di sekolah ini, kalian bebas berbuat sesuka hati? Kalian salah besar! Kalian ingat baik-baik, mulai saat ini, pasti belum lama saya akan membiarkan adik perempuan saya disakiti oleh kalian!"
"Tolong... Bang... Sakit sekali," rintih Ria pelan, matanya sudah berair menahan rasa sakit.
"Ya Allah... Nak... Sabar ya," sapa Bu Guru lembut. "Maafkan saya, Pak Ardiansyah, kami tidak tahu ada yang mengganggunya," kata Bu Guru menyayangkan. "Kita bawa ke ruang UKS dulu, harus diperiksa," tambahnya.
"Baiklah, terima kasih banyak Bu Guru," jawab Bang Ardiansyah sopan.
Sebelum pergi, Bang Ardiansyah kembali menatap tajam ke arah mereka. "Kalian semua ingat baik-baik! Kalian semua ada apa-apanya pada adik saya, saya tidak akan segan-segan menuntut tanggung jawab kalian semua!"
"Maafkan kami, Bang..." jawab mereka tertunduk takut.
Di perjalanan menuju ruang UKS, sambil memapah tubuh kecil yang bergetar itu, Bang Ardiansyah membatin: "Ternyata seberat dan sepedih ini hari-hari yang harus dilalui adikku seorang diri, tanpa ada perlindungan kami selama dua tahun ini..."
Sesampainya di ruang UKS, Ria segera diperiksa oleh petugas. Ternyata, bagian pinggang dan punggungnya terasa keseleo hebat. Ria pun diberi obat pereda nyeri, diolesi minyak hangat, dan dibalut luka agar rasa sakitnya sedikit berkurang.
"Sudah ya, Dik... Lebih baik kita pulang saja, istirahat di rumah," bujuk Bang Ardiansyah halus.
"Tidak apa-apa, Bang... Ria masih kuat kok, takut ketinggalan pelajaran kalau pulang sekarang," tolak Ria berusaha tegar.
"Baiklah, kalau begitu, Abang akan tetap menunggumu di sini sampai jam pulang," janji Bang Ardiansyah. Ia pun tetap setia menunggu di depan kelas sampai jam pelajaran usai. Sejak kejadian itu, tak ada satu pun teman sekelas yang berani berisik atau berani mengganggu Ria sedikit pun. Ria pun dapat mengikuti pelajaran dengan tenang hingga tiba saatnya jam usai sekolah.
Namun, tiba-tiba tubuh Ria terasa lemas luar biasa, matanya berkunang-kunang, dan seketika ia pun terjatuh pingsan. Tubuhnya terasa sangat panas, demam tinggi.
Bang Ardiansyah yang sedang menunggu langsung berlari, mendekat dan menggendong tubuh mungil adiknya.
"Bu Guru, mohon maaf... Ria saya bawa pulang sekarang juga ya, kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan belajar," pamitnya cemas.
Sepanjang jalan pulang, Ria terus merasakan sakit yang luar biasa, ia merasakan ada sesuatu yang terasa menyakiti di sekujur tubuhnya. Ia pun perlahan membuka matanya, menatap Bunda dengan pandangan sayu.
"Bunda..." panggilnya pelan.
"Ada apa, Nak? Di mana yang terasa sakit?" tanya Bunda cemas.
"Di punggung ini, Bun... Sangat sakit," jawab Ria.
"Astaghfirullah... Ardiansyah! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bunda dengan suara bergetar.
"Maafkan Bunda... Tadi di kelas, Adi dengan sengaja menggeser bangku Ria hingga ia jatuh dan terpelanting," jawab Bang Ardiansyah jujur.
"Ya Allah... Nak... Cepatlah, Ardiansyah! Panggilkan Embah Nur untuk mengobati luka Ria," perintah Bunda segera.
"Baik, Bun," jawab Bang Ardiansyah lalu segera berlari keluar.
Tak lama kemudian, Embah Nur pun datang dan mengurut pinggang serta punggung Ria dengan lembut. Meski rasa sakitnya perlahan berkurang, namun Ria masih terasa panas karena demam. Dengan penuh ketelatenan dan kasih sayang, Bunda terus mengompres dada dan tubuh putrinya, membisikkan doa penawar penasaran serta buih hangan agar tenaganya pulih kembali. Ria pun terbaring lemah di pangkuan Bunda, merasakan berapa lembut dan menyayangkan perlakuan ini. Bagai Ria, kasih sayang dan perhatian Bunda adalah obat paling ampuh yang mampu menyembuhkan segala rasa sakit yang ada di dadanya.