LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Aliansi Darah & Dendam Masa lalu
Hujan deras mulai mengguyur Jakarta malam itu, seolah langit turut menangisi kekacauan yang baru saja terjadi di Nusa Tech University. Mobil tua berwarna abu-abu metalik melaju zig-zag menghindari jalan utama, menyusuri gang-gang sempit di kawasan industri yang sepi. Di dalam mobil, keheningan terasa tebal, hanya diisi oleh suara wiper yang berdecit ritmis dan napas berat Aldo Sky yang mulai mereda.
Sabiru duduk di kursi penumpang, memeluk tas ransel berisi laptopnya erat-erat. Matanya sesekali melirik ke arah ayah tirinya. Wajah Aldo yang biasanya begitu tegar dan berwibawa, kini tampak lelah luar biasa. Kerutan di dahinya semakin dalam, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan betapa sedikitnya ia tidur selama berbulan-bulan terakhir.
"Ayah," panggil Sabiru pelan, memecah keheningan. "Kenapa Ayah nggak pernah cerita? Kalau Ayah tahu soal Allbiru... kalau Ayah tahu Rio adalah pembunuh Ayah Arisendra... kenapa Ayah diam saja? Kenapa Ayah membiarkanku berpikir bahwa Ayah tidak peduli?"
Aldo menghela napas panjang, matanya tetap fokus pada jalan licin di depannya. Tangan kanannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-bukunya memutih.
"Karena takut, Sabiru," jawab Aldo akhirnya, suaranya parau. "Bukan takut mati. Tapi takut kehilangan kamu juga. Rio punya mata-mata di mana-mana. Polisi, pemerintah, bahkan orang-orang dekat kita. Jika aku bergerak salah sedikit saja, jika aku menunjukkan bahwa aku tahu sesuatu, Rio akan langsung menghabisimu. Dia menggunakan Allbiru sebagai umpan, dan kamu sebagai jaminan."
Aldo menoleh sekilas, tatapannya penuh rasa sakit. "Bayangkan, Sab. Setiap hari aku harus berpura-pura sibuk bisnis, pura-pura lupa pada Allbiru, pura-pura marah padamu saat kamu bertanya tentang kakakmu. Padahal setiap malam, aku duduk di ruang kerjaku, menatap foto kalian bertiga, dan menangis dalam diam. Aku merasa seperti pengkhianat. Pengkhianat terhadap janji terakhir Arisendra."
Mendengar nama ayahnya disebut, dada Sabiru berdesir nyeri. "Janji apa, Yah? Apa yang Ayah janjikan pada Ayah kandungku?"
Aldo terdiam sejenak, seolah mengumpulkan keberanian untuk membuka kotak Pandora yang telah lama tertutup rapat. Hujan di luar semakin deras, menyamarkan isak tangis kecil yang lolos dari bibir pria itu.
"Dua puluh dua tahun lalu, sebelum Arisendra meninggal—atau lebih tepatnya, sebelum dia 'dihilangkan' oleh Rio—dia memanggilku ke ruang server rahasianya. Saat itu, Rio sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kegilaan. Ambisinya untuk menguasai teknologi dunia sudah tidak bisa dikendalikan. Arisendra tahu dia dalam bahaya. Dia tahu suatu hari Rio akan menghabisinya demi mengambil alih proyek 'Genesis'."
Aldo menghentikan mobil sebentar di sebuah persimpangan gelap, menunggu lampu merah yang tidak berfungsi. Ia menatap lurus ke depan, suaranya bergetar.
"Arisendra memegang tanganmu yang masih bayi, Sabiru. Dia berkata, 'Aldo, jagalah anak-anakku. Jagalah Sabiru dan Allbiru. Mereka adalah masa depan. Jika sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan Rio menyentuh mereka. Sembunyikan mereka. Buat mereka lupa siapa aku sebenarnya, jika itu perlu untuk menjaga mereka tetap hidup.'"
Air mata Sabiru mulai mengalir deras. Ia membayangkan ayahnya, Arisendra, seorang jenius baik hati, mengucapkan kata-kata perpisahan itu dengan hati hancur.
"Aku bersumpah demi nyawaku sendiri," lanjut Aldo, suaranya kini tegas meski basah air mata. "Aku akan melindungi kalian sampai napas terakhirku. Makanya, ketika Allbiru hilang tiga bulan lalu dan meninggalkan pesan rahasia itu, aku ingin sekali menerjang markas Rio, membunuhnya dengan tanganku sendiri. Tapi aku ingat sumpahku pada Arisendra. Aku ingat wajahmu, Sabiru. Jika aku mati atau dipenjara karena gegabah, siapa yang akan menjagamu? Jadi aku memilih jalan yang paling menyakitkan: diam dan menunggu momen yang tepat."
Sabiru meraih tangan Aldo yang mencengkeram setir, menggenggamnya erat. "Momen itu sudah tiba, Yah. Malam ini. Aku sudah memulai perang ini. Dan aku nggak akan mundur. Kita nggak bisa cuma sembunyi selamanya. Kita harus menyerang balik. Demi Kak Allbiru. Demi Ayah Arisendra."
Aldo menatap putrinya, melihat api keberanian yang menyala di mata gadis itu. Api yang sangat mirip dengan api di mata Arisendra dulu. Perlahan, sudut bibir Aldo membentuk senyum tipis, senyum bangga yang sudah lama hilang dari wajahnya.
"Kau benar, Nak. Kau benar-benar anak Arisendra. Darah pejuang itu mengalir deras di tubuhmu," kata Aldo lembut. "Baiklah. Jika ini jalan yang kau pilih, Ayah akan mendampingimu. Kita tidak akan lari lagi. Mulai malam ini, kita berburu Rio."
Mobil kembali melaju, kali ini dengan tujuan yang lebih jelas. Mereka berbelok masuk ke sebuah kawasan gudang tua yang terbengkalai di pinggiran Jakarta Utara. Area ini dipenuhi bangunan beton kusam, pipa-pipa karatan, dan semak belukar liar. Tempat yang sempurna untuk menghilang.
Aldo menghentikan mobil di depan sebuah gudang besar yang catnya sudah mengelupas, nyaris tak terlihat dari jalan raya karena tertutup ilalang tinggi. Tidak ada papan nama, tidak ada lampu, hanya kesunyian yang mencekam.
"Ini tempatnya?" tanya Sabiru ragu, menatap gedung gelap itu.
"Ini Safe House pertama," jawab Aldo sambil mematikan mesin. "Tempat ini dulu digunakan Arisendra sebagai laboratorium rahasia sebelum dia membangun Nusa Tech. Hanya aku dan dia yang tahu lokasinya. Bahkan Rio pun mungkin sudah lupa, atau mengira tempat ini sudah hancur total."
Aldo turun dari mobil, berjalan menuju tumpukan kaleng bekas di sudut gudang. Ia menggeser beberapa barang rongsokan, mengungkap sebuah pintu besi tersembunyi di balik dinding palsu. Dengan gerakan cepat, ia memasukkan kode kunci digital di samping pintu.
Bip. Klik.
Pintu besi itu terbuka, mengungkap lorong tangga yang menurun ke bawah tanah. Udara sejuk dan berbau logam keluar dari sana, berbeda dengan udara panas dan lembap di luar.
"Selamat datang di markas operasi kita," ucap Aldo, menyalakan senter dan memberi isyarat pada Sabiru untuk masuk. "Di bawah sana ada semua peralatan yang kau butuhkan. Server mandiri, jaringan internet satelit yang tidak terlacak, dan persenjataan dasar untuk pertahanan. Arisendra menyiapkannya untuk keadaan darurat seperti ini."
Sabiru menuruni tangga itu dengan hati berdebar. Saat kakinya menginjak lantai basement, lampu-lampu neon otomatis menyala satu per satu, menerangi ruangan luas yang penuh dengan rak-rak komputer canggih, layar monitor besar, dan peta digital yang masih menyala redup. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja besar dengan keyboard mekanik yang tampak masih baru.
Ruang ini terasa seperti mesin waktu. Seolah Arisendra baru saja meninggalkannya lima menit yang lalu. Ada cangkir kopi setengah minum di sudut meja, dan kacamata baca yang tergeletak rapi.
Sabiru berjalan mendekati meja itu, menyentuh permukaan kayu yang dingin. Ia bisa merasakan kehadiran ayahnya di sini. "Ayah... dia menyiapkan semua ini untukku?"
"Untuk kalian," koreksi Aldo yang sudah turun dan menutup pintu rahasia di atas. Ia berjalan mendekati Sabiru, meletakkan tangan di bahu anaknya. "Dia tahu suatu hari nanti kalian akan membutuhkan tempat untuk melawan kegelapan. Dan malam ini, kita akan menyalakan cahayanya kembali."
Sabiru membuka tas ranselnya, mengeluarkan laptopnya, dan meletakkannya di atas meja warisan itu. Saat layar menyala, cahaya biru memantul di matanya yang penuh determinasi. Jari-jarinya gatal untuk segera mengetik, melacak, dan menyerang.
"Rio pikir dia sudah menang karena berhasil membuat kita lari," bisik Sabiru, suaranya dingin namun penuh kekuatan. "Tapi dia tidak tahu bahwa kita justru pergi ke tempat di mana kita paling kuat. Dia pikir dia berburu mangsa yang ketakutan. Padahal, dia sedang berjalan masuk ke dalam sarang lebah."
Aldo tersenyum, kali ini dengan keyakinan penuh. Ia berjalan ke sudut ruangan, membuka lemari besi kecil, dan mengeluarkan sebuah pistol serta beberapa magasin amunisi. "Kau urus dunia maya, Nak. Ayah akan urus dunia nyata. Siapa pun yang mencoba mendobrak pintu ini, akan berhadapan denganku."
Mereka berdua saling bertatapan, seorang ayah dan anak yang dipersatukan kembali oleh darah, dendam, dan cinta. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Tidak ada lagi topeng kepura-puraan. Hanya ada satu tujuan: Menghancurkan Rio Pratama dan menyelamatkan Allbiru.
"Mulai sekarang," ucap Sabiru tegas, jarinya mulai menari di atas keyboard, membangunkan sistem canggih peninggalan ayahnya. "Kita bukan lagi korban. Kita adalah pemburu."
Layar-layar di sekeliling mereka mulai menyala terang, menampilkan peta jaringan global, aliran data real-time, dan titik-titik merah yang menandakan aset-aset Rio Pratama. Perang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, medan pertempuran ditentukan oleh mereka.
Di atas tanah, hujan masih turun deras, menyembunyikan keberadaan gudang tua itu dari pandangan dunia. Namun di dalam perut bumi, badai digital sedang dikumpulkan, siap dilepaskan kapan saja untuk menghancurkan kerajaan kejahatan Rio Pratama batu demi batu.
Malam itu, Aldo Sky dan Sabiru Naverlla Azzura resmi menjadi aliansi paling berbahaya yang pernah dihadapi Rio. Dan Rio belum menyadari bahwa malaikat mautnya baru saja bangun dari tidurnya.